Sunday, July 6, 2014

Membangun Dunia Berbasis Abrahamic Civilization

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
Sejak diperkenalkan pertama kali pada tahun 1980-an oleh Ismail Raji Faruqi, seorang Palestina yang menjadi guru besar di Temple University, Philadelphia, tema “Trialogue of Abrahamic Faiths” terus dikonferensikan di berbagai negara, baik negara-negara berkomunitas Muslim di Timur Tengah maupun negara-negara berkomunitas non-Muslim di Eropa dan Amerika. Ibrahim dan ajarannya yang biasa dikenal dengan istilah “millat Ibarahim” merupakan ornamen mendasar yang sangat penting dalam kaitannya dengan tema itu. Sebab, sosok dan ajaran Ibrahim ‘lah yang menjadi inspirasi dan spirit dasar tema tersebut. Tema tersebut tak lain merupakan pengembangan dari ajaran Nabi Ibrahim.   

Menurut penulis, minimal ada lima peran penting Ibrahim dalam mematok basis nilai-nilai dalam keberagamaan kita. Pertama, peran mendasar Ibrahim sebagai “Bapak Tauhid”. Ibrahim merupakan peletak pertama basis tauhid dalam tradisi agama samawi. Tauhid di sini bukan sekadar dalam artian keesaan Tuhan. Namun, lebih jauh dan kompleks lagi, tauhid di sini sebagai pandangan dunia (world view). Menurut Murtadha Muthahhari (filosof Islam kontemporer asal Iran), pandangan dunia berbasis tauhid ala Ibrahim inilah yang telah berjasa dalam membuat segala aspek keilmuan dunia (politik, sains, ekonomi, sosial, budaya, dll) tak hanya tereduksi dalam dimensi profan semata, namun tauhid-nya telah membuat semua itu bernilai sakral.

Kedua, peran Ibrahim dalam memberi basis rasional dalam kebertuhanan (keyakinan teologis) umat manusia setelahnya. Sebagaimana direkam dalam Qur’an QS. Al-An’am: 75-78, Ibrahim menolak penuhanan ragam atribut kosmologis (bintang, matahari, dll) dengan argumentasi yang rasional-filosofis dan merevolusi kebertuhanan (teologi) masyarakat di zamannya agar meyakini dan membangun konsep teologi yang berbasis rasional-logis. Upaya merevolusi keyakinan ketuhanan masyarakat kala itu juga dilakukannya dengan langkah-langkah yang rasional pula, yakni dengan seolah-olah ia hanyut dalam pergulatan dan dialog pencarian Tuhan sejati. Karenanya, Tuhan mengabadikan pencarian dan dialog ketuhanan Ibrahim itu dalam Qur’an-Nya untuk menjadi hikmah dan teladan bagi umat setelahnya dalam membangun konsep teologinya. Dengan begitu, Nabi Ibrahim berhasil membawa pemahaman ketuhanan subjektif-simbolik masyarakat kala itu pada sebuah paradigma dan keyakinan teologis yang terus bergerak dinamis pada titik kesempurnaan dan kesejatian tentang Tuhan itu sendiri.

Ketiga, peran Ibrahim dalam konteks “Abrahamic faiths”. Posisi millat Ibrahim sebagai sumber diturunkan dan terbentuknya semua agama samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) sangat penting untuk terus dikenang dan dikembangkan menjadi ikatan historis dan doktrinil mendasar dalam membangun toleransi dan persaudaraan antar umat beragama, khususnya agama-agama samawi, yang berdasarkan pada kesatuan sumber kemunculan agama-agama tersebut. Sehingga, sebagaimana dicita-citakan oleh para tokoh kajian agama seperti Ismail Raji Faruqi dan Louis Massignon, atas nama millat Ibrahim nantinya akan terbentuk peradaban tiga agama samawi yang berperan penting dalam membangun peradaban luhur dunia, bukan lagi membangun ketegangan dan konflik seperti selama ini berkembang.

Keempat, posisi dan peran Ibrahim sebagai simbol kesatuan dan integrasi antara dua tradisi besar yang kerap diposisikan paradoks selama ini, yakni tradisi rasional (filosofis) dan intuisi (keimanan). Dalam sosok Ibrahim, tak ditemui adanya pembedaan (apalagi kebertentangan) antara rasionalitas dan intuisi. Sebab, selain dikenal sebagai seorang yang sangat rasional seperti terlihat dalam kasus penolakannya atas beragam bentuk tuhan simbolik (bintang, bulan, matahari dan atribut alam lainnya), Ibrahim juga dikenal sebagai seorang yang sangat yakin dengan potensi intuisi (keimanan)-nya seperti terlihat dalam kasus kerelaannya menyembelih anaknya, Nabi Ismail, yang sebenarnya bersumber dari dimensi intuitifnya (mimpi) yang justru jauh diluar dimensi rasional.

Kelima, Ibrahim sebagai sosok yang merevolusi simbol-simbol religius dalam masyarakat sebelum dirinya sehingga beragam simbol religius tersebut bukan menjadi simbolisme religius, tapi simbolisasi makna dan nilai-nilai religius. Dalam artian, Ibrahim telah mengajarkan kepada umat setelahnya tentang bagaimana memposisikan sebuah simbol agama secara proporsional agar keberadaannya bukan justru menjadi kesyirikan. Terkait poin ini, di satu sisi Ibrahim dikenal sebagai seorang penghancur tuhan berhala, namun di sisi lain beliau pembangun Ka’bah (simbolisasi rumah Tuhan). Sebenarnya, menurut penulis, keduanya (baik berhala atau pun Ka’bah) sama-sama merupakan simbol. Namun, berhala merupakan simbolisme Tuhan masyarakat kala itu, adapun Ka’bah merupakan simbolisasi dari nilai-nilai keesaan Tuhan. Begitulah secara tepat dan proporsional Ibrahim memposisikan sebuah simbol. Karenanya, kata Ali Syariati (filsuf dan sosiolog Islam kontemporer asal Iran) dalam karyanya yang berjudul Hajj, meskipun haji yang merupakan warisan Ibrahim tersebut menjadi rukun Islam yang paling simbolik, namun Ibrahim merekonstruksi ritual haji itu sebagai simbolisasi dari beragam nilai dan makna sebagaimana dijelaskan secara komperhensif oleh Syariati dalam karyanya itu. Dalam artian, pada dasarnya makna dan nilai-nilai dalam simbolisasi ritual haji itulah yang hendak disampaikan, diajarkan dan diteladankan oleh Ibrahim, bukan ritual simbolik itu sendiri. Oleh karena itu, Qur’an menegaskan bahwa jika suatu ibadah (termasuk haji) hanya dipahami dan dimaknai dalam konteks simbolisme semata, bukan sebagai ‘jembatan’ menuju makna dan nilainya, maka ibadah itu akan sia-sia di mata Tuhan.

Kebertuhanan dan keberagamaan ala Ibrahim seperti itulah yang sebenarnya patut diperkenalkan, diteladankan dan dikembangkan dalam tatanan umat beragama saat ini dan ke depan. Sehingga, akan terbentuk peradaban umat beragama yang rasional, toleran dan kritis, namun juga memiliki basis intuisi dan religius sakral yang kuat. Sebagaimana dikemukakan oleh sejarawan Richard Bulliet (2004), sudah sepatutnya bagi umat beragama untuk tidak lagi melihat hubungan antar penganut agama samawi dalam konteks hubungan persaingan, konflik dan perang. Namun, sepatutnya bagi mereka untuk menjalin dan mengembangkan hubungan yang ‘mesra’ dan penu persaudaraan; bukan hanya pada tingkat kitab suci, tetapi juga pada tingkat peradaban. Sehingga, perbedaan di antara ketiganya justru akan menjadi rahmat, yakni saling memperkaya peradaban dunia. Dengan harapan, di masa depan, corak peradaban yang berkembang di Eropa dan Amerika bukan lagi hanya berbasis Judeo-Christian civilization dan di Timur Tengah tak hanya berbasis Islamo civilization. Tak ada lagi perbedaan seperti itu. Namun, yang ada dan berkembang di Timur Tengah, Eropa, Amerika atau berbagai negara manapun (baik berkomunitas Muslim ataupun non-Muslim) adalah peradaban Ibrahim (Abrahamic civilization). Sebab, sudah terbukti bahwa setiap agama memiliki nilai-nilai yang potensial untuk menjadi dasar dalam membangun peradaban yang maju dan cemerlang. Oleh karena itu, jika masing-masing agama itu kemudian bersama-sama berkelindan dan bekerjasama dalam memberi basis nilai dalam membangun peradaban dunia, dapat dipastikan ke depan akan terbentuk peradaban dunia yang harmonis, kaya dan cemerlang.  

0 comments:

Post a Comment