Thursday, June 26, 2014

Kajian Ramadhan 2014: Tafsir Bismillah

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar

"Bismillah" bukan sekadar ayat pertama dari al-Fatihah. Namun, bismillah adalah satu kalimat Allah bagi umat manusia untuk menjadikan segala tindakan manusia menjadi berkah, yakni tidak hanya bersifat duniawi (banal), tapi bersifat ukhrawi (otentik). Rasul bersabda: "Segala perkara baik dan penting yang tidak dimulai dengan nama Allah (bismillah), maka perkara itu akan tetap kekurangan satu bagian penting yang semestinya ada." Imam Muhammad al-Bagir (cicit Rasul) juga pernah berkata: "Bismillah harus dibaca pada permulaan setiap tindakan, baik tindakan besar maupun kecil, sehingga tindakan itu mendapat rahmat dan berkah." Misalnya, tiada bedanya rasa antara ayam yang disembelih dengan nama-Nya atau tanpa nama-Nya. Namun, bedanya bahwa yang disembelih dengan nama-Nya, dia akan mendapat keberkahan-Nya, sedangkan yang tidak disembelih dengan nama-Nya, dia tak memiliki keberkahan. Begitu pula dengan tidur, bekerja, berjalan, dll. Setiap tindakan yang tidak diawali dengan namanya, secara duniawi, tindakan itu sama saja dengan yang diawali dengan nama-Nya. Tetapi, dalam konteks ukhrawi, ada perbedaan: yang diawali dengan nama-Nya maka tindakan itu akan abadi dan menjadi amal kita yang dihitung di akhirat nantinya, dan yang tidak diawali dengan nama-Nya maka tindakan itu tidak bernilai di akhirat nantinya.  

Oleh karena itu, ajaran Islam menganjurkan agar menjadikan bismillah sebagai awal bagi selutuh tindak-tanduk umatnya. Dan, berkah ini sebenarnya bukan saja untuk umat Islam dan dari umat Islam, karena jauh sebelum Islam, seperti diabadikan dalam al-Qur'an bahwa Nabi Sulaiman telah menjadikan bismillah sebagai awal dari tindakannya. 

Kata "bi" dalam bismillah secara mum diartikan "dengan". Namun, dalam tafsir, misalnya Allamah Thabathaba'i dalam Tafsir al-Mizan mengartikannya sebagai "dengan kuasa". Oleh karena itu, kata "bi" dalam bismillah berfungsi sebagai pernyataan kehambaan yang tulus dan total bahwa tiada sesuatu yang bisa dilakukan manusia kecuali di bawah kuasa, kehendak, dan ijin Allah. Menurut Thabathaba'i, kata "bi" dalam bismillah juga berarti ikrar suci akan Allah sebagai Tuhan, agar keimanan kita menjadi penuh dan bersih dari segala bentuk kesyirikan sekecil apapun. Sebab, dalam al-Qur'an, Allah mengatakan bahwa terkadang keimanan kita masih bercampur dengan kesyirikan, walau kecil. Misalnya, kita beriman pada Allah, tapi tak begitu yakin bahwa bencana yang Allah turunkan pada kita adalah bentuk kasih sayang-Nya dan itu hakikatnya adalah yang terbaik bagi kita. 

Pembahasan lain dalam tafsir terkait kata "bi" dalam bismillah adalah rahasia titik di bawah huruf "ba". Dalam tafsir sufistik, penciptaan alam semesta dikaitkan dengan ikrar pertama Allah dalam al-Qur'an yaitu: "Demi Pena dan apa yang dituliskannya". Dalam artian, secara semiotik, "nun" dipahami sebagai "botol tinta" dan "al-qalam" adalah "pena penciptaan". Dan, huruf pertama yang ditulis pena penciptaan setelah dicelupkannya dalambotol tinta adalah satu titik yang kemudian disimbolkan di bawah huruf "ba'" pada bismillah. Oleh karena itu, misalnya, Ibn Arabi menyebut: "Pena-Nya terus menulis sesuai dengan kemauan-Nya yang kesemuanya mengalir dari titik di bawah "ba'" pada kata "bismillah"

Sedangkan mengenai kata "al-ism", ada yang mefsirkannya sebagai bentuk taukid (penekanan) tentang Allah yang disebutkan setelahnya. Namun, Thabathaba'i menfsirkannya sebagai penegasan tentang keterpujian nama Allah, bahwa nama-nama-Nya terpuji. Sebab, kita juga mengenal-Nya dari nama-nama-Nya yang terpuji, sebagaimana kita mengenal-Nya dari sifat-sifat-Nya atau ciptaan-ciptaan-Nya. Penegasan akan keterpujian nama-Nya itu kemudian disampaikan kembali dalam Surat Thaha: 8 yang berbunyi: "Allah adalah Dia, yang tak ada tuhan selain Dia. Milik-Nya adalah nama-nama yang paling baik." Dan juga dalam Surat al-A'raf: 180 yang berbunyi: "Dan milik Allah nama-nama terbaik. Karena itu serulah Dia dengan itu, dan tinggalkan orang-orang yang melanggar kesucian nama-nama-Nya." 

Adapun mengenai kata "Allah", semula adalah "al-Ilah", tapi "i" diabaikan untuk memudahkan pengucapan, sehingga menjadi "Al-Ilah". Kata ini berasal dari "alaha" yang berarti "menyembah" dan, atau "beribadah". Polanya adalah fa'il dalam pengertian maf'ul, seperti "al-kitab" (buku) berarti "al-maktub" (yang ditulis). Begitu juga Allah adalah "al-ilah" yang berarrti "al-ma'luh" (yang disembah atau yang jadi objek ibadah). 
Kata "Allah" ini pernah menjadi kontroversi di Malaysia, di mana seorang yang bukan Muslim dilarang menggunakannya karena kata itu dinilai milik Islam. Padahal, menurut Thabathaba'i, nama itu sebenarnya telah digunakan oleh agama-agama sebelum Islam, seperti dikemukakan al-Qur'an sendiri: "Dan seandainya kamu bertanya kepada mereka siapa yang menciptakan mereka, tentu mereka akan mengatakan Allah ..." (Az-Zukhraf: 87) atau di ayat lain: "...dan mereka mengatakan "Ini untuk Allah", maka dari itu mereka menegaskan "dan ini untuk sekutu-sekutu kami"..." (Al-An'am: 136). 

Terakhir, mengenai "al-Rahman" dan "al-Rahim", Imam Ja'far as-Sadiq (cicit Nabi) menjelaskan tentang dua kata dalam bismillah ini: "Ar-Rahman adalah nama khusus (di dunia) yang memiliki sifat umum (Mukmin dan non-Mukmin). Ar-Rahim adalah nama umum (di dunia dan akhirat) yang memiliki sifat khusus (Mukmin)." Artinya bahwa rahmah-Nya tidak terbatas pada seorang Muslim atau Mukmin saja, tetapi berlaku bagi semua manusia, bahkan seluruh ciptaan-Nya. Oleh karena itu, Allah memberi nikmat hidup, rejeki, dll pada seluruh hamba-Nya. Namun, semua itu hanya bersifat duniawi dan tidak bermakna di akhirat kelak. Misalnya, dalam Surat Maryam: 75, Allah berfirman: "Katakan: Adapun dia yang tetap dalam kesesatan, maka Ar-Rahman (Allah) tentu akan memperpanjang rentang waktu hari-harinya..." 

Sedangkan "Ar-Rahim" adalah khusus bagi seorang Mukmin yang berlaku bukan hanya di dunia, tetapupi juga di akhirat. Oleh karena itu, Dia berfirman: "... Dan kepada orang Mukmin, Dia bersifat rahim." (Ahzab: 43). Seorang Mukmin yang bersyukur atas apa yang diberikan oleh rahman-Nya dan menjadikannya sebagai alat untuk mencari keridoan-Nya dan menegakkan nama-Nya, maka di dengan rahim-Nya dia akan mendapat nikmat di akhirat kelak. Wallahu a'lam

0 comments:

Post a Comment