Tuesday, July 1, 2014

Partikel (Tanpa) Tuhan?

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
Sering kali –jika bukan selalu, setiap ada temuan baru yang monumental dalam ranah sains, ranah teologi dan agama terguncang. Sebab, tak sedikit para saintis yang menjadikan temuan barunya sebagai titik tolak baginya untuk mulai ragu –bahkan tak percaya- pada keberadaan Tuhan sebagai pencipta. Ketika itu terjadi, para teolog dan agamawan 'pun seperti kebakaran jenggot. Mereka angkat bicara, mengkritik, berdebat, bahkan melaknat. Yang sedang dipertaruhkan adalah iman; iman akan keberadaan Tuhan dan posisinya sebagai pencipta alam semesta dan diri kita semua ini. 

Itulah yang kemudian disampaikan Goenawan Muhamad (GM) di akun Twitter-nya setelah Organisasi Eropa untuk Penelitian Nuklir (CERN) pada 4 Juli 2012 kemarin mengumumkan secara resmi bahwa organisasi itu telah berhasil menemukan partikel yang disinyalir sebagai Higgs Boson atau apa yang kian terlanjur terkenal dengan istilah Partikel Tuhan. GM menyampaikan kesannya bahwa para saintis penemu Partikel Tuhan itu tak percaya kalau alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan. Apalagi, faktanya bahwa Peter Higgs, penemu teori Partikel Tuhan pada tahun 1964 itu memang seorang ateis yang benci dengan istilah populer Partikel Tuhan untuk menyebut Higgs Boson.

Penemuan Partikel Tuhan mengingatkan kita pada perdebatan klasik dan panjang –yang bahkan tak selesai hingga kini- antara teolog(i) dan sain(s)tis tentang Tuhan dan posisi-Nya sebagai pencipta alam semesta. Temuan itu, misalnya, mengingatkan kita pada tema perdebatan antara karya Jacques Monod (ahli biokimia Prancis sekaligus pemenang Nobel 1965) dan Dr. Keith Ward (profesor teologi sekaligus pendeta gereja Anglikan terkemuka di Inggris). Di mana, Monod dalam karyanya yang versi Inggrisnya berjudul Chance and Neccessity (1970) menyimpulkan bahwa asal-usul manusia, alam semesta dan proses evolusi sebagai kelanjutannya adalah hasil dari kebetulan belaka. Sedangkan Ward membantahkan melalui karyanya yang berjudul God, Chance and Neccessty (1996) yang dalam versi terjemahan Indonesianya hadir dengan judul Dan Tuhan Tidak Bermain Dadu, sebuah ungkapan metaforik dari Albert Einstein, Bapak Teori Relativitas, ketika ia menolak ketidakpastian yang ditemukan oleh Werner Heisenberg, salah satu perumus komperhensif pertama teori kuantum.

Dalam konteks sains dan secara langsung, memang tak ada kaitannya antara Partikel Tuhan dengan Tuhan, teologi atau pun agama. Itu hanya istilah -yang menurut penulis, provokatif- yang diciptakan pertama kali oleh Leon Lederman (peraih Nobel Fisika 1988) dalam bukunya yang berjudul The God Particle: If the Universe Is the Answer, What Is the Question?. Secara populer, partikel itu disebut Partikel Tuhan karena peranannya yang sangat penting dan wujudnya yang sulit dibuktikan. 

Dan memang begitu, sains secara langsung memang tak pernah punya kaitan dengan teologi dan agama. Keduanya menjadi terkait ketika sains merambah naik ke ranah filsafat dan mempengaruhi iman manusia tentang Tuhan-nya dan alam semesta. Sejak dulu, itulah memang problem yang menjadikan sains dan agama, seperti diklasifikasikan oleh Ian G. Barbour dalam When Science Meets Religion (2000), hanyut dalam empat tipologi hubungan, yakni konflik, independensi, dialog dan integrasi. Ironisnya, di Barat yang menjadi poros perkembangan sains, relasi berbasis konflik 'lah yang justru sering berkembang ketika sains diangkat ke ranah filsafat dan berhadapan dengan iman. Sehingga, sains dan agama 'pun saling menegasikan. Para saintis terus menggerogoti wibawa Tuhan sebagai pencipta dan sebab pertama dan utama (prima causa), sedangkan agamawan dan teolog secara gencar melaknat, mengutuk dan mengkafirkan para saintis. Bahkan, di era Abad Pertengahan, ketika gereja memegang peranan penting dalam struktur kekuasaan, tak jarang para saintis yang dihukum, baik penjara maupun mati. 

Maka, secara tak langsung dan dalam konteks relasi sains dan agama itulah kemudian penemuan Partikel Tuhan menemukan konteknya terkait dengan Tuhan. Penemuan partikel itu melengkapi enam gaya pembawa –yang lima sudah ditemukan sejak tahun 1900- yang membentuk seluruh materi di alam semesta. Posisi dan peran Partikel Tuhan dalam pembentukan materi itu tak tergantikan. "Tanpa Partikel Tuhan, takkan ada massa. Tanpa massa, tak ada materi. Dan tanpa materi, tak ada alam semesta," begitu Emmanuel Tsesmelis, fisikawan senior di CERN menggambakan posisi dan peran partikel itu. Plus, partikel itu secara tak langsung menegaskan ke-shahih-an Teori Big Bang. Artinya, satu tempat yang dulunya diisi oleh keimanan pada Tuhan, yakni tentang bagaimana partikel memiliki massa, menjadi materi dan terbentuk alam semesta, kini 'direbut' oleh sains. Sehingga, tak heran jika penemunya, Peter Higgs, bukan hanya ateis, namun benci temuannya dipopulerkan dengan istilah Partikel Tuhan. Sebab, justru temuan itu mengukuhkan ke-ateis-annya. Sampai di sini pula, kita pun diingatkan pada perkataan astronom Prancis, Pierre de Laplace, yang merasa tak perlu menyebut Tuhan ketika ia menjelaskan teori penciptaan alam semesta dalam bukunya The Celestial Mechanisme. Sebab, katanya, Tuhan adalah hipotesa yang tak diperlukan dalam penjelasan astronominya (je nai pas besoin de cet hypothesie).

Dalam ranahnya sendiri, sebenarnya sains bebas nilai. Karenanya, sebagaimana dilakukan oleh Ward (1996) terhadap sains modern materialis-ateistik ala Monod, yang patut dilawan bukan sains itu sendiri, melainkan interpretasi ideologis yang membungkusnya atau paradigma filosofis yang mendasarinya. Sains itu sendiri, apapun yang ditemukan dan bagaimana pun dikembangkannya, bukan hanya tak boleh dilawan, tapi mesti didukung. Namun, ketika sains ditarik ke ranah pemikiran filsafat, apalagi teologi, dan dibungkus oleh selubung ideologi, maka saat itulah ia harus dikontrol: dipastikan ketepatan arahnya di ranah filsafat & teologi atau dilawan ketika diselubungi oleh ideologi tertentu yang dinilai menyimpang dan justru akan membawa sains ke chaos.

Bergeser atau ditariknya sains ke ranah agama (termasuk filsafat teologi atau ideologi sekali pun) sebenarnya konsekuensi dari apa yang menurut Martin Heidegger (filsuf Jerman yang fenomenal itu), secara filosofis, disebut sebagai keterlemparan (geworfenheit) manusia ke dunia. Dalam terminologi agamawan atau teolog, itu konsekuensi dari rasa ingin tahu (hubbul istidla’). Itu bukan hanya lumrah sebagai konsekuensi dari keterlemparan, tapi juga positif. Dengan asumsi dan harapan, perasaan itu akan membawa mereka pada Tuhan-nya, sumber sekaligus sebab pertama dan utama (prima causa) mereka dan segala sesuatu yang ada. Itulah prinsip filsafat sains dalam Islam, seperti dikonsepkan oleh Dr. Mahdi Ghulsyani dalam bukunya yang berjudul The Holy Quran and the Sciences of Nature (1986). Dan itu pula cita-cita dialog dan integrasi sains dan agama dalam Islam. Namun, ironisnya, prinsip itu tak berkembang di Barat yang saat ini justru menjadi pusat perkembangan sains. Karenanya, untuk itu, seperti dicita-citakan Ward, kita perlu sebuah kerja besar bersama antar umat beragama untuk mengembangkan teologi lintas agama di masa mendatang.  

0 comments:

Post a Comment