Tuesday, July 1, 2014

Menapak Tradisi Tuhan Monoteisme

                                           Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
Ada fenomena teologi 'unik' dalam tradisi Ibrahim dan agama-agama yang lahir dari Ibrahim (Abrahamic faith); Yahudi, Kristen dan Islam. Di sana, Tuhan hadir dan dinubuatkan dalam ragam ekspresi. Ragam ekspresi itu semakin 'dekat' dan melengkapi seiring dengan perkembangan tradisi keimanan dan keagamaan yang berpegang pada teologi monoteisme Ibrahim.   
Pertama, di zaman Ibrahim sendiri, sang 'Bapak Monoteisme' itu mengekspresikan dan memperkenalkan Tuhannya sebagai "Dia" (kata ganti pihak ketiga). Pasalnya, kondisi umat Ibrahim saat itu masih sangat jahiliyah, dengan kegemaran teologis berupa men-Tuhan-kan 'tuhan-tuhan' simbolik (bintang, bulan, matahari dan atribut alam lain) yang mereka nobatkan atas dasar kebodohan dan ketidakmampuan mereka dalam memahami fenomena alam dan kosmologi. Oleh karena itu, Ibrahim kemudian mengekspresikan dan memperkenalkan Tuhan-nya dengan meragukan dan mengkritisi terlebih dahulu 'tuhan-tuhan' simbolik warisan tradisi jahiliyah kala itu serta mengekspresikan dan memperkenalkan Tuhan sejatinya, yang transenden dan tak terikat oleh ruang maupun waktu, dalam lingkup Dia sebagai pencipta dan penggerak segala sesuatu yang ada, termasuk 'tuhan-tuhan' simbolik itu. (QS. 6: 75-78) Sehingga, dengan begitu, maka umat Ibrahim yang masih sangat jahiliyah itu relatif mampu menjangkau, memahami dan menerima konsep Tuhan berbasis "Dia" yang diperkenalkan oleh Ibrahim itu.     
Kedua, ketika memasuki era Musa, yang kemudian mewarisikan tradisi Yahudi, Tuhan yang sebelumnya telah ditemukan dan diperkenalkan oleh Ibrahim kemudian diperkenalkan dan diekspresikan secara lebih 'dekat' dan tegas sebagai "Engkau" (kata ganti pihak kedua). Kala itu dikisahkan bahwa Musa mendaki Bukit Thursina untuk bertemu dan berdialog 'langsung' dengan Tuhan. Bagi penulis, langkah Musa yang memilih untuk bertemu dan bierdialog secara 'langsung' dengan Tuhan merupakan catatan tentang konsep Tuhan yang dibangun dan diperkenalkan oleh Musa untuk umatnya di zaman itu. Di sini, umat Musa kala itu memang membutuhkan dan menuntut 'sosok' Tuhan yang lebih 'dekat' dan tegas. Oleh karena itu, Musa memilih untuk merespon tuntutan zaman dan umatnya saat itu dengan menghadirkan dan mengekspresikan Tuhan secara lebih 'dekat' dan tegas dari sebelumnya; sebagai Engkau. 
Ketiga, saat zaman Isa, yang kemudian mewariskan tradisi Kristen, Tuhan diperkenalkan dan diekspresikan dalam lingkup yang relatif berbeda dari dua era monoteisme sebelumnya. Jika di era Ibrahim dan Musa Tuhan masih berjarak dan berada di luar diri manusia. Maka, di zaman Isa, Tuhan diperkenalkan dan diekspresikan sebaga "Aku" (kata ganti pihak pertama). Disini, bukan berarti Isa mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan. Namun, Isa memilih menjadi sosok representatif yang memberikan teladan secara langsung dan konkrit kepada manusia tentang nilai-nilai ketuhanan; bijaksana, pengasih, penyayang, pemaaf, dll. Sehingga, umat Isa kala itu mendapat gambaran 'tegas' dan konkrit tentang nilai-nilai ketuhanan serta merasakan Tuhan hadir secara 'langsung' di dunia ini.   
Saat peradaban teologi monoteisme Ibrahim sampai pada puncaknya, di era Muhammad, yang kemudian mewariskan tradisi Islam, maka Muhammad telah mewarisi tradisi peradaban teologi monoteisme Ibrahim ketika Tuhan telah dipahami dalam berbagai ekspresi secara komperhensif, baik sebagai Dia, Engkau maupun Aku. Bertolak dari sini, maka posisi yang diambil dan dimainkan oleh Muhammad yaitu memetakan; kapan patut memperkenalkan Tuhan sebagai Dia, kapan lebih menegaskan dengan memposisikan-Nya sebagai Engkau atau malah kapan beliau dituntut untuk menghadirkan 'langsung' nilai Tuhan dalam kehidupan umatnya dengan mengekspresikan nilai-nilai ketuhanan dalam diri beliau.
Dalam pandangan penulis, tiga bentuk ekspresi dalam memandang Tuhan yang telah diajarkan dan dipetakan oleh para utusan-Nya itu sejatinya merupakan tiga tingkatan pemahaman dan keyakinan ketuhanan setiap individu, yang puncaknya yaitu saat Tuhan di rasakan hadir dan menyatu dalam dirinya sebagai Aku sebagaimana dirasakan Al Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Pasalnya, saat itu, Tuhan tak lagi dirasakan sebagai 'Yang Asing'. Namun, Ia dirasa hadir dan menyatu dalam diri sebagai Aku. Sehingga, setiap manusia dituntut dan merasa untuk selalu menebarkan nilai-nilai ketuhanan dari dirinya. Dengan begitu, Tuhan kemudian dirasakan benar-benar 'turun' ke dunia dan menyatu dengan manusia. Puncaknya, maka nantinya dunia akan 'terang' diliputi oleh 'cahaya' nilai-nilai ketuhanan yang ditebarkan oleh setiap individu yang tinggal di dalamnya. Itulah tantangan umat manusia, khususnya umat Muhammad saat ini; menjadikan (nilai-nilai) Tuhan terasa benar-benar turun, hadir dan menyatu dengan umat manusia di bumi ini, khususnya keadilan (Tuhan) yang kian terasa 'asing'.

0 comments:

Post a Comment