Sunday, June 29, 2014

Kajian Ramadhan 2014: Tafsir Al-Fatihah (Bagian 1)

Al-Fatihah berarti "Pembukaan". Oleh karena itu, tafsir atas al-Fatihah menjadi penting sebagai pembuka terhadap penafsiran atas surat maupun ayat-ayat lain dalam al-Qur'an. Al-Fatihah juga disebut "Ummu al-Qur'an" (Induknya al-Qur'an). Oleh karena itu, penafsirannya menjadi penting di awal, sebelum penafsiran atas rincian dari al-Qur'an yang tersebar dalam seluruh surat dan ayat dalam al-Qur'an. Al-Fatihah kerap disebut sebagai "inti al-Qur'an" atau "sumber al-Qur'an", setidaknya dalam salah satu hadist riwayat Abu Hurairah melalui ad-Darqutni, disebutkan bahwa Rasul pernah bersabda: "Fatihah adalah sumber Qur'an dan merupakan tujuh ayat yang kerap kali diulang." Oleh karena itu, penafsiran atas al-Fatihah menjadi penting di awal sebagai upaya untuk mengetahui gambaran utuh dan singkat dari al-Qur'an, untuk menjadi pegangan dalam mengarungi rangkaian surat dan ayat al-Qur'an secara keseluruhan.

Selain itu, dalam aspek amaliyah, penafsiran al-Fatihah menjadi penting karena seperti kata hadist, al-Fatihah adalah surat dalam Qur'an yang kerap diulang, setidaknya surat ini adalah bacaan wajib dalam setiap salat umat Islam. Oleh karena itu, penafsiran atasnya menjadi penting untuk meningkatkan kualitas ibadah dan amal kita. Dengan memahami tafsirnya, seorang Muslim akan lebih total dalam meresapi dan menghayati kandungan, makna dan hikmah darinya.

"Alhamdulillah" adalah pujian khusus yang diutarakan bagi yang menolong karena kesadaran dan niat. Berbeda dengan "almadhu" yang merupakan pujian untuk sesuatu yang baik dan bermanfaat karena memang begitu adanya, bukan karena kesadaran, niat dan kehendaknya. Misalnya, seperti mutiara, yang menjadi indah dan bermanfaat karena begitu adanya, bukan karena upayanya sendiri.

"Al" di sini diartikan "semua", karena segala sesuatu menjadi indah dan baik karena Allah. Tak ada kebaikan atau keindahan pada diri makhluk itu sendiri. Tak ada keindahan dan kebaikan yang berdiri sendiri. Segala kebaikan dan keindahan niscaya bersumber dari Allah. Adapun makhluk hanyalah perantara atau manifestasi-Nya. Oleh karena itu, misalnya, dalam Surat as-Sajdah: 7, Dia berfirman: "Yang membuat bagus setiap sesuatu yang telah Dia ciptakan ..." Maka, jangan memuji kecuali sebelumnya memuji-Nya sebagai yang Maha Baik dan Maha Indah. Begitulah juga Allah mengajarkan pada para nabi-Nya, seperti firmankan-Nya:
"Allah mengatakan pada Nuh: "Katakan: Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang dhalim." (Al-Mukminun: 28) Begitu pula yang dikatakan Ibrahim: "Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahi aku Ismail dan Ishaq dalam usia tua." (Ibrahim: 39) Dan juga Daud dan Sulaiman yang berkata: "... dan mereka berdua berkata segala puji bagi Allah." (An-Naml: 15) Kelak 'pun, para penghuni surga yang telah diselamatkan dari iri, hasut, dosa dan kata-kata buruk berkata: "... dan penutup doa mereka adalah segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta." (Yunus: 10) Mengucap "alhamdulillah" atas segala kebaikan dan keindahan adalah sunnah para nabi dan orang-orang saleh yang kelak terselamatkan di surga.

Pujian "alhamdulillah" ini merupakan ajaran langsung dari Allah melalui firman-Nya. Sebab, hanya Allah yang memahami secara utuh keindahan dan kesempurnaan Dia dan ciptaan-Nya, maka Dia sendiri pula yang mengajarkan pujian bagi-Nya. Sebagaimana difirmankan-Nya: "... ilmu mereka tidak meliputi Dia." (Thaha: 110) Oleh karena itu, Rasul bersabda: "Aku tidak dapat menyebutkan satu demi satu pujian kepada-Mu. Engkau adalah sebagaimana Engkau sendiri memuji-Mu sendiri ..." Maka, "alhamdulillah" adalah pelajaran penting dari-Nya pada manusia. 

"Rabbil alamin. Maaliki yaumiddin" adalah penjelasan tentang kepemilikan-Nya atas segala sesuatu. Karenanya, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Artinya, setelah kita diajarkan sebelumnya bahwa segala tindakan-Nya adalah yang terbaik dan terindah bagi makhluk-Nya, karenanya kita harus memuji-Nya sebagaimana Dia mengajarkan pada kita. Setelah itu, kita diajarkan bahwa Allah yang memiliki segala sesuatu. Sehingga, Dia bebas melakukan apa saja pada apa yang dimiliki dan menjadi hak-Nya. Kita 'pun harus ikhlas menerima semua perlakuan-Nya pada diri kita. Karena kita sudah tahu bahwa pasti kehendak-Nya adalah yang terbaik bagi kita. 

Kata ini juga menjelaskan bahwa kepemilikan-Nya adalah satu-satunya kepemilikan yang riil dan otentik. Segala sesuatu benar-benar tak ada dan berdiri sendiri, kecuali sebagai manifesasi-Nya. Tak ada kepemilikan seriil dan seotentik ini selain kepemilikan Allah atas ciptaan-Nya. Adapun kepemilikan kita atas niscaya tak riil dan tak otentik. Segala milik kita hanya titipan-Nya dan milik-Nya. Oleh karena itu, kita dilarang memperlakukan kepemilikan kita di luar tuntunan-Nya.

"Iyyakanakbudu wa iyyakanastain". Objek (-Mu) ditempatkan di depan kata kerja, dan kata gantinya bukan lagi pihak ketiga (Allah), melainkan pihak kedua "Kamu". Sebab, melalui ayat ini, Allah hendak menegaskan bahwa benar-benar hanya kepada-MU (Allah) kami (harus) beribadah. Artinya, saat ibadah, tak boleh ada konsentrasi pada selain-Nya. Bahkan kita dididik untuk menghadirkan-Nya atau seolah-seolah Dia hadir dalam setiap ibadah kita. Adapun perkara lain, urusan lain, termasuk perkaran ingin surga atau takut neraka, sepatutnya tak hadir dalam setiap ibadah kita. Sebagaimana Dia berfirman: "... karena itu, beribadahlah pada Allah dengan tulus kepada-Nya dalam agama." (Az-Zumar: 2) Di ayat lain, Dia berfirman: "Sesungguhnya agama yang tulus hanya untuk Allah saja ..." (Az-Zumar 3).

Mengapa "kami", bukan "aku" beribadah? Agar dalam ibadah tak ada egoisme dan yang ada adalah kerendahan hati. Selain itu, dalam ayat ini, "ibadah" digandeng dengan "permohonan pertolongan", agar kita sadar bahwa ibadah itu sama sekali bukan untuk Allah, tapi untuk diri kita sendiri sebagai bentuk syukur, dll. 

Saturday, June 28, 2014

Membela Tuhan?

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Pernah dimuat di Koran Tempo, 17/7)

Alkisah, konon, dengan membawa sebilah pedang, Fir’aun menaiki tangga buatanya yang menjulur tinggi ke langit. Sesampainya di puncak tangga, ia melumuri pedangnya dengan darah yang telah disiapkannya dan kemudian kembali turun. Ketika sampai di darat, ia mengumpulkan rakyatnya dan berkhotbah; “Aku telah membunuh Tuhan. Lihatlah darah-Nya telah melumuri pedangku. Dan saat ini, akulah Tuhan kalian!”. Ia membohongi rakyatnya. Bahkan, dalam pengertian paling primordial dan eksistensial, ia telah membohongi dirinya sendiri 

Menurut penulis, dengan resiko agak simplistis, seperti kisah Fir’aun itulah gagasan ateisme yang dibangun oleh para pembunuh Tuhan, sebagaimana dipelopori oleh Ludwig Feurbach, Karl Marx, Sigmund Freud, Jean-Paul Sartre hingga Friedrich Nietzche. Mereka tak pernah membunuh Tuhan dalam arti sebenarnya; Tuhan Yang Maha Kuasa itu. Sebab, Tuhan Yang Hakiki itu memang takkan pernah bisa dibunuh, oleh siapapun, di manapun dan sampai kapanpun. Adapun episode pembunuhan atas Tuhan yang gencar terjadi pada abad ke-19 itu sebenarnya hanyalah respon balik ‘keras’ terhadap kebobrokan (institusi) agama-agama saat itu, khususnya Gereja Katolik sisa peninggalan Abad Pertengahan yang sarat akan mitologis (takhayul) dan fanatisme yang sangat determenistik.  Tuhan ‘buatan’ institusi agama ‘lah yang dibenci, dikritik dan dibunuh oleh para filosof itu; Tuhan yang mengkebiri akal dan kebebasan, Tuhan pengobral kekerasan, Tuhan yang berpihak pada penguasa dan mencandu rakyat jelata. Singkatnya, ateisme sebenarnya lebih sebagai suara kekecewaan. Kemunculan pun biasanya dibarengi oleh tumbuhnya kalangan fundamentalisme; sekumpulan orang-orang yang meyakini dan membangun keimanannya justru atas dasar irrasionalitas, fanatisme dan mitologi. Sehingga, fundamentalisme justru lebih sebagai suara ketakutan akibat keimanan yang tipis atas Tuhan. Sehingga, Tuhan-nya merasa perlu dibela mati-matian, walau harus dengan darah sekalipun.

Oleh karena itu, sebenarnya justru keimanan dan keberagamaan yang terlampau fundamental ‘lah yang memicu anasir-anasir ateisme hingga sangat mungkin muncul; ketika Tuhan tak dipraktekkan dan tak dihadirkan dalam kehidupan manusia. Ketika agama hanya hadir sebagai ‘bencana’ bagi kerukunan, kedamaian dan kebebasan umatnya. Sehingga, fenomena ateisme (dalam beragam corak, gagasan dan hujatannya) akan terus muncul sepanjang agama masih diwarnai dengan kebobrokan, apalagi kegagalan, dalam menjalankan tugas sucinya. Hipotesa itu kian terbukti dengan kembali munculnya fenomena ateisme baru yang pada abad ini dikomandani oleh Richard Dawkin, Christopher Hitchens dan Sam Haris. Walaupun, lagi-lagi, mereka tak pernah membunuh Tuhan Hakiki.

Jika mau direnungkan secara seksama dan jernih, sebenarnya segala bentuk argumentasi pembunuhan atas Tuhan yang digaungkan oleh para filosof ateis itu seharusnya justru menjadi refleksi dan introspeksi bagi agama(wan) untuk semakin mendewasakan, memurnikan dan memuliakan agamanya, agar benar-benar merepresentasikan nama dan sifat Tuhan; Yang Pengasih, Yang Penyayang, Yang Tak Terbatas, Yang Memerdekakan, dll. Sehingga, apa yang disebut dengan ateisme tersebut justru dipahami sebagai teisme-isasi dalam bentuknya yang hakiki. Sebab, dari mereka ‘lah kita justru belajar membersihkan Tuhan kita dari berbagai atribut menyesatkan yang ditempelkan oleh institusi agama, yang pada akhirnya justru men-degradasi wibawa Tuhan dan mereduksi pesan dan makna agama sebagai rahmat dan amanat-Nya bagi umat manusia. Dengan begitu, keimanan bukan justru akan menggiring kita pada kesengsaraan dalam relung mitologi dan fanatisme. Namun, keimanan justru akan menggiring kita dalam menemukan makna terdalam dan paling hakiki tentang berbagai hal; Tuhan, hidup dan diri kita sendiri.

Dalam ranah ateisme pun, ateisme dalam pengertiannya yang murni (hingga kini) tak pernah. Sebagaimana diungkapkan Goenawan Mohamad dalam salah satu wawancaranya dengan Majalah Madina pada Februari 2008 saat ditanya tentang relasinya dengan agama, ia (atau siapa saja, menurut penulis) tidak bisa jadi ateis; tidak bisa tidak percaya akan adanya Tuhan, walau dipaksa sekalipun. Tuhan selalau ‘tampak’ dalam setiap kebajikan, keikhlasan, keindahan, pengorbanan, dll. Tuhan kerap ‘menyelinap’ dalam relung kesadaran kita, dalam waktu dan kondisi yang indah, walau kemudian dilupakan kembali. Sebab, keberadaannya memang tak pernah bisa dinafikan. Yang memungkinkan untuk dinafikan (dan fenomena itu kemudian disebut ateisme), hanyalah perwujudan-Nya di dunia ini, yang memang banyak direduksi dan ditutupi oleh kedigdayaan institusi agama.

Menyadari kelemahannya masing-masing, seharusnya kalangan agamawan (yang berdiri di atas keimanan) dan kalangan ateis (yang berdiri di atas rasionalisme-ilmiah) tidak menghadirkan dirinya dalam posisi yang paradoks, namun justru sebaliknya; saling mendengar, mengintrospeksi dan membenahi untuk mencapai titik kesempurnaan. Sebab, menyelaraskan nalar dan iman merupakan salah satu obsesi puncak manusia. Apa yang diimani, selalu diobsesikan dapat ditunjang oleh logika nalar yang rasional sehingga keimanannya dapat melibatkan keseluruhan akal yang berfungsi mengotrol, memverifikasi dan membersihkan iman dari takhayul menyesatkan. Sebaliknya, manusia juga selalu terobsesi untuk menjadikan akalnya berbudi dan beriman sehingga apa yang dipikirkannya bernilai dan bermakna secara moril bagi manusia, bukan justru menggiring mereka pada tepian chaos.

Tuhan memang bukan hanya bisa dan patut untuk terus dan selalu dikaji, dipertanggungjawabkan dan didekati secara rasional. Terlebih saat ini, ketika dunia –khususnya bangsa Indonesia- diliputi dengan fenomena degradasi moral dan kepercayaan. Tak perlu kuatir, apalagi takut, untuk menalar Tuhan. Sebab, iman memiliki akarnya sendiri, yang mustahil dapat dijamah, apalagi dimusnahkan, oleh nalar manusia. Ia abadi dalam kesendiriannya, bersama Tuhan. 

Institusi agama sebagai hasil cipta karya manusia yang imanen dan terbatas ini, sangat memungkinkan dipenuhi oleh kekurangan di sana sini. Namun, agama dalam pengertiannya yang hakiki, sebagaimana hipotesa Peter Berger, takkan pernah mati. Ia memiliki seribu nyawa, yang ketika dibunuh satu maka akan hidup dengan nyawa lainnya.

Akhirnya, jika kita membaca sejarah pembangkangan terhadap Tuhan, kesan yang didapat justru; semakin kita lari dari Tuhan, bahkan membunuh Tuhan sekalipun, semakin Tuhan mendekat, hidup dan gamblang ‘Dzat’-Nya secara hakiki. Karenanya, penulis tak pernah khawatir –apalagi meresponnya secara radikal- terhadap arus ateisme. Seberapa kuat pun ia. Sehingga, mungkin Tuhan memang tak perlu dibela.

Sang Neo-Modernis Islam Bernama Fadlullah

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar

Pertengahan 2010, sebuah berita duka datang dari Libanon Selatan untuk dunia Islam. Sosok ulama terkemuka yang disegani di Libanon, Ayatullah Muhammad Husein Fadlullah meninggal dunia. Beliau wafat pada 4 Juli di usianya yang ke-75, setelah sebelumnya menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Benham, Beirut-Libanon. Seantero Timur Tengah mengenalnya sebagai salah satu ulama paling cemerlang dan berpengaruh. Gelar “Ayatullah Al Udzma” yang menempel pada namanya setidaknya bukti ketinggian intelektualitas dan ke-ulama-annya. Pasalnya, dalam tradisi Islam-Syiah yang dianutnya, gelar itu hanya disandang oleh segelintir ulama Islam yang telah memenuhi kredibilitas keilmuan tertinggi dan dinilai bijak untuk memberi fatwa bagi pengikutnya. 
     
Ucapan bela sungkawa tercatat tak hanya mengalir deras dari kalangan Muslim dunia. Namun, pernyataan berduka juga dinyatakan oleh berbagai umat non-Islam dari Eropa, Asia hingga Afrika, termasuk Indonesia tentunya. Pasalnya, beliau dikenal sebagai salah satu ulama Islam di Timur Tengah yang beraliran moderat dan membangun pandangan-pandangan keislamannya di atas asas toleransi dan persaudaraan. Beliau cenderung memandang umat beragama non-Islam, khususnya Yahudi dan Kristen, dalam perspektif Abrahamic Faith. Oleh karena itu, bagi beliau, mereka tak lain sebagai saudara umat Islam sesama penganut Agama Ilahi yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim yang patut dirangkul dan bersama-sama memahami perbedaan tersebut dalam bingkai misi primordial Islam; rahmatan lil alamin.

Terkait dengan pandangan keislamannya yang moderat tersebut, beliau juga tercatat sebagai ulama Islam yang menentang jihad berbasis anarkis yang diserukan oleh Taliban di bawah kepemimpinan Osama Bin Laden di Afghanistan. Bahkan, ia hingga menyebut Osama bersama pengikutnya sebagai kelompok di luar Islam. Pasalnya, Osama dinilai telah melenceng dari nilai-nilai dasar Islam yang diturunkan dan dipraktekkan oleh Nabi Muhammad sebagai agama perdamaian. Mereka dinilai telah salah kaprah dalam menerapkan konsep jihad dalam Islam. Selain itu, beliau juga mengutuk serangan bom yang tak menghiraukan keberadaan rakyat sipil seperti yang terjadi di Sharm El-Sheikh, Mesir pada tahun 2005. Menurut beliau, tindakan anarkis hanya dilegalkan dalam Islam di medan perang, itu pun tetap terdapat batasan-batasan tertentu sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kesahajaan-etis.

Pandangan mencolok lainnya yang dibangun oleh Ayatullah Fadlullah di masa hidupnya yaitu penghargaan dan penghormatannya kepada kedudukan wanita dalam Islam. Menurut beliau, Islam justru hadir untuk mengangkat dan meninggikan kedudukan seorang perempuan yang telah dilecehkan dan dirampas hak-haknya di masa Arab-Jahiliyah. Bahkan, beliau menegaskan bahwa tradisi tersebut masih membekas dalam masyarakat Muslim saat ini. Pandangan inferior dalam tradisi umat Islam saat ini terhadap perempuan merupakan indikasi kuat atas hal itu. Salah satunya, menurut beliau, pandangan inferior itu masih terlihat dari salah satu tradisi umat Islam yang cenderung mengucapkan kalimat; segala puji bagi Allah atas keselamatan (Alhamdulillah ala as-salamah), kepada seorang ibu yang melahirkan anak perempuan. Berbeda dengan kalimat yang akan terlontar kepada seorang ibu yang melahirkan anak pria; berkah Allah atasmu (mabruk).

Beliau mengkritik keras pandangan umat Islam yang cenderung masih berbias inferior terhadap perempuan. Pasalnya, menurut beliau, sembari mengutip QS. An-Nisa’: 1, sejatinya perempuan dan lelaki diciptakan dari hakikat-esensi yang satu. Karenanya, tak ada perbedaan berarti, apalagi hingga mengklasifikasikannya secara bertingkat (vertikal) antar keduanya; meletakkan lelaki di atas perempuan. Dan, menurut beliau, dari sanalah kemudian Islam membangun pandangannya. Sehingga, Islam selalu menyetarakan kedudukan dan martabat keduanya.

Namun, dalam membangun sikapnya yang moderat dan relevan itu, beliau tetap berpegang teguh pada nilai-nilai dasar dan substansial Islam yang berdasarkan pada Qur’an. Karenanya, pada Juni 2009, beliau juga menentang pelarangan burqa (kerudung) di Prancis dengan menuding Presiden Prancis telah merampas hak-hak perempuan yang sejatinya memiliki kebebasan untuk menentukan pakaiannya sendiri. Bertolak dari sini, jika mengacu pada klasifikasi ala Fazlur Rahman, maka penulis cenderung menyebut Fadlullah sebagai seorang Neo-Modernis Islam; kalangan yang mampu membuat Islam merespon tuntutan zaman yang selalu bergerak me-modern, dengan tetap mempertahankan dan berdiri di atas nilai-nilai dasar dan substansial Islam itu sendiri.

Salah satu titik kecemerlangan Fadlullah yaitu kelihaiannya secara intelektual untuk mengkompromikan pandangan Islam yang moderat dengan sikap serta pergerakan politik Islam yang tegas dan konservatif. Pasalnya, sikap serta pergerakan politik Islam yang tegas dan konservatif itu biasanya patut berbanding lurus dan tumbuh dari pandangan keislaman yang fundamental-radikal. Namun, Fadlullah mampu menghindari ke-patut-an tersebut. Ia menjadi seorang ulama Islam moderat yang tetap memiliki sikap dan pergerakan politik Islam yang yang tegas-konservatif. Hal itu setidaknya terlihat dari sikapnya sebagai pendiri dan Pemimpin Spiritual Hizbullah Libanon yang tak pernah berkompromi dengan rezim Zionis-Israel serta selalu mematok ’harga mati’ bagi kemerdekaan tanah air Palestina tanpa keberadaan Israel di dalamnya.

Dan, yang juga penting dari biografi Fadlullah yakni kiprah sosialnya. Beliau merupakan salah satu ulama Islam yang berdiri di atas konsep bahwa jihad Islam juga patut direalisasikan pada dimensi sosial, tak hanya pada tatanan pergerakan semata, apalagi hanya sikap militer. Oleh karena itu, beliau kemudian mendirikan Yayasan Al Mabarrat; sebuah yayasan sosial yang menghimpun dan mengkoordinasikan seluruh aktifitas sosial yang dipimpin oleh Ayatullah Fadlullah. Yayasan ini tercatat telah menorehkan berbagai prestasi sosial gemilang, dari pembangunan sekolah, rumah sakit, panti asuhan hingga berpartisipasi aktif dalam membangun kembali Libanon pasca-Perang Hizbullah-Israel pada tahun 2006.

Akhirnya, pada tahun 1952, saat usianya masih 17 tahun, Fadlullah pernah bertolak ke Libanon untuk membacakan puisi penghormatan terakhir atas kematian Sayyid Muhsin Al-Amin yang berisi tentang seruan untuk persatuan dan kebangkitan Islam. Dan, hari-hari ini, jutaan umat manusia, baik Islam maupun non-Islam, bertolak ke negeri tempat ia membacakan puisi itu dulu untuk memberikan penghormatan yang sama kepada beliau. Sebuah fenomena yang seolah menjawab seruan beliau pada tahun 1952; saat umat manusia berbagai agama, bukan hanya umat Islam, benar-benar disatukan dan dibangkitkan oleh kedukaan dan penghormatan kepada jenazah beliau.

Tuhan-nya Anak-anak

Oleh: Huein Ja'far Al Hadar
(Pernah dimuat di Islamlib.com)

Pernahkah kita menyempatkan diri untuk mencari tahu, merenungkan atau sampai mempertimbangkan Tuhan-nya anak-anak?

Kita sering tak adil pada anak-anak, entah secara sadar ataupun tak sadar. Kita terlalu  menyepelekan mereka. Kita sering kali memilih untuk bersikap otoriter, ketimbang demokratis, terhadap anak-anak. Terlebih dalam perkara teologis. Bahkan, untuk sekadar mendengar pendapat mereka tentang Tuhan, kita mungkin tak punya waktu atau bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang konyol. Kita memilih hanya bercanda dan bersenda gurau dengan mereka. Tak pernah duduk bersama, saling membuka pikiran dan berdiskusi soal Tuhan.  

Ironisnya, yang justru sering kita lakukan, kita mendoktrin mereka dalam perkara teologis, sebagaimana juga kita lakukan pada mereka dalam soal agama. Kita 'memaksa' mereka untuk percaya pada Tuhan yang kita yakini. Sehingga, iman yang terbentuk dalam batin mereka adalah iman warisan yang turun-temurun sejak nenek moyang dahulu, seperti juga agama. Sehingga, terbentuklah kualitas iman sebagai sebuah tradisi, bukan keyakinan. Akibatnya, iman -juga agama- yang terbentuk sifatnya kaku, keras, jumud, tertutup, tak toleran, dan seterusnya. Sebuah iman yang tak bisa kita pertanggungjawabkan saat dewasa, karena ia hadir sebagai warisan dan dianut lebih seperti sebagai sebuah tradisi.

Padahal, jika sejenak kita berpikir dan menyadari, sebenarnya Tuhan-nya anak-anak adalah pemahaman tentang Tuhan yang lebih mengena. Pasalnya, dalam imajinasi dan pikiran anak-anak, Tuhan benar-benar diimajinasikan sebagai Dzat Yang Maha Sempurna; Dzat Yang Maha Baik, Dzat Yang Maha Pemaaf, Dzat Yang Bersahabat, dan seterusnya.

Memang, mungkin kita yang dewasa ini lebih berpengalaman dalam mengetahui teori-teori ketuhanan serta lebih sistematis dalam mencoba memahami Tuhan. Bahkan, mungkin kita memiliki pengetahuan (knowledge) dan pemahaman tentang Tuhan yang jauh lebih baik ketimbang anak-anak. Singkatnya, kita lebih rasional dan logis dalam memahami Tuhan. Adapun anak-anak cenderung mendekati Tuhan dengan imajinasinya masing-masing, yang sering kali dekat dengan sosok yang diidamkannya sebagai sosok sempurna; dari bayangan tentang Tuhan sebagai raja super besar yang duduk di singgasana langit hingga imajinasi tentang Tuhan sebagai sosok super hero terhebat melebihi sosok super hero yang dilihatnya di televisi atau komik. Singkatnya, basis pemahaman ketuhanan anak-anak adalah imajinasinya. Namun, seperti kata Albert Einstein, bukankah imajinasi itu lebih hebat dan berdaya dari pengetahuan (knowledge), termasuk dalam perkara memahami Tuhan?

Ironisnya, dalam peradaban manusia, imajinasi terlanjur berkonotasi rendah, bahkan negatif. Padahal, dalam perspektif filosofis, imajinasi bertentangan dengan konotasi yang berkembang selama ini. Imajinasi menempati posisi dan memiliki peranan penting serta strategis dalam epistemologi. Dalam khazanah spiritualitas Islam, yang meyakini adanya tiga tingkat pemikiran manusia, posisi imajinasi berada di tingkatan kedua, yakni di bawah spiritualitas-rohani dan di atas rasionalitas-logis. Bahkan,  Henry Corbin (filosof eksistensialis Prancis) ketika menjelaskan tentang imajinasi menyebutnya sebagai rasio yang terspiritualitaskan atau spiritualitas yang terasionalisasikan.

Dalam ranah imajinasi, kategori rasional-logis sudah tak sepenuhnya berlaku. Ia melampaui itu. Ia tak lagi terikat pada wadak (dimensi ruang dan waktu) dan gambaran yang dipakainya pun tak lagi sama dan sebanding dengan citra-citra (bendawi) alam dunia. Metafor-metafor menjadi sangat dominan di sini. Polanya bisa saja antah berantah alias tak runtun (kohern). Singkatnya, ia justru telah meninggalkan rasio-logis dan bergerak mendekat pada spiritualitas. Karenanya, kita akan lebih banyak menemui kesamaannya dengan spiritualitas ketimbang rasionalitas.

Adapun Tuhan merupakan dzat transenden. Dia mustahil terkonsepkan dan terbahasakan. Sehingga, konsep dan bahasa yang menjadi ciri dasar dari rasionalitas dan basis dari teologi itu, mustahil akan pernah bisa mendapat pemahaman utuh tentang Tuhan. Rasio hanya mampu mendekati dan meraba-raba saja tentang siapa Dia. Namun, ia tak pernah bisa sampai pada-Nya. Bahkan, sering kali, justru sederet konsep dan bahasa teologis yang rumit itu semakin mempersulit kita dalam mengenal Tuhan, dan akibatnya tetap membuat kita jauh dari pengenalan dengan-Nya. Juga, konsep dan bahasa itulah yang membuat kita saling beda, berdebat, hingga sentimen kepada siapa saja yang berbeda pandangan dengan kita soal Tuhan. 

Sedangkan imajinasi sudah bukan lagi tentang konsep dan bahasa. Ia sudah memakai simbol dan metafor. Ia sudah lebih punya kesamaan dan lebih dekat dengan spiritualitas. Karenanya, sebagaimana spiritualitas, ia lebih mampu mencapai Tuhan. Bahkan, para penempuh jalan spiritualitas (sufi) -misalnya, salah satu yang paling terkenal, Jalaluddin Rumi (sufi besar asal Persia)- menggunakan 'bahasa' imajinasi -yakni metafor dan simbol, seperti syair, puisi, irama, dll- untuk mengabarkan dan menjelaskan pengalaman religiusnya dengan Tuhan.

Dalam ranah imajinasi, Tuhan bukan lagi hadir untuk diperdebatkan, dengan sederet teori, konsep dan bahasa. Dalam imajinasi, bahkan Tuhan dipahami dan diimani secara sederhana. Namun, justru kerumitan teori 'lah yang membuat kita merasa Tuhan begitu jauh dan tak hadir di tengah-tengah kita. Sebaliknya, kesederhanaan imajinasi justru menjadikan Tuhan begitu dekat dan benar-benar terasa hadir di tengah, bahkan dalam diri hamba-Nya. Sehingga, Dia bukan justru membuat kita saling debat, sentimen, apalagi bertengkar karena-Nya. Tapi, Dia justru menentramkan batin kita, membuat kita bergandengan tangan dengan sesama serta membuat hidup ini begitu indah. Itulah Tuhan-nya anak-anak. Tuhan yang berbasiskan imajinasi, bukan rasionalitas. Dan, karenanya, justru pada anak-anak 'lah kita harus bertanya, belajar dan berdiskusi soal Tuhan. Sebab, mereka lebih dekat pada Tuhan, ketimbang kita.

Akhirnya, mungkin karena itulah, dalam novel filsafatnya yang fenomenal berjudul "Dunia Sophie", Jostein Gaarder justru menjadikan gadis kecil bernama Sophie Amundsen sebagai tokoh utama. Gaarder membahas beragam misteri filosofis tentang manusia, alam dan tentu saja Tuhan, dalam ranah anak-anak (yakni imajinasi), bukan orang dewasa (yakni rasionalitas-logis). Dan, justru karena itulah novelnya itu menjadi novel filsafat tersukses dan terlaris di dunia yang telah diterjemahkan ke 53 bahasa dan terjual jutaan eksemplar. Melalui novel itu, kita yang dewasa ini sukses memahami perkara-perkara filosofis yang rumit (seputar alam, manusia dan Tuhan) justru karena Gaarder menjelaskannya dengan perspektif dan bahasa anak-anak yang imajinatif dan simpel, bukan dengan kerumitan konsep dan bahasa rasional-logis ala orang-orang dewasa.

Friday, June 27, 2014

Pendidikan dan Paradigma Filosofis

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Pernah dimuat di Kompas, 30/12)

Jikapun tak mau dinilai semuanya, mayoritas filsuf tak hanya dikenal sebagai filsuf saja. Biasanya mereka juga menjadi tokoh utama di bidang keilmuan lain. Dalam Islam, ada Ibn Sina, yang selain dikenal sebagai filsuf juga merupakan tokoh kedokteran. Di Barat ada Adam Smith, filsuf yang juga menjadi tokoh bidang ekonomi. Ada juga Sigmund Freud, yang selain filsuf juga menjadi bapak psikologi. Atau Machiavelli, yang juga menjadi pemikir di bidang politik. Fakta itu bukan hanya narasi yang mengukuhkan eksistensi filsafat sebagai induk semua bidang keilmuan, melainkan juga indikasi tentang signifikansi berpikir filosofis pada umat manusia.

Berpikir filosofis adalah salah satu kunci utama kematangan paradigma seseorang. Tidaklah mengherankan jika seorang Steve Jobs, mantan CEO Apple Inc, mengungkap- kan peran penting membaca buku-buku dan pemikiran-pemikiran filsafat sebagai penentu kesuksesan membangun kerajaan bisnis raksasa bernama Apple Inc (Walter Isaacson dalam Steve Jobs, terjemahan Bentang, 2011).

Dalam konteks ini, penulis hendak memosisikan filsafat bukan sebagai induk segala keilmuan, melainkan lebih pada sistematika berpikir yang menjadi salah satu ciri paling khas dari filsafat. Bahkan, dalam karyanya yang berjudul Elements of Philosophy, Kattsoff (1963) memosisikan berpikir filosofis, dengan cirinya yakni berpikir kritis, sistematis, runtut, rasional, dan komprehensif, sebagai tonggak sekaligus pengertian filsafat.

Namun, filsafat sebagai sistematika berpikir justru kerap tak disadari dan tak diserap secara utuh. Maka, yang muncul adalah kerancuan berpikir dari para pengkaji filsafat. Akhirnya, filsafat lebih berfungsi, dipahami, dan dinilai sebagai dekonstruksi ketimbang sebagai rekonstruksi.

Dua peran filsafat, baik sebagai dekonstruksi maupun rekonstruksi, sebenarnya selalu integral. Pemisahan keduanya justru mereduksi keutuhan filsafat. Filsafat sebagai metode berpikir memang berfungsi sebagai dekonstruksi bagi pola pikir yang irasional dan tak runtut. Dia akan menghunjam dan menghancurkan paradigma yang rancu itu.

Dekonstruksi terjadi karena latar belakang untuk merekonstruksi guna membentuk pola pikir yang filosofis: sistematis, logis, dan koheren. Itulah nilai ”sakral” sebagai sebuah tanggung jawab dari filsafat. Fungsi dan peran filsafat sebagai metode berpikir (secara filosofis, dalam mendekonstruksi dan kemudian merekonstruksi) itu begitu kental terlihat pada masa awal filsafat, yakni filsafat Yunani. Awalnya, filsuf generasi awal Yunani, seperti Thales dan Pythagoras, melakukan dekonstruksi atas pola pikir mitologis yang berkembang di Babilonia dan Mesir, yang kemudian dikenal dengan upaya demitologisasi.

Upaya dilanjutkan oleh para filsuf Yunani berikutnya, seperti Socrates, Aristoteles, dan Plato, yang dengan mendasar, hati-hati, dan cermat merekonstruksi dasar-dasar berpikir filosofis sebagai tonggak kegiatan berfilsafat dan berpikir selanjutnya. Karena itu, seberapa jauh filsafat itu dipahami, dikaji, dan dikembangkan, nilai-nilai dasar yang ditancapkan oleh para filsuf Yunani itu terasa pengaruhnya pada hampir semua filsuf, baik Islam maupun Barat.

Filsafat sebagai metode berpikir inilah yang kian kurang dieksplorasi, dikaji, dan diterapkan. Padahal, itulah sumbu utama filsafat sehingga bisa menjadi induk sekaligus pelopor dan pengembang bidang keilmuan lain. Pola pikir yang kritis, sistematis, rasional, dan koheren −sebagai pola pikir filosofis− itulah yang sebenarnya membuat para filsuf menjadi luwes, cerdas, dan cermat dalam mengembangkan bidang keilmuan turunannya, mulai dari sains hingga politik dan bisnis sekalipun. Itu juga yang seharusnya menjadi salah satu cita-cita filsafat di era postmodernisme sehingga filsafat memberi bekas dan kontribusi positif yang berpengaruh bagi peradaban manusia.

Dalam konteks Indonesia, pola pikir filosofis menjadi bagian integral dalam kurikulum pendidikan kita. Dengan demikian, anak-anak kita sejak dini telah dididik dalam kurikulum yang berbasis pada paradigma berpikir filosofis. Nantinya, apa pun bidang yang dipilih dan digeluti oleh anak didik ketika dewasa menjadi fondasi berupa paradigma berpikir filosofis yang akan membuat buah pikirannya -dalam bidang apa 'pun- menjadi monumental dan berpengaruh besar bagi peradaban karena telah memenuhi nilai-nilai dasar keilmuan: rasional, sistematis, koheren, juga visioner.

Dalam konteks dunia Islam modern, ini pula yang dibayangkan Seyyed Hossein Nasr, seperti ditulisnya dalam salah satu bab di buku Traditional Islam in the Modern World (1987). Ia membayangkan, pendidikan Islam di dunia modern berbasis paradigma berpikir filosofis sesuai nilai-nilai filsafat Islam yang berakar pada filsafat Yunani.

Akhirnya, pola pikir filosofis dengan segala cirinya harus menjadi tolok ukur kemodernan. Sebagaimana diamanatkan oleh Nurcholish Madjid dalam Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan (Mizan, 2008), modernisasi tidak diukur dengan westernisasi, tetapi rasionalisasi. Mereka yang mampu menghadirkan pemikiran dan karya berbasis pola pikir filosofis yang bisa dipertanggungjawabkan itulah generasi modern.

Teladan Muhammad

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Penah dimuat di Koran Tempo, 15/1)

Nabi Muhammad sebagai manusia sempurna (insan kamil) membuatnya menjadi teladan bagi setiap manusia. Dalam konteks keteladanan itu, Nabi bukan hanya untuk zamannya atau zaman setelahnya, tapi juga termasuk untuk zaman sebelumnya (bahkan sejak awal penciptaan manusia). Dengan demikian, misalnya, alkisah, jauh sebelum Nabi diciptakan, Cahaya Muhammad (Nur Muhammad) telah diciptakan oleh Tuhan sebagai ciptaan pertama-Nya, yang kemudian membuat Nabi Adam terkagum-kagum kepada manusia bernama Muhammad, yang akan hidup di zaman jauh setelahnya. Maka, kemudian Tuhan (seperti diabadikan dalam hadis qudsi) berfirman, "Jika bukan karenamu (Muhammad), maka takkan Aku ciptakan semesta."

Kesempurnaan Nabi membuat sederet literatur lahir guna membicarakan tentang sosoknya. Sebab, kesempurnaannya memang membuat setiap perspektif akan mendapat nilai tersendiri dalam kajiannya tentang Nabi.

Dalam tradisi Barat (seperti ditulis Will Durant, Timothy, Edward Gibbon, termasuk juga Karen Armstrong), kajian atas Nabi lebih berminat pada aspek antroposentris (kemanusiaan) atau lahiriah beliau, baik sebagai pemimpin maupun tokoh kemanusiaan dan lain-lain. Jika pun ada nama Annemarie Schimmel yang patut dikecualikan karena kajiannya atas Nabi lebih bernuansa teosentris (ketuhanan) atau batiniah, itu pun karena kuatnya pengaruh Jalaluddin Rumi (sufi besar Persia) pada pemikiran dan diri Schimmel. Dan, menurut penulis, kajian Schimmel atas Nabi tersebut sebenarnya lebih mewakili kajian khas cendekiawan Islam, baik di Barat maupun Timur, seperti Seyyed Hossein Nasr yang paling populer. 

Dalam konteks kajian atas Nabi dalam ranah kebatinan (tasawuf) pun, ada dua perspektif yang bisa diklasifikasikan. Pertama, perspektif tasawuf akhlaki. Salah satunya yang berkembang dalam tradisi Thariqah 'Alawiyah yang berasal dari Hadhramaut (Yaman) dan memiliki pengaruh besar dalam penyebaran dan pengembangan Islam di Indonesia, sehingga memunculkan sosok sufi seperti 'Abd al-Shamad al-Palimbani, 'Abd al-Rauf Sinkel, dan Syaikh Nur al-Din al-Raniri. Dalam perspektif ini, Nabi lebih dieksplorasi sebagai teladan dalam pendakian (suluk) menuju Tuhan. Dengan demikian, seluruh tindakan, perintah, dan anjuran Nabi menjadi jalan (thariqah) bagi para sufi akhlaki untuk menuju Tuhan. 

Kedua, perspektif tasawuf falsafi--yang salah satunya berkembang di Persia (Iran) dengan tokoh sentral Ibn 'Arabi, serta di Indonesia populer melalui sosok sufi seperti Hamzah Fansuri dan Syaikh Muhyidin al-Jawi. Dalam perspektif ini, Nabi lebih dieksplorasi secara filosofis sebagai petunjuk (al-huda) akan Tuhan. Dengan demikian, sikap dan kata-kata Nabi kemudian dikaji secara filosofis untuk kemudian dijelaskan segala sesuatu yang bersifat mistik, khususnya dalam ranah Tuhan dan hubungan batin manusia dengan-Nya.

Namun, pada akhirnya, semua literatur itu hanyalah bangunan intelektual dari sebuah perspektif atas Nabi, yang sampai kapan pun takkan pernah bisa secara utuh dan integral menjelaskan tentang sosok Nabi yang kamil itu. Dengan demikian, perspektif terdekat dalam mengenalinya adalah dengan meneladaninya. Tak bisa dengan yang lain.

Ustad (Bukan) Selebritas

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Pernah dimuat di Koran Tempo, 22/2)

Ada sederet ayat Al-Quran yang memuliakan ustad, guru, syekh, habib, kiai, ulama, atau apalah gelarnya. Nabi pun berkali-kali memuliakan mereka dalam sabdanya, dengan salah satu yang paling populer, yakni menyebut mereka sebagai ahli waris para nabi. Karena itu, seperti dikemukakan Kuntowijoyo dalam Muslim Tanpa Masjid (2001), dalam tradisi Islam Indonesia, akan ditemukan ragam bentuk penghormatan yang cenderung bersifat sosio-kultural pada mereka.

Dulunya, menurut Kuntowijoyo, bias modernisme masih cenderung tak ada dalam rekrutmen dan penobatan mereka, sehingga umat selalu mendapat dan disuguhi sosok pendakwah yang berkualifikasi dan teladan. Maka, beragam bentuk penghormatan sosio-kultural juga tak pernah menyilaukan mereka. Terjadi relasi sosio-kultural yang berbalut nilai teologis-religius yang kuat antara umat dan ustad.      

Namun, di zaman modern, apalagi saat ini, mengacu pada Kuntowijoyo, rekrutmen ustad (apalagi yang dilakukan oleh media) biasanya terjadi secara segmental atau bahkan sporadis. Maka, tak jarang umat disuguhkan sosok ustad yang tak memiliki kualifikasi keilmuan, apalagi keteladanan. Bahkan yang disyaratkan bukan lagi kualifikasi, melainkan kemampuan menghibur dalam kemasan berdakwah.

Maka, ragam tradisi penghormatan yang bersifat sosio-kultural pun menjadi rentan disalahgunakan oleh ustad itu sendiri, karena ketidakmatangan yang berdampak pada kegagapan mereka dalam merespons euforia umat pada sosoknya. Misalnya ceramah atau doa dikomersialkan. Posisinya pun dipahami sebagai profesi dan umat sebagai komoditas, bukan lagi sebagai amanat suci yang penuh tanggung jawab kepada Allah. Alih-alih menjadi ahli waris para nabi yang penuh akhlak serta pelayan umat, justru mereka menjadi semacam tuan dengan melihat umat seperti budak yang dibodohi, dieksploitasi, dan dihinakan.

Kultur modernisme yang memicu munculnya ustad-ustad baru di media seharusnya bisa dimaknai secara positif, yakni mendorong demokratisasi keagamaan dan sosialisasi nilai-nilai Islam dalam pola akulturasi yang lebih egaliter dan fenomenologis, serta cakupan dakwah yang lebih luas. Tanpa kualifikasi, yang muncul pada sosok para ustad selebritas itu justru kegagapan yang menyebabkan mereka tunduk dan diwarnai modernisme, bukan lagi mengendalikan dan mewarnai zaman. Bahkan yang mereka targetkan bukan lagi terdidiknya umat, melainkan terpuaskannya awak media (peringkat tinggi dan perolehan iklan banyak). Paling jauh, tuntunannya hanya menjadi tontonan. Malah, yang terjadi di layar kaca, para ustad itu seolah berdrama dengan akting saleh dan teladan. Tapi, begitu kamera tak menyorotnya, kesalehan dan keteladanan itu pun sirna, sehingga bahkan, di mimbar (tanpa sorot kamera), mereka menunjukkan sikap yang bukan lagi tak teladan, melainkan memprihatinkan.

Puisi dalam Politik Kita

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Pernah dimuat di Koran Tempo, 2/5)

Puisi harus berperan menciptakan efek katarsis guna menekan nasfu-nafsu rendah. (Aristoteles)

Sebenarnya, sejarah puisi adalah sejarah yang luhur. Ketika teologi, filsafat, sains, atau bahkan agama mengalami kejenuhan dalam menjawab teka-teki dan memberi akan keber-Ada-an manusia, maka peradaban berpaling ke puisi. Puisi menjadi semacam Sang Mesias. Menurut penyair metafisik Inggris, John Keats, puisi adalah satu-satunya yang mampu merangkul manusia dalam keterasingannya. Jadi, tak mengherankan jika mistisisme atau sufisme dalam Islam pada akhirnya berpaling ke puisi. Sebab, hanya melalui puisi, pengalaman transenden (ektase) seorang sufi dapat dibahasakan. Keluhuran puisi pula yang membawa Aristoteles justru menilai bahwa puisi harus berperan menciptakan efek katarsis guna menekan nasfu-nafsu rendah.

Dalam ranah filsafat, dua varian aksiologis, yakni estetika dan etika, tak bisa dilepaskan. Termasuk, menurut penulis, dalam melihat puisi. Karena itu, menjadi problem dan salah satu perdebatan dalam filsafat, misalnya, ketika dalam filsafatnya, Karl Marx tidak merumuskan secara sistematis pandangannya tentang estetika, di tengah pembahasan tentang etika yang menyita hampir seluruh perhatiannya. Juga Martin Heidegger, yang tak memunculkan pembahasan tentang etika dalam karya filsafatnya, di tengah estetika yang menempati kedudukan penting dalam pemikirannya. Karena itu, dalam sudut pandang filsafat, tak pernah diandaikan puisi minus estetika dan, atau etika.

Namun, dalam politik kita kali ini, puisi diseret dalam panggung politik secara sarkastik oleh sebagian politikus kita. Puisi diperdaya justru untuk sesuatu yang sebaliknya dari apa yang ditegaskan Aristoteles: melayani nafsu-nafsu rendah sebagian politikus dan menciptakan efek (politik) kotor. Puisi pun dicerabut dari nilai-nilai dasarnya: estetika dan etika. Puisi di tangan sebagian politikus itu kehilangan segalanya, baik aspek profetik maupun nilai etik dan estetik. Masihkah yang mereka gubah itu layak disebut puisi?

Padahal sejarah politik negeri ini sudah mengukir episode di mana puisi diletakkan dalam takhtanya yang luhur dan tepat dalam ruang politik. Sebagaimana dilakukan Soe Hok Gie, di mana puisi dijadikan media untuk mengkritik dan memprotes secara luhur, etik dan estetik, akan kepemimpinan yang mengancam nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, perdamaian, dan nilai-nilai luhur lainnya. Namun sejarah luhur puisi dalam politik kita itu seolah tak mengilhami, bahkan tak membekas, dalam benak sebagian politikus kita saat ini.

Akhirnya penulis diingatkan pada apa yang ditanyakan Friedrich Holderlin dalam elegi Bread and Wine (1797), apa guna penyair di masa suram ini? Menurut Holderlin, penyair harus mampu merasakan jejak-jejak pelarian para dewa dari dunia masa kita yang menyebabkannya suram. Begitu pula puisi dalam politik seharusnya digubah: untuk menyadarkan atau mengingatkan kita akan kesuraman politik kita saat ini atau selama ini. Dan sebisa mungkin, puisi dapat menjadi cahaya di tengah kesuraman itu. Bukan malah, puisi digubah untuk menyempurnakan kesuraman politik kita. Jadi, tak ada yang tersisa dari politik kita, kecuali aktivitas menghalalkan segala cara (termasuk menggubah puisi) demi nafsu berkuasa.

Pemimpin Profetik

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Pernah dimuat di Koran Tempo, 17/5)
Pemimpin adalah wakil Allah (khalifatullah) di bumi atau suatu negara. Jika disadari dalam kerangka itu, kepemimpinan tak akan dipahami, dihayati, dan dijalankan sebagai yang profan-imanen, melainkan sakral-transenden. Pemimpin adalah gelar profetik, sehingga tak ada bedanya antara pemimpin negara dan imam salat atau khatib Jumat.

Sebab, pada dasarnya, kepemimpinan adalah sebuah tugas suci, meski itu dilakoni di negeri sekuler sekalipun. Apalagi pemimpin Indonesia, negeri berdasarkan Pancasila yang sangat religius ini. Sebagaimana seorang imam atau khatib, ia bukan hanya mengemban amanat rakyat atau umat, tapi juga amanat Tuhan. Karena itu, ia harus pribadi yang paling memiliki sifat-sifat ketuhanan: adil, bijaksana, rahman (pengasih), rahim (penyayang), dan sebagainya. Inilah (seharusnya) visi-misi dasar seorang pemimpin (politik).

Visi-misi profetik itulah yang kerap absen dalam kontestasi kepemimpinan (politik) di negeri ini. Maka, penulis kerap menemui sebagian kita yang sering merasa tak pantas dan saling dorong saat diminta menjadi imam salat atau khatib Jumat, tapi begitu bernafsu dan saling berebut menjadi pemimpin negara. Bahkan, memperebutkannya dengan menghalalkan segala cara. Maka, nilai profetik kepemimpinan pun menjadi sirna. Kepemimpinan hanya dipahami sebagai jabatan, rakyat sebatas komoditas, dan koalisi dijalankan dalam kerangka "dagang sapi". Padahal, sebagaimana kata Sayyidina Ali bin Abu Thalib dalam salah satu wasiatnya sebagai khalifah pada Malik Asytar, pola pandang seorang pemimpin pada rakyatnya harus berbasis subyek-subyek, bukan subyek-obyek.

Jadi, pemimpin akan benar-benar merasakan perasaan, keluhan, dan harapan rakyatnya. Dengan begitu, para pemimpin menyadari, tidak bisa tidak, mereka harus merangkul rakyat dalam kepemimpinannya sebagai urusan bersama (res publica). Mereka juga selalu menyadari bahwa kekuasaan sejati selamanya milik rakyat.

Maka, dalam konteks kepemimpinan yang profetik, sebagaimana menjadi isi doa Emha Ainun Nadjib (2012), para bakal calon pemimpin justru harus berharap bisa menjadi "pemimpin boneka". Namun, tentu bukan "boneka manusia", tapi "boneka Allah". Dengan begitu, pemimpin kita benar-benar seorang khalifatullah di Indonesia.    

Akhirnya, seperti didendangkan Iwan Fals, pemimpin memang sepatutnya "manusia setengah dewa". Seorang manusia yang memiliki sifat-sifat ketuhanan atau para dewa. Namun, seperti dikemukakan Sayyid Fadlullah (ulama Libanon), visi-misi pemimpin profetik itu bukan berarti untuk membentuk "negara agama" (daulah diniyah) atau mau menyesatkan agama, keyakinan, atau mazhab lain atas nama kemurnian. Tapi, untuk membentuk "negara kemanusiaan" (daulah insaniyah). Sebab, ketika nilai-nilai kemanusiaan tegak (keadilan, perdamaian, kesejahteraan, toleransi, dll), di sanalah visi agama dan nilai-nilai ketuhanan bersemi.

Pertengkaran Tanpa Persoalan

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Pernah dimuat di Koran Tempo, 3/4)

"... hidup cemar oleh basa-basi dan orang-orang mengisi waktu dengan pertengkaran edan yang tanpa persoalan ..." (W.S. Rendra, Hai, Ma!-1992)

Dalam salah satu syairnya berjudul Hai, Ma! (1992), W.S. Rendra menulis, "... hidup cemar oleh basa-basi dan orang-orang mengisi waktu dengan pertengkaran edan yang tanpa persoalan ..." Rendra sedang menyindir kita, umat beragama, masyarakat politik, dan yang lainnya juga, yang memang sering bertengkar tanpa persoalan. Basa-basi saja. 

Dalam sebuah acara televisi di AS pada 2005 yang dipandu oleh John Stewart, ternyata terungkap bahwa pejabat tinggi FBI tak bisa menjawab saat ditanya tentang hal-hal yang sangat mendasar tentang Islam. Bahkan mereka bukan hanya mengakui ketidaktahuan, tapi lebih buruk lagi, mereka sejak awal melepaskan keingintahuan untuk tahu, sehingga, John Stein, Redaktur Keamanan Nasional untuk Congressional Quarterly di Washington, yang juga aktif mewawancarai pejabat dan petinggi AS, pernah berkata, "Sebagian besar pejabat AS (bukan hanya anggota Kongres, tapi juga intelijen dan penegak hukum AS) yang telah saya wawancarai tidak mengetahui apa-apa tentang Islam secara mendasar." (John L. Esposito, 2010). Padahal mereka berada dalam garis depan perang kontra-terorisme yang sering distigmakan pada Islam sebagai agama teror.

Kita pun di Indonesia kerap terjebak oleh apa yang disindir oleh Rendra itu. Kita membenci dan memerangi penganut agama atau mazhab yang berbeda tanpa tahu apa agama atau mazhab itu. Begitu pula dalam politik. Bahkan, ironisnya, kita membenci dan bertengkar hanya karena provokasi dan fitnah belaka dari mereka yang berkepentingan semata. Padahal, dalam kajian hikmah tasawuf, lebih jauh lagi, kita dituntut untuk memahami substansi sesuatu yang sering kali sama dan bahkan satu, walaupun secara kulit berbeda dan beragam. Agar kita tak bertengkar hanya karena perbedaan kulit, yang secara substansi sebenarnya kita sama dan satu, sehingga paradigma dan sikap hidup kita sesuai dengan nilai dasar bangsa ini, yakni Bhinneka Tunggal Ika. 

Pertengkaran sering kali muncul hanya karena lemahnya komunikasi. Komunikasi hanya menjadi basa-basi belaka, layaknya komunikasi dua orang yang sama-sama tuli. Meminjam istilah Emha Ainun Nadjib (2007), begitu banyak insiden, kekacauan dan pertengkaran yang melanda bangsa ini akibat dari dialektika ketulian massal. Jurgen Habermas, filsuf Jerman kontemporer, menyebutnya sebagai problem komunikasi. Dalam dialognya dengan Giovanna Borradori, yang kemudian dimuat dalam buku Philosophy in a Time of Terror (2003), Habermas menilai masalah sering kali timbul dari distorsi dalam komunikasi; kesalahpahaman dan ketidakmengertian. Komunikasi hanya menjadi basa-basi dan formalitas belaka, bukan sebuah dialektika dialogis yang tulus untuk mencari solusi dan menyemai perdamaian. Sebab, pada dasarnya, pertengkaran memang bukan muncul karena persoalan, tapi hanya karena hasrat kebencian yang tak berdasar atau pragmatis semata. 

Akhirnya, kita harusnya bukan hanya menghindari apa yang disindir oleh Rendra tersebut, tapi justru membalikkan paradigma itu. Seharusnya, jika pun ada persoalan, itu harus diselesaikan tanpa pertengkaran, yakni melalui komunikasi. Sebab, kita semua tahu dan sadar bahwa pertengkaran tak akan pernah menjadi solusi dan menyelesaikan masalah, tapi memperburuk masalah atau malah menambah persoalan baru. 

Thursday, June 26, 2014

Kajian Ramadhan 2014: Tafsir Bismillah

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar

"Bismillah" bukan sekadar ayat pertama dari al-Fatihah. Namun, bismillah adalah satu kalimat Allah bagi umat manusia untuk menjadikan segala tindakan manusia menjadi berkah, yakni tidak hanya bersifat duniawi (banal), tapi bersifat ukhrawi (otentik). Rasul bersabda: "Segala perkara baik dan penting yang tidak dimulai dengan nama Allah (bismillah), maka perkara itu akan tetap kekurangan satu bagian penting yang semestinya ada." Imam Muhammad al-Bagir (cicit Rasul) juga pernah berkata: "Bismillah harus dibaca pada permulaan setiap tindakan, baik tindakan besar maupun kecil, sehingga tindakan itu mendapat rahmat dan berkah." Misalnya, tiada bedanya rasa antara ayam yang disembelih dengan nama-Nya atau tanpa nama-Nya. Namun, bedanya bahwa yang disembelih dengan nama-Nya, dia akan mendapat keberkahan-Nya, sedangkan yang tidak disembelih dengan nama-Nya, dia tak memiliki keberkahan. Begitu pula dengan tidur, bekerja, berjalan, dll. Setiap tindakan yang tidak diawali dengan namanya, secara duniawi, tindakan itu sama saja dengan yang diawali dengan nama-Nya. Tetapi, dalam konteks ukhrawi, ada perbedaan: yang diawali dengan nama-Nya maka tindakan itu akan abadi dan menjadi amal kita yang dihitung di akhirat nantinya, dan yang tidak diawali dengan nama-Nya maka tindakan itu tidak bernilai di akhirat nantinya.  

Oleh karena itu, ajaran Islam menganjurkan agar menjadikan bismillah sebagai awal bagi selutuh tindak-tanduk umatnya. Dan, berkah ini sebenarnya bukan saja untuk umat Islam dan dari umat Islam, karena jauh sebelum Islam, seperti diabadikan dalam al-Qur'an bahwa Nabi Sulaiman telah menjadikan bismillah sebagai awal dari tindakannya. 

Kata "bi" dalam bismillah secara mum diartikan "dengan". Namun, dalam tafsir, misalnya Allamah Thabathaba'i dalam Tafsir al-Mizan mengartikannya sebagai "dengan kuasa". Oleh karena itu, kata "bi" dalam bismillah berfungsi sebagai pernyataan kehambaan yang tulus dan total bahwa tiada sesuatu yang bisa dilakukan manusia kecuali di bawah kuasa, kehendak, dan ijin Allah. Menurut Thabathaba'i, kata "bi" dalam bismillah juga berarti ikrar suci akan Allah sebagai Tuhan, agar keimanan kita menjadi penuh dan bersih dari segala bentuk kesyirikan sekecil apapun. Sebab, dalam al-Qur'an, Allah mengatakan bahwa terkadang keimanan kita masih bercampur dengan kesyirikan, walau kecil. Misalnya, kita beriman pada Allah, tapi tak begitu yakin bahwa bencana yang Allah turunkan pada kita adalah bentuk kasih sayang-Nya dan itu hakikatnya adalah yang terbaik bagi kita. 

Pembahasan lain dalam tafsir terkait kata "bi" dalam bismillah adalah rahasia titik di bawah huruf "ba". Dalam tafsir sufistik, penciptaan alam semesta dikaitkan dengan ikrar pertama Allah dalam al-Qur'an yaitu: "Demi Pena dan apa yang dituliskannya". Dalam artian, secara semiotik, "nun" dipahami sebagai "botol tinta" dan "al-qalam" adalah "pena penciptaan". Dan, huruf pertama yang ditulis pena penciptaan setelah dicelupkannya dalambotol tinta adalah satu titik yang kemudian disimbolkan di bawah huruf "ba'" pada bismillah. Oleh karena itu, misalnya, Ibn Arabi menyebut: "Pena-Nya terus menulis sesuai dengan kemauan-Nya yang kesemuanya mengalir dari titik di bawah "ba'" pada kata "bismillah"

Sedangkan mengenai kata "al-ism", ada yang mefsirkannya sebagai bentuk taukid (penekanan) tentang Allah yang disebutkan setelahnya. Namun, Thabathaba'i menfsirkannya sebagai penegasan tentang keterpujian nama Allah, bahwa nama-nama-Nya terpuji. Sebab, kita juga mengenal-Nya dari nama-nama-Nya yang terpuji, sebagaimana kita mengenal-Nya dari sifat-sifat-Nya atau ciptaan-ciptaan-Nya. Penegasan akan keterpujian nama-Nya itu kemudian disampaikan kembali dalam Surat Thaha: 8 yang berbunyi: "Allah adalah Dia, yang tak ada tuhan selain Dia. Milik-Nya adalah nama-nama yang paling baik." Dan juga dalam Surat al-A'raf: 180 yang berbunyi: "Dan milik Allah nama-nama terbaik. Karena itu serulah Dia dengan itu, dan tinggalkan orang-orang yang melanggar kesucian nama-nama-Nya." 

Adapun mengenai kata "Allah", semula adalah "al-Ilah", tapi "i" diabaikan untuk memudahkan pengucapan, sehingga menjadi "Al-Ilah". Kata ini berasal dari "alaha" yang berarti "menyembah" dan, atau "beribadah". Polanya adalah fa'il dalam pengertian maf'ul, seperti "al-kitab" (buku) berarti "al-maktub" (yang ditulis). Begitu juga Allah adalah "al-ilah" yang berarrti "al-ma'luh" (yang disembah atau yang jadi objek ibadah). 
Kata "Allah" ini pernah menjadi kontroversi di Malaysia, di mana seorang yang bukan Muslim dilarang menggunakannya karena kata itu dinilai milik Islam. Padahal, menurut Thabathaba'i, nama itu sebenarnya telah digunakan oleh agama-agama sebelum Islam, seperti dikemukakan al-Qur'an sendiri: "Dan seandainya kamu bertanya kepada mereka siapa yang menciptakan mereka, tentu mereka akan mengatakan Allah ..." (Az-Zukhraf: 87) atau di ayat lain: "...dan mereka mengatakan "Ini untuk Allah", maka dari itu mereka menegaskan "dan ini untuk sekutu-sekutu kami"..." (Al-An'am: 136). 

Terakhir, mengenai "al-Rahman" dan "al-Rahim", Imam Ja'far as-Sadiq (cicit Nabi) menjelaskan tentang dua kata dalam bismillah ini: "Ar-Rahman adalah nama khusus (di dunia) yang memiliki sifat umum (Mukmin dan non-Mukmin). Ar-Rahim adalah nama umum (di dunia dan akhirat) yang memiliki sifat khusus (Mukmin)." Artinya bahwa rahmah-Nya tidak terbatas pada seorang Muslim atau Mukmin saja, tetapi berlaku bagi semua manusia, bahkan seluruh ciptaan-Nya. Oleh karena itu, Allah memberi nikmat hidup, rejeki, dll pada seluruh hamba-Nya. Namun, semua itu hanya bersifat duniawi dan tidak bermakna di akhirat kelak. Misalnya, dalam Surat Maryam: 75, Allah berfirman: "Katakan: Adapun dia yang tetap dalam kesesatan, maka Ar-Rahman (Allah) tentu akan memperpanjang rentang waktu hari-harinya..." 

Sedangkan "Ar-Rahim" adalah khusus bagi seorang Mukmin yang berlaku bukan hanya di dunia, tetapupi juga di akhirat. Oleh karena itu, Dia berfirman: "... Dan kepada orang Mukmin, Dia bersifat rahim." (Ahzab: 43). Seorang Mukmin yang bersyukur atas apa yang diberikan oleh rahman-Nya dan menjadikannya sebagai alat untuk mencari keridoan-Nya dan menegakkan nama-Nya, maka di dengan rahim-Nya dia akan mendapat nikmat di akhirat kelak. Wallahu a'lam

Risma, Islam dan Logika Publik

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
Esais, @Husen_Jafar
(Esai ini pernah dimuat di Koran Tempo, 19/6)

Dolly ditutup. Tri Rismaharini, Walikota Surabaya, menjadi aktornya. Penutupannya (kebetulan) menjelang Ramadhan. Kebetulan itu mengingatkan penulis pada apa yang kerap dilakukan Front Pembela Islam (FPI) setiap menjelang Ramadhan: sweeping minuman keras dan lokasi hiburan malam.
Walaupun kita mengenal Risma sebagai perempuan berkerudung dan religius, namun tentu penutupan Dolly bukan karena pertimbangan Islam. Sebab, Risma tahu bahwa Indonesia bukan negara Islam. Upaya Risma itu memang islami, tapi alasannya karena pertimbangan kemanusian yang itu diatur oleh undang-undang. 
Menurut penulis, ada pelajaran penting yang patut dipetik oleh FPI dari Risma. Apa yang dilakukan Risma relatif sama dengan apa yang selama ini dilakukan FPI. Perbedaannya pada landasannya: Risma berlandaskan undang-undang, FPI selama ini berlandaskan Islam. Oleh karena itu, Risma didukung oleh berbagai pihak, termasuk Gubernur Soekarwo dan Komnas HAM. Sedangkan FPI selalu ditentang dan dikecam. 
Islam adalah aturan yang bersifat privat. Sedangkan undang-undang adalah aturan yang bersifat publik. Menurut penulis, kesalahan FPI adalah karena seolah memposisikan Islam sebagai undang-undang atau menarik sesuatu yang bersifat privat ke ranah publik. Padahal, sebagaimana ditegaskan Qur'an, tak ada paksaan dalam agama. Oleh karena itu, dalam ranah publik, FPI seharusnya tidak mendoktrin -apalagi memaksa- masyarakat kita untuk taat dan patuh pada dogma Islam. Namun, FPI harusnya melakukan penyadaran masyarakat bahwa aturan Islam itu baik dan layak untuk diadopsi menjadi aturan negara, tanpa harus mengubah negara ini menjadi negara Islam. Sebab, seperti dikatakan Muhammad Abduh (ulama neo-modernis Mesir), "Aku melihat Islam di Paris, meski tidak ada orang Islam; Aku melihat orang Islam di Kairo, tetapi tak melihat Islam di sana." Apa yang dikatakan Abduh itu juga telah dibuktikan secara ilmiah oleh Hossein Askari (akademisi Iran) yang dari hasil penelitiannya pada November 2013 justru menempatkan Irlandia sebagai negara paling islami, sedangkan Arab Saudi justru berada di posisi ke 91. 
Logika FPI seharusnya bukan islamisasi, tapi sebaliknya: mengajukan ketentuan Islam untuk diuji oleh publik dan negara sesuai dengan logika publik dan ketentuan negara. Logika itu harus didasarkan pula pada keyakinan seperti yang dikemukakan Murtadha Muthahhari (filosof Muslim) bahwa Islam itu bisa dan patut selalu dikontekstualisasikan dengan ruang dan waktu yang melingkupinya, tanpa harus mengubah substansinya. (Islam dan Tantangan Zaman, 1996) Justru, menurut penulis, uji publik dan negara itu penting untuk kontekstualisasikan nilai Islam dengan konteks keindonesiaan dan kekinian kita. 
Oleh karena itu, yang perlu dilakukan FPI saat ini dan di sini adalah melakukan kajian dan membangun basis argumentasi formal untuk mengajukan apa yang diyakininya agar bisa diterima oleh logika publik dan ketentuan negara sebagai sesuatu yang baik dan penting bagi publik dan negara ini. 'Pertarungan' dilakukan di tingkat logis dan formil, bukan dengan paksaan dan kekerasan. Cita-citanya bukan membentuk negara Islam, tapi negara yang islami dengan tegaknya nilai keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian. Dengan begitu, seperti Risma, FPI akan didukung oleh rakyat dan negara, dan Islam 'pun akan agung dan terhormat di tangannya.