Saturday, June 28, 2014

Sang Neo-Modernis Islam Bernama Fadlullah

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar

Pertengahan 2010, sebuah berita duka datang dari Libanon Selatan untuk dunia Islam. Sosok ulama terkemuka yang disegani di Libanon, Ayatullah Muhammad Husein Fadlullah meninggal dunia. Beliau wafat pada 4 Juli di usianya yang ke-75, setelah sebelumnya menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Benham, Beirut-Libanon. Seantero Timur Tengah mengenalnya sebagai salah satu ulama paling cemerlang dan berpengaruh. Gelar “Ayatullah Al Udzma” yang menempel pada namanya setidaknya bukti ketinggian intelektualitas dan ke-ulama-annya. Pasalnya, dalam tradisi Islam-Syiah yang dianutnya, gelar itu hanya disandang oleh segelintir ulama Islam yang telah memenuhi kredibilitas keilmuan tertinggi dan dinilai bijak untuk memberi fatwa bagi pengikutnya. 
     
Ucapan bela sungkawa tercatat tak hanya mengalir deras dari kalangan Muslim dunia. Namun, pernyataan berduka juga dinyatakan oleh berbagai umat non-Islam dari Eropa, Asia hingga Afrika, termasuk Indonesia tentunya. Pasalnya, beliau dikenal sebagai salah satu ulama Islam di Timur Tengah yang beraliran moderat dan membangun pandangan-pandangan keislamannya di atas asas toleransi dan persaudaraan. Beliau cenderung memandang umat beragama non-Islam, khususnya Yahudi dan Kristen, dalam perspektif Abrahamic Faith. Oleh karena itu, bagi beliau, mereka tak lain sebagai saudara umat Islam sesama penganut Agama Ilahi yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim yang patut dirangkul dan bersama-sama memahami perbedaan tersebut dalam bingkai misi primordial Islam; rahmatan lil alamin.

Terkait dengan pandangan keislamannya yang moderat tersebut, beliau juga tercatat sebagai ulama Islam yang menentang jihad berbasis anarkis yang diserukan oleh Taliban di bawah kepemimpinan Osama Bin Laden di Afghanistan. Bahkan, ia hingga menyebut Osama bersama pengikutnya sebagai kelompok di luar Islam. Pasalnya, Osama dinilai telah melenceng dari nilai-nilai dasar Islam yang diturunkan dan dipraktekkan oleh Nabi Muhammad sebagai agama perdamaian. Mereka dinilai telah salah kaprah dalam menerapkan konsep jihad dalam Islam. Selain itu, beliau juga mengutuk serangan bom yang tak menghiraukan keberadaan rakyat sipil seperti yang terjadi di Sharm El-Sheikh, Mesir pada tahun 2005. Menurut beliau, tindakan anarkis hanya dilegalkan dalam Islam di medan perang, itu pun tetap terdapat batasan-batasan tertentu sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kesahajaan-etis.

Pandangan mencolok lainnya yang dibangun oleh Ayatullah Fadlullah di masa hidupnya yaitu penghargaan dan penghormatannya kepada kedudukan wanita dalam Islam. Menurut beliau, Islam justru hadir untuk mengangkat dan meninggikan kedudukan seorang perempuan yang telah dilecehkan dan dirampas hak-haknya di masa Arab-Jahiliyah. Bahkan, beliau menegaskan bahwa tradisi tersebut masih membekas dalam masyarakat Muslim saat ini. Pandangan inferior dalam tradisi umat Islam saat ini terhadap perempuan merupakan indikasi kuat atas hal itu. Salah satunya, menurut beliau, pandangan inferior itu masih terlihat dari salah satu tradisi umat Islam yang cenderung mengucapkan kalimat; segala puji bagi Allah atas keselamatan (Alhamdulillah ala as-salamah), kepada seorang ibu yang melahirkan anak perempuan. Berbeda dengan kalimat yang akan terlontar kepada seorang ibu yang melahirkan anak pria; berkah Allah atasmu (mabruk).

Beliau mengkritik keras pandangan umat Islam yang cenderung masih berbias inferior terhadap perempuan. Pasalnya, menurut beliau, sembari mengutip QS. An-Nisa’: 1, sejatinya perempuan dan lelaki diciptakan dari hakikat-esensi yang satu. Karenanya, tak ada perbedaan berarti, apalagi hingga mengklasifikasikannya secara bertingkat (vertikal) antar keduanya; meletakkan lelaki di atas perempuan. Dan, menurut beliau, dari sanalah kemudian Islam membangun pandangannya. Sehingga, Islam selalu menyetarakan kedudukan dan martabat keduanya.

Namun, dalam membangun sikapnya yang moderat dan relevan itu, beliau tetap berpegang teguh pada nilai-nilai dasar dan substansial Islam yang berdasarkan pada Qur’an. Karenanya, pada Juni 2009, beliau juga menentang pelarangan burqa (kerudung) di Prancis dengan menuding Presiden Prancis telah merampas hak-hak perempuan yang sejatinya memiliki kebebasan untuk menentukan pakaiannya sendiri. Bertolak dari sini, jika mengacu pada klasifikasi ala Fazlur Rahman, maka penulis cenderung menyebut Fadlullah sebagai seorang Neo-Modernis Islam; kalangan yang mampu membuat Islam merespon tuntutan zaman yang selalu bergerak me-modern, dengan tetap mempertahankan dan berdiri di atas nilai-nilai dasar dan substansial Islam itu sendiri.

Salah satu titik kecemerlangan Fadlullah yaitu kelihaiannya secara intelektual untuk mengkompromikan pandangan Islam yang moderat dengan sikap serta pergerakan politik Islam yang tegas dan konservatif. Pasalnya, sikap serta pergerakan politik Islam yang tegas dan konservatif itu biasanya patut berbanding lurus dan tumbuh dari pandangan keislaman yang fundamental-radikal. Namun, Fadlullah mampu menghindari ke-patut-an tersebut. Ia menjadi seorang ulama Islam moderat yang tetap memiliki sikap dan pergerakan politik Islam yang yang tegas-konservatif. Hal itu setidaknya terlihat dari sikapnya sebagai pendiri dan Pemimpin Spiritual Hizbullah Libanon yang tak pernah berkompromi dengan rezim Zionis-Israel serta selalu mematok ’harga mati’ bagi kemerdekaan tanah air Palestina tanpa keberadaan Israel di dalamnya.

Dan, yang juga penting dari biografi Fadlullah yakni kiprah sosialnya. Beliau merupakan salah satu ulama Islam yang berdiri di atas konsep bahwa jihad Islam juga patut direalisasikan pada dimensi sosial, tak hanya pada tatanan pergerakan semata, apalagi hanya sikap militer. Oleh karena itu, beliau kemudian mendirikan Yayasan Al Mabarrat; sebuah yayasan sosial yang menghimpun dan mengkoordinasikan seluruh aktifitas sosial yang dipimpin oleh Ayatullah Fadlullah. Yayasan ini tercatat telah menorehkan berbagai prestasi sosial gemilang, dari pembangunan sekolah, rumah sakit, panti asuhan hingga berpartisipasi aktif dalam membangun kembali Libanon pasca-Perang Hizbullah-Israel pada tahun 2006.

Akhirnya, pada tahun 1952, saat usianya masih 17 tahun, Fadlullah pernah bertolak ke Libanon untuk membacakan puisi penghormatan terakhir atas kematian Sayyid Muhsin Al-Amin yang berisi tentang seruan untuk persatuan dan kebangkitan Islam. Dan, hari-hari ini, jutaan umat manusia, baik Islam maupun non-Islam, bertolak ke negeri tempat ia membacakan puisi itu dulu untuk memberikan penghormatan yang sama kepada beliau. Sebuah fenomena yang seolah menjawab seruan beliau pada tahun 1952; saat umat manusia berbagai agama, bukan hanya umat Islam, benar-benar disatukan dan dibangkitkan oleh kedukaan dan penghormatan kepada jenazah beliau.

0 comments:

Post a Comment