Tuesday, December 23, 2014

Tantangan Gereja Masa Kini

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Pernah dimuat Koran Tempo, 3/03/2013, dengan judul "Paus dan Masa Depan Gereja")

Ada tantangan yang menuntut kerja keras bagi siapa saja yang menduduki posisi kepausan Vatikan dalam kurun waktu sejak sekitar enam dekade terakhir. Tantangan itu yakni ada dan berkembangnya dekristianisasi di Eropa. Karenanya, seperti pernah disinyalirkannya pada seorang jurnalis Jerman dalam wawancara pada Januari 2010, atas kesadaran akan kondisi fisiknya yang dirasakannya tak lagi mampu mengemban "Takhta Suci" Vatikan dengan tantangan besarnya itu, Paus Benediktus XVI secara resmi mundur pada 28 Februari lalu. Dan, karena dekristianisasi Eropa itu pula, penggantinya disarankan berasal dari luar Eropa (Amerika Latin atau Afrika)

Pasca-abad pertengahan, saat zaman menjadi modern, ada kekecewaan dan kritik keras pada institusi agama, dalam hal ini Gereja Katolik. Kekecewaan dan kritik keras itu muncul dari ketidakpercayaan lagi pada institusi agama, yakni Gereja Katolik pada saat itu, yang begitu otoriter dalam menguasai peradaban masyarakat, bersifat pragmatis dan ditemui banyak kebobrokan di dalamnya. Karenanya, mereka tak percaya lagi bahwa Tuhan Yang Maha Suci dan Agung itu bersemayam di gereja, ajarannya terinstitusikan dalam kekristenan dan kalam-nya diwakili lidah pastor. Bagi mereka, itu semua hanyalah mitos (takhayul) khas abad pertengahan, masa ketika Gereja Katolik bercokol. Gereja Katolik dianggap telah gagal membangun peradaban manusia yang ideal, jika tak justru sebaliknya; melestarikan kediktatoran politik, pengkebirian nalar dan pengabaian terhadap nilai kemanusiaan.

Maka, sekularisme 'pun hadir mencoba menggantikannya. Ia memang tak membunuh agama, sebab disadari bahwa itu memang mustahil. Namun, mereka mengurungnya dalam ranah privat, dan membebaskan ruang publik darinya. Tata nilai atas ruang publik sepenuhnya dikendalikan oleh hukum yang dibangun di atas basis rasionalitas, yang memang menjadi ciri khas modernisme. Inilah awal dari apa yang oleh Juergen Habermas (filsuf Jerman generasi kedua Madzhab Frankfurt) disebut sebagai "liberalisme politik". Ihwal inilah yang kemudian mempertemukan Paus Benediktus XVI (saat masih sebagai Kardinal Joseph Ratzinger) dan Habermas pada Januari 2004 di Akademi Katolik di Bayern, Munchen (Jerman) untuk berdialog dengan tema "Apa yang Dimiliki Bersama oleh Dunia?".

Bagi Vittorio Messori dalam Corriere Della Sera (2005), seorang yang selama bertahun-tahun memiliki hubungan akrab dengan Ratzinger, tesis sekularisme itu bukan hanya tak bermasalah, tapi justru positif bagi Gereja Katolik. Sebab, baginya, Retzinger yang dinobatkan menjadi Paus Benediktus XVI itu bukan harus menghadapi banyak "masalah" (dengan huruf kecil) tapi satu "Masalah" (dengan huruf besar), yakni masalah otentisitas doktrin Kristen. Ia berharap kawan akrabnya itu melakukan gerak agama ke dalam (doktrin iman, Kebenaran Tunggal), bukan gerak ke luar (Gereka Katolik yang berbicara kepada dunia dan berhadapan dengan pluralitas budaya-budaya lain). Bahkan, ia menegaskan bahwa celaka jika iman menguap dalam bentuk humanisme dan solidarisme.

Namun, di sisi berseberangan, ada suara profan dari seorang seperti Jean Daniel yang meminta Paus Benediktus XVI yang baru bertahta itu untuk berpaling ke arah umat manusia, bukannya menuntut iman yang benar menurut prinsip-prinsip Gereja Katolik. Menurutnya, Gereja Katolik harus mengarahkan pandangannya demi nilai-nilai universal. Sebab, itu penting dan mendesak untuk membalikkan proses dekristianisasi Eropa.

John Rawl (filsuf politik abad ke-20 asal Amerika Serikat) telah lama mengingatkan agar Gereja Katolik memisahkan antara doktrin komperhensif, ideologis dan religius dengan wilayah partisipasi institusi Katolik itu dalam ranah publik. Dalam artian, dalam domain doktrin religius yang bersifat privat, tentu, Gereja Katolik memiliki otoritas dan hak penuh untuk memonopoli aturan, bahkan kebenaran, serta menuntut kepatuhan mutlak. Namun, dalam ranah publik, doktrin moral dan hukum Gereja Katolik harus diuji, diverifikasi dan memenuhi apa yang Rawl sebut dengan "rasionalitas publik". Inilah yang kemudian diambil alih dan disampaikan pada Ratzinger oleh Habermas dalam dialognya.

Menurut Habermas, Gereja Katolik tentu boleh saja -bahkan berhak sama seperti doktrin sakral atau teori profan lainnya- menyampaikan tawarannya tentang hukum rekayasa genetika, aborsi, hukuman mati, dll. Namun, syaratnya, harus memakai argumen rasional, bukan argumen iman. Karenanya, tantangannya, sebelum tawaran itu disampaikan, ia perlu digodok di internal Gereja Katolik; bagaimana doktrin sakral diinterpretasikan secara rasional menjadi norma profan. Bahasa yang digunakan pun perlu diterjemahkan; bukan lagi bahasa religius, melainkan bahasa politis. Bahkan, lebih jauh ketimbang Rawl, Habermas juga menuntut Gereja Katolik terus mengawal proses berjalannya hukum publik itu secara aktif. Inilah tesis baru yang kemudian populer dengan istilah "pascasekular", sebuah tesis yang mencoba mencari titik temu antara nalar dan iman dalam ranah publik untuk bersama membangun peradaban dunia yang ideal. Dan, menurut Habermas, seperti diutarakannya dalam wawancaranya dengan Majalah Die Welt (Jerman) pada Januari 2004, itulah interpretasi konkrit dari amanat Konsili Vatikan II yang sekaligus menjadi titik damai antara Gereja Katolik dan liberalisme (negara hukum dan demokrasi).

Itulah tantangan Kardilan Ratzinger saat terpilih menjadi Paus Benediktus XVI. Dan, dalam dialognya dengan Habermas serta sepak terjangnya, walaupun ia dikenal sangat kokoh menjaga doktrin Kristen Katolik dan kristis terhadap nalar hingga menyebut ada patologi hybris (kesombongan) dalam nalar, namun ia mengakui bahwa tesis Rawl dan Habermas penting untuk mencapai universalisme, mengakomodasi pluralitas, menumbuhkan saling kontrol antara iman dan nalar, serta menjaga institusi Gereja Katolik dan umatnya. Dan ia memimpin Gereja Katolik di tengah tarikan keduanya; otentisitas doktrin dan fakta pluralisme.

Kini, setelah Paus Benediktus XVI resmi mundur, apa yang menjadi tantangannya di masa kepemimpinanya (dua tarikan itu), juga otomatis menjadi tantangan bagi Paus yang baru nantinya. Itu juga adalah tantangan bagi seluruh doktrin agama, termasuk Islam, jika ingin 'membumi' dan menjadi "rahmatan lil alamin".

Thursday, December 4, 2014

Memprovokasi Perdamaian

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Dimuat Koran Tempo, 4 Desember 2014)

Pada pertengahan November lalu, Prof. Din Syamsuddin (Ketua MUI dan Ketua Umum PP Muhammadiyah) berkhotbah di mimbar Gereja Vatikan di depan petinggi-petinggi Kristen (dan juga Islam) dunia dalam The 3rd Catholic-Muslim Forum yang bertajuk "Working Together to Serve Other". Sekolompok petinggi Islam dan Kristen itu berkomitmen untuk mengajak umatnya bekerja bersama untuk kemanusiaan, perdamaian, dan misi luhur universal lainnya melampaui sekat-sekat agama yang membedakan mereka.  
Ini sebuah gagasan dan gerakan yang kian populer dalam upaya merajut perdamaian antar-pemeluk agama, khususnya agama-agama samawi: Yahudi, Kristen, dan Islam. Gagasan dan gerakan ini melampaui sekadar dialog yang jauh sebelumnya telah lebih dulu populer dalam keragaman umat beragama. Dialog dirasa tak cukup dalam menumbuhkan kesadaran dan merekatkan persaudaraan antarumat beragama. Apalagi, dialog bersifat verbalistik semata, yakni diskusi dan bertukar gagasan.  Dibutuhkan gerakan yang mendorong umat lintas agama untuk bekerja bersama, saling mengisi dan membantu, bergotong royong, saling bersentuhan, serta berada dalam satu payung demi nilai-nilai luhur universal yang diyakini bersama dalam agama-agama mereka. Walhasil, kedekatan itu terlihat nyata. Dengan demikian, diharapkan kedekatan dan persaudaraan antarumat beragama terbangun kokoh.  
Pendeta Jacky Manuputty, penggerak "Provokator Perdamaian", melakukan apa yang ia sebut sebagai art for peace (seni untuk perdamaian) di Maluku sejak 2007. Dalam program ini, umat lintas agama dirangkul untuk bekerja bersama, khususnya dalam bidang seni. Ia menyebutnya sebagai provokasi untuk perdamaian. Itu pula yang dilakukan Imam Shamsi Ali, imam asal Sulawesi yang tinggal di New York, bersama Rabi Marc Schneier, pemuka agama Yahudi berpengaruh di Amerika Serikat, sejak 2007. Pengalamannya kemudian ditulis dalam buku berjudul Sons of Abraham (Anak-anak Ibrahim, 2014). Bahkan, lebih jauh, mereka bukan hanya mengajak umatnya bekerja sama, tapi juga saling membela: Kaum muslim melawan stigma anti-semit dan umat Yahudi melawan stigma Islamofobia. 
Sebab, sebagaimana ditulis Imam Shamsi Ali, yang justru kerap absen dari keberagamaan kita adalah apa yang ia sebut outreach (keterbukaan diri dalam beragama), sehingga umat beragama bisa memahami agama-agama lain milik saudaranya secara utuh dengan sumber dari penganutnya sendiri. Karena seperti kata pepatah Arab: "Manusia takut kepada apa yang tak diketahuinya" (al-nas a'dau ma jahilu). Itu pula yang menjadi kesimpulan Norman Daniel dalam buku Islam and the West dan Robert W. Southern dalam Western View of Islam in the Middle Ages, bahwa stigma negatif, ketegangan, serta konflik antar-agama sering muncul akibat ketidaktahuan yang dialami umat beragama.
Kekacauan di Palestina, yang juga diprovokasi oleh politisasi agama, secara tak langsung mendidik umat beragama di sana untuk bersikap terbuka, dewasa, dan maju dalam beragama. Walhasil, Manuel Musallam, salah seorang pastor di Palestina, pada April 2014, ketika Israel kembali membombardir Palestina, dengan tulus dan nyata menyatakan, "Jika masjidmu terkena bom Israel, silahkan kumandangkan azan dari gereja kami!" Kehidupan beragama kita di sini seharusnya belajar dari fenomena itu. Jangan menunggu keadaan yang mengajari kita, sebagaimana di Palestina. 

Thursday, November 27, 2014

10 Penyebab Kegagalan Memahami Syiah

Syiah adalah salah satu madzhab Islam yang diakui oleh mayoritas ulama besar dan otoritatif dalam Islam (termasuk ulama besar Indonesia, misalnya, lihat di sini) dalam beberapa konferensi ulama internasional: setidaknya sejak 1950-an digagas oleh Syaikh Mahmud Syaltut dan para ulama besar al-Azhar (lihat: taghrib.org), Deklarasi Amman 2005 (lihat: ammanmessage.com), Deklarasi Makkah 2006, hingga Deklarasi Bogor 2007 (lihat: di sini). Namun, ironisnya, Syiah menjadi salah satu madzhab Islam yang sering kali gagal dipahami oleh sebagian umat Islam, sehingga kerap dituduh sesat dan penganutnya mendapat diskriminasi dan bahkan kekerasan oleh saudaranya se-Muslim. Berdasarkan amatan penulisnya, tulisan ini hendak memaparkan beberapa penyebab yang menjadikan sebagian umat Islam gagal memahami Syiah. 

Pertama, Syiah gagal dipahami karena ilmu mereka tentang Syiah adalah ilmu per-konon-an. Mereka mengetahui dan memahami Syiah justru dari "konon-konon" yang tak memiliki jejak dan landasan naqly maupun aqly, melainkan sebatas selentingan-selentingan yang tak jelas sumbernya.

Kedua, Syiah gagal dipahami karena ilmu mereka tentang Syiah didapat dari orang atau buku non-Syiah atau bahkan pembenci Syiah. Sehingga, ilmunya tentang Syiah datang dari sumber sekunder yang belum valid kebenarannya atau bahkan berdasarkan dari fitnah-fitnah para pembenci Syiah. Oleh karena itu, penulis menyarankan bagi Anda yang ingin mengetahui Syiah dari ulama dan buku Syiah sendiri, bacalah "Buku Putih Syiah" (baca bukunya versi PDF di sini).

Ketiga, Syiah gagal dipahami karena ilmu mereka tentang Syiah didapat atau didasarkan pada orang atau buku yang bukan ulama atau rujukan sah (muktabar) Syiah. Oleh karena itu, lagi-lagi, penulis menyarakankan bagi Anda yang ingin tahu Syiah dari ulama atau buku muktabar Syiah, bacalah "Buku Putih Syiah" yang ditulis oleh tokoh Syiah Indonesia berdasarkan pendapat ulama-ulama dan sumber-sumber muktabar Syiah.

Keempat, Syiah gagal dipahami karena ilmunya tentang Syiah berasal atau berdasarkan dari orang atau buku klasik atau kontemporer Syiah yang tak muktabar dan tak mewakili pendapat umum, mainstream dan muktabar Syiah, yang itu bahkan sebagian besar telah diklarifikasi oleh ulama atau 'pun buku klasik maupun kontemporer yang muktabar dan mewakili pendapat umum, mainstream dan muktabar Syiah. Dalam kasus ini, yang paling populer, misalnya, soal tuduhan penghinaan atas Sahabat dan Istri Nabi SAW yang (mungkin) ada di buku-buku klasik atau kontemporer Syiah atau disampaikan ulama klasik maupun kontemporer Syiah tetapi sudah difatwakan secara serentak oleh seluruh ulama otoritatif dan muktabar Syiah bahwa Sahabat, Istri Nabi SAW dan segala sesuatu yang dimuliakan oleh umat Islam dari berbagai kalangan (Sunni, dll) wajib juga dihormati oleh Muslim-Syiah di mana 'pun dan kapan 'pun. Lihat fatwa tersebut di sini.

Kelima, Syiah gagal dipahami karena niat membaca, mendengar ceramah, berdiskusi dan belajar Syiahnya sudah salah, yakni berdasarkan kebencian. Sehingga kegiatan pembelajarannya atas Syiah sejak awal memang diniatkan untuk mencari-cari kesalahan Syiah untuk kemudian dijadikan dalil menyesatkannya.

Keenam, Syiah gagal dipahami karena penjelasan atau pendapat ulama Syiah muktabar tentang Syiah yang tak sesuai dengan harapan para pembenci Syiah itu disebut sebagai trik taqiyah (menyembunyikan ke-Syiah-annya) semata untuk alasan keamanan mereka. Sehingga semua penjelasan dan pendapat itu ditolaknya karena dinilai trik atau bahkan kebohongan belaka. 

Ketujuh, Syiah gagal dipahami karena sejak awal (yakni sejak belum tahu) telah lebh dulu meyakini bahwa Syiah adalah madzhab sesat. Jadi, ia akan menolak penjelasan atau pengetahuan yang tak sesuai denga keyakinannya yang tak berdasar itu.

Kedelapan, Syiah gagal dipahami karena mereka tak memahami Islam dan ilmu Islam secara utuh. Sebab, jelas-jelas, sejarah mencatat Syiah sebagai salah satu madzhab Islam, bahkan yang tertua, yang ajarannya tak menyimpang dari Islam. Adapun perbedaannya dengan Sunni hanya pada masalah cabang-cabang Islam (furu'), sebagaimana perbedaan antara Sunni-Syafi'i dan Sunni-Hambali, misalnya. 

Kesembilan, Syiah gagal dipahami karena mereka tak tahu bahwa dalam Syiah ada banyak madzhab kecil yang sebagian menyimpang (misalnya: Syiah Alawy yang mengkultuskan secara berlebihan Sayyidina Ali) yang itu telah disesatkan sejak awal oleh Syiah It'na Asyariyah (Syiah Imamiyah-Ja'fari) yang merupakan Syiah umum yang dianut oleh mayoritas Muslim-Syiah dunia dan seluruh Muslim Syiah di Indonesia. Mereka tak tahu bahwa Syiah It'na Asyariyah (Syiah Imamiyah-Ja'fari) tak menyimpang, bahkan sangat dekat dengan ajaran Sunni, sehingga oleh Gus Dur sampai-sampai NU disebut sebagai Syiah kultural, karena besarnya sumbangan ajaran Syiah yang diadopsi Sunni-NU. Padahal, di Sunni 'pun ada madzhab-madzhab kecil, yakni: Syafi'i, Maliki, Hambali, dan Hanafi.   

Kesepuluh, Syiah gagal dipahami karena mereka suka menggeneralisir. Jadi, ketika mereka melihat tingkah salah seorang Syiah yang dianggapnya melanggar, bukan justru dinilai sebagai kelakuan oknum yang bertentangan dengan ajaran Syiahnya, melainkan dinilai sebagai bukti kesesatan Syiah. Padahal, hal semacam itu bisa terjadi pada semua penganut madzhab Islam. Terkait ini, yang paling populer, misalnya, pelanggarakan yang dilakukan Presiden Bassar Assad (Presiden Suriah) yang dituding sebagai pengikut Syiah (padahal ia penganut Syiah Alawy), dianggap sebagai pelanggarakan Syiah. Padahal, ketika dulu Saddam Hussein sebagai Presiden Irak berlaku kejam, tak pernah hal itu dianggap sebagai kekejaman Sunni yang notabene adalah madzhab Saddam Hussein.

Itulah sepuluh diantara penyebab kegagalan sebagian Muslim memahami Syiah. Semoga tulisan ini bisa mengurai benang kusut kesalahpahaman sebagian Muslim kita terhadap Syiah.

Wednesday, November 19, 2014

Tafsir Ayat: Tak Ada Paksaan dalam Agama

"Tak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya jalan yang benar telah jelas terbedakan dari jalan yang sesat. Karena itu, siapa 'pun kufur terhadap para pendurhaka (tuhan-tuhan palsu) dan mengimani Allah, maka dia sungguh telah berpegangan handel yang sangat kuat, yang tidak ada putusnya. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." 
(QS. Al-Baqarah: 256)
***
"Tak ada paksaan dalam agama ..."

Agama adalah seperangkat kepercayaan atau keyakinan. Agama adalah perkara moralitas dan integritas. Oleh karena itu, pada sifat dasarnya, perkara tentang agama memang mustahil untuk dipaksakan. Orang bisa saja memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu yang bersifat fisik, namun orang tersebut mustahil bisa memaksa seseorang untuk mengimani atau mengingkari sebuah kepercayaan: agama. Kepercayaan adalah buah dari pikiran dan pemahaman. Sehingga, ayat ini sebenarnya sebuah perintah agar kita tak melakukan seluruh bentuk pemaksaan dalam mendakwahkan agama, yang didasarkan atas informasi bahwa karena memang pada kodratnya agama diciptakan sebagai sebuah kepercayaan atau keyakinan di hati dan pikiran yang mustahil bisa dipaksakan, bagaimanapun juga caranya.

"... Sesungguhnya jalan yang benar telah jelas terbedakan dari jalan yang sesat ..."  

Ayat ini dipertegas lagi dengan informasi bahwa agama adalah jalan yang benar, yang itu jelas-jelas berbeda dengan jalan yang sesat. Oleh karena itu, sebenarnya tak perlu dilakukan pemaksaan di dalamnya, karena siapa saja yang hati dan pikirannya terbuka dan jernih, dengan dakwah yang tanpa dipaksakan, akan memahami kebenaran agama tersebut, mengetahui perbedaannya dengan jalan kesesatan, dan akhirnya memilih untuk meyakini jalan agama itu. Sehingga, benar-benar tak ada kebutuhan untuk memaksakan dalam perkara agama yang jelas-jelas dan gamblang manfaat mengikutinya dan keburukan menjauhinya, serta jelas dan gamblang pula tentang pahala bagi yang mengikutinya dan hukuman bagi yang menolaknya. Pemaksaan dalam agama benar-benar diposisikan sebagai bentuk ketidakrasionalan, bahkan kepicikan. 

Dalam perkara agama, seorang memang diwajibkan untuk merdeka. Sebab, ini menyangkut keyakinan. Apalagi, agama memang menghendaki keikhlasan dan ketulusan yang akan berimplikasi pada penyerahan total, kepasrahan dan ketundukan penuh.     

Menurut 'Allamah Thabathaba'i dalam Tafsir Mizan Jilid 4 (hlm 236), ayat ini juga sangkalan yang kuat atas anggapan sebagian Muslim atau 'pun non-Muslim yang menganggap Islam sebagai agama pedang. Perkara perang dalam Islam, bukanlah bertujuan untuk mendapatkan kemajuan material dan juga bukan untuk menyebarkan agama dengan jalan kekerasan. Pikiran bahwa Islam membolehkan dakwah dengan pedang adalah muncul dari pikiran yang keruh. Perang dalam Islam adalah dalam konteks bagi kita untuk menyelamatkan dan membela diri jika diserang oleh musuh kebenaran.

Ayat ini juga tak di-nasakh oleh ayat perang, meskipun sebagian penulis Muslim beranggapan begitu. Perintah dalam ayat ini tak bisa di-nasakh, kecuali jika, dan sampai, alasannya juga di-nasakh, yakni bahwa sesungguhnya jalan yang benar sudah jelas berbeda dengan jalan yang sesat. Selama alasannya sih berlaku, dan memang mustahil akan pernah tak berlaku, maka ayat ini tak tetap absah. Ayat perang dalam Islam sama sekali bukan bertujuan pula untuk menegaskan perbedaan antara kebenaran dan kebatilan. Sebab, itu adalah perkara yang jelas dan gamblang. Justru, menurut penulis, perang bisa jadi membuat perkara yang jelas dan gamblang itu sedikit tertutupi oleh tingkah oknum yang berdakwah keras atas nama ayat Qur'an tersebut.  

"... Karena itu, siapa 'pun kufur terhadap para pendurhaka (thoghut, tuhan-tuhan palsu) dan mengimani Allah, maka dia sungguh telah berpegangan handel yang sangat kuat, yang tidak ada putusnya ..." 

"Thoghut" berarti "memberontak, berdurhaka, dan melanggar". Istilah itu digunakan untuk menyebut segala bentuk agen dan penyebab kedurhakaan, pemberontakan dan pelanggaran, seperti tuhan-tuhan palsu dan berhala-berhala dari kalangan setan, jin atau manusia, feminim atau maskulin, dan tunggal atau 'pun jamak.
Kalimat kufur pada thoghut disebut sebelum iman pada Allah. Ini bermakna bahwa pegangan yang kuat dan mustahil putus itu akan tercapai jika kita melepaskan thoghut terlebih dulu untuk kemudian beriman pada Allah. Seseorang yang ingin memegang sesuatu, memang sepatutnya melepas sesuatu yang lain, apalagi keduanya bertentangan.  

'Urwah berarti bagian dari sesuatu ayng dibuat untuk memegang sesuatu tersebut, seperti handel pada panci. Ayat ini menegaskan bahwa mengimani Allah adalah kenikmatan puncak yang menenangkan. Sebagaimana handel pada panci, seseorang takkan merasa tenang dalam memegang panci, kecuali memegang kuat-kuat handelnya.

"... Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." 

Kalimat ini menegaskan kembali bahwa iman adalah tentang hati dan lidah. Yang hanya dilidah, tapi tak di hati itu munafik, bukan iman. (Tulisan ini sebagian besar didasarkan pada Tafsir Mizan karya 'Allamah Thabathaba'i) 

Monday, November 10, 2014

Pahlawan itu Syahadah, Bukan Martir

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Dimuat Majalah Tempo, 2 Desember 2013)

Dalam doktrin dan tradisi Islam, siapa saja yang gugur di jalan kebenaran, kemerdekaan, pembebasan dan keadilan disebut sebagai "syahid" atau juga "martir" (martyr), baik pejuang agama, bangsa maupun nilai-nilai luhur. Sepintas, kedua kata itu seolah sama, hanya beda bahasa. Namun, menurut Ali Syariati (filosof sekaligus sosiolog Muslim asal Iran) dalam Martyrdom: Arise and Bear Witness (terj. Kemuliaan Mati Syahid, 2003), pada dasarnya, jika dirujukkan pada asal katanya masing-masing, dua kata itu -"syahid" (berasal dari bahasa Arab: syahida-yasyhadu-syahadatan) dan "martir" (berasal dari bahasa Inggris: "martyr")- memiliki dua makna yang bukan hanya berbeda, tapi paradoks. 

Dalam tradisi kebahasaan Barat dan Eropa, martyr berarti orang yang memilih mati dalam membela keyainan melawan musuh-musuhnya, di mana jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah mati. Sedangkan "syahadah" dalam kultur Arab-Islam berarti "bangkit, bersaksi" (untuk kebenaran, keadilan, kemerdekaan, kemanusiaan, dll), meskipun digunakan juga untuk menamakan seseorang yang telah menetapkan kematian sebagai pilihan. (Kemuliaan Mati Syahid, hal. 33-34) Sehingga, kata "martyrdom" ("martyr" dari kata "mortal") yang bermakna "maut" atau "mati" justru paradoks dengan "syahadah" yang bermakna "hidup, bangkit, dan kesaksian". 

Syahadah bukanlah peristiwa berdarah yang merupakan kecelakaan. Dalam agama lain (non-Islam) dan sejarah suku-suku, martyrdom adalah pengorbanan para pahlawan yang terbunuh dalam peperangan oleh pihak musuh. Kematian semacam itu dipandang sebagai sebuah peristiwa tragis yang penuh dengan kepedihan. Perspektifnya: korban tindak kekerasan. Dalam konteks syahadah, kematian bukanlah sesuatu yang ditimpakan musuh pada seorang mujahid (orang yang berjihad), melainkan sesuatu yang diinginkan, dikejar dan dipilih oleh mujahid dengan segala kesadaran, keinsafan, logika dan penalaran rasional. (Collected Works, vol 16). Perspektifnya: pahlawan penentang kekerasan dan angkara.

Oleh karena itu, orang yang syahid dalam tradisi Islam justru dirayakan. Ketika melihat jasad Sayyidina Husain, cucu Rasul yang gugur di medan perang tak berimbang di Karbala, Irak, Sayyidah Zainab (saudara perempuannya) justru berkata, "aku tak melihat kecuali keindahan". Selaras pula dengan Jalaluddin Rumi (sufi besar asal Persia) yang dalam salah satu bait syair sufistiknya meminta agar saat kematiannya, janganlah bersedih dan merasakan kepedihan, tapi datang dan makamkanlah jasadnya dengan iringan tabuhan genderang perayaan.   

Bagi Syariati, perbedaan kata syahid dan martyr -yang ironisnya terlanjur kerap disamakan dalam ranah kebahasaan itu- penting untuk ditegaskan. Pasalnya, perbedaan keduanya menunjukkan perbedan pandangan budaya Islam dan Barat. Apalagi, syahadah merupakan salah satu unsur dasar dan penting dalam doktrin Islam.

Kata syahadah dalam tradisi kebahasaan Arab (khususnya Islam) memiliki kandungan sakral dan dimensi eskatologis. Kata itu dimaknai dalam kerangka firman Allah dalam QS. Ali Imran: 169 yang menegaskan bahwa seseorang yang mati di jalan Tuhan (kebenaran, keadilan, kemerdekaan, kemanusiaan, dll) sebenarnya tak pernah mati, melainkan terus 'hidup' di sisi-Nya. Dalam konteks manusia, 'hidup'-nya para pahlawan itu walau ia telah gugur bermakna bahwa mereka terus dikenang dan nilai-nilai kepahlawanannya abadi menginspirasi dan menyuntikkan semangat perjuangan luhur bagi siapa saja yang hidup setelah generasi mereka.

Dalam catatan Syariati, dimensi sakralitas kata syahadah yakni bahwa riwayat tentang syahadah dalam Islam penuh cinta, semangat yang bahkan tanpa argumentasi dan melumpuhkan logika biasa dan menggantinya dengan logika luar biasa (alogical). Syahadah adalah perpaduan antara cinta yang halus dan kebijakan yang mendalam. Kompleksitasnya membuat seseorang kesulitan melahirkan keduanya secara adil. (Kemuliaan Mati Syahid, hal. 33)

Pentingnya penegasan tentang arti dan makna kata syahadah, sekaligus menarik garis pembeda dengan martyr, karena syahadah berkaitan dengan doktrin jihad dalam Islam yang kerap disalahartikan. Syahadah memang bisa dijemput melalui jihad dalam arti perang mempertaruhkan nyawa yang berujung pada kematian. Namun, yang perlu ditekankan, merujuk pada arti kata syahadah menurut Syariati di atas, jihad itu harus didasari pada kesadaran, keinsafan, logika dan penalaran rasional. Tentu, tak seperti konsep jihad dalam arti menjadi martir bom bunuh diri yang berkembang di kalangan teroris atas nama Islam selama ini. Sebab, 'pengantin' bom bunuh diri itu sebenarnya hanya menjadi objek (korban) doktrin terorisme atas nama agama semata, tanpa sadar apalagi menalar secara rasional-logis bahwa Islam sejatinya agama rahmat. Karenanya, mereka tepat jika disebut martyr bukan syahid. Selain itu, yang lebih penting bahwa syahadah bisa juga dijemput dengan jihad melawan hawa nafsu (jihad an-nafs) yang dalam hadist disebut lebih lebih besar dari jihad perang berkorban diri. Oleh karena itu, tak seperti martyr, dalam syahadah bukanlah kematian satu-satunya jalan, melainkan juga kehidupan; hidup, bangkit, bersaksi dan menebar kasih dan ajaran-Nya. Sehingga, seperti pernah disampaikan oleh almarhum Muhammad Husain Fadhlullah (ulama Libanon sekaligus pendiri dan pemimpin spiritual Hizbullah), bagi siapa saja yang bangkit, bersaksi dan menebar kasih dan ajaran-Nya, bagaimana 'pun cara mereka mati (meskipun bukan karena gugur di medan perang), mereka menjadi syahid.

Saturday, November 8, 2014

Pesan Damai Sura

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Dimuat Koran Tempo, 6 November 2014)

Muharram dalam kalender Hijriyah memiliki nilai signifikan dalam perspektif Islam. Bukan hanya karena ini bulan pertama dalam kalender Hijriyah yang ditandai hijrahnya Nabi Muhammad, sehingga patut menjadi titik refleksi untuk transformasi diri, keberislaman, dan keberumatan menuju titik lebih baik. Atau agar kita tak menjadi pribadi atau umat yang merugi, tak cakap meng-otentik-kan waktu dan tak pandai memastikan bahwa hari esok lebih baik daripada kemarin. Tapi juga karena ini adalah salah satu dari empat bulan toleransi dan perdamaian dalam Islam.

Muharam adalah salah satu bulan suci yang diharamkan oleh Allah untuk berperang. Terminologi "Muharam" bahkan berasal dari akar kata bahasa Arab: "h-r-m", yang berarti "suci". Karena itu, bulan ini adalah momentum tepat untuk merefleksikan rapor toleransi umat Islam guna kembali mengoreksi, berintrospeksi, dan meningkatkan kualitas toleransi keislaman kita, serta terus merajut perdamaian antar-mazhab dan umat beragama.

Adapun dalam tradisi Islam Indonesia, Muharam memiliki nilai signifikan plus lain, yakni dikenalnya bulan ini sebagai bulan Sura. Terminologi "Sura" berasal dari Asyura: ajaran dan peringatan umat Islam dalam mengenang terbunuhnya Sayyidina Husain (cucu Nabi) di Karbala (Irak) dalam pembantaian oleh pasukan di bawah perintah "Khalifah" Yazid dari Dinasti Umayyah. Dalam tradisi Islam Indonesia, dari Aceh, Bengkulu, Jawa, hingga Madura, Sura memiliki ragam ekspresi peringatan duka berbasis budaya: ada upacara Tabot di Bengkulu hingga pembagian bubur Sura di Jawa.

Asyura sendiri, meski menandai sebuah tragedi pembantaian yang terjadi pada bulan yang dilarang berperang (apalagi membantai), sarat akan pesan-pesan toleransi dan perdamaian. Cendekiawan Annemarie Schimmel, dalam salah satu artikel khusus tentang asyura berjudul Karbala and the Imam Husain in Persian and Indo-Muslim Literature, bahkan heran bagaimana Sayyidina Husain justru menekankan pentingnya nilai-nilai tertinggi HAM dan perdamaian dari pembantaian terhadap dirinya. Sebab, dengan membawa wanita, anak-anak, bahkan bayi, Sayyidina Husain justru hendak memperlihatkan bahwa darah dan nyawanya, keluarga serta sahabatnya, akan ia relakan demi sebuah sejarah paling mengerikan agar tak lagi ada pertumpahan darah atau anarkisme atas nama Islam, kekhilafahan, dan lain-lain.

Dalam sejarahnya, rombongan keluarga Sayyidina Husain bahkan justru disambut dan diperlakukan dengan baik oleh salah seorang pendeta di salah satu gereja di bukit Syam (Suriah), yang kini diabadikan sebagai situs sejarah Islam bernama Ra'sul Husain (Kepala Husain). Walhasil, lengkaplah pesan Asyura bahwa perdamaian dan kemanusiaan adalah pesan dan perkara universal yang lintas agama, apalagi sekadar madzhab. Di sisi lain, ironisnya, Ibn Taimiyyah, yang menjadi kiblat kubu ekstremis Islam, justru memutarbalikkan sejarah Asyura untuk mengubur pesan-pesan damainya dan pesan kritisnya demi doktrin khilafah yang kian kerap digadang-gadang oleh kaum muslim radikal di dunia, termasuk Indonesia.

Karena itu, Asyura harus terus diperingati sebagai salah satu aset budaya Islam Indonesia sebagai penghayatan dan ekspresi Islam khas Indonesia yang damai, toleran, humanis, akulturatif, dan mengandung pesan lintas mazhab serta lintas agama.

Monday, November 3, 2014

Syair Imam Syafi'i ra Tentang Kesyahidan Sayyidina Husain as di Karbala

Syair pilu Imam Syafi'i ra tentang kesyahidan Sayyidina Husain as di Padang Karbala

Hatiku mengeluh karena hati manusia sedang merana. Kantuk tak lagi datang, susah tidur membuatku pusing.
Wahai siapa yang akan sampaikan pesanku pada Al-Husain, yang dibantai meski tak berdosa.

Bajunya seakan dicelup basah dengan warna merah. Kini pedang 'pun meratap. Kuda yang kemarin meringkik, juga meratap.

Bumi gempa karena keluarga Muhammad. Demi mereka, gunung kukuh akan meleleh. Benda langit rontok, bintang gemetar.

Wahai cadur dirobek, demikian juga hati!
Orang yang bershalawat untuk dia yang diutus dari Bani Hasyim, dia juga memerangi anak-anaknya.

Alangkah anehnya! Jika aku dianggap berdosa karena cinta pada keluarga Muhammad, maka aku takkan bertaubat atas dosa ini.

(Kitab Mukasyafah al-Qulub fu Mukhtsar Ilm al-Ghuyub & Kitab Diwan al-Imam as-Syafi'i ra)

Sunday, October 5, 2014

Habib Mundzir dan Dakwah Perkotaan

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
Pernah dimuat Koran Tempo, 20 September 2013

Apa yang telah berhasil dilakukannya juga sekaligus penegasan atas hipotesis Peter Berger dan William James yang menyebutkan "agama punya seribu nyawa" dan sampai kapan pun modernisme tak akan mampu membunuhnya.

Masyarakat muslim Indonesia, khususnya muslim perkotaan (urban) di Jakarta, kembali berduka. Setelah sebelumnya pada 26 April lalu Ustad Jefri Al Buchori wafat, kali ini giliran Habib Mundzir Al-Musawa yang dipanggil ke sisi-Nya, yang juga dalam usia relatif muda. Selain itu, kesamaan lain di antara kedua ustad tersebut, yang justru signifikan dan fundamental, adalah metode dakwahnya. Kedua sosok panutan umat Islam itu sama-sama menghadirkan Islam dalam formulasi dakwah yang dikontekstualkan dengan lingkup masyarakatnya, yakni muslim perkotaan-kosmopolitan. Walaupun dalam bentuk keduanya memiliki corak, metode dan nuansa dakwah yang berbeda yang sekaligus menjadi ciri khas dakwah masing-masing sesuai dengan konteks pendengar masing-masing pula. Namun, menurut penulis, setidaknya semangat, kesadaran, serta konsep dasar dakwah kedua ustad tersebut relatif sama, yakni beradaptasi dengan konteks umat perkotaan-kosmopolitan dengan segala ciri khasnya. Dakwah kedua ustad itu cenderung berorientasi mendidik generasi muda dan mengajak mereka berpaling dari euforia dan hedonisme perkotaan menuju spiritualitas Islam berbingkai kecintaan kepada Nabi Muhammad melalui ritual zikir dan salawat. 

Adapun dalam konteks Habib Mundzir sendiri, menurut penulis, ada peran dan kontribusi positif khas yang telah ditorehkan olehnya terhadap masyarakat muslim perkotaan di Jakarta melalui Majelis Rasulullah-nya. Pertama, dengan ciri paling khasnya yang pragmatis-kosmopolit, modernisme di kota besar serta metropolitan semacam Jakarta secara tidak langsung mengalienasi dan tak menyisakan ruang ekspresi bagi fenomena berbasis spiritualitas-tradisionalis. Namun, melalui Majelis Rasulullah-nya, Habib Mundzir kemudian justru hadir untuk mengisi kebutuhan paling primordial dalam diri manusia (khususnya di perkotaan), yakni spiritualisme, yang memang merupakan fitrah setiap manusia. 

Kedua, melalui Majelis Rasulullah-nya itu, Habib Mundzir relatif berhasil mengubah paradigma masyarakat perkotaan Jakarta tentang wisata, yang sering kali mengaitkan wisata, yang sekadar media pemuas kenikmatan indrawi semata, dengan sebuah media pemberi kenikmatan insani yang sublim. Habib Mundzir mengubah malam hari di Jakarta-khususnya bagi anak muda-sehingga tak hanya lagi sebagai malam wisata indrawi dengan segala euforia dan hedonisme khas anak muda perkotaan, tapi juga sebagai wahana studi, kontemplasi, dan rekreasi.

Ketiga, melalui Majelis Rasulullah-nya itu pula, Habib Mundzir menggeser luapan cinta kasih anak muda perkotaan yang biasanya dicurahkan kepada lawan jenis dengan berbasis nafsu-libido, dengan dikelola sedemikian rupa melalui zikir dan salawatnya sehingga kecintaan itu bermuara pada Allah dan Rasul-Nya. 

Menurut penulis, pesatnya perkembangan Majelis Rasulullah, yang dipimpin Habib Mundzir, juga majelis-majelis serupa yang muncul setelahnya, justru karena modernisme yang semakin merajalela dan terus mengikis nilai-nilai spiritualitas di Jakarta. Karena itu, publik Jakarta makin membutuhkan "sajian" spiritualisme instan dari majelis-majelis semacam itu guna memenuhi kebutuhan primordial-fitrah dalam dirinya-yaitu spiritualisme-yang telah teralienasi dan hilang dari manusia modern perkotaan, sebagaimana hipotesis Herbert Marcuse dalam One Dimension Man. Melalui Majelis Rasulullah-nya, Habib mengisi krisis spiritualitas masyarakat modern-perkotaan. Apa yang telah berhasil dia lakukan juga sekaligus penegasan atas hipotesis Peter Berger dan William James yang menyebutkan "agama punya seribu nyawa" dan sampai kapan pun modernisme tak akan mampu membunuhnya. Dan, penulis sendiri cenderung menyebut dakwah perkotaan Habib Mundzir dan Majelis Rasulullah-nya sebagai fenomena sufisme perkotaan (urban sufism).

Jika ditelusuri, dakwah ala Habib Mundzir itu sebenarnya memiliki jejak historis di kalangan habaib (bentuk jamak dari kata habib) di Indonesia. Fenomena dakwah itu sejatinya bukan fenomena baru, kendati metodenya baru karena diakulturasikan dengan tuntutan ruang dan zaman. Sejak dulu, hampir di setiap kota besar di Indonesia memang dikenal sosok habib yang difigurkan serta memiliki majelis pengajian massal di kota masing-masing sebagai media dakwah Islam-nya. Pekalongan terkenal akan sosok Habib Luthfi, di Surabaya ada Habib Neon, di Solo tersohor nama Habib Ali Habsyi, dan di Jember masyhur nama Habib Sholeh Tanggul. Termasuk pula di Jakarta. Malah, justru di kota modern-metropolitan, seperti Jakarta, fenomena tersebut lebih subur. Maka, sejak dulu kemudian dikenal nama Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi, yang tinggal di Kwitang, yang wibawanya hingga mendorong pembangunan Islamic Center Indonesia, yang diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto pada 1970-an di Kwitang, yang kini menjadi pusat pengajian massal di Jakarta. Kemudian, dikenal pula nama Habib Kuncung di Kalibata, Habib Ibrahim di Kramat Pulo, Habib Luar Batang, serta Habib Salim bin Jindan di Condet. Jangan lupa pula pada karisma Habib Mbah Priok, yang sampai-sampai makamnya saja dipertahankan begitu kuat oleh umat Islam sekitar sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusi beliau.

Ciri utama dan mendasar dari dakwah para habib itu sejak dulu (termasuk sejak arus pertama diaspora habaib dari Hadhramaut Yaman dalam upaya penyebaran Islam di Nusantara dan Asia Tenggara, yakni sekitar abad ke-13) adalah damai dan berakulturasi dengan budaya lokal. Corak itulah yang kemudian kental dan bisa kita lihat dari dakwah Habib Mundzir, yang cenderung merangkul kalangan muslim perkotaan (khususnya anak muda) dengan segala keadaan dan trennya, serta mengarahkannya secara perlahan, damai, dan penuh kesantunan pada nilai-nilai Islam secara substansial. 

Selain itu, corak utama dan mendasar dakwah para habib sejak dulu adalah pengajaran Islam berbasis cinta kasih kepada Allah melalui zikir, kepada Rasulullah melalui salawat, dan kepada sesama manusia melalui ukhuwah (persatuan atau persaudaraan). Karena itu, dalam salah satu ceramah terakhirnya pada 2 September lalu di majelis rutinnya, ketika membahas kitab Ar-Risalatul Jami'ah, Habib Mundzir mengulas tentang hadis yang berbunyi: "Mencaci-maki orang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran ". Dalam penjelasannya, beliau menegaskan bahwa dosa atau maksiat yang telah dilakukan seseorang (apalagi muslim) bukan sepatutnya direspons dengan cacian atau makian, apalagi kekerasan. Tapi justru dengan ajakan (dakwah) yang santun dan bijak. Dengan begitu, Islam sebagai rahmatan lil 'alamin benar-benar terasa di bumi Allah.

Monday, September 29, 2014

Dimensi Sosiologis Haji

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
Dimuat Republika, 29/10/2010

Buku fenomenal berjudul “Hajj” karya Ali Syari’ati -sosiolog Muslim tersohor kelahiran Iran, yang memaparkan tentang dimensi sosiologis-humanis ibadah haji, ditutup dengan epilog berupa sebuah syair karya Naser Khosrow. Syair itu berkisah tentang seseorang yang pulang haji, tapi tak sedikit pun meraih nilai-nilai sosiaologis-humanis dari ibadah haji itu sendiri. Dan, itu berarti hajinya nihil penghayatan dan tak berbekas bagi kepribadiannya. Sehingga, nyaris tak ada bedanya antara saat ia sebelum berhaji dan setelah berhaji.

Padahal, haji sejatinya bukan ritual berbasis teologis-spiritual semata. Namun, haji juga merupakan ritual yang kental akan nilai-nilai sosiologis-humanis yang begitu tinggi, mendalam, dan padat. Dalam konteks sosiologis-humanis tersebut, misalnya, ihram dipandang sebagai ritual yang mendidik manusia agar meninggalkan seluruh ‘pakaian’ yang pantas ditanggalkan, yang hina di mata Tuhan; kesombongan, hedonisme, dll, serta menggantinya dengan ‘pakaian’ putih dan suci; kerendahan hati, kesederhanaan, dll.

Adapun ketika jamaah haji sedang berada di Arafah, suatu waktu dan tempat saat manusia begitu dekat dengan Tuhannya, maka saat itu sejatinya mereka sedang diajarkan untuk berkenalan secara dekat dengan kemahapengasihan, kemahapenyayangan, serta kemahabaikan Tuhannya serta meresapkan dan memanifestasinya ke dalam dirinya.

Saat tawaf, maka sejatinya manusia sedang diajarkan untuk melumpuhkan egoisme individu ataupun kelompoknya, bersatu serta berdialog bersama dalam berbagai keragaman latar belakang pemikiran, mazhab ataupun budaya mereka dalam satu haluan yang selaras di atas fondasi toleransi. Sedangkan, berkurban, secara sosiologis-humanis patut dipahami sebagai ritual bagi para jamaah haji untuk ‘menyembelih’ egoisme dan sifat-sifat kehewanan yang ada dalam dirinya. Terakhir, kembalilah ke tanah air masing-masing dalam keadaan telah memastikan bahwa ‘diri’-nya telah terkubur di sana.

Itulah sejatinya nilai-nilai yang tak kalah pentingnya dibanding nlai-nilai teologis-spiritual dari ibadah haji yang kerap luput dan terlupakan oleh para jamaah haji. Bahkan, dimensi sosiologis-humanis itu merupakan tolok ukur konkret dan paling nyata bagi seorang jamaah haji bagi ke-mabrur-an dimensi teologis-spiritual hajinya.

Dalam artian, seorang jamaah haji yang sepulangnya dari Tanah Suci tak terjadi dan membekas perubahan yang lebih baik dalam dimensi sosiologis-humanis dalam kepribadiannya, maka dapat disimpulkan bahwa ritual hajinya tak mabrur.

Karenanya, dengan tegas Khosrow memvonis bahwa sejatinya jamaah haji semacam itu tak pernah berhaji dengan sebenar-benarnya.

Dalam konteks Indonesia, jamaah haji semacam itu banyak ditemui. Sehingga, begitu bertumpah ruah masyarakat Muslim Indonesia yang pergi haji setiap tahunnya, namun begitu minim dampak sosilogis-humanis positif yang kita rasakan di Indonesia; korupsi yang berpangkal dari egoisme diri tetap merajalela, kemiskinan dan ketertindasan tetap menjadi fenomena di sini dan degradasi moral masih menjadi salah satu problem dasar bagi masyarakat bangsa ini.

Bahkan, ironisnya, berangkat haji kerap menjadi perjalanan wisata bagi sebagian orang, di tengah-tengah tingkat kemiskinan yang masih tinggi. Sehingga, tak jarang dari mereka yang berhaji lebih dari satu kali. Padahal, jika tak mau menyebutnya larangan, minimal tak ada perintah ataupun anjuran dalam Islam untuk berhaji lebih dari satu kali bagi umatnya.

Bagi masyarakat Indonesia, khususnya haji juga kerap hanya menjadi tren guna mendongkrak popularitas sosial-ekonomi maupun wibawa kagamaan seseorang. Sebab, gelar “haji” yang terselip di setiap nama seseorang yang telah berhaji masih cenderung memiliki kekuatan dan daya tawar dalam tatanan masyarakat kita.

Dalam artian, karena merupakan ritual mahal dan ritual puncak dalam rukun Islam, berhaji masih potensial bagi masyarakat kita (hanya dimanfaatkan) untuk meningkatkan popularitas sosial-ekonomi maupun wibawa kagamaannya.

Bahkan, haji juga potensial hanya menjadi sugesti spiritual (semacam momentum dan ritual penebusan dosa dan pembersihan diri) bagi mereka yang merasa telah berlumuran dosa, baik karena dosa individu (sombong, iri, bermaksiat, dll) ataupun dosa sosial (korupsi, nepotisme, dll), dan nantinya kembali melakukan berbagai praktik dosa itu kembali sekembalinya ke Tanah Air.

Bertolak dari situ, maka sudah sepatutnya bagi setiap jamaah haji untuk mereformasi niat dan praktik haji mereka. Agar nantinya mereka benar-benar memahami dan mempraktikkan haji tak hanya sebatas sebagai sebuah ritual teologis-spiritual semata.

Namun, juga sebagai ritual sosiologis-humanis yang akan berdampak positif signifikan besar bagi tatanan sosial masyarakatnya. Sehingga, gelar “haji” tak menjadi sebuah atribut ataupun komoditas.

Tapi, gelar itu merupakan sebuah anugerah sakral yang diberikan oleh Tuhan agar mereka benar-benar dapat menjadi khalifah-Nya (khalifatullah) di muka bumi, khususnya di tatanan masyarakat sekitarnya, sebagaimana amanat Alquran. Sehingga, mereka akan benar-benar menjadi haji yang mabrur.

Friday, September 26, 2014

Wuquf Di Arafah, Dzikir Keterciptaan

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
Pernah dimuat MizanMag dan Islam-Indonesia dalam serial tulisan "Falsafah Haji"

Salah satu makna terpenting yang harus dipetik oleh jamaah haji dalam ritual wuquf di Padang Arafah yakni merenungkan dan menghayati keterciptaan manusia hingga mereka menjadi umat di bumi ini. Oleh karena itu, perginya jamaah haji dari Makkah ke Arafah dinilai sebagai simbolisasi dari "innalillah" (sesugguhnya kita -manusia- adalah milik Allah). Adapun kembalinya mereka dari Arafah ke Makkah dinilai sebagai simbolisasi dari "inna ilaihi roji'n" (kepada-Nya 'lah kita -manusia- kembali). Itulah konsep dasar dari penciptaan manusia dalam Islam yang harus selalu dan terus dimengerti, diingat dan dihayati oleh setiap Muslim. Sebab, konsep itulah yang bisa menyelamatkan hidup kita di dunia.

Dengan konsep itu, kita menjadi tahu tentang apa yang harus dilakukan di dunia ini. Tanpa konsep itu, kita akan merasakan kehidupan ini sebagai keterlemparan semata ke dunia, sehingga tak tahu dan bingung tentang apa yang harus dilakukan dalam kehidupan dunia ini. Akibatnya, banyak yang kemudian terjerumus dalam materialisme. Adapun jika kita berpegang pada konsep Islam tersebut, maka kita tahu bahwa kita hidup di dunia yang fana ini tak lain untuk mendapatkan bersyukur pada Allah atas penciptaan kita serta mempersiapkan diri untuk kembali pada-Nya dan menjalani kehidupan yang sebenarnya di akhirat nantinya.

Sudah begitukah kehidupan dunia yang kita jalani? Itulah salah satu poin yang harus direnungkan oleh jamaah haji di tengah teriknya matahari Padang Arafah. Dan, hanya masing-masing dari mereka sendiri yang bisa menjawabnya.

Padang Arafah juga merupakan tempat bertemunya kembali Adam dan Hawa setelah keterlemparannya ke dunia dari surga. Itulah poin renungan jamaah haji selanjutnya, yang juga tentang penciptaan. Artinya bahwa Arafah merupakan saksi keterlemparan Adam ke dunia.

Adam merupakan nenek moyang semua manusia yang pernah Allah ciptakan di muka bumi ini. Dan, sebagaimana Adam, manusia bukanlah malaikat yang diciptakan tanpa nafsu. Sebagaimana digambarkan oleh pelanggaran Adam terhadap larangan memakan buah "Khuldi", setiap manusia memiliki nafsu yang selalu mengarahkannya pada pengingkaran terhadap ketentuan Allah. Namun, keberadaan nafsu itu juga penting sebagai tantangan yang menjadikan manusia kemudian lebih sempurna ketimbang malaikat. Sebab, manusia punya kebebasan. Mereka selalu dihadapkan pada pilihan; baik-buruk, benar-salah, jujur-bohong, rajin-malas, bijak-dholim, dst. Dan ketika akal yang dikaruniakan padanya mampu mengendalikan nafsunya, maka ia akan memilih pilihan yang tepat serta menjadi sosok yang agung melebihi malaikat.  

Manusia terlempar ke dunia dengan perangkat yang sempurna, yakni akal sebagai pengontrol dan nafsu sebagai perangkat tantangan. Dunia adalah 'medan pertempuran' antara daya tarik keduanya; akal dan nafsu. Pemenang sejati adalah manusia yang nafsunya bisa dikendalikan oleh akalnya. Nah, wuquf di Arafah merupakan momentum untuk merenungkan keterlemparan manusia ke dunia, mengkaji penyebab-penyebabnya dan diharapkan nantinya muncul tekad untuk kembali kepada Allah sebagai pemenang sejati.

Alhasil, wuquf di Padang Arafah merupakan momentum untuk berdzikir, baik secara lafdhi maupun maknawi. Secara maknawi, seperti dikemukakan di atas, dalam wuquf jamaah haji patut mengingat dan merenungkan kembali segala hal tentang keterciptaannya. Sebab, itulah masalah pertama dan utama setiap manusia yang patut dipecahkan; Dari manakita? Di mana kita? Dan, mau ke mana kita? Itulah visi dan misi kehidupan setiap manusia. Itulah yang akan menjadi penentu setiap gerak manusia di dunia dan nasibnya di akhirat nantinya.

Maka dalam wuquf, berdzikirlah!

Friday, September 5, 2014

Setelah Negara Islam Dilarang di Indonesia

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar

Tentu sebagai sebuah gerakan terorisme berkedok Islam, Negara Islam sangat membahayakan. Penulis mengapresiasi langkah cepat dan tegas pemerintah yang pada 1 Agustus lalu menetapkan Negara Islam (NI) sebagai gerakan terlarang dan aparat secara sigap menangkap siapa saja yang terlibat dengannya. Itulah agenda jangka pendek yang tepat dan mendesak bagi pemerintah serta aparat, terkait dengan NI di Indonesia.

Namun, apabila dilihat secara utuh, mendasar, dan substansial, NI hanyalah gejala yang muncul memanfaatkan kondisi di tengah kegaduhan politik di Irak dan Suriah. Oleh karena itu, sebagian media dan pengamat dunia cenderung menyindirnya sebagai sebuah lelucon. Tidak jarang ditemui di berbagai media sosial dan Youtube pelbagai dagelan atau parodi yang dibuat untuk menertawakan NI dengan segala tingkah polahnya.

Tak berlebihan pula jika pengamat politik Abdulkhaleq Abdullah meremehkan kemampuan Al-Baghdadi dan NI-nya, apalagi jika dibandingkan dengan Osama bin Laden dan Al Qaeda-nya. Seperti dikutip Reuters, ia menyebut Baghdadi tidak memiliki sedikit pun dari kredibilitas dan kepercayaan seperti yang dimiliki Osama.

NI lebih terlihat semacam separatis Muslim yang mencoba-coba keberuntungan dalam kondisi quo. Mereka membangun ajaran dan ideologi secara ngawur dan melakukan gerakan teror secara membabi buta. Bahkan, sampai-sampai kini mereka mengafirkan eks ”tuan”-nya, Al Qaeda, karena tidak mau tunduk kepada brutalitas doktrin, ideologi, dan gerakan NI.

Oleh karena itu, dengan mudah NI diharamkan, dilarang, dipojokkan, dan dihabisi. Apalagi
di Indonesia yang Islam-nya damai, santun, rukun, dan ”berbunga-bunga” (menyukai akulturasi ajaran dan budaya setempat yang oleh ideologi NI yang ”gersang” itu cenderung disebut sebagai bidah) serta umatnya sejak awal telah meyakini Pancasila sebagai ideologi yang islami dan tepat untuk Muslim Indonesia.

Namun, menarik sekaligus mengejutkan membaca laporan Time yang menyebutkan bahwa militan NI di Suriah bukan justru datang dari Timur Tengah, melainkan kebanyakan dari Indonesia. Laporan ini, salah satunya, didasarkan pada penelitian serius Sidney Jones selama bertahun-tahun tentang terorisme dan akar-akarnya di Indonesia.

Beberapa mujahidin asal Indonesia dikirim ke Suriah untuk misi jihad dan indoktrinasi tentang ideologi ekstrem ala NI, kemudian kembali ke Indonesia dan mengindoktrinasi serta merekrut mujahidin dan begitu seterusnya membentuk jaringan teroris. Mereka direkrut dari ideologi dan gerakan-gerakan Islam radikal di Indonesia yang memang berkembang pesat.

Oleh karena itu, menurut penulis, di samping pelarangan dan eksekusi terhadap NI dan siapa saja yang terkait dengannya, yang mendesak dan penting diwaspadai serta dihabisi secara serius dalam upaya pemutusan jaringan adalah ajaran neo-Khawarij yang menjadi ladang subur bagi gejala semacam NI tersebut. Itulah agenda jangka panjang selanjutnya yang harus dilakukan seluruh elemen bangsa ini.

Karakter neo-Khawarij

Mudahnya NI masuk ke Indonesia dan, misalnya juga, Malaysia adalah karena karakter neo-Khawarij yang telah lama bersemi di Indonesia dan Malaysia. Jika di Irak dan Suriah mereka menjadi fenomena yang memanfaatkan status quo politik, di Indonesia dan Malaysia mereka menjadi fenomena yang memanfaatkan keberislaman bercorak neo-Khawarij di Indonesia dan Malaysia. Tak heran jika deklarasi NI terjadi di kota-kota yang selama ini memang tercatat memiliki corak keberislaman cita rasa Khawarij, yakni Ciputat, Bekasi, Solo, dan Malang.

Corak keberislaman cita rasa Khawarij atau neo-Khawarij yang dimaksud adalah corak keberislaman yang menyerupai atau malah bentuk ekstrem dan lebih mengerikan dari Khawarij. Khawarij awalnya sebuah gerakan politik yang berkhianat pada keputusan arbitrase (tahkim) Sayyidina Ali. Karena itu, mereka disebut khowaarij (secara bahasa berasal dari kata khowaarij yang berarti ’mereka yang keluar’).

Khawarij kemudian berkembang dan mengemas diri menjadi kelompok yang mengatasnamakan Islam lengkap dengan teologi dan ajarannya sendiri. Corak paling kental dari Khawarij adalah mengafirkan (takfiri) kelompok selain mereka, menuduh akulturasi Islam dan nilai budaya serta kearifan lokal sebagai bidah (kesesatan), menuduh semua rezim selain rezimnya sebagai thoghut (berhala), serta anticinta kasih sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai ekstremisme, kekerasan, dan pemaksaan dalam berislam dan berdakwah.

Corak keberislaman ala Khawarij inilah yang masih sering diadopsi dan dipraktikkan—entah secara sadar atau tidak sadar—oleh sebagian umat yang mengatasnamakan bagian dari Islam. Mereka yang bercorak Islam neo-Khawarij inilah yang menjadi ladang untuk diindoktrinasi atau direkrut menjadi teroris atas nama agama, baik untuk kepentingan terorisme di
luar negeri maupun di dalam negeri.

Corak keberislaman Khawarij ini, misalnya, yang ditunjukkan oleh mereka yang menyerang dan mengusir Syiah di Sampang dari kampung halamannya beberapa tahun lalu, atau mereka yang terus merongrong umat beragama lain dan rumah ibadahnya. Kedua kasus itu bahkan sudah bisa disebut sebagai miniatur NI karena menampakkan sikap persis seperti yang dilakukan NI di Irak, yakni meminta yang berbeda (mazhab maupun agama) agar bertobat dan masuk Islam, bersedia diusir, atau mau membayar jizyah (pajak atas jalan beda yang dipilihnya).

Akhirnya, sebagai upaya pemutusan jaringan dan pembendungan agar negeri ini tidak lagi disusupi fenomena NI dan sejenisnya, kita harus bersama melakukan deradikalisasi dalam berislam, khususnya menentang paradigma neo-Khawarij. Upaya ini harus dilakukan sejak dini dan berbasis pada gejala (bukan sampai menjadi gerakan).

Selain itu, kita juga harus melakukan upaya mengembalikan keberislaman seluruh komponen umat Islam Indonesia pada Islam khas Indonesia yang telah ditanamkan sejak awal oleh Wali Songo dan para pendakwah awal Islam di Indonesia, yakni Islam yang rahmat (damai, toleran, dan plural), demokratis, serta berakulturasi dengan nilai-nilai kearifan dan budaya kita.

Sunday, August 10, 2014

Tantangan Lembaga Pendidikan Islam

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Pernah dimuat di Rubrik Ide Koran Tempo, 8 Mei 2011)

          Sungguh ironi, Hari Pendidikan Nasional kita tahun ini diwarnai dengan asumsi negatif masyarakat kita terhadap lembaga pendidikan Islam di Indonesia akibat maraknya gerakan radikalisasi yang berpusat di sana. Bahkan, lembaga pendidikan Islam disinyalir sebagai ‘ladang subur’ perekrutan dan kaderisasi generasi muda Muslim sebagai teroris generasi selanjutnya di negeri ini. Dalam bentuknya yang berseberangan, sekitar 10 tahun yang lalu, fenomena serupa menciderai citra lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Saat itu, lembaga pendidikan Islam dinilai sebagai pusat pemurtadan dan pengkafiran terhadap generasi muda Muslim Indonesia. (Ada Pemurtadan di IAIN, 2005). Dua fenomena itu memang paradoks. Namun, menurut penulis, keduanya muncul dari satu problem yang sama yang muncul sekitar tahun 1970-an.

            Sekitar tahun itu, dunia Muslim mengalami perubahan besar. Sebagaimana diungkapkan oleh John L. Esposito dalam pengantarnya terhadap karya Ali Syari’ati yang diterjemahkan menjadi Membangun Masa Depan Islam; Pesan Untuk Para Intelektual Muslim, agama (dari Sudan sampai Sumatera) timbul kembali sebagai faktor penting dalam politik Muslim. Fenomena itu bertentangan dengan pasca-Perang Dunia II saat nasionalisme dan sosialisme sekular menjadi kekuatan dominan berpengaruh yang mengembangkan tatanan masyarakat elit yang berorientasi Barat. Saat itu, kehadiran dan penyusupan Barat yang modern dan sekular itu kemudian dicurigai, dikhawatirkan dan dianggap sebagai bahaya yang mengancam. Imbasnya, fenomena perubahan itu kemudian menjadikan generasi muda Muslim terjebak dalam dilema diantara dua kutub yang seolah saling bertentangan; antara nilai-nilai keagamaan (keislaman) yang tradisional dan nilai-nilai sekular Barat yang modern. Dilema itu merupakan cerminan dari terbelahnya masyarakat Muslim dalam menyertai proses modernisasi yang kemudian berdampak pada corak pendidikan masyarakat Muslim. 

            Modernisasi di dunia Muslim menjadikan mereka menerima nilai-nilai kemodernan sekular dari Barat secara bulat dalam berbagai aspeknya; politik, sosial, ekonomi, termasuk pendidikan. Sehingga, begitu banyak dunia Muslim –termasuk Indonesia- yang memperkenalkan corak dan paradigma pendidikan modern-sekular ala Barat seolah sejalan dengan sistem pendidikan tradisional-keagamaan Islam. Maka, berjalan dan berkembangnya dua sistem yang berseberangan itu secara bersamaan menjadikan terjadinya keterbelahan dalam lembaga pendidikan Islam kita. Bahkan, dalam perkembangannya, justru corak dan paradigma ala Barat ‘lah yang lebih mendapat perhatian secara serius dan mendapat jatah proporsional dan dominan. Sehingga, muncul ‘lah dua tipe lulusan pendidikan Islam yang sama-sama memiliki nilai minus. Pertama, lulusan bercorak keislaman yang berpijak pada ajaran-ajaran tradisional hingga tidak mampu menunjukkan kepemimpinan yang kreatif dan menafsirkan kembali nilai-nilai tradisional sesuai konteks kemodernan yang dibutuhkan oleh masyarakat kita saat ini. Kedua, lulusan elit modern yang menguasai disiplin modern namun tidak memiliki kesadaran murni akan tradisi mereka yang diperlukan untuk melakukan perubahan yang peka atas sejarah dan nilai-nilai lingkungan mereka. 
          
            Nah, munculnya dua fenomena yang berseberangan (pemurtadan versus radikalisasi) dalam lembaga pendidikan Islam (khususnya perguruan tinggi Islam) di Indonesia merupakan dampak konkrit dari dikembangkannya dua sistem yang berseberangan (modern-sekular ala Barat dan tradisional-keagamaan ala Islam) secara bersamaan dalam lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Sehingga, dua fenomena itu kemudian mengindikasikan gagalnya lembaga pendidikan Islam di Indonesia dalam mengadaptasikan secara kreatif nilai-nilai tradisional Islam dengan kemodernan atau pun kegagalan dalam mengadopsi nilai-nilai kemodernan Barat yang sesuai atau pun disesuaikan dengan nafas Islam. Maka, lahirlah anak didik atau pun lulusan yang berseberangan dan saling mengintimidasi serta menegasikan; ‘murtad’ dan radikal. Mereka yang dinilai ‘murtad’ merupakan sempalan dari lulusan elit modern yang silau akan gemerlap modernisme Barat dan hanyut ke dalamnya tanpa memiliki kesadaran murni akan sinifikansi nilai-nilai tradisional Islam-nya. Adapun yang radikal kerap muncul sebagai oknum dari lulusan bercorak keagamaan yang berkiblat secara buta terhadap nilai-nilai atau teks-teks tradisional Islam (biasanya tentang jihad) tanpa menafsirkannya secara kreatif sesuai konteks ke-kini-an dan ke-di sini-an. Sehingga, mereka dengan mudah direkrut dan didoktrin oleh para teroris untuk diikutkan dalam jaringannya.

            Apa yang terjadi dalam lembaga pendidikan Islam itu bukan berarti isyarat akan paradoksi antara Islam dan kemodernan atau pun kemustahilan untuk mengintegrasikannya. Sebab, sejak awal Islam hadir sebagai agama rahmatan lil alamin yang lintas ruang dan zaman. Namun, semua itu bentuk kegagalan lembaga pendidikan Islam kita dalam menselaraskannya secara integral sesuai dengan nilai-nilai keislaman dan kemodernan, tanpa terpengaruh oleh kemodernan sekular ala Barat.

            Sungguh aneh dan ironi jika sebuah lembaga pendidikan Islam mampu melahirkan dua lulusan yang bukan hanya berbeda, tapi paradoks dan saling menegasikan. Padahal, jika dibangun di atas basis kurikulum dan sistem pendidikan yang benar-benar Islam, lembaga pendidikan Islam hanya akan melahirkan satu corak lulusan yang benar-benar sesuai dengan visi-misi dan cita-cita Islam; memiliki pemahaman tradisional keislaman dan landasan Keesaan Tuhan (tauhid) yang kuat dan utuh sekaligus menguasai disiplin modern secara komperhensif. Sehingga, akan lahir lulusan lembaga pendidikan Islam sebagai generasi muda Islam yang memiliki kesadaran murni akan tradisi Islam yang penting untuk melakukan perubahan sekaligus mampu menafsirkannya secara kreatif guna menyertai tuntutan dan tantangan modernitas. Itulah tantangan bagi lembaga pendidikan Islam ke depan.

Friday, July 25, 2014

Pesan Esoterik Puasa

Oleh: Husein Ja'far`Al Hadar
(Dimuat di Kompas, 25 Juli 2014)
                                        
Salah satu tesis dalam kajian Islam Sayyed Hossein Nasr, filsuf Islam kontemporer, ialah keterdirian Islam dari dua dimensi integral: dimensi eksoterik, lahiriah, dan dimensi esoterik, batiniah. Bagi Nasr, setiap varian dari Islam—dalam ajaran, ritual, hingga tradisinya—mengandung dua dimensi tersebut. Dimensi eksoterik cenderung bersifat eksklusif, partikular, dan tak substansial. Sementara dimensi esoterik cenderung bersifat inklusif, universal, dan substansial. Dimensi eksoterik biasanya direpresentasikan kalangan fakih, ahli fikih. Adapun dimensi esoterik biasanya direpresentasikan oleh kalangan sufi.

Terkait dengan dua dimensi tersebut, keberislaman seseorang sering kali bukan hanya mengalami ketimpangan, melainkan saling menegasikan: hanya berorientasi eksoterik seperti kalangan fakih yang anti-tasawuf atau hanya berorientasi esoterik seperti kalangan sufi yang menganggap hakikat bisa dicapai tanpa tangga syariat. Adapun Nasr dalam tesisnya menegaskan keterkaitan dan kesatuan antardua dimensi itu dalam setiap varian dalam Islam, tanpa terkecuali. Begitu pula dalam ibadah puasa Ramadhan.

Salah satu dimensi puasa ialah mengosongkan perut dari makanan dan minuman dalam rentang waktu tertentu, mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Pada dimensi ini, puasa sebenarnya juga diterapkan beberapa jenis binatang dengan instingnya yang, setelah diteliti, merupakan salah satu siklus alamiah tubuh untuk kesehatan.

Dalam dimensi itu, terlebih pada suasana Ramadhan, kita mendapat banyak informasi, baik melalui media maupun dokter dan pakar kesehatan secara langsung, tentang manfaat puasa bagi kesehatan. Aspek semacam ini oleh sebagian agamawan dijadikan pijakan guna mendukung tesis tentang kesesuaian agama dengan sains. Bagi Nasr, aspek ini dinilai sebagai salah satu dimensi eksoterik puasa.

Aspek eksoterik puasa lainnya ialah pada tatanan sosial-kemanusiaan. Pada tatanan ini, praktik mengosongkan perut diorientasikan agar mereka yang berpuasa dari kalangan mampu secara ekonomi merasakan apa yang dirasakan mereka yang miskin setiap harinya, yakni bergelut dengan rasa lapar dan haus. Diharapkan, puasa dapat menumbuhkan sikap empati sosial pada sesama manusia. Tentu masih berderet lagi makna puasa pada dimensi eksoteriknya.

Namun, masih ada dimensi esoterik puasa. Bahkan, dimensi esoterik dalam puasa begitu kental dan signifikan karena Allah sendiri dalam hadis qudsi yang menegaskan puasa sebagai ibadah khusus bagi-Nya. Tentu bukan berarti ibadah lain tak memiliki dimensi esoteik yang langsung berhubungan antara hamba dan Allah. Juga, bukan berarti puasa tak memiliki dimensi eksoterik seperti telah penulis kemukakan. Namun, hadis qudsi tersebut hendak menegaskan kental dan signifikasinya dimensi esoterik puasa terkait hubungan manusia dan Tuhan.

Terkait dimensi esoterik puasa tersebut, Nabi berkata, ”Berapa banyak orang yang berpuasa, tapi tak dapatkan sesuatu dari puasanya kecuali lapar dan haus.” Atau, dalam hadis lain, ”Sedikit betul yang berpuasa, dan banyak betul yang hanya lapar saja.” Dimensi esoterik puasa itu dirangkum begitu indah dalam gubahan syair sufistik Jalaluddin Rumi, sufi besar Persia, yang menegaskan bahwa ada kelezatan, keindahan, dan kedekatan Tuhan dalam perut yang kosong (perut yang berpuasa).

Dimensi esoterik puasa terletak pada kata imsak, yang menurut fakih merupakan kata dasar dalam pengertian puasa, ’menahan diri dari segala sesuatu yang merusak, dengan maksud mendekatkan diri pada Allah’, (al-imsak ’anil-mufthirat al-ma’ hudat bi qashdi qurbah).

Dalam bahasa Arab, kata imsak (kata dasar: amsaka) bisa disusul dengan ’an atau bi. Imsak ’an artinya "menahan diri" dan imsak bi artinya "berpegang teguh". Dan, menurut penulis, dalam integrasi dua kata imsak itulah dimensi esoterik puasa terkandung. Jika hanya ber-imsak ’an, artinya seseorang hanya mencapai makna eksoterik puasa. Mereka hanya menahan diri dari makanan, minuman, dan segala sesuatu yang bersumber dari hawa nafsu, tetapi bukan karena berpegang teguh dan mendekatkan diri pada Allah.

Mereka itu, merujuk pada hadis Nabi, adalah al-jawwa’ (orang lapar), bukan al-shawwam (orang puasa). Begitu pula sebaliknya, seseorang yang hanya ber-imsak bi, yakni seolah-olah berpegang teguh pada Allah dengan meneriakkan kembali pada Al Quran dan Sunah, tetapi memonopoli kebenaran dan keras menuduh yang berbeda dari mereka sebagai kafir, sesat, dan sebagainya. Artinya, mereka tak mampu menahan diri (imsak ’an) dari tindakan anarkistis dan bersikap toleran pada perbedaan pandangan dalam Islam.

Tentu komitmen dan sikap mengajak pada Al Quran dan Sunah atau mengajak masyarakat -baik Muslim maupun non-Muslim- untuk menghormati Ramadhan adalah komitmen dan sikap mulia, bagian dari ’amar ma’ruf-nahi munkar yang menjadi salah satu fondasi Islam. Namun, jika dalam implementasinya tak dilakukan dengan santun seperti yang diteladankan Nabi, itu menyalahi prinsip dasar Islam yang lain: akhlak Nabi dan rahman-rahim-nya Allah. Bukan hanya dalam konteks puasa, melainkan juga dalam seluruh ajaran Islam.

Karena itu, berpuasa artinya melakukan praktik imsak ’an dan imsak bi secara integral. Dalam artian, berpegang teguh pada perintah dan ketetapan Allah serta menahan diri dari segala sesuatu yang timbul dari hawa nafsu (sikap anarkistis, monopoli kebenaran, memfitnah, memaki, menuduh sesat, dll) sehingga kita menjadi seseorang yang beruntung sebagai al-shawwam, bukan al-jawwa’.

Merujuk pada puasa sebagai salah satu parameter takwa dalam Al Quran (QS Al-Baqarah: 183), ber-imsak ’an dan imsak bi secara integral merupakan fondasi utama ketakwaan.

Thursday, July 24, 2014

Mengingat Palestina dari Kubah Al Quds

Kita, yang mengaku Muslim sekalipun, kerap melupakan tanah Palestina yang memprihatinkan itu. Kita kerap melupakan tanah yang penuh ketidakadilan dan penindasan ciptaan rezim Israel tersebut. Sehingga, kita lupa untuk menoleh dan memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina. Maka, Palestina pun terus terlantar. Rakyatnya terus tertindas, ter-blokade dan tersiksa di ‘penjara besar’ buatan Israel bernama Gaza. Meskipun kita tau bahwa memperjuangkan Palestina bukan hanya amanat agama atau pun iman, tapi amanat nurani dalam diri kita sendiri. Diri kita sebagai manusia yang cinta kemanusiaan.    

Karenanya, setiap Jum’at terakhir di Bulan Ramadhan seperti hari ini, ditentukan dan diresmikan oleh Imam Khomaeni (Pemimpin Revolusi Islam Iran 1979) sebagai hari solidaritas untuk pembebasan dan kemerdekaan Palestina dari penjajahan rezim Zionis-Israel, dengan menjadikan Masjid Al-Quds di Yerusalem sebagai simbolnya. Hari Internasional Al-Quds, namanya.

Minimal, Hari Internasional Al-Quds diharapkan dapat menjadi momentum bagi publik dunia –baik umat Islam maupun non-Muslim yang mendukung penegakan perdemaian dan hak kemanusiaan di Palestina- untuk mengingat, merenungkan dan memperjuangkan kembali nasib rakyat Palestina yang hingga kini masih terampas dan tertindas hak-haknya.

Sejatinya, mereka yang tergolong penjahat dalam sebuah tragedi pembantaian bukan (hanya) mereka yang membantai. Namun, yang jauh lebih jahat dari mereka yaitu seseorang yang mengetahui sejarah tragedi pembantaian itu serta tak mempermasalahkan dan tak mengingatnya. Dan, yang terjadi di Palestina selama ini memang adalah sebuah tragedi pembantaian. Bahkan, Benny Morris pun, sejarawan Israel aliran “Sejarawan Baru”,  sepakat dengan istilah pembantaian (massacre) untuk menggambarkan brutalitas sepihak kubu Israel yang menerobos etika dan nilai kemanusiaan di Palestina selama ini. Maka, dalam konteks tragedi pembantaian di Palestina yang terjadi hingga kini itu, kelompok yang berdiri sebagai musuh bersama sekaligus kelompok penjahat di Palestina bukan (hanya) Israel. Namun, yang jauh lebih jahat dari Israel adalah kita yang tak pernah tinggal diam, tak memperjuangkan serta tak pernah mengingat Palestina.    

Israel sendiri sangat menyadari makna dan signifikansi itu. Karenanya, mereka kemudian mengeksploitasi Holocaust secara pragmatis dan menjadikannya titik pijak dalam melakukan pembantaian. Sebab, mereka menyadari bahwa Holocaust dapat menjadi jus ad bellum (alasan yang membenarkan) bagi mereka untuk merebut tanah air Palestina. Walaupun, sebagaimana hipotesa para ahli sejarah dan ditegaskan oleh Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Iran, Holocaust versi Israel hanyalah sebuah ‘dongeng’ yang dibesar-besarkan. Namun, Holocaust tetaplah menjadi ‘modal’ ampuh bagi Israel untuk mendapat restu dari negara-negara dunia untuk merebut tanah air Palestina.

Oleh karena itu, Martin Buber dan Edward Said menegaskan agar Tragedi Deir Yassin (tragedi di sebuah desa di Palestina yang pertama kali dibantai penduduknya dan direbut tanahnya oleh Israel) selalu diingat dan dilestarikan sebagaimana Holocaust. Namun, upaya itu ternilai tak berhasil men-dunia. Bahkan, mayoritas dari mereka tak pernah tahu tentang Deir Yassin. Dan, tragedi pembantaian yang bahkan hingga saat ini terjadi di Palestina masih terlupakan dari ingatan publik dunia.

Sebagaimana Martin Buber dan Edward Said, Khomaeni memiliki kesadaran akan signifikansi sebuah momentum mengingat kembali tragedi yang terjadi di Palestina guna menumbuhkan solidaritas dan perjuangan bagi rakyat Palestina. Karenanya, saat beliau begitu tersohor dan suaranya selalu disimak dan didengarkan oleh publik dunia karena kesuksesannya menggulirkan Revolusi Islam Iran pada tahun 1979, beliau menetapkan dan meresmikan Jum’at terakhir setiap Bulan Ramadhan sebagai Hari Internasional Al-Quds.

Masjid Al-Quds lah yang kemudian dipilih oleh Khomaeni sebagai simbolnya. Pasalnya, selain karena Masjid Al-Quds lah yang selama ini menjadi titik sentral konflik antara Israel dan Palestina. Juga karena Masjid Al-Quds merupakan simbol kesatuan dan persauaraan antar agama-agama ‘langit’ (samawi); Yahudi, Kristen dan Islam. Dengan harapan agar tragedi Palestina tak hanya menjadi keprihatinan dan masalah bagi umat Islam. Namun, tragedi di Palestina menjadi keprihatinan dan masalah bagi seluruh umat beragama, termasuk umat Yahudi sendiri. Pasalnya, mengacu pada pandangan Marc Hellis (Teolog Pembebasan Yahudi), panggilan untuk membela rakyat Palestina yang sedang tertindas itu bukan hanya diserukan oleh Islam atau pun Kristen, tapi juga panggilan sejati Yudaisme yang menyerukan para pengikutnya yang sejati agar selalu membela kelompok tertindas, termasuk bangsa Palestina.     

Oleh karena itu, maka sepatutnya bagi kita -minimal- setiap Jum'at terakhir Ramadhan untuk kembali mengingat dan menumbuhkan solidaritas untuk rakyat Palestina dengan melakukan berbagai bentuk perjuangan bagi mereka dengan potensi yang kita miliki, sekecil apapun itu. Sebab, selain karena itu merupakan panggilan sejati semua agama. Juga agar kita tak menjadi seseorang yang lebih jahat dari Israel. 

Tuesday, July 15, 2014

Pahlawan: Syahadah atau Martir?

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Pernah dimuat di Majalah Tempo)
Dalam doktrin dan tradisi Islam, siapa saja yang gugur di jalan kebenaran, kemerdekaan, pembebasan dan keadilan disebut sebagai "syahid" atau juga "martir" (martyr), baik pejuang agama, bangsa maupun nilai-nilai luhur. Sepintas, kedua kata itu seolah sama, hanya beda bahasa. Namun, menurut Ali Syariati (filosof sekaligus sosiolog Muslim asal Iran) dalam Martyrdom: Arise and Bear Witness (terj. Kemuliaan Mati Syahid, 2003), pada dasarnya, jika dirujukkan pada asal katanya masing-masing, dua kata itu -"syahid" (berasal dari bahasa Arab: syahida-yasyhadu-syahadatan) dan "martir" (berasal dari bahasa Inggris: "martyr")- memiliki dua makna yang bukan hanya berbeda, tapi paradoks.  
Dalam tradisi kebahasaan Barat dan Eropa, martyr berarti orang yang memilih mati dalam membela keyainan melawan musuh-musuhnya, di mana jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah mati. Sedangkan "syahadah" dalam kultur Arab-Islam berarti "bangkit, bersaksi" (untuk kebenaran, keadilan, kemerdekaan, kemanusiaan, dll), meskipun digunakan juga untuk menamakan seseorang yang telah menetapkan kematian sebagai pilihan. (Kemuliaan Mati Syahid, hal. 33-34) Sehingga, kata "martyrdom" ("martyr" dari kata "mortal") yang bermakna "maut" atau "mati" justru paradoks dengan "syahadah" yang bermakna "hidup, bangkit, dan kesaksian".  
Syahadah bukanlah peristiwa berdarah yang merupakan kecelakaan. Dalam agama lain (non-Islam) dan sejarah suku-suku, martyrdom adalah pengorbanan para pahlawan yang terbunuh dalam peperangan oleh pihak musuh. Kematian semacam itu dipandang sebagai sebuah peristiwa tragis yang penuh dengan kepedihan. Perspektifnya: korban tindak kekerasan. Dalam konteks syahadah, kematian bukanlah sesuatu yang ditimpakan musuh pada seorang mujahid (orang yang berjihad), melainkan sesuatu yang diinginkan, dikejar dan dipilih oleh mujahid dengan segala kesadaran, keinsafan, logika dan penalaran rasional. (Collected Works, vol 16). Perspektifnya: pahlawan penentang kekerasan dan angkara.
Oleh karena itu, orang yang syahid dalam tradisi Islam justru dirayakan. Ketika melihat jasad Sayyidina Husain, cucu Rasul yang gugur di medan perang tak berimbang di Karbala, Irak, Sayyidah Zainab (saudara perempuannya) justru berkata, "aku tak melihat kecuali keindahan." Selaras pula dengan Jalaluddin Rumi (sufi besar asal Persia) yang dalam salah satu bait syair sufistiknya meminta agar saat kematiannya, janganlah bersedih dan merasakan kepedihan, tapi datang dan makamkanlah jasadnya dengan iringan tabuhan genderang perayaan.   
Bagi Syariati, perbedaan kata syahid dan martyr -yang ironisnya terlanjur kerap disamakan dalam ranah kebahasaan itu- penting untuk ditegaskan. Pasalnya, perbedaan keduanya menunjukkan perbedan pandangan budaya Islam dan Barat. Apalagi, syahadah merupakan salah satu unsur dasar dan penting dalam doktrin Islam. 
Kata syahadah dalam tradisi kebahasaan Arab (khususnya Islam) memiliki kandungan sakral dan dimensi eskatologis. Kata itu dimaknai dalam kerangka firman Allah dalam QS. Ali Imran: 169 yang menegaskan bahwa seseorang yang mati di jalan Tuhan (kebenaran, keadilan, kemerdekaan, kemanusiaan, dll) sebenarnya tak pernah mati, melainkan terus 'hidup' di sisi-Nya. Dalam konteks manusia, 'hidup'-nya para pahlawan itu walau ia telah gugur bermakna bahwa mereka terus dikenang dan nilai-nilai kepahlawanannya abadi menginspirasi dan menyuntikkan semangat perjuangan luhur bagi siapa saja yang hidup setelah generasi mereka. 
Dalam catatan Syariati, dimensi sakralitas kata syahadah yakni bahwa riwayat tentang syahadah dalam Islam penuh cinta, semangat yang bahkan tanpa argumentasi dan melumpuhkan logika biasa dan menggantinya dengan logika luar biasa (alogical). Syahadah adalah perpaduan antara cinta yang halus dan kebijakan yang mendalam. Kompleksitasnya membuat seseorang kesulitan melahirkan keduanya secara adil. (Kemuliaan Mati Syahid, hal. 33)
Pentingnya penegasan tentang arti dan makna kata syahadah, sekaligus menarik garis pembeda dengan martyr, karena syahadah berkaitan dengan doktrin jihad dalam Islam yang kerap disalahartikan. Syahadah memang bisa dijemput melalui jihad dalam arti perang mempertaruhkan nyawa yang berujung pada kematian. Namun, yang perlu ditekankan, merujuk pada arti kata syahadah menurut Syariati di atas, jihad itu harus didasari pada kesadaran, keinsafan, logika dan penalaran rasional. Tentu, tak seperti konsep jihad dalam arti menjadi martir bom bunuh diri yang berkembang di kalangan teroris atas nama Islam selama ini. Sebab, 'pengantin' bom bunuh diri itu sebenarnya hanya menjadi objek (korban) doktrin terorisme atas nama agama semata, tanpa sadar apalagi menalar secara rasional-logis bahwa Islam sejatinya agama rahmat. Karenanya, mereka tepat jika disebut martyr bukan syahid. Selain itu, yang lebih penting bahwa syahadah bisa juga dijemput dengan jihad melawan hawa nafsu (jihad an-nafs) yang dalam hadist disebut lebih lebih besar dari jihad perang berkorban diri. Oleh karena itu, tak seperti martyr, dalam syahadah bukanlah kematian satu-satunya jalan, melainkan juga kehidupan; hidup, bangkit, bersaksi dan menebar kasih dan ajaran-Nya. Sehingga, seperti pernah disampaikan oleh almarhum Muhammad Husain Fadhlullah (ulama Libanon sekaligus pendiri dan pemimpin spiritual Hizbullah), bagi siapa saja yang bangkit, bersaksi dan menebar kasih dan ajaran-Nya, bagaimana 'pun cara mereka mati (meskipun bukan karena gugur di medan perang), mereka menjadi syahid.

Merespon Keragaman dalam Bingkai Madzhab

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Pernah dimuat di Islamlib.com)

Ironi! Di penghujung 2011, kita harus menutupnya dengan satu kasus kekerasan bermotif agama. Bahkan, yang ini, bukan lagi isu satu agama vis a vis agama lain, tapi dalam internal Islam, yakni antara madzhab Sunni dan Syiah. Sekelompok oknum yang mengklaim Sunni (ahlussunnah wal jammaah) melakukan penyerangan dan pembakaran terhadap pondok pesantren beraliran Islam-Syiah di Sampang, Madura. Akhirnya, kita pun harus menambah satu lagi daftar catatan kekerasan atas nama agama di negeri ini yang oleh Setara Institute baru-baru ini dilaporkan statistiknya mencapai 244 kasus selama 2011. 
Menurut penulis, sebenarnya pada tingkat keyakinan dan ajaran (keislaman), apa yang terjadi di Madura seharusnya tak terjadi. Sebab, masalah perbedaan antara Sunni dan Syiah dalam Islam sudah diklarifikasi dan dituntaskan dengan utuh dan tepat oleh tokoh-tokoh Islam di negeri ini. Salah satu yang tepat untuk disebutkan di sini, misalnya, M. Quraish Shihab (pakar tafsir di Indonesia) dengan karyanya yang berjudul Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?; Kajian Atas Konsep Ajaran dan Pemikiran (2007). Dalam karyanya itu, Quraish Shihab yang memang memiliki kredibilitas dan otoritas dalam membicarakan isu ini, mengawali pembicaraannya tentang keniscayaan sebuah perbedaan yang diakui secara langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an (QS. Al-Ma’idah: 48) sekaligus kepatutan dirajutnya persatuan (ukhuwah) karena pada dasarnya manusia adalah umat yang satu (QS. Al-Baqarah: 213). Pembacaan, pemahaman dan penafsiran atas realitas dan ayat tentang keniscayaan perbedaan dan kepatutan persatuan menjadi sangat signifikan guna membangun paradigma dan sikap yang bijak menanggapi isu-isu seputar keberagaman. Kesalahan memahami realitas atau ayat (dan juga hadist) yang terkesan paradoks seperti di atas akan berdampak negatif berupa timbulnya konflik horisontal di antara umat yang keduanya sama-sama membawa nama Islam. 
Umat Islam kerap memposisikan perbedaan dan persatuan sebagai dua hal yang paradoks. Sehingga, berpegang pada salah satunya otomatis berarti menafikan yang lainnya; berbeda berarti berselisih-pecah dan bersatu berarti tak mentoleransi –apalagi menerima- perbedaan. Sehingga, perbedaan dan persatuan pun menjadi ‘buah simalakama’ bagi umat Islam; pilihan atas salah satunya akan menimbulkan bencana berupa perselisihan dan konflik. Padahal, pada dasarnya, perbedaan dalam Islam justru patut dipahami sebagai rahmat Allah sebagai bentuk kekayaan khazanah intelektual sekaligus pilihan dan alternatif bagi kesulitan yang dihadapi umat. Sedangkan persatuan sebenarnya berarti kepatutan untuk saling berbagi, mengisi dan menyempurnakan di tengah perbedaan, bukan berarti menyamakan sesuatu yang berbeda dan mustahil untuk disatukan. Pada titik ini, maka peran keterbukaan, dialog dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan menjadi sangat mendasar. Ketiga komponen guna membentuk perbedaan menjadi rahmat itulah yang sering kali hilang dari paradigma umat Islam, khususnya di Indonesia. 
Dalam karya monumentalnya yang berjudul al-Milal wa an-Nihal, Asy-Syahrastany bukan lagi mendokumentasikan perbedaan pada tingkat furu’ ad-din (cabang agama) dalam internal ulama Islam. Namun, ia mendokumentasikan beragam perbedaan pendapat pada tingkat ushul ad-din (dasar agama) di internal ulama Islam yang sudah ada bahkan sejak Nabi Muhammad sedang sakit. Quraish Shihab mencatat setidaknya sepuluh perbedaan teologis itu. Namun, patut dipahami dan disadari bahwa perbedaan itu adalah perbedaan sudut pandang yang dibenarkan dalam Islam yang dilatarbelakangi oleh keterbukaan, keikhlasan dan kedewasaan dalam ber-Islam sebagai upaya bersama untuk berlomba-lomba dalam mendekati (bukan mencapai) kebenaran, dan sama sekali bukan bertendensikan egoisme atau ambisi pribadi atau golongan untuk mengklaim –apalagi memonopoli- kebenaran. Sehingga, perbedaan pun menjadi rahmat bagi persatuan umat. 
Filosofi dan pemahaman akan hakikat perbedaan dan persatuan seperti di zaman ulama klasik itulah yang belum ada dan perlu ditumbuhkan di zaman ini. Oleh karena itu, sampai di sini penulis mengapresiasi sikap petinggi (ulama) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhamadiyah yang sangat terbuka dan dewasa menyikapi kasus Sampang dengan menegaskan bahwa kasus Sampang terjadi akibat provokasi atas perbedaan di antara Sunni-Syiah yang sesungguhnya tak berarti dan sudah disepakati bahwa itu bagian dari rahmat dalam Islam. Pernyataan ini sejalan dengan kesepakatan ulama besar dunia –dari berbagai madzhab Islam, termasuk Sunni dan Syiah- di berbagai konferensi dan kesepakatan dalam dialog dan pendekatan antar madzhab (misalnya Konferensi Doha 2002, Draft ISESCO yang dibentuk di pertemuan puncak OKI 2003 di Malaysia hingga Kesepakatan Ulama Sunni-Syiah di Makkah pada 2006 hingga Muktamar Doha yang diselenggarakan oleh Universitas Qatar bersama Universitas Al-Azhar-Mesir dan Lembaga Internasional untuk Pendekatan Madzhab-madzhab Islam pada 2007. Secara umum, disepakati bahwa pertama, Muslim adalah siapa saja yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul-Nya. Kedua, darah, harta dan kehormatan Muslim haram (diganggu). Ketiga, tempat peribadatan umat Muslim suci, yang artinya haram untuk diserang, dibakar, apalagi diambil alih. 
Penyatuan madzhab-madzhab menjadi satu madzhab dalam Islam merupakan sesuatu yang mustahil, sebab keberagaman dalam memahami dan menafsirkan teks dan ajaran merupakan keniscayaan. Bahkan dalam internal Sunni dan Syiah pun terdapat keragaman; ada Sunni-Syafi’i, Sunni Hanafi, Sunni Maliki, Sunni Hambali, Syi’ah-Ja’fari, Syiah-Ismailiyah, Syiah-Zaidiyah, dll. Karenanya, yang patut diagendakan dan diupayakan saat ini dan ke depan dalam Islam yakni persatuan umat dalam arti membiarkan madzhab-madzhab dalam Islam yang ada tumbuh-berkembang sembari bergandengan tangan, berjalan seiring, bekerja sama untuk menghadapi musuh bersama Islam serta mengembalikan kejayaan Islam masa lalu sebagai salah satu penopang peradaban dunia.  
Terkait upaya itu, maka upaya membersihkan dan menjauhkan umat dari fanatisme dalam beragama –apalagi bermadzhab- harus juga menjadi agenda utama. Sebab, agama dengan sederet ajaran, ritual dan simbolnya merupakan isu yang sangat sensitive. Jika fanatisme telah menjadi bagian dari corak keberagamaan umat, maka provokasi sedikit saja (seperti yang terjadi di Sampang) niscaya akan menyulut ketegangan dan bahkan konflik yang membahayakan umat. Apalagi jika isu agam telah ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Oleh karena itu, corak masyarakat beragama yang harus dibentuk adalah masyarakat yang terbuka, damai dan dialogis. Sebab, ketegangan dan konflik sering kali terjadi hanya karena ke-jumud-an dan ketidaktahuan (ke-jahiliyah-an) kita akan keyakinan dan ajaran umat lain. Oleh karena itu, mengutip penyataan Quraish Shihab, semakin tinggi pengetahuan (keagamaan) seseorang, maka semakin tinggi pula semangat toleransinya.   
Akhirnya, sebagaimana dikemukakan Dr. Muhammad at-Tijani as-Samawi (seorang ulama Syiah jebolan Universitas Sorbonne, Prancis) bahwa sejatinya asy-Syi’ah hum Ahlussunnah (Syiah (Ja’fari) itu sejatinya juga pengikut sunnah Nabi alias Ahlussunnah), maka kita dari Sunni pun harus juga menegaskan bahwa Ahlussunnah hum asy-Syi’ah (Ahlussunnah itu sejatinya juga pengikut Khalifah Ali Bin Abi Thalib alias Syi’ah).