Thursday, July 24, 2014

Mengingat Palestina dari Kubah Al Quds

Kita, yang mengaku Muslim sekalipun, kerap melupakan tanah Palestina yang memprihatinkan itu. Kita kerap melupakan tanah yang penuh ketidakadilan dan penindasan ciptaan rezim Israel tersebut. Sehingga, kita lupa untuk menoleh dan memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina. Maka, Palestina pun terus terlantar. Rakyatnya terus tertindas, ter-blokade dan tersiksa di ‘penjara besar’ buatan Israel bernama Gaza. Meskipun kita tau bahwa memperjuangkan Palestina bukan hanya amanat agama atau pun iman, tapi amanat nurani dalam diri kita sendiri. Diri kita sebagai manusia yang cinta kemanusiaan.    

Karenanya, setiap Jum’at terakhir di Bulan Ramadhan seperti hari ini, ditentukan dan diresmikan oleh Imam Khomaeni (Pemimpin Revolusi Islam Iran 1979) sebagai hari solidaritas untuk pembebasan dan kemerdekaan Palestina dari penjajahan rezim Zionis-Israel, dengan menjadikan Masjid Al-Quds di Yerusalem sebagai simbolnya. Hari Internasional Al-Quds, namanya.

Minimal, Hari Internasional Al-Quds diharapkan dapat menjadi momentum bagi publik dunia –baik umat Islam maupun non-Muslim yang mendukung penegakan perdemaian dan hak kemanusiaan di Palestina- untuk mengingat, merenungkan dan memperjuangkan kembali nasib rakyat Palestina yang hingga kini masih terampas dan tertindas hak-haknya.

Sejatinya, mereka yang tergolong penjahat dalam sebuah tragedi pembantaian bukan (hanya) mereka yang membantai. Namun, yang jauh lebih jahat dari mereka yaitu seseorang yang mengetahui sejarah tragedi pembantaian itu serta tak mempermasalahkan dan tak mengingatnya. Dan, yang terjadi di Palestina selama ini memang adalah sebuah tragedi pembantaian. Bahkan, Benny Morris pun, sejarawan Israel aliran “Sejarawan Baru”,  sepakat dengan istilah pembantaian (massacre) untuk menggambarkan brutalitas sepihak kubu Israel yang menerobos etika dan nilai kemanusiaan di Palestina selama ini. Maka, dalam konteks tragedi pembantaian di Palestina yang terjadi hingga kini itu, kelompok yang berdiri sebagai musuh bersama sekaligus kelompok penjahat di Palestina bukan (hanya) Israel. Namun, yang jauh lebih jahat dari Israel adalah kita yang tak pernah tinggal diam, tak memperjuangkan serta tak pernah mengingat Palestina.    

Israel sendiri sangat menyadari makna dan signifikansi itu. Karenanya, mereka kemudian mengeksploitasi Holocaust secara pragmatis dan menjadikannya titik pijak dalam melakukan pembantaian. Sebab, mereka menyadari bahwa Holocaust dapat menjadi jus ad bellum (alasan yang membenarkan) bagi mereka untuk merebut tanah air Palestina. Walaupun, sebagaimana hipotesa para ahli sejarah dan ditegaskan oleh Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Iran, Holocaust versi Israel hanyalah sebuah ‘dongeng’ yang dibesar-besarkan. Namun, Holocaust tetaplah menjadi ‘modal’ ampuh bagi Israel untuk mendapat restu dari negara-negara dunia untuk merebut tanah air Palestina.

Oleh karena itu, Martin Buber dan Edward Said menegaskan agar Tragedi Deir Yassin (tragedi di sebuah desa di Palestina yang pertama kali dibantai penduduknya dan direbut tanahnya oleh Israel) selalu diingat dan dilestarikan sebagaimana Holocaust. Namun, upaya itu ternilai tak berhasil men-dunia. Bahkan, mayoritas dari mereka tak pernah tahu tentang Deir Yassin. Dan, tragedi pembantaian yang bahkan hingga saat ini terjadi di Palestina masih terlupakan dari ingatan publik dunia.

Sebagaimana Martin Buber dan Edward Said, Khomaeni memiliki kesadaran akan signifikansi sebuah momentum mengingat kembali tragedi yang terjadi di Palestina guna menumbuhkan solidaritas dan perjuangan bagi rakyat Palestina. Karenanya, saat beliau begitu tersohor dan suaranya selalu disimak dan didengarkan oleh publik dunia karena kesuksesannya menggulirkan Revolusi Islam Iran pada tahun 1979, beliau menetapkan dan meresmikan Jum’at terakhir setiap Bulan Ramadhan sebagai Hari Internasional Al-Quds.

Masjid Al-Quds lah yang kemudian dipilih oleh Khomaeni sebagai simbolnya. Pasalnya, selain karena Masjid Al-Quds lah yang selama ini menjadi titik sentral konflik antara Israel dan Palestina. Juga karena Masjid Al-Quds merupakan simbol kesatuan dan persauaraan antar agama-agama ‘langit’ (samawi); Yahudi, Kristen dan Islam. Dengan harapan agar tragedi Palestina tak hanya menjadi keprihatinan dan masalah bagi umat Islam. Namun, tragedi di Palestina menjadi keprihatinan dan masalah bagi seluruh umat beragama, termasuk umat Yahudi sendiri. Pasalnya, mengacu pada pandangan Marc Hellis (Teolog Pembebasan Yahudi), panggilan untuk membela rakyat Palestina yang sedang tertindas itu bukan hanya diserukan oleh Islam atau pun Kristen, tapi juga panggilan sejati Yudaisme yang menyerukan para pengikutnya yang sejati agar selalu membela kelompok tertindas, termasuk bangsa Palestina.     

Oleh karena itu, maka sepatutnya bagi kita -minimal- setiap Jum'at terakhir Ramadhan untuk kembali mengingat dan menumbuhkan solidaritas untuk rakyat Palestina dengan melakukan berbagai bentuk perjuangan bagi mereka dengan potensi yang kita miliki, sekecil apapun itu. Sebab, selain karena itu merupakan panggilan sejati semua agama. Juga agar kita tak menjadi seseorang yang lebih jahat dari Israel. 

0 comments:

Post a Comment