Friday, July 11, 2014

Penjajahan Israel Atas Palestina: Berawal dari Deir Yassin

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Pernah dimuat di Koran Tempo, 2009)

Berkembangnya konflik antara Israel dan Palestina ke ranah militer seolah telah menjadi tradisi ketika konflik di antara kedua kubu itu sedang kritis dan memanas. Pasalnya, Israel masih cenderung berpegang teguh pada dogma politik klasik yang sempat berkembang di era kekaisaran Romawi: "Si vis pacem, para bellum" (Bila Anda ingin damai, siapkanlah perang). Sehingga serangan militer ofensif dianggap sebagai mekanisme dalam mencapai kondisi damai. Ketika itu terjadi, nilai-nilai kemanusiaan menjadi taruhannya. Saat itu, nyawa manusia segera akan menjadi murah. Kondisi itulah yang kini sedang terjadi di Jalur Gaza. 

Bagi sosok Edward Said, salah satu kenangan refleksional yang lekat dalam benak mereka ketika melihat konflik militer, khususnya brutalitas militer sepihak Israel ke Palestina, adalah tragedi horor yang terjadi di Deir Yassin pada 1948. Tragedi Deir Yassin begitu lekat terekam dalam benak rakyat Palestina, sehingga kenangan tentang tragedi itu akan selalu melintas tiap kali mereka melihat--apalagi merasakan--brutalitas militer Israel di tanah airnya. Bagi rakyat Palestina, tragedi Deir Yassin merupakan awal rentetan horor yang menyelimuti tanah airnya hingga kini. Tragedi Deir Yassin ternilai sebagai titik tolak timbul dan berkembangnya mimpi buruk yang hingga kini mendera rakyat Palestina; menjadi tanah terjajah. 

Tepat pada Jumat subuh pada 9 April 1948, pasukan Irgun -kelompok militan Zionis yang beroperasi di Palestina antara 1931 dan 1948- di bawah pimpinan Menachem Begin, bersama pasukan Lehi (pasukan pembebasan Israel) melancarkan serangan militer ofensif ke sebuah desa damai di kawasan Palestina yang bernama Deir Yassin. Dalam hitungan jam, Deir Yassin disulap menjadi kuburan bagi orang Arab-Palestina yang bermukim di sana, termasuk perempuan dan anak-anak. Sederet 'drama' penyiksaan mengerikan yang sarat akan sadisme terjadi di Deir Yassin saat itu. Kisah “horor” dari Desa Deir Yassin itu diriwayatkan dari sebagian orang Arab-Palestina yang saat itu juga menjadi korban dan menyaksikan tragedi kemanusiaan di Deir Yassin, namun sengaja dilepaskan dan diusir ke Yerusalem Timur oleh militer Zionis untuk menjadi perawi kisah horor di Deir Yassin yang mereka alami dan saksikan itu. Maksudnya agar cerita mereka menebarkan ketakutan bagi rakyat Palestina yang lain. Karena itu, hingga kini, trauma atas tragedi kemanusiaan mengerikan di Deir Yassin itu masih melekat di benak rakyat Palestina, sebagaimana diakui Edward Said. 

Benny Morris, sejarawan Israel aliran "Sejarawan Baru", cenderung menyebut brutalitas militer sepihak kubu Israel yang menerobos etika dan nilai kemanusiaan itu sebagai pembantaian (massacre). Sebutan tersebut ternilai relevan, terlebih jika mengingat bahwa serangan militer tersebut memang diorientasikan sebagai momentum show of force oleh negeri Zionis tersebut, baik kepada Palestina maupun kepada negara-negara internasional. Dalam artian, Deir Yassin sengaja dijadikan obyek oleh negeri Zionis itu untuk menggertak Palestina dan negara-negara internasional akan eksistensi politik-militer negeri Zionis tersebut, dengan melancarkan pembantaian ke desa damai di Palestina itu. 

Tragedi tersebut merupakan titik awal eksodus besar-besaran rakyat Palestina dari tanah airnya sendiri, guna memberi ruang bagi bangsa Yahudi, khususnya korban Holocaust, untuk bermukim dan membentuk negara. Tragedi tersebut sekaligus menjadi titik tolak tumbuh dan berkembangnya konflik wilayah berkepanjangan antara Israel dan Palestina. Tragedi Deir Yassin merupakan episode awal rentetan kisah orang-orang yang terusir. Pasalnya, selaras dengan pengakuan Benny Morris dan Menachem Begin, aksi di Deir Yassin tersebut adalah suatu keniscayaan bagi Israel jika negeri Zionis itu hendak berdiri. 

Bertolak dari sini, sejatinya tragedi Deir Yassin selamanya akan menjadi variabel kontroversi menyangkut berdirinya negara Israel. Tragedi Deir Yassin akan menjadi mimpi buruk abadi sekaligus menggugat eksistensi negeri Zionis tersebut. Pasalnya, sederet kejanggalan kental mewarnai aksi militer di Deir Yassin yang menjadi titik awal berdirinya negara Israel. Pertama, Deir Yassin dinilai sebagai sebuah desa yang penuh akan nilai-nilai perdamaian dalam tatanan sosial-politik masyarakatnya. Bahkan pemimpin desa tersebut selalu mengusir setiap bagian masyarakatnya yang cenderung beraliran politik militan-destruktif. Kedua, operasi militer di Deir Yassin dilancarkan ketika desa itu masih berada di bawah mandat dan tanggung jawab militer-politik Inggris. Ketiga, Deir Yassin bukanlah bagian dari wilayah yang mendapat rekomendasi dari PBB untuk menjadi wilayah Israel di masa depan. 

Sederet kontroversi atas tragedi Deir Yassin itu akan selalu mengganggu dan menggugat eksistensi Israel. Namun, ironisnya, sejarah kelam tragedi Deir Yassin itu hingga kini relatif tidak dijamah oleh “tangan” sejarah secara komprehensif. Keberadaan sejarah horor di Deir Yassin itu akan bernasib 'malang' seperti sejarah horor di Hotel King David, Yerusalem, yang terjadi pada Juli 1946 yang kian mulai “dirabunkan” oleh kubu Israel. Padahal, sebagaimana harapan Martin Buber, kisah horor tentang tragedi Deir Yassin tersebut harus selalu dilestarikan secara komprehensif dalam catatan sejarah, agar selalu menjadi peringatan bagi negara-negara internasional, khususnya Israel. Bahwa hajat politik maupun militer apa pun tidak sepatutnya menjadi legitimasi untuk aksi pembantaian, sebagaimana terjadi di Deir Yassin. Sebab, hanya itu yang tersisa dari Desa Deir Yassin. 

0 comments:

Post a Comment