Sunday, August 10, 2014

Tantangan Lembaga Pendidikan Islam

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Pernah dimuat di Rubrik Ide Koran Tempo, 8 Mei 2011)

          Sungguh ironi, Hari Pendidikan Nasional kita tahun ini diwarnai dengan asumsi negatif masyarakat kita terhadap lembaga pendidikan Islam di Indonesia akibat maraknya gerakan radikalisasi yang berpusat di sana. Bahkan, lembaga pendidikan Islam disinyalir sebagai ‘ladang subur’ perekrutan dan kaderisasi generasi muda Muslim sebagai teroris generasi selanjutnya di negeri ini. Dalam bentuknya yang berseberangan, sekitar 10 tahun yang lalu, fenomena serupa menciderai citra lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Saat itu, lembaga pendidikan Islam dinilai sebagai pusat pemurtadan dan pengkafiran terhadap generasi muda Muslim Indonesia. (Ada Pemurtadan di IAIN, 2005). Dua fenomena itu memang paradoks. Namun, menurut penulis, keduanya muncul dari satu problem yang sama yang muncul sekitar tahun 1970-an.

            Sekitar tahun itu, dunia Muslim mengalami perubahan besar. Sebagaimana diungkapkan oleh John L. Esposito dalam pengantarnya terhadap karya Ali Syari’ati yang diterjemahkan menjadi Membangun Masa Depan Islam; Pesan Untuk Para Intelektual Muslim, agama (dari Sudan sampai Sumatera) timbul kembali sebagai faktor penting dalam politik Muslim. Fenomena itu bertentangan dengan pasca-Perang Dunia II saat nasionalisme dan sosialisme sekular menjadi kekuatan dominan berpengaruh yang mengembangkan tatanan masyarakat elit yang berorientasi Barat. Saat itu, kehadiran dan penyusupan Barat yang modern dan sekular itu kemudian dicurigai, dikhawatirkan dan dianggap sebagai bahaya yang mengancam. Imbasnya, fenomena perubahan itu kemudian menjadikan generasi muda Muslim terjebak dalam dilema diantara dua kutub yang seolah saling bertentangan; antara nilai-nilai keagamaan (keislaman) yang tradisional dan nilai-nilai sekular Barat yang modern. Dilema itu merupakan cerminan dari terbelahnya masyarakat Muslim dalam menyertai proses modernisasi yang kemudian berdampak pada corak pendidikan masyarakat Muslim. 

            Modernisasi di dunia Muslim menjadikan mereka menerima nilai-nilai kemodernan sekular dari Barat secara bulat dalam berbagai aspeknya; politik, sosial, ekonomi, termasuk pendidikan. Sehingga, begitu banyak dunia Muslim –termasuk Indonesia- yang memperkenalkan corak dan paradigma pendidikan modern-sekular ala Barat seolah sejalan dengan sistem pendidikan tradisional-keagamaan Islam. Maka, berjalan dan berkembangnya dua sistem yang berseberangan itu secara bersamaan menjadikan terjadinya keterbelahan dalam lembaga pendidikan Islam kita. Bahkan, dalam perkembangannya, justru corak dan paradigma ala Barat ‘lah yang lebih mendapat perhatian secara serius dan mendapat jatah proporsional dan dominan. Sehingga, muncul ‘lah dua tipe lulusan pendidikan Islam yang sama-sama memiliki nilai minus. Pertama, lulusan bercorak keislaman yang berpijak pada ajaran-ajaran tradisional hingga tidak mampu menunjukkan kepemimpinan yang kreatif dan menafsirkan kembali nilai-nilai tradisional sesuai konteks kemodernan yang dibutuhkan oleh masyarakat kita saat ini. Kedua, lulusan elit modern yang menguasai disiplin modern namun tidak memiliki kesadaran murni akan tradisi mereka yang diperlukan untuk melakukan perubahan yang peka atas sejarah dan nilai-nilai lingkungan mereka. 
          
            Nah, munculnya dua fenomena yang berseberangan (pemurtadan versus radikalisasi) dalam lembaga pendidikan Islam (khususnya perguruan tinggi Islam) di Indonesia merupakan dampak konkrit dari dikembangkannya dua sistem yang berseberangan (modern-sekular ala Barat dan tradisional-keagamaan ala Islam) secara bersamaan dalam lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Sehingga, dua fenomena itu kemudian mengindikasikan gagalnya lembaga pendidikan Islam di Indonesia dalam mengadaptasikan secara kreatif nilai-nilai tradisional Islam dengan kemodernan atau pun kegagalan dalam mengadopsi nilai-nilai kemodernan Barat yang sesuai atau pun disesuaikan dengan nafas Islam. Maka, lahirlah anak didik atau pun lulusan yang berseberangan dan saling mengintimidasi serta menegasikan; ‘murtad’ dan radikal. Mereka yang dinilai ‘murtad’ merupakan sempalan dari lulusan elit modern yang silau akan gemerlap modernisme Barat dan hanyut ke dalamnya tanpa memiliki kesadaran murni akan sinifikansi nilai-nilai tradisional Islam-nya. Adapun yang radikal kerap muncul sebagai oknum dari lulusan bercorak keagamaan yang berkiblat secara buta terhadap nilai-nilai atau teks-teks tradisional Islam (biasanya tentang jihad) tanpa menafsirkannya secara kreatif sesuai konteks ke-kini-an dan ke-di sini-an. Sehingga, mereka dengan mudah direkrut dan didoktrin oleh para teroris untuk diikutkan dalam jaringannya.

            Apa yang terjadi dalam lembaga pendidikan Islam itu bukan berarti isyarat akan paradoksi antara Islam dan kemodernan atau pun kemustahilan untuk mengintegrasikannya. Sebab, sejak awal Islam hadir sebagai agama rahmatan lil alamin yang lintas ruang dan zaman. Namun, semua itu bentuk kegagalan lembaga pendidikan Islam kita dalam menselaraskannya secara integral sesuai dengan nilai-nilai keislaman dan kemodernan, tanpa terpengaruh oleh kemodernan sekular ala Barat.

            Sungguh aneh dan ironi jika sebuah lembaga pendidikan Islam mampu melahirkan dua lulusan yang bukan hanya berbeda, tapi paradoks dan saling menegasikan. Padahal, jika dibangun di atas basis kurikulum dan sistem pendidikan yang benar-benar Islam, lembaga pendidikan Islam hanya akan melahirkan satu corak lulusan yang benar-benar sesuai dengan visi-misi dan cita-cita Islam; memiliki pemahaman tradisional keislaman dan landasan Keesaan Tuhan (tauhid) yang kuat dan utuh sekaligus menguasai disiplin modern secara komperhensif. Sehingga, akan lahir lulusan lembaga pendidikan Islam sebagai generasi muda Islam yang memiliki kesadaran murni akan tradisi Islam yang penting untuk melakukan perubahan sekaligus mampu menafsirkannya secara kreatif guna menyertai tuntutan dan tantangan modernitas. Itulah tantangan bagi lembaga pendidikan Islam ke depan.

1 comments:

Saya tertarik dengan tulisan Anda.
Saya juga mempunyai video mengenai Pendidikan yang bisa anda kunjungi di http://video.gunadarma.ac.id/play.php?vid=484 .

Post a Comment