Monday, September 29, 2014

Dimensi Sosiologis Haji

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
Dimuat Republika, 29/10/2010

Buku fenomenal berjudul “Hajj” karya Ali Syari’ati -sosiolog Muslim tersohor kelahiran Iran, yang memaparkan tentang dimensi sosiologis-humanis ibadah haji, ditutup dengan epilog berupa sebuah syair karya Naser Khosrow. Syair itu berkisah tentang seseorang yang pulang haji, tapi tak sedikit pun meraih nilai-nilai sosiaologis-humanis dari ibadah haji itu sendiri. Dan, itu berarti hajinya nihil penghayatan dan tak berbekas bagi kepribadiannya. Sehingga, nyaris tak ada bedanya antara saat ia sebelum berhaji dan setelah berhaji.

Padahal, haji sejatinya bukan ritual berbasis teologis-spiritual semata. Namun, haji juga merupakan ritual yang kental akan nilai-nilai sosiologis-humanis yang begitu tinggi, mendalam, dan padat. Dalam konteks sosiologis-humanis tersebut, misalnya, ihram dipandang sebagai ritual yang mendidik manusia agar meninggalkan seluruh ‘pakaian’ yang pantas ditanggalkan, yang hina di mata Tuhan; kesombongan, hedonisme, dll, serta menggantinya dengan ‘pakaian’ putih dan suci; kerendahan hati, kesederhanaan, dll.

Adapun ketika jamaah haji sedang berada di Arafah, suatu waktu dan tempat saat manusia begitu dekat dengan Tuhannya, maka saat itu sejatinya mereka sedang diajarkan untuk berkenalan secara dekat dengan kemahapengasihan, kemahapenyayangan, serta kemahabaikan Tuhannya serta meresapkan dan memanifestasinya ke dalam dirinya.

Saat tawaf, maka sejatinya manusia sedang diajarkan untuk melumpuhkan egoisme individu ataupun kelompoknya, bersatu serta berdialog bersama dalam berbagai keragaman latar belakang pemikiran, mazhab ataupun budaya mereka dalam satu haluan yang selaras di atas fondasi toleransi. Sedangkan, berkurban, secara sosiologis-humanis patut dipahami sebagai ritual bagi para jamaah haji untuk ‘menyembelih’ egoisme dan sifat-sifat kehewanan yang ada dalam dirinya. Terakhir, kembalilah ke tanah air masing-masing dalam keadaan telah memastikan bahwa ‘diri’-nya telah terkubur di sana.

Itulah sejatinya nilai-nilai yang tak kalah pentingnya dibanding nlai-nilai teologis-spiritual dari ibadah haji yang kerap luput dan terlupakan oleh para jamaah haji. Bahkan, dimensi sosiologis-humanis itu merupakan tolok ukur konkret dan paling nyata bagi seorang jamaah haji bagi ke-mabrur-an dimensi teologis-spiritual hajinya.

Dalam artian, seorang jamaah haji yang sepulangnya dari Tanah Suci tak terjadi dan membekas perubahan yang lebih baik dalam dimensi sosiologis-humanis dalam kepribadiannya, maka dapat disimpulkan bahwa ritual hajinya tak mabrur.

Karenanya, dengan tegas Khosrow memvonis bahwa sejatinya jamaah haji semacam itu tak pernah berhaji dengan sebenar-benarnya.

Dalam konteks Indonesia, jamaah haji semacam itu banyak ditemui. Sehingga, begitu bertumpah ruah masyarakat Muslim Indonesia yang pergi haji setiap tahunnya, namun begitu minim dampak sosilogis-humanis positif yang kita rasakan di Indonesia; korupsi yang berpangkal dari egoisme diri tetap merajalela, kemiskinan dan ketertindasan tetap menjadi fenomena di sini dan degradasi moral masih menjadi salah satu problem dasar bagi masyarakat bangsa ini.

Bahkan, ironisnya, berangkat haji kerap menjadi perjalanan wisata bagi sebagian orang, di tengah-tengah tingkat kemiskinan yang masih tinggi. Sehingga, tak jarang dari mereka yang berhaji lebih dari satu kali. Padahal, jika tak mau menyebutnya larangan, minimal tak ada perintah ataupun anjuran dalam Islam untuk berhaji lebih dari satu kali bagi umatnya.

Bagi masyarakat Indonesia, khususnya haji juga kerap hanya menjadi tren guna mendongkrak popularitas sosial-ekonomi maupun wibawa kagamaan seseorang. Sebab, gelar “haji” yang terselip di setiap nama seseorang yang telah berhaji masih cenderung memiliki kekuatan dan daya tawar dalam tatanan masyarakat kita.

Dalam artian, karena merupakan ritual mahal dan ritual puncak dalam rukun Islam, berhaji masih potensial bagi masyarakat kita (hanya dimanfaatkan) untuk meningkatkan popularitas sosial-ekonomi maupun wibawa kagamaannya.

Bahkan, haji juga potensial hanya menjadi sugesti spiritual (semacam momentum dan ritual penebusan dosa dan pembersihan diri) bagi mereka yang merasa telah berlumuran dosa, baik karena dosa individu (sombong, iri, bermaksiat, dll) ataupun dosa sosial (korupsi, nepotisme, dll), dan nantinya kembali melakukan berbagai praktik dosa itu kembali sekembalinya ke Tanah Air.

Bertolak dari situ, maka sudah sepatutnya bagi setiap jamaah haji untuk mereformasi niat dan praktik haji mereka. Agar nantinya mereka benar-benar memahami dan mempraktikkan haji tak hanya sebatas sebagai sebuah ritual teologis-spiritual semata.

Namun, juga sebagai ritual sosiologis-humanis yang akan berdampak positif signifikan besar bagi tatanan sosial masyarakatnya. Sehingga, gelar “haji” tak menjadi sebuah atribut ataupun komoditas.

Tapi, gelar itu merupakan sebuah anugerah sakral yang diberikan oleh Tuhan agar mereka benar-benar dapat menjadi khalifah-Nya (khalifatullah) di muka bumi, khususnya di tatanan masyarakat sekitarnya, sebagaimana amanat Alquran. Sehingga, mereka akan benar-benar menjadi haji yang mabrur.

Friday, September 26, 2014

Wuquf Di Arafah, Dzikir Keterciptaan

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
Pernah dimuat MizanMag dan Islam-Indonesia dalam serial tulisan "Falsafah Haji"

Salah satu makna terpenting yang harus dipetik oleh jamaah haji dalam ritual wuquf di Padang Arafah yakni merenungkan dan menghayati keterciptaan manusia hingga mereka menjadi umat di bumi ini. Oleh karena itu, perginya jamaah haji dari Makkah ke Arafah dinilai sebagai simbolisasi dari "innalillah" (sesugguhnya kita -manusia- adalah milik Allah). Adapun kembalinya mereka dari Arafah ke Makkah dinilai sebagai simbolisasi dari "inna ilaihi roji'n" (kepada-Nya 'lah kita -manusia- kembali). Itulah konsep dasar dari penciptaan manusia dalam Islam yang harus selalu dan terus dimengerti, diingat dan dihayati oleh setiap Muslim. Sebab, konsep itulah yang bisa menyelamatkan hidup kita di dunia.

Dengan konsep itu, kita menjadi tahu tentang apa yang harus dilakukan di dunia ini. Tanpa konsep itu, kita akan merasakan kehidupan ini sebagai keterlemparan semata ke dunia, sehingga tak tahu dan bingung tentang apa yang harus dilakukan dalam kehidupan dunia ini. Akibatnya, banyak yang kemudian terjerumus dalam materialisme. Adapun jika kita berpegang pada konsep Islam tersebut, maka kita tahu bahwa kita hidup di dunia yang fana ini tak lain untuk mendapatkan bersyukur pada Allah atas penciptaan kita serta mempersiapkan diri untuk kembali pada-Nya dan menjalani kehidupan yang sebenarnya di akhirat nantinya.

Sudah begitukah kehidupan dunia yang kita jalani? Itulah salah satu poin yang harus direnungkan oleh jamaah haji di tengah teriknya matahari Padang Arafah. Dan, hanya masing-masing dari mereka sendiri yang bisa menjawabnya.

Padang Arafah juga merupakan tempat bertemunya kembali Adam dan Hawa setelah keterlemparannya ke dunia dari surga. Itulah poin renungan jamaah haji selanjutnya, yang juga tentang penciptaan. Artinya bahwa Arafah merupakan saksi keterlemparan Adam ke dunia.

Adam merupakan nenek moyang semua manusia yang pernah Allah ciptakan di muka bumi ini. Dan, sebagaimana Adam, manusia bukanlah malaikat yang diciptakan tanpa nafsu. Sebagaimana digambarkan oleh pelanggaran Adam terhadap larangan memakan buah "Khuldi", setiap manusia memiliki nafsu yang selalu mengarahkannya pada pengingkaran terhadap ketentuan Allah. Namun, keberadaan nafsu itu juga penting sebagai tantangan yang menjadikan manusia kemudian lebih sempurna ketimbang malaikat. Sebab, manusia punya kebebasan. Mereka selalu dihadapkan pada pilihan; baik-buruk, benar-salah, jujur-bohong, rajin-malas, bijak-dholim, dst. Dan ketika akal yang dikaruniakan padanya mampu mengendalikan nafsunya, maka ia akan memilih pilihan yang tepat serta menjadi sosok yang agung melebihi malaikat.  

Manusia terlempar ke dunia dengan perangkat yang sempurna, yakni akal sebagai pengontrol dan nafsu sebagai perangkat tantangan. Dunia adalah 'medan pertempuran' antara daya tarik keduanya; akal dan nafsu. Pemenang sejati adalah manusia yang nafsunya bisa dikendalikan oleh akalnya. Nah, wuquf di Arafah merupakan momentum untuk merenungkan keterlemparan manusia ke dunia, mengkaji penyebab-penyebabnya dan diharapkan nantinya muncul tekad untuk kembali kepada Allah sebagai pemenang sejati.

Alhasil, wuquf di Padang Arafah merupakan momentum untuk berdzikir, baik secara lafdhi maupun maknawi. Secara maknawi, seperti dikemukakan di atas, dalam wuquf jamaah haji patut mengingat dan merenungkan kembali segala hal tentang keterciptaannya. Sebab, itulah masalah pertama dan utama setiap manusia yang patut dipecahkan; Dari manakita? Di mana kita? Dan, mau ke mana kita? Itulah visi dan misi kehidupan setiap manusia. Itulah yang akan menjadi penentu setiap gerak manusia di dunia dan nasibnya di akhirat nantinya.

Maka dalam wuquf, berdzikirlah!

Friday, September 5, 2014

Setelah Negara Islam Dilarang di Indonesia

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar

Tentu sebagai sebuah gerakan terorisme berkedok Islam, Negara Islam sangat membahayakan. Penulis mengapresiasi langkah cepat dan tegas pemerintah yang pada 1 Agustus lalu menetapkan Negara Islam (NI) sebagai gerakan terlarang dan aparat secara sigap menangkap siapa saja yang terlibat dengannya. Itulah agenda jangka pendek yang tepat dan mendesak bagi pemerintah serta aparat, terkait dengan NI di Indonesia.

Namun, apabila dilihat secara utuh, mendasar, dan substansial, NI hanyalah gejala yang muncul memanfaatkan kondisi di tengah kegaduhan politik di Irak dan Suriah. Oleh karena itu, sebagian media dan pengamat dunia cenderung menyindirnya sebagai sebuah lelucon. Tidak jarang ditemui di berbagai media sosial dan Youtube pelbagai dagelan atau parodi yang dibuat untuk menertawakan NI dengan segala tingkah polahnya.

Tak berlebihan pula jika pengamat politik Abdulkhaleq Abdullah meremehkan kemampuan Al-Baghdadi dan NI-nya, apalagi jika dibandingkan dengan Osama bin Laden dan Al Qaeda-nya. Seperti dikutip Reuters, ia menyebut Baghdadi tidak memiliki sedikit pun dari kredibilitas dan kepercayaan seperti yang dimiliki Osama.

NI lebih terlihat semacam separatis Muslim yang mencoba-coba keberuntungan dalam kondisi quo. Mereka membangun ajaran dan ideologi secara ngawur dan melakukan gerakan teror secara membabi buta. Bahkan, sampai-sampai kini mereka mengafirkan eks ”tuan”-nya, Al Qaeda, karena tidak mau tunduk kepada brutalitas doktrin, ideologi, dan gerakan NI.

Oleh karena itu, dengan mudah NI diharamkan, dilarang, dipojokkan, dan dihabisi. Apalagi
di Indonesia yang Islam-nya damai, santun, rukun, dan ”berbunga-bunga” (menyukai akulturasi ajaran dan budaya setempat yang oleh ideologi NI yang ”gersang” itu cenderung disebut sebagai bidah) serta umatnya sejak awal telah meyakini Pancasila sebagai ideologi yang islami dan tepat untuk Muslim Indonesia.

Namun, menarik sekaligus mengejutkan membaca laporan Time yang menyebutkan bahwa militan NI di Suriah bukan justru datang dari Timur Tengah, melainkan kebanyakan dari Indonesia. Laporan ini, salah satunya, didasarkan pada penelitian serius Sidney Jones selama bertahun-tahun tentang terorisme dan akar-akarnya di Indonesia.

Beberapa mujahidin asal Indonesia dikirim ke Suriah untuk misi jihad dan indoktrinasi tentang ideologi ekstrem ala NI, kemudian kembali ke Indonesia dan mengindoktrinasi serta merekrut mujahidin dan begitu seterusnya membentuk jaringan teroris. Mereka direkrut dari ideologi dan gerakan-gerakan Islam radikal di Indonesia yang memang berkembang pesat.

Oleh karena itu, menurut penulis, di samping pelarangan dan eksekusi terhadap NI dan siapa saja yang terkait dengannya, yang mendesak dan penting diwaspadai serta dihabisi secara serius dalam upaya pemutusan jaringan adalah ajaran neo-Khawarij yang menjadi ladang subur bagi gejala semacam NI tersebut. Itulah agenda jangka panjang selanjutnya yang harus dilakukan seluruh elemen bangsa ini.

Karakter neo-Khawarij

Mudahnya NI masuk ke Indonesia dan, misalnya juga, Malaysia adalah karena karakter neo-Khawarij yang telah lama bersemi di Indonesia dan Malaysia. Jika di Irak dan Suriah mereka menjadi fenomena yang memanfaatkan status quo politik, di Indonesia dan Malaysia mereka menjadi fenomena yang memanfaatkan keberislaman bercorak neo-Khawarij di Indonesia dan Malaysia. Tak heran jika deklarasi NI terjadi di kota-kota yang selama ini memang tercatat memiliki corak keberislaman cita rasa Khawarij, yakni Ciputat, Bekasi, Solo, dan Malang.

Corak keberislaman cita rasa Khawarij atau neo-Khawarij yang dimaksud adalah corak keberislaman yang menyerupai atau malah bentuk ekstrem dan lebih mengerikan dari Khawarij. Khawarij awalnya sebuah gerakan politik yang berkhianat pada keputusan arbitrase (tahkim) Sayyidina Ali. Karena itu, mereka disebut khowaarij (secara bahasa berasal dari kata khowaarij yang berarti ’mereka yang keluar’).

Khawarij kemudian berkembang dan mengemas diri menjadi kelompok yang mengatasnamakan Islam lengkap dengan teologi dan ajarannya sendiri. Corak paling kental dari Khawarij adalah mengafirkan (takfiri) kelompok selain mereka, menuduh akulturasi Islam dan nilai budaya serta kearifan lokal sebagai bidah (kesesatan), menuduh semua rezim selain rezimnya sebagai thoghut (berhala), serta anticinta kasih sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai ekstremisme, kekerasan, dan pemaksaan dalam berislam dan berdakwah.

Corak keberislaman ala Khawarij inilah yang masih sering diadopsi dan dipraktikkan—entah secara sadar atau tidak sadar—oleh sebagian umat yang mengatasnamakan bagian dari Islam. Mereka yang bercorak Islam neo-Khawarij inilah yang menjadi ladang untuk diindoktrinasi atau direkrut menjadi teroris atas nama agama, baik untuk kepentingan terorisme di
luar negeri maupun di dalam negeri.

Corak keberislaman Khawarij ini, misalnya, yang ditunjukkan oleh mereka yang menyerang dan mengusir Syiah di Sampang dari kampung halamannya beberapa tahun lalu, atau mereka yang terus merongrong umat beragama lain dan rumah ibadahnya. Kedua kasus itu bahkan sudah bisa disebut sebagai miniatur NI karena menampakkan sikap persis seperti yang dilakukan NI di Irak, yakni meminta yang berbeda (mazhab maupun agama) agar bertobat dan masuk Islam, bersedia diusir, atau mau membayar jizyah (pajak atas jalan beda yang dipilihnya).

Akhirnya, sebagai upaya pemutusan jaringan dan pembendungan agar negeri ini tidak lagi disusupi fenomena NI dan sejenisnya, kita harus bersama melakukan deradikalisasi dalam berislam, khususnya menentang paradigma neo-Khawarij. Upaya ini harus dilakukan sejak dini dan berbasis pada gejala (bukan sampai menjadi gerakan).

Selain itu, kita juga harus melakukan upaya mengembalikan keberislaman seluruh komponen umat Islam Indonesia pada Islam khas Indonesia yang telah ditanamkan sejak awal oleh Wali Songo dan para pendakwah awal Islam di Indonesia, yakni Islam yang rahmat (damai, toleran, dan plural), demokratis, serta berakulturasi dengan nilai-nilai kearifan dan budaya kita.