Tuesday, July 1, 2014

(Masih) Tak Ber-Tuhan 'kah Kau, Hawking?

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
Tuhan! Dzat itu tak ada habisnya dicari, dipikirkan, direnungkan dan dikonsepkan oleh hamba-hamba-Nya; dari teolog, filosof, sufi hingga saintis. Walau, ada yang justru sampai pada kesimpulan yang kontras; “Dia tak ada!”. Termasuk tahun di 2010.

Menutup tahun 2010, tepatnya pada 9 September 2010 lalu, dengan menggandeng fisikawan Amerika Serikat (AS) bernama Leonard Mlodinow, Stephen Hawking yang tersohor itu menerbitkan karya terbarunya yang berjudul The Grand Design. Seperti biasa, karyanya itu menggegerkan publik internasional. Khusus bagi kalangan agamawan dan teolog, apalagi dari kalangan Gereja, mereka ‘kebakaran jenggot’; Tuhan mereka kembali terancam oleh ilmuwan ‘sinting’ itu. Maka, setidaknya ada nama Rowan Williams (Kepala Gereja Kristen Anglikan) yang dalam Majalah Eureka terbitan Harian The Times September 2010 berkomentar bahwa sejak dahulu manusia telah percaya bahwa Tuhan menciptakan semesta. Sehingga, baginya mustahil untuk mempercayai pernyataan Hawking bahwa alam semesta tercipta tanpa campur tangan Tuhan. Maka, dengan alasan normatif itu, Hawking pun dituduh sebagai seorang ateis. 

‘Terseret’-nya Tuhan ke dalam wilayah sains bukanlah fenomena baru. Pengkafiran oleh teolog dan agamawan terhadap para saintis yang tak memberikan ruang bagi Tuhan dalam temuan saintisnya juga seolah telah menjadi semacam konsekuensi logis. Pengkafiran kepada para saintis itu kerap menjadi daya tawar bagi agamawan untuk menegaskan otoritas agama dalam tatanan peradaban dunia yang sempat berjaya di era Abad Pertengahan. Adapun bagi saintis, tak memasukkan Tuhan –bahkan ‘mengusir’-Nya- merupakan sebuah kebanggaan tersendiri guna menegaskan otoritas sains yang reasonable-empiris peninggalan era Renaisans. Sehingga, muncullah nama Charles Darwin dengan The Origin of Species-nya yang menggeser posisi Tuhan dengan hukum seleksi alamiah, kemudian Pierre de Laplace –astronom Prancis- dengan Calestial Mechanics-nya yang juga ‘mengusir’ Tuhan dari bumi karena Dia tak lagi dibutuhkan oleh teori astronomi modern dan kini Hawking yang mendudukkan M-Theory dalam singgasana Tuhan. Mereka semua itu pun dikafirkan karena karya-karyanya itu. 

Bertolak dari situ, maka tampaknya perlu lebih jernih dan utuh dalam memahami pikiran Hawking dalam The Grand Design. Sehingga, pikiran-pikiran semacam Hawking tersebut tak hanya dipahami secara normatif serta secara gegabah memberikan label kafir bagi mereka. Oleh karena itu, sebelum menganalisa pikiran Hawking dalam The Grand Design, ada baiknya kita menyimak ‘muqaddimah’ yang disampaikan Hawking tentang karyanya itu dalam wawancaranya dengan stasiun televisi Inggris, Channel 4, dalam acara "Genius of Britain" Juni lalu. Di sana, Hawking ketidakpercayaannya pada Tuhan personal sekaligus penerimaannya terhadap konsep Tuhan impersonal. “Bila kalian mau, kalian bisa menyebut dalil-dalil ilmiah itu sebagai “Tuhan”. Namun bukan seperti suatu Tuhan yang personal yang bisa kalian temui dan kalian tanya,” begitu kata Hawking. Jawaban Hawking itu relatif persis dengan jawaban Einstein kepada Rabbi Goldstein yang saat itu mengkonfirmasi tentang tuduhan kafir dan ateis pada Einstein. 

Dari sana, menurut penulis, The Grand Design sejatinya hanyalah menggusur konsep Tuhan personal seperti dipahami oleh para teolog dan agamawan. Namun, Hawking sama sekali tak menafikan Tuhan (impersonal). Sehingga, mustahi untuk menyebutnya sebagai seorang ateis. Mungkin, dia hanyalah seorang ateis bagi kalangan teolog dan agamawan yang memahami Tuhan secara personal. Namun, dia bukanlah seorang ateis bagi seseorang seperti Albert Einstein yang memahami Tuhan sebagai struktur pengatur kosmis yang impersonal, aktifitas-Nya semacam hukum ketentuan alam dan kehendak-Nya berupa hukum-hukum alam. Dalam pandangan penulis, selaras dengan Einstein yang sama-sama telah menggusur fisika klasik Newton dan berpegang teguh pada determenisme mutlak, Hawking tampaknya cenderung sepakat dan beriman kepada Tuhan-nya Spinoza dalam Ethics-nya yang cenderung impersonal, bukan personal seperti diimani kalangan Yudeo-Kristian. Sepakat dengan Spinoza, keduanya meyakini suatu determenisme tak terbatas dan mengimani eksistensi suatu ‘Kecerdasan Tertinggi’ yang menampakkan diri-Nya dalam harmoni dan keindahan alam. Meminjam istilah Ian G Barbour dalam When Science Meet, itulah hubungan berbasis konflik antara agama dan sains yang sejatinya patut dihindari. 

Karenanya, bagi penulis, sebagaimana Einstein dengan esai 1940-nya yang berjudul Science and Religion, sejatinya Hawking dengan The Grand Design-nya bukanlah seorang ateis seperti tuduhan beberapa kalangan Gereja yang juga pernah dialamatkan pada Einstein (oleh Kardinal O’Connel, Uskup Agung Boston, pada April 1929, misalnya). Justru, mereka beriman kepada Tuhan dengan basis keimanan yang kokoh. Pasalnya, pertama, mereka beriman kepada Tuhan yang benar-benar transenden dan tak terlukiskan, seperti tuntunan agama-agama samawi (Injil dalam Eksodus 20:4 atau juga Qur’an dalam As-Syura 42:11). 

Kedua, determenisme mutlak yang menjadi ‘ruh’ Tuhan impersonal juga justru positif untuk mendongkrak naluri serta tanggung jawab sosial-ekologis umat manusia, khususnya di Eropa dan Amerika yang saat ini sedang dirundung cuaca ekstrim tak menentu serta juga di Indonesia yang kian akrab dengan bencana, dari Mentawai, Wasior hingga Merapi. Sehingga, bayang-bayang akan bencana ekologis dan kemanusiaan setidaknya akan menjadi dasar pertimbangan bagi mereka yang hendak mengeksploitasi alam maupun manusia. Terlebih, sebagaimana ditegaskan Einstein, tujuan tertinggi dari ketaatan beragama dalam konsep Tuhan impersonal tak lain adalah keselarasan sempurna dengan alam semesta. Walaupun, konsekuensi logisnya, seperti diimani Hawking, kemudian tak ada ruang bagi mukizat atau pun doa selain sebagai sebuah motifasi personal bagi setiap individu.  

Ketiga, dengan iman kepada Tuhan impersonal, keduanya justru dapat terhindar dan melindungi Tuhan dan agamanya dari kritik dan tuduhan orang-orang semacam Eduard Busching dalam karyanya yang berjudul Es Gibt Keinen Gott (Tuhan Tidak Ada) yang menilai agama sebagai sebuah kegagalan yang timbul dari rasa hormat dan takut terhadap ketidaktahuan untuk mempertahankan sebuah hubungan langsung dan personal dengan sebuah eksistensi imajiner tertinggi Tuhan atau dewa-dewa yang memerintah manusia tapi sejatinya tak ada dalam realitas. Sehingga, kata Eduard, konsekuensinya ketika sains berkembang, maka agama akan menyusut dan ketika agama melaju sains menjadi layu. Sebab, seperti jawaban Einstein, kritik dan tuduhan itu sama sekali tak beralamatkan kepada para penyembah Tuhan impersonal, tapi kepada mereka yang beriman pada Tuhan personal. Karenanya, seharusnya judul karya itu; Es Gibt Keinen Personlichen Gott (Tuhan Personal Tidak Ada). Toh, dalam kerangka Tuhan impersonal; sains tanpa agama lumpuh dan agama tanpa sains buta. 

Akhirnya, sudah sepatutnya kita memandang dan memahami pemikiran yang diajukan dalam karya-karya saintis semacam The Grand Design secara jernih, seksama dan utuh, dengan perspektif yang tepat. Sehingga, relasi yang terbentuk antara agama dan sains bukanlah relasi berbasis konflik, namun relasi berbasis integrasi. Dengan harapan, agama dan sains akan bersama-sama bekerjasama dalam membangun peradaban manusia; mengembangkan sains yang secara moral-etik berbasis agama. Agar kemajuan sains bukan lagi membawa manusia pada chaos, tapi menuju kemajuan. Khusus untuk Vatikan, maka ada baiknya Medali Paus Paulus XI yang pernah dianugerahkan kepada Hawking di usianya yang ke-32 oleh Akademi Sains Vatikan tak dinodai dengan munculnya oknum Gereja yang menuduhnya kafir karena karyanya The Grand Design tahun ini. Agar “Tragedi Galileo” tak lagi terulang.

2 comments:

Post a Comment