Tuesday, July 1, 2014

Tuhan Teolog 'Versus' Tuhan Saintis

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
Konon, para saintis mendaki gunung-gunung ketidaktahuan. Mereka hampir saja menundukkan puncaknya yang tertinggi. Dan, ketika mereka sampai pada undakan batu teratas, mereka disambut oleh serombongan teolog yang sudah duduk disana selama berabad-abad. 

Itulah salah satu metafora ter-masyhur sekaligus gambaran paling representatif yang memperlihatkan konflik berkepanjangan yang membelit para teolog dan saintis tentang Tuhan. Kedua kubu, baik teolog maupun sainstis, terbelit dalam sebuah konflik yang bertolak dari perbedaan perspektif keduanya dalam memandang dan menjelaskan Tuhan. 

Para teolog, bertolak dari latar belakang teologis yang ditopang oleh beberapa ayat dalam teks suci, cenderung memandang dan memahami Tuhan secara antropomorfis-simbolis. Sehingga, Tuhan dalam pandangan para teolog cenderung ber-'sosok', dengan sederetan simbol dan bentuk (morphe), bahkan kecenderungan kemanusiaan (pathos). Meminjam istilah para sainstis, khususnya Albert Einstein, para teolog cenderung memandang dan memahami Tuhan sebagai 'Sosok' Personal dengan kehendak Maha Niscaya yang hanya menghukum dan memberi pahala bagi makhluk-Nya.

Para saintis yang mendapat keleluasaan sejak bergulirnya Renaisans kemudian cenderung bersikap apatis, bahkan menggusur pandangan tentang Tuhan Personal yang dibangun oleh para teolog tersebut. Dalam pandangan mereka, Tuhan yang dibayangkan sebagai 'Sosok' Personal ternilai terlalu sederhana dan dangkal. Sehingga, pandangan tersebut justru riskan meruntuhkan transendensi-Nya. Bahkan, pada titik ekstrim, bagi para saintis, Tuhan patut dijauhkan dari berbagai simbolisasi. Pasalnya, simbol tertinggi apapun yang diupayakan untuk menggambarkan-Nya pasti masih merupakan konsepsi manusia yang niscaya bersifat imanen.

Bertotak dari situ, maka kemudian para saintis yang –dimulai oleh Albert Einstein- mulai menggagas Tuhan-nya sendiri. Terpengaruh oleh hipotesa Spinoza dalam karyanya yang berjudul Ethics, Einstein kemudian menggagas Tuhan-nya para saintis. Dalam pandangannya, Tuhan merupakan Kecerdasan Tertinggi yang menampakkan dirinya dalam harmoni dan keindahan alam. Dia tidaklah ber-'sosok'. Sebagaimana pandangan Spinoza, Tuhan adalah struktur pengatur kosmis yang impersonal. Dalam pandangannya, sesuatu yang oleh Injil disebut sebagai aktifitas Ilahi sejatinya adalah semacam hukum ketentuan alam. Adapun sesuatu yang disebut sebagai kehendak Tuhan tak lain adalah hukum alam. Baginya, Tuhan merupakan entitas abstrak sebagaimana diungkapkan Injil; "Janganlah kamu membuat patung berhala atas-Nya atau keserupaan dengan macam-macam benda" (Eksodus 20:4)

Konsep Tuhan impersonal ala para saintis yang diantaranya diungkapkan oleh Einstein melalui esai 1940-nya yang berjudul Science and Religion itulah yang kemudian diruntuhkan dan diserang oleh para teolog –khususnya teolog Yahudi ortodoks- dengan kekuatan dogma; kafir dan ateis. Namun, Einstein selalu menegaskan bahwa dirinya bukanlah seorang ateis. Salah satunya, ketika Rabbi Herbert S. Goldstein dari The Institutional Sinagoge di New York bertanya pada Einstein melalui telegram; "Apakah Anda percaya Tuhan?" Einstein menjawab; "Saya percaya pada Tuhan-nya Spinoza yang menampakkan diri-Nya dalam harmoni keteraturan atas keseluruhan yang ada. Bukan sosok Tuhan yang menyibukkan diri-Nya dengan nasib dan tindakan-tindakan manusia". Dan, membaca jawaban Einstein tersebut Rabbi Goldstein pun menegaskan bahwa tuduhan ateis pada Einstein jelas-jelas tak terbukti. 

Namun, menurut penulis, sajatinya konsep Tuhan ala teolog maupun konsep Tuhan ala saintis pada titik mendasar dan substansial selaras; mengakui keberadaan Yang Transenden –baik personal maupun impersonal- yang mendasari penciptaan dan harmoni alam semesta. Adapun, perbedaan Tuhan –antara yang personal dan impersonal- sejatinya hanyalah perbedaan keduanya –para teolog maupun saintis- dalam mengekspresikannya, sesuai dengan latar belakangnya masing-masing; para teolog cenderung teologis-antromorfis, sedangkan para sainstis cenderung saintifis-empiris. Bahkan, jika melihat realitas bahwa keduanya, baik teolog (Kristen) maupun saintis (khususnya Einstein), sama-sama melandaskan dan melegitimasi konsep Tuhan-nya dengan ayat dalam teks suci Injil, maka dapat dipastikan juga bahwa perbedaan keduanya hanyalah perbedaan heremeneutik; para teolog cenderung lebih tekstualis dalam menginterpretasikan teks suci, sedangkan para saintis cenderung lebih kontekstualis.    

Jika merujuk pada hipotesa Einstein yang kemudian menyimpulkan bahwa salah satu sumber utama konflik antara agama dan sains terletak pada konsep Tuhan yang personal. Maka, dengan melandaskan pada keselarasan konsep mendasar Tuhan-nya teolog dan Tuhan-nya saintis tersebut sepatutnya konflik berkepanjangan yang membelit agama dan sains selama ini relatif dapat terurai dan terbendung oleh keselarasan konsep mendasar Tuhan keduanya. Dengan harapan, nantinya akan terbentuk sebuah peradaban manusia yang lebih ideal di atas pondasi sains dan agama, bukan salah satu dari keduanya. Sebab, sebagaimana ungkapan populer Einstein; “Religion without science is blind; science without religion is lame”.

Akhirnya, kembali pada metafora di atas, pada dasarnya, para teolog dan saintis sejatinya sama-sama mendaki gunung ketidaktahuan dengan puncak yang sama. Hanya saja, keduanya melalui jalur undakan yang berbeda. Sehingga, tak ada yang perlu dipertentangkan, apalagi dikafirkan, dari keduanya.

0 comments:

Post a Comment