Tuesday, July 15, 2014

Pahlawan: Syahadah atau Martir?

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Pernah dimuat di Majalah Tempo)
Dalam doktrin dan tradisi Islam, siapa saja yang gugur di jalan kebenaran, kemerdekaan, pembebasan dan keadilan disebut sebagai "syahid" atau juga "martir" (martyr), baik pejuang agama, bangsa maupun nilai-nilai luhur. Sepintas, kedua kata itu seolah sama, hanya beda bahasa. Namun, menurut Ali Syariati (filosof sekaligus sosiolog Muslim asal Iran) dalam Martyrdom: Arise and Bear Witness (terj. Kemuliaan Mati Syahid, 2003), pada dasarnya, jika dirujukkan pada asal katanya masing-masing, dua kata itu -"syahid" (berasal dari bahasa Arab: syahida-yasyhadu-syahadatan) dan "martir" (berasal dari bahasa Inggris: "martyr")- memiliki dua makna yang bukan hanya berbeda, tapi paradoks.  
Dalam tradisi kebahasaan Barat dan Eropa, martyr berarti orang yang memilih mati dalam membela keyainan melawan musuh-musuhnya, di mana jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah mati. Sedangkan "syahadah" dalam kultur Arab-Islam berarti "bangkit, bersaksi" (untuk kebenaran, keadilan, kemerdekaan, kemanusiaan, dll), meskipun digunakan juga untuk menamakan seseorang yang telah menetapkan kematian sebagai pilihan. (Kemuliaan Mati Syahid, hal. 33-34) Sehingga, kata "martyrdom" ("martyr" dari kata "mortal") yang bermakna "maut" atau "mati" justru paradoks dengan "syahadah" yang bermakna "hidup, bangkit, dan kesaksian".  
Syahadah bukanlah peristiwa berdarah yang merupakan kecelakaan. Dalam agama lain (non-Islam) dan sejarah suku-suku, martyrdom adalah pengorbanan para pahlawan yang terbunuh dalam peperangan oleh pihak musuh. Kematian semacam itu dipandang sebagai sebuah peristiwa tragis yang penuh dengan kepedihan. Perspektifnya: korban tindak kekerasan. Dalam konteks syahadah, kematian bukanlah sesuatu yang ditimpakan musuh pada seorang mujahid (orang yang berjihad), melainkan sesuatu yang diinginkan, dikejar dan dipilih oleh mujahid dengan segala kesadaran, keinsafan, logika dan penalaran rasional. (Collected Works, vol 16). Perspektifnya: pahlawan penentang kekerasan dan angkara.
Oleh karena itu, orang yang syahid dalam tradisi Islam justru dirayakan. Ketika melihat jasad Sayyidina Husain, cucu Rasul yang gugur di medan perang tak berimbang di Karbala, Irak, Sayyidah Zainab (saudara perempuannya) justru berkata, "aku tak melihat kecuali keindahan." Selaras pula dengan Jalaluddin Rumi (sufi besar asal Persia) yang dalam salah satu bait syair sufistiknya meminta agar saat kematiannya, janganlah bersedih dan merasakan kepedihan, tapi datang dan makamkanlah jasadnya dengan iringan tabuhan genderang perayaan.   
Bagi Syariati, perbedaan kata syahid dan martyr -yang ironisnya terlanjur kerap disamakan dalam ranah kebahasaan itu- penting untuk ditegaskan. Pasalnya, perbedaan keduanya menunjukkan perbedan pandangan budaya Islam dan Barat. Apalagi, syahadah merupakan salah satu unsur dasar dan penting dalam doktrin Islam. 
Kata syahadah dalam tradisi kebahasaan Arab (khususnya Islam) memiliki kandungan sakral dan dimensi eskatologis. Kata itu dimaknai dalam kerangka firman Allah dalam QS. Ali Imran: 169 yang menegaskan bahwa seseorang yang mati di jalan Tuhan (kebenaran, keadilan, kemerdekaan, kemanusiaan, dll) sebenarnya tak pernah mati, melainkan terus 'hidup' di sisi-Nya. Dalam konteks manusia, 'hidup'-nya para pahlawan itu walau ia telah gugur bermakna bahwa mereka terus dikenang dan nilai-nilai kepahlawanannya abadi menginspirasi dan menyuntikkan semangat perjuangan luhur bagi siapa saja yang hidup setelah generasi mereka. 
Dalam catatan Syariati, dimensi sakralitas kata syahadah yakni bahwa riwayat tentang syahadah dalam Islam penuh cinta, semangat yang bahkan tanpa argumentasi dan melumpuhkan logika biasa dan menggantinya dengan logika luar biasa (alogical). Syahadah adalah perpaduan antara cinta yang halus dan kebijakan yang mendalam. Kompleksitasnya membuat seseorang kesulitan melahirkan keduanya secara adil. (Kemuliaan Mati Syahid, hal. 33)
Pentingnya penegasan tentang arti dan makna kata syahadah, sekaligus menarik garis pembeda dengan martyr, karena syahadah berkaitan dengan doktrin jihad dalam Islam yang kerap disalahartikan. Syahadah memang bisa dijemput melalui jihad dalam arti perang mempertaruhkan nyawa yang berujung pada kematian. Namun, yang perlu ditekankan, merujuk pada arti kata syahadah menurut Syariati di atas, jihad itu harus didasari pada kesadaran, keinsafan, logika dan penalaran rasional. Tentu, tak seperti konsep jihad dalam arti menjadi martir bom bunuh diri yang berkembang di kalangan teroris atas nama Islam selama ini. Sebab, 'pengantin' bom bunuh diri itu sebenarnya hanya menjadi objek (korban) doktrin terorisme atas nama agama semata, tanpa sadar apalagi menalar secara rasional-logis bahwa Islam sejatinya agama rahmat. Karenanya, mereka tepat jika disebut martyr bukan syahid. Selain itu, yang lebih penting bahwa syahadah bisa juga dijemput dengan jihad melawan hawa nafsu (jihad an-nafs) yang dalam hadist disebut lebih lebih besar dari jihad perang berkorban diri. Oleh karena itu, tak seperti martyr, dalam syahadah bukanlah kematian satu-satunya jalan, melainkan juga kehidupan; hidup, bangkit, bersaksi dan menebar kasih dan ajaran-Nya. Sehingga, seperti pernah disampaikan oleh almarhum Muhammad Husain Fadhlullah (ulama Libanon sekaligus pendiri dan pemimpin spiritual Hizbullah), bagi siapa saja yang bangkit, bersaksi dan menebar kasih dan ajaran-Nya, bagaimana 'pun cara mereka mati (meskipun bukan karena gugur di medan perang), mereka menjadi syahid.

0 comments:

Post a Comment