Sunday, June 29, 2014

Kajian Ramadhan 2014: Tafsir Al-Fatihah (Bagian 1)

Al-Fatihah berarti "Pembukaan". Oleh karena itu, tafsir atas al-Fatihah menjadi penting sebagai pembuka terhadap penafsiran atas surat maupun ayat-ayat lain dalam al-Qur'an. Al-Fatihah juga disebut "Ummu al-Qur'an" (Induknya al-Qur'an). Oleh karena itu, penafsirannya menjadi penting di awal, sebelum penafsiran atas rincian dari al-Qur'an yang tersebar dalam seluruh surat dan ayat dalam al-Qur'an. Al-Fatihah kerap disebut sebagai "inti al-Qur'an" atau "sumber al-Qur'an", setidaknya dalam salah satu hadist riwayat Abu Hurairah melalui ad-Darqutni, disebutkan bahwa Rasul pernah bersabda: "Fatihah adalah sumber Qur'an dan merupakan tujuh ayat yang kerap kali diulang." Oleh karena itu, penafsiran atas al-Fatihah menjadi penting di awal sebagai upaya untuk mengetahui gambaran utuh dan singkat dari al-Qur'an, untuk menjadi pegangan dalam mengarungi rangkaian surat dan ayat al-Qur'an secara keseluruhan.

Selain itu, dalam aspek amaliyah, penafsiran al-Fatihah menjadi penting karena seperti kata hadist, al-Fatihah adalah surat dalam Qur'an yang kerap diulang, setidaknya surat ini adalah bacaan wajib dalam setiap salat umat Islam. Oleh karena itu, penafsiran atasnya menjadi penting untuk meningkatkan kualitas ibadah dan amal kita. Dengan memahami tafsirnya, seorang Muslim akan lebih total dalam meresapi dan menghayati kandungan, makna dan hikmah darinya.

"Alhamdulillah" adalah pujian khusus yang diutarakan bagi yang menolong karena kesadaran dan niat. Berbeda dengan "almadhu" yang merupakan pujian untuk sesuatu yang baik dan bermanfaat karena memang begitu adanya, bukan karena kesadaran, niat dan kehendaknya. Misalnya, seperti mutiara, yang menjadi indah dan bermanfaat karena begitu adanya, bukan karena upayanya sendiri.

"Al" di sini diartikan "semua", karena segala sesuatu menjadi indah dan baik karena Allah. Tak ada kebaikan atau keindahan pada diri makhluk itu sendiri. Tak ada keindahan dan kebaikan yang berdiri sendiri. Segala kebaikan dan keindahan niscaya bersumber dari Allah. Adapun makhluk hanyalah perantara atau manifestasi-Nya. Oleh karena itu, misalnya, dalam Surat as-Sajdah: 7, Dia berfirman: "Yang membuat bagus setiap sesuatu yang telah Dia ciptakan ..." Maka, jangan memuji kecuali sebelumnya memuji-Nya sebagai yang Maha Baik dan Maha Indah. Begitulah juga Allah mengajarkan pada para nabi-Nya, seperti firmankan-Nya:
"Allah mengatakan pada Nuh: "Katakan: Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang dhalim." (Al-Mukminun: 28) Begitu pula yang dikatakan Ibrahim: "Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahi aku Ismail dan Ishaq dalam usia tua." (Ibrahim: 39) Dan juga Daud dan Sulaiman yang berkata: "... dan mereka berdua berkata segala puji bagi Allah." (An-Naml: 15) Kelak 'pun, para penghuni surga yang telah diselamatkan dari iri, hasut, dosa dan kata-kata buruk berkata: "... dan penutup doa mereka adalah segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta." (Yunus: 10) Mengucap "alhamdulillah" atas segala kebaikan dan keindahan adalah sunnah para nabi dan orang-orang saleh yang kelak terselamatkan di surga.

Pujian "alhamdulillah" ini merupakan ajaran langsung dari Allah melalui firman-Nya. Sebab, hanya Allah yang memahami secara utuh keindahan dan kesempurnaan Dia dan ciptaan-Nya, maka Dia sendiri pula yang mengajarkan pujian bagi-Nya. Sebagaimana difirmankan-Nya: "... ilmu mereka tidak meliputi Dia." (Thaha: 110) Oleh karena itu, Rasul bersabda: "Aku tidak dapat menyebutkan satu demi satu pujian kepada-Mu. Engkau adalah sebagaimana Engkau sendiri memuji-Mu sendiri ..." Maka, "alhamdulillah" adalah pelajaran penting dari-Nya pada manusia. 

"Rabbil alamin. Maaliki yaumiddin" adalah penjelasan tentang kepemilikan-Nya atas segala sesuatu. Karenanya, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Artinya, setelah kita diajarkan sebelumnya bahwa segala tindakan-Nya adalah yang terbaik dan terindah bagi makhluk-Nya, karenanya kita harus memuji-Nya sebagaimana Dia mengajarkan pada kita. Setelah itu, kita diajarkan bahwa Allah yang memiliki segala sesuatu. Sehingga, Dia bebas melakukan apa saja pada apa yang dimiliki dan menjadi hak-Nya. Kita 'pun harus ikhlas menerima semua perlakuan-Nya pada diri kita. Karena kita sudah tahu bahwa pasti kehendak-Nya adalah yang terbaik bagi kita. 

Kata ini juga menjelaskan bahwa kepemilikan-Nya adalah satu-satunya kepemilikan yang riil dan otentik. Segala sesuatu benar-benar tak ada dan berdiri sendiri, kecuali sebagai manifesasi-Nya. Tak ada kepemilikan seriil dan seotentik ini selain kepemilikan Allah atas ciptaan-Nya. Adapun kepemilikan kita atas niscaya tak riil dan tak otentik. Segala milik kita hanya titipan-Nya dan milik-Nya. Oleh karena itu, kita dilarang memperlakukan kepemilikan kita di luar tuntunan-Nya.

"Iyyakanakbudu wa iyyakanastain". Objek (-Mu) ditempatkan di depan kata kerja, dan kata gantinya bukan lagi pihak ketiga (Allah), melainkan pihak kedua "Kamu". Sebab, melalui ayat ini, Allah hendak menegaskan bahwa benar-benar hanya kepada-MU (Allah) kami (harus) beribadah. Artinya, saat ibadah, tak boleh ada konsentrasi pada selain-Nya. Bahkan kita dididik untuk menghadirkan-Nya atau seolah-seolah Dia hadir dalam setiap ibadah kita. Adapun perkara lain, urusan lain, termasuk perkaran ingin surga atau takut neraka, sepatutnya tak hadir dalam setiap ibadah kita. Sebagaimana Dia berfirman: "... karena itu, beribadahlah pada Allah dengan tulus kepada-Nya dalam agama." (Az-Zumar: 2) Di ayat lain, Dia berfirman: "Sesungguhnya agama yang tulus hanya untuk Allah saja ..." (Az-Zumar 3).

Mengapa "kami", bukan "aku" beribadah? Agar dalam ibadah tak ada egoisme dan yang ada adalah kerendahan hati. Selain itu, dalam ayat ini, "ibadah" digandeng dengan "permohonan pertolongan", agar kita sadar bahwa ibadah itu sama sekali bukan untuk Allah, tapi untuk diri kita sendiri sebagai bentuk syukur, dll. 

2 comments:

Tafsir Habib Luthfi semalam kah?

Bukan. Ini tulisan saya (Husein Ja'far Al Hadar) yg dirujukkan dari Tafsir Al-Mizan karya Allamah Thaba'thabai.

Post a Comment