Thursday, July 10, 2014

Kajian Ramadhan 2014: Tafsir Al-Fatihah (Bagian 2-Habis)

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

As-shirath artinya "sebuah jalan yang jelas". Arti dasarnya, "menelan habis-habis". Maksudnya, ini jalan yang menelan pejalannya tanpa memberikan kesempatan kepadanya untuk keluar sedikit 'pun. Sedangkan al mustaqim artinya "seorang yang berdiri dengan kakinya sendiri dan mengendalikan sepenuhnya dirinya sendiri maupun apa yang ada padanya". Artinya, lurus itu tak mengalami perubahan, tingkatan, variasi, dll. 

Ada banyak jalan menuju Allah yang masing-masing berbeda kesempurnaan, kemudahan, kemulusan, dll-nya. Karenanya, ada banyak jenis hidayah sesuai jalannya masing-masing. Ada jalan kepatuhan, pengabdian, kepasrahan, jalan iman, ibadah, kesucian niat, kerendahan hati, kezuhudan, dst. Jalan-jalan itu bertingkat. Sebagaimana difirmankan-Nya: "Dan untuk semuanya ada derajat-derajat, sesuai apa yang mereka lakukan, dan sehingga Dia membayar kembali dengan penuh perbuatan-perbuatan mereka, dan mereka tidak akan diperlakukan secara tidak adil." (Al-Ahqaf: 19)

Namun, jalan yang lurus adalah pengendali semua jalan itu. Sehingga, tingkatan jalan-jalan itu tergantung kedekatan dasarnya dengan jalan yang lurus. Begitu pula orang yang berada di jalan yang lurus itu memiliki otoritas untuk memandu hamba-hamba yang lain yang berada di jalan-jalan itu. Sebagaimana Allah firmankan: "Sesungguhnya Tuanmu satu-satunya adalah Allah dan Rasulnya, dan mereka yang beriman, mereka yang mendirikan salat dan membayar zakat sementara mereka tengah rukuk." (Al-Maidah: 55) Dan di ayat lain: "Sesungguhnya telah datang kepadamu sebuah cahaya dan Kitab yang jelas dari Allah. Dengan itu Allah memandu orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya ke jalan-jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan sama sekali ke cahaya dengan izin-Nya dan memandu mereka ke jalan yang lurus." (Al-Maidah: 15-16)

Orang yang berada di jalan yang lurus itu mendapat nikmat dan karunia utama, istimewa, berkualitas tinggi yang lebih berharga dibandingkan nikmat dan karunia lainnya. Suatu hari, Imam Ja'far as-Shadiq (cicit Rasulullah) pernah didatangi seorang pengikutnya yang miskin. Dia mengeluh karena kemiskinannya dan membandingkan dirinya dengan seorang lain yang tidak menjadi pengikut Imam Ja'far tapi hidup dalam keberlimpahan harta. Kemudian Imam Ja'far berkata kepadanya, apa dia mau menukarkan kesetiannya pada Imam Ja'far dengan harta yang berlimpah? Dia menjawab tidak. Lalu, Imam Ja'far berkata lalu kenapa engkau mau menukarkan nikmat tertingginya dari Allah dengan nikmat harta yang jauh lebih rendah dari nikmat yang telah dimilikinya. 

Jalan yang lurus itu bersumber langsung dari Allah, bukan dari hamba-hamba-Nya. Itu bimbingan langsung Allah, berbeda dengan jalan-jalan lain. Sebagaimana dikemukakan firman-Nya: "Kemudian adapun mereka yang mengimani Allah dan berpegang teguh pada-Nya, segera dia akan memberikan akses kepada mereka untuk mendapatkan rahmat dari-Nya dan karunia-Nya dan memandu mereka ke diri-Nya sendiri melalui jalan yang lurus." (An-Nisa': 175) 

Jalan yang lurus tak bisa dicemari oleh apapun. Adapun jalan-jalan yang lain masih bisa dicemari oleh sestau yang lain. Misalnya, seorang yang mengaku beriman pada Allah, tapi dia mengeluh akan keadaan ekonominya, seolah tak tahu bahwa Allah menjamin setiap rezeki bagi hamba-Nya. Oleh karena itu, Dia berfirman: "Dan kebanyakan dari mereka tidak mengimani Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain." (Yusuf: 106) Dalam artian, walau beriman, tetapi masih ada anasir-anasir kemusyrikan. Sedangkan jalan yang lurus, jalan itu bersih, murni dan terjauhkan dari berbagai anasir-anasir seperti itu. Allah berfirman tentang hal ini: "Dan agar kamu menyembah Aku. Inilah jalan yang lurus." (Yasin: 61) Atau di ayat lain: "Katakanlah: Sesungguhnya aku, Tuhanku telah memanduku ke jalan yang lurus; sebuah agama yang paling benar, jalan Ibrahim, seorang yang lurus." (Al-An'am: 161)

Allamah Thabathaba'i mengilustrasikan perbedaan jalan yang lurus dengan jalan-jalan lain dengan menulis bahwa jalan yang lurus itu seperti jiwa yang tak pernah berubah, sedangkan jalan-jalan itu seperti raga yang berubah dan berkembang. Jalan-jalan memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Tapi jalan yang lurus sempurna.

0 comments:

Post a Comment