Saturday, June 28, 2014

Membela Tuhan?

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Pernah dimuat di Koran Tempo, 17/7)

Alkisah, konon, dengan membawa sebilah pedang, Fir’aun menaiki tangga buatanya yang menjulur tinggi ke langit. Sesampainya di puncak tangga, ia melumuri pedangnya dengan darah yang telah disiapkannya dan kemudian kembali turun. Ketika sampai di darat, ia mengumpulkan rakyatnya dan berkhotbah; “Aku telah membunuh Tuhan. Lihatlah darah-Nya telah melumuri pedangku. Dan saat ini, akulah Tuhan kalian!”. Ia membohongi rakyatnya. Bahkan, dalam pengertian paling primordial dan eksistensial, ia telah membohongi dirinya sendiri 

Menurut penulis, dengan resiko agak simplistis, seperti kisah Fir’aun itulah gagasan ateisme yang dibangun oleh para pembunuh Tuhan, sebagaimana dipelopori oleh Ludwig Feurbach, Karl Marx, Sigmund Freud, Jean-Paul Sartre hingga Friedrich Nietzche. Mereka tak pernah membunuh Tuhan dalam arti sebenarnya; Tuhan Yang Maha Kuasa itu. Sebab, Tuhan Yang Hakiki itu memang takkan pernah bisa dibunuh, oleh siapapun, di manapun dan sampai kapanpun. Adapun episode pembunuhan atas Tuhan yang gencar terjadi pada abad ke-19 itu sebenarnya hanyalah respon balik ‘keras’ terhadap kebobrokan (institusi) agama-agama saat itu, khususnya Gereja Katolik sisa peninggalan Abad Pertengahan yang sarat akan mitologis (takhayul) dan fanatisme yang sangat determenistik.  Tuhan ‘buatan’ institusi agama ‘lah yang dibenci, dikritik dan dibunuh oleh para filosof itu; Tuhan yang mengkebiri akal dan kebebasan, Tuhan pengobral kekerasan, Tuhan yang berpihak pada penguasa dan mencandu rakyat jelata. Singkatnya, ateisme sebenarnya lebih sebagai suara kekecewaan. Kemunculan pun biasanya dibarengi oleh tumbuhnya kalangan fundamentalisme; sekumpulan orang-orang yang meyakini dan membangun keimanannya justru atas dasar irrasionalitas, fanatisme dan mitologi. Sehingga, fundamentalisme justru lebih sebagai suara ketakutan akibat keimanan yang tipis atas Tuhan. Sehingga, Tuhan-nya merasa perlu dibela mati-matian, walau harus dengan darah sekalipun.

Oleh karena itu, sebenarnya justru keimanan dan keberagamaan yang terlampau fundamental ‘lah yang memicu anasir-anasir ateisme hingga sangat mungkin muncul; ketika Tuhan tak dipraktekkan dan tak dihadirkan dalam kehidupan manusia. Ketika agama hanya hadir sebagai ‘bencana’ bagi kerukunan, kedamaian dan kebebasan umatnya. Sehingga, fenomena ateisme (dalam beragam corak, gagasan dan hujatannya) akan terus muncul sepanjang agama masih diwarnai dengan kebobrokan, apalagi kegagalan, dalam menjalankan tugas sucinya. Hipotesa itu kian terbukti dengan kembali munculnya fenomena ateisme baru yang pada abad ini dikomandani oleh Richard Dawkin, Christopher Hitchens dan Sam Haris. Walaupun, lagi-lagi, mereka tak pernah membunuh Tuhan Hakiki.

Jika mau direnungkan secara seksama dan jernih, sebenarnya segala bentuk argumentasi pembunuhan atas Tuhan yang digaungkan oleh para filosof ateis itu seharusnya justru menjadi refleksi dan introspeksi bagi agama(wan) untuk semakin mendewasakan, memurnikan dan memuliakan agamanya, agar benar-benar merepresentasikan nama dan sifat Tuhan; Yang Pengasih, Yang Penyayang, Yang Tak Terbatas, Yang Memerdekakan, dll. Sehingga, apa yang disebut dengan ateisme tersebut justru dipahami sebagai teisme-isasi dalam bentuknya yang hakiki. Sebab, dari mereka ‘lah kita justru belajar membersihkan Tuhan kita dari berbagai atribut menyesatkan yang ditempelkan oleh institusi agama, yang pada akhirnya justru men-degradasi wibawa Tuhan dan mereduksi pesan dan makna agama sebagai rahmat dan amanat-Nya bagi umat manusia. Dengan begitu, keimanan bukan justru akan menggiring kita pada kesengsaraan dalam relung mitologi dan fanatisme. Namun, keimanan justru akan menggiring kita dalam menemukan makna terdalam dan paling hakiki tentang berbagai hal; Tuhan, hidup dan diri kita sendiri.

Dalam ranah ateisme pun, ateisme dalam pengertiannya yang murni (hingga kini) tak pernah. Sebagaimana diungkapkan Goenawan Mohamad dalam salah satu wawancaranya dengan Majalah Madina pada Februari 2008 saat ditanya tentang relasinya dengan agama, ia (atau siapa saja, menurut penulis) tidak bisa jadi ateis; tidak bisa tidak percaya akan adanya Tuhan, walau dipaksa sekalipun. Tuhan selalau ‘tampak’ dalam setiap kebajikan, keikhlasan, keindahan, pengorbanan, dll. Tuhan kerap ‘menyelinap’ dalam relung kesadaran kita, dalam waktu dan kondisi yang indah, walau kemudian dilupakan kembali. Sebab, keberadaannya memang tak pernah bisa dinafikan. Yang memungkinkan untuk dinafikan (dan fenomena itu kemudian disebut ateisme), hanyalah perwujudan-Nya di dunia ini, yang memang banyak direduksi dan ditutupi oleh kedigdayaan institusi agama.

Menyadari kelemahannya masing-masing, seharusnya kalangan agamawan (yang berdiri di atas keimanan) dan kalangan ateis (yang berdiri di atas rasionalisme-ilmiah) tidak menghadirkan dirinya dalam posisi yang paradoks, namun justru sebaliknya; saling mendengar, mengintrospeksi dan membenahi untuk mencapai titik kesempurnaan. Sebab, menyelaraskan nalar dan iman merupakan salah satu obsesi puncak manusia. Apa yang diimani, selalu diobsesikan dapat ditunjang oleh logika nalar yang rasional sehingga keimanannya dapat melibatkan keseluruhan akal yang berfungsi mengotrol, memverifikasi dan membersihkan iman dari takhayul menyesatkan. Sebaliknya, manusia juga selalu terobsesi untuk menjadikan akalnya berbudi dan beriman sehingga apa yang dipikirkannya bernilai dan bermakna secara moril bagi manusia, bukan justru menggiring mereka pada tepian chaos.

Tuhan memang bukan hanya bisa dan patut untuk terus dan selalu dikaji, dipertanggungjawabkan dan didekati secara rasional. Terlebih saat ini, ketika dunia –khususnya bangsa Indonesia- diliputi dengan fenomena degradasi moral dan kepercayaan. Tak perlu kuatir, apalagi takut, untuk menalar Tuhan. Sebab, iman memiliki akarnya sendiri, yang mustahil dapat dijamah, apalagi dimusnahkan, oleh nalar manusia. Ia abadi dalam kesendiriannya, bersama Tuhan. 

Institusi agama sebagai hasil cipta karya manusia yang imanen dan terbatas ini, sangat memungkinkan dipenuhi oleh kekurangan di sana sini. Namun, agama dalam pengertiannya yang hakiki, sebagaimana hipotesa Peter Berger, takkan pernah mati. Ia memiliki seribu nyawa, yang ketika dibunuh satu maka akan hidup dengan nyawa lainnya.

Akhirnya, jika kita membaca sejarah pembangkangan terhadap Tuhan, kesan yang didapat justru; semakin kita lari dari Tuhan, bahkan membunuh Tuhan sekalipun, semakin Tuhan mendekat, hidup dan gamblang ‘Dzat’-Nya secara hakiki. Karenanya, penulis tak pernah khawatir –apalagi meresponnya secara radikal- terhadap arus ateisme. Seberapa kuat pun ia. Sehingga, mungkin Tuhan memang tak perlu dibela.

0 comments:

Post a Comment