Thursday, November 27, 2014

10 Penyebab Kegagalan Memahami Syiah

Syiah adalah salah satu madzhab Islam yang diakui oleh mayoritas ulama besar dan otoritatif dalam Islam (termasuk ulama besar Indonesia, misalnya, lihat di sini) dalam beberapa konferensi ulama internasional: setidaknya sejak 1950-an digagas oleh Syaikh Mahmud Syaltut dan para ulama besar al-Azhar (lihat: taghrib.org), Deklarasi Amman 2005 (lihat: ammanmessage.com), Deklarasi Makkah 2006, hingga Deklarasi Bogor 2007 (lihat: di sini). Namun, ironisnya, Syiah menjadi salah satu madzhab Islam yang sering kali gagal dipahami oleh sebagian umat Islam, sehingga kerap dituduh sesat dan penganutnya mendapat diskriminasi dan bahkan kekerasan oleh saudaranya se-Muslim. Berdasarkan amatan penulisnya, tulisan ini hendak memaparkan beberapa penyebab yang menjadikan sebagian umat Islam gagal memahami Syiah. 

Pertama, Syiah gagal dipahami karena ilmu mereka tentang Syiah adalah ilmu per-konon-an. Mereka mengetahui dan memahami Syiah justru dari "konon-konon" yang tak memiliki jejak dan landasan naqly maupun aqly, melainkan sebatas selentingan-selentingan yang tak jelas sumbernya.

Kedua, Syiah gagal dipahami karena ilmu mereka tentang Syiah didapat dari orang atau buku non-Syiah atau bahkan pembenci Syiah. Sehingga, ilmunya tentang Syiah datang dari sumber sekunder yang belum valid kebenarannya atau bahkan berdasarkan dari fitnah-fitnah para pembenci Syiah. Oleh karena itu, penulis menyarankan bagi Anda yang ingin mengetahui Syiah dari ulama dan buku Syiah sendiri, bacalah "Buku Putih Syiah" (baca bukunya versi PDF di sini).

Ketiga, Syiah gagal dipahami karena ilmu mereka tentang Syiah didapat atau didasarkan pada orang atau buku yang bukan ulama atau rujukan sah (muktabar) Syiah. Oleh karena itu, lagi-lagi, penulis menyarakankan bagi Anda yang ingin tahu Syiah dari ulama atau buku muktabar Syiah, bacalah "Buku Putih Syiah" yang ditulis oleh tokoh Syiah Indonesia berdasarkan pendapat ulama-ulama dan sumber-sumber muktabar Syiah.

Keempat, Syiah gagal dipahami karena ilmunya tentang Syiah berasal atau berdasarkan dari orang atau buku klasik atau kontemporer Syiah yang tak muktabar dan tak mewakili pendapat umum, mainstream dan muktabar Syiah, yang itu bahkan sebagian besar telah diklarifikasi oleh ulama atau 'pun buku klasik maupun kontemporer yang muktabar dan mewakili pendapat umum, mainstream dan muktabar Syiah. Dalam kasus ini, yang paling populer, misalnya, soal tuduhan penghinaan atas Sahabat dan Istri Nabi SAW yang (mungkin) ada di buku-buku klasik atau kontemporer Syiah atau disampaikan ulama klasik maupun kontemporer Syiah tetapi sudah difatwakan secara serentak oleh seluruh ulama otoritatif dan muktabar Syiah bahwa Sahabat, Istri Nabi SAW dan segala sesuatu yang dimuliakan oleh umat Islam dari berbagai kalangan (Sunni, dll) wajib juga dihormati oleh Muslim-Syiah di mana 'pun dan kapan 'pun. Lihat fatwa tersebut di sini.

Kelima, Syiah gagal dipahami karena niat membaca, mendengar ceramah, berdiskusi dan belajar Syiahnya sudah salah, yakni berdasarkan kebencian. Sehingga kegiatan pembelajarannya atas Syiah sejak awal memang diniatkan untuk mencari-cari kesalahan Syiah untuk kemudian dijadikan dalil menyesatkannya.

Keenam, Syiah gagal dipahami karena penjelasan atau pendapat ulama Syiah muktabar tentang Syiah yang tak sesuai dengan harapan para pembenci Syiah itu disebut sebagai trik taqiyah (menyembunyikan ke-Syiah-annya) semata untuk alasan keamanan mereka. Sehingga semua penjelasan dan pendapat itu ditolaknya karena dinilai trik atau bahkan kebohongan belaka. 

Ketujuh, Syiah gagal dipahami karena sejak awal (yakni sejak belum tahu) telah lebh dulu meyakini bahwa Syiah adalah madzhab sesat. Jadi, ia akan menolak penjelasan atau pengetahuan yang tak sesuai denga keyakinannya yang tak berdasar itu.

Kedelapan, Syiah gagal dipahami karena mereka tak memahami Islam dan ilmu Islam secara utuh. Sebab, jelas-jelas, sejarah mencatat Syiah sebagai salah satu madzhab Islam, bahkan yang tertua, yang ajarannya tak menyimpang dari Islam. Adapun perbedaannya dengan Sunni hanya pada masalah cabang-cabang Islam (furu'), sebagaimana perbedaan antara Sunni-Syafi'i dan Sunni-Hambali, misalnya. 

Kesembilan, Syiah gagal dipahami karena mereka tak tahu bahwa dalam Syiah ada banyak madzhab kecil yang sebagian menyimpang (misalnya: Syiah Alawy yang mengkultuskan secara berlebihan Sayyidina Ali) yang itu telah disesatkan sejak awal oleh Syiah It'na Asyariyah (Syiah Imamiyah-Ja'fari) yang merupakan Syiah umum yang dianut oleh mayoritas Muslim-Syiah dunia dan seluruh Muslim Syiah di Indonesia. Mereka tak tahu bahwa Syiah It'na Asyariyah (Syiah Imamiyah-Ja'fari) tak menyimpang, bahkan sangat dekat dengan ajaran Sunni, sehingga oleh Gus Dur sampai-sampai NU disebut sebagai Syiah kultural, karena besarnya sumbangan ajaran Syiah yang diadopsi Sunni-NU. Padahal, di Sunni 'pun ada madzhab-madzhab kecil, yakni: Syafi'i, Maliki, Hambali, dan Hanafi.   

Kesepuluh, Syiah gagal dipahami karena mereka suka menggeneralisir. Jadi, ketika mereka melihat tingkah salah seorang Syiah yang dianggapnya melanggar, bukan justru dinilai sebagai kelakuan oknum yang bertentangan dengan ajaran Syiahnya, melainkan dinilai sebagai bukti kesesatan Syiah. Padahal, hal semacam itu bisa terjadi pada semua penganut madzhab Islam. Terkait ini, yang paling populer, misalnya, pelanggarakan yang dilakukan Presiden Bassar Assad (Presiden Suriah) yang dituding sebagai pengikut Syiah (padahal ia penganut Syiah Alawy), dianggap sebagai pelanggarakan Syiah. Padahal, ketika dulu Saddam Hussein sebagai Presiden Irak berlaku kejam, tak pernah hal itu dianggap sebagai kekejaman Sunni yang notabene adalah madzhab Saddam Hussein.

Itulah sepuluh diantara penyebab kegagalan sebagian Muslim memahami Syiah. Semoga tulisan ini bisa mengurai benang kusut kesalahpahaman sebagian Muslim kita terhadap Syiah.

Wednesday, November 19, 2014

Tafsir Ayat: Tak Ada Paksaan dalam Agama

"Tak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya jalan yang benar telah jelas terbedakan dari jalan yang sesat. Karena itu, siapa 'pun kufur terhadap para pendurhaka (tuhan-tuhan palsu) dan mengimani Allah, maka dia sungguh telah berpegangan handel yang sangat kuat, yang tidak ada putusnya. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." 
(QS. Al-Baqarah: 256)
***
"Tak ada paksaan dalam agama ..."

Agama adalah seperangkat kepercayaan atau keyakinan. Agama adalah perkara moralitas dan integritas. Oleh karena itu, pada sifat dasarnya, perkara tentang agama memang mustahil untuk dipaksakan. Orang bisa saja memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu yang bersifat fisik, namun orang tersebut mustahil bisa memaksa seseorang untuk mengimani atau mengingkari sebuah kepercayaan: agama. Kepercayaan adalah buah dari pikiran dan pemahaman. Sehingga, ayat ini sebenarnya sebuah perintah agar kita tak melakukan seluruh bentuk pemaksaan dalam mendakwahkan agama, yang didasarkan atas informasi bahwa karena memang pada kodratnya agama diciptakan sebagai sebuah kepercayaan atau keyakinan di hati dan pikiran yang mustahil bisa dipaksakan, bagaimanapun juga caranya.

"... Sesungguhnya jalan yang benar telah jelas terbedakan dari jalan yang sesat ..."  

Ayat ini dipertegas lagi dengan informasi bahwa agama adalah jalan yang benar, yang itu jelas-jelas berbeda dengan jalan yang sesat. Oleh karena itu, sebenarnya tak perlu dilakukan pemaksaan di dalamnya, karena siapa saja yang hati dan pikirannya terbuka dan jernih, dengan dakwah yang tanpa dipaksakan, akan memahami kebenaran agama tersebut, mengetahui perbedaannya dengan jalan kesesatan, dan akhirnya memilih untuk meyakini jalan agama itu. Sehingga, benar-benar tak ada kebutuhan untuk memaksakan dalam perkara agama yang jelas-jelas dan gamblang manfaat mengikutinya dan keburukan menjauhinya, serta jelas dan gamblang pula tentang pahala bagi yang mengikutinya dan hukuman bagi yang menolaknya. Pemaksaan dalam agama benar-benar diposisikan sebagai bentuk ketidakrasionalan, bahkan kepicikan. 

Dalam perkara agama, seorang memang diwajibkan untuk merdeka. Sebab, ini menyangkut keyakinan. Apalagi, agama memang menghendaki keikhlasan dan ketulusan yang akan berimplikasi pada penyerahan total, kepasrahan dan ketundukan penuh.     

Menurut 'Allamah Thabathaba'i dalam Tafsir Mizan Jilid 4 (hlm 236), ayat ini juga sangkalan yang kuat atas anggapan sebagian Muslim atau 'pun non-Muslim yang menganggap Islam sebagai agama pedang. Perkara perang dalam Islam, bukanlah bertujuan untuk mendapatkan kemajuan material dan juga bukan untuk menyebarkan agama dengan jalan kekerasan. Pikiran bahwa Islam membolehkan dakwah dengan pedang adalah muncul dari pikiran yang keruh. Perang dalam Islam adalah dalam konteks bagi kita untuk menyelamatkan dan membela diri jika diserang oleh musuh kebenaran.

Ayat ini juga tak di-nasakh oleh ayat perang, meskipun sebagian penulis Muslim beranggapan begitu. Perintah dalam ayat ini tak bisa di-nasakh, kecuali jika, dan sampai, alasannya juga di-nasakh, yakni bahwa sesungguhnya jalan yang benar sudah jelas berbeda dengan jalan yang sesat. Selama alasannya sih berlaku, dan memang mustahil akan pernah tak berlaku, maka ayat ini tak tetap absah. Ayat perang dalam Islam sama sekali bukan bertujuan pula untuk menegaskan perbedaan antara kebenaran dan kebatilan. Sebab, itu adalah perkara yang jelas dan gamblang. Justru, menurut penulis, perang bisa jadi membuat perkara yang jelas dan gamblang itu sedikit tertutupi oleh tingkah oknum yang berdakwah keras atas nama ayat Qur'an tersebut.  

"... Karena itu, siapa 'pun kufur terhadap para pendurhaka (thoghut, tuhan-tuhan palsu) dan mengimani Allah, maka dia sungguh telah berpegangan handel yang sangat kuat, yang tidak ada putusnya ..." 

"Thoghut" berarti "memberontak, berdurhaka, dan melanggar". Istilah itu digunakan untuk menyebut segala bentuk agen dan penyebab kedurhakaan, pemberontakan dan pelanggaran, seperti tuhan-tuhan palsu dan berhala-berhala dari kalangan setan, jin atau manusia, feminim atau maskulin, dan tunggal atau 'pun jamak.
Kalimat kufur pada thoghut disebut sebelum iman pada Allah. Ini bermakna bahwa pegangan yang kuat dan mustahil putus itu akan tercapai jika kita melepaskan thoghut terlebih dulu untuk kemudian beriman pada Allah. Seseorang yang ingin memegang sesuatu, memang sepatutnya melepas sesuatu yang lain, apalagi keduanya bertentangan.  

'Urwah berarti bagian dari sesuatu ayng dibuat untuk memegang sesuatu tersebut, seperti handel pada panci. Ayat ini menegaskan bahwa mengimani Allah adalah kenikmatan puncak yang menenangkan. Sebagaimana handel pada panci, seseorang takkan merasa tenang dalam memegang panci, kecuali memegang kuat-kuat handelnya.

"... Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." 

Kalimat ini menegaskan kembali bahwa iman adalah tentang hati dan lidah. Yang hanya dilidah, tapi tak di hati itu munafik, bukan iman. (Tulisan ini sebagian besar didasarkan pada Tafsir Mizan karya 'Allamah Thabathaba'i) 

Monday, November 10, 2014

Pahlawan itu Syahadah, Bukan Martir

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Dimuat Majalah Tempo, 2 Desember 2013)

Dalam doktrin dan tradisi Islam, siapa saja yang gugur di jalan kebenaran, kemerdekaan, pembebasan dan keadilan disebut sebagai "syahid" atau juga "martir" (martyr), baik pejuang agama, bangsa maupun nilai-nilai luhur. Sepintas, kedua kata itu seolah sama, hanya beda bahasa. Namun, menurut Ali Syariati (filosof sekaligus sosiolog Muslim asal Iran) dalam Martyrdom: Arise and Bear Witness (terj. Kemuliaan Mati Syahid, 2003), pada dasarnya, jika dirujukkan pada asal katanya masing-masing, dua kata itu -"syahid" (berasal dari bahasa Arab: syahida-yasyhadu-syahadatan) dan "martir" (berasal dari bahasa Inggris: "martyr")- memiliki dua makna yang bukan hanya berbeda, tapi paradoks. 

Dalam tradisi kebahasaan Barat dan Eropa, martyr berarti orang yang memilih mati dalam membela keyainan melawan musuh-musuhnya, di mana jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah mati. Sedangkan "syahadah" dalam kultur Arab-Islam berarti "bangkit, bersaksi" (untuk kebenaran, keadilan, kemerdekaan, kemanusiaan, dll), meskipun digunakan juga untuk menamakan seseorang yang telah menetapkan kematian sebagai pilihan. (Kemuliaan Mati Syahid, hal. 33-34) Sehingga, kata "martyrdom" ("martyr" dari kata "mortal") yang bermakna "maut" atau "mati" justru paradoks dengan "syahadah" yang bermakna "hidup, bangkit, dan kesaksian". 

Syahadah bukanlah peristiwa berdarah yang merupakan kecelakaan. Dalam agama lain (non-Islam) dan sejarah suku-suku, martyrdom adalah pengorbanan para pahlawan yang terbunuh dalam peperangan oleh pihak musuh. Kematian semacam itu dipandang sebagai sebuah peristiwa tragis yang penuh dengan kepedihan. Perspektifnya: korban tindak kekerasan. Dalam konteks syahadah, kematian bukanlah sesuatu yang ditimpakan musuh pada seorang mujahid (orang yang berjihad), melainkan sesuatu yang diinginkan, dikejar dan dipilih oleh mujahid dengan segala kesadaran, keinsafan, logika dan penalaran rasional. (Collected Works, vol 16). Perspektifnya: pahlawan penentang kekerasan dan angkara.

Oleh karena itu, orang yang syahid dalam tradisi Islam justru dirayakan. Ketika melihat jasad Sayyidina Husain, cucu Rasul yang gugur di medan perang tak berimbang di Karbala, Irak, Sayyidah Zainab (saudara perempuannya) justru berkata, "aku tak melihat kecuali keindahan". Selaras pula dengan Jalaluddin Rumi (sufi besar asal Persia) yang dalam salah satu bait syair sufistiknya meminta agar saat kematiannya, janganlah bersedih dan merasakan kepedihan, tapi datang dan makamkanlah jasadnya dengan iringan tabuhan genderang perayaan.   

Bagi Syariati, perbedaan kata syahid dan martyr -yang ironisnya terlanjur kerap disamakan dalam ranah kebahasaan itu- penting untuk ditegaskan. Pasalnya, perbedaan keduanya menunjukkan perbedan pandangan budaya Islam dan Barat. Apalagi, syahadah merupakan salah satu unsur dasar dan penting dalam doktrin Islam.

Kata syahadah dalam tradisi kebahasaan Arab (khususnya Islam) memiliki kandungan sakral dan dimensi eskatologis. Kata itu dimaknai dalam kerangka firman Allah dalam QS. Ali Imran: 169 yang menegaskan bahwa seseorang yang mati di jalan Tuhan (kebenaran, keadilan, kemerdekaan, kemanusiaan, dll) sebenarnya tak pernah mati, melainkan terus 'hidup' di sisi-Nya. Dalam konteks manusia, 'hidup'-nya para pahlawan itu walau ia telah gugur bermakna bahwa mereka terus dikenang dan nilai-nilai kepahlawanannya abadi menginspirasi dan menyuntikkan semangat perjuangan luhur bagi siapa saja yang hidup setelah generasi mereka.

Dalam catatan Syariati, dimensi sakralitas kata syahadah yakni bahwa riwayat tentang syahadah dalam Islam penuh cinta, semangat yang bahkan tanpa argumentasi dan melumpuhkan logika biasa dan menggantinya dengan logika luar biasa (alogical). Syahadah adalah perpaduan antara cinta yang halus dan kebijakan yang mendalam. Kompleksitasnya membuat seseorang kesulitan melahirkan keduanya secara adil. (Kemuliaan Mati Syahid, hal. 33)

Pentingnya penegasan tentang arti dan makna kata syahadah, sekaligus menarik garis pembeda dengan martyr, karena syahadah berkaitan dengan doktrin jihad dalam Islam yang kerap disalahartikan. Syahadah memang bisa dijemput melalui jihad dalam arti perang mempertaruhkan nyawa yang berujung pada kematian. Namun, yang perlu ditekankan, merujuk pada arti kata syahadah menurut Syariati di atas, jihad itu harus didasari pada kesadaran, keinsafan, logika dan penalaran rasional. Tentu, tak seperti konsep jihad dalam arti menjadi martir bom bunuh diri yang berkembang di kalangan teroris atas nama Islam selama ini. Sebab, 'pengantin' bom bunuh diri itu sebenarnya hanya menjadi objek (korban) doktrin terorisme atas nama agama semata, tanpa sadar apalagi menalar secara rasional-logis bahwa Islam sejatinya agama rahmat. Karenanya, mereka tepat jika disebut martyr bukan syahid. Selain itu, yang lebih penting bahwa syahadah bisa juga dijemput dengan jihad melawan hawa nafsu (jihad an-nafs) yang dalam hadist disebut lebih lebih besar dari jihad perang berkorban diri. Oleh karena itu, tak seperti martyr, dalam syahadah bukanlah kematian satu-satunya jalan, melainkan juga kehidupan; hidup, bangkit, bersaksi dan menebar kasih dan ajaran-Nya. Sehingga, seperti pernah disampaikan oleh almarhum Muhammad Husain Fadhlullah (ulama Libanon sekaligus pendiri dan pemimpin spiritual Hizbullah), bagi siapa saja yang bangkit, bersaksi dan menebar kasih dan ajaran-Nya, bagaimana 'pun cara mereka mati (meskipun bukan karena gugur di medan perang), mereka menjadi syahid.

Saturday, November 8, 2014

Pesan Damai Sura

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Dimuat Koran Tempo, 6 November 2014)

Muharram dalam kalender Hijriyah memiliki nilai signifikan dalam perspektif Islam. Bukan hanya karena ini bulan pertama dalam kalender Hijriyah yang ditandai hijrahnya Nabi Muhammad, sehingga patut menjadi titik refleksi untuk transformasi diri, keberislaman, dan keberumatan menuju titik lebih baik. Atau agar kita tak menjadi pribadi atau umat yang merugi, tak cakap meng-otentik-kan waktu dan tak pandai memastikan bahwa hari esok lebih baik daripada kemarin. Tapi juga karena ini adalah salah satu dari empat bulan toleransi dan perdamaian dalam Islam.

Muharam adalah salah satu bulan suci yang diharamkan oleh Allah untuk berperang. Terminologi "Muharam" bahkan berasal dari akar kata bahasa Arab: "h-r-m", yang berarti "suci". Karena itu, bulan ini adalah momentum tepat untuk merefleksikan rapor toleransi umat Islam guna kembali mengoreksi, berintrospeksi, dan meningkatkan kualitas toleransi keislaman kita, serta terus merajut perdamaian antar-mazhab dan umat beragama.

Adapun dalam tradisi Islam Indonesia, Muharam memiliki nilai signifikan plus lain, yakni dikenalnya bulan ini sebagai bulan Sura. Terminologi "Sura" berasal dari Asyura: ajaran dan peringatan umat Islam dalam mengenang terbunuhnya Sayyidina Husain (cucu Nabi) di Karbala (Irak) dalam pembantaian oleh pasukan di bawah perintah "Khalifah" Yazid dari Dinasti Umayyah. Dalam tradisi Islam Indonesia, dari Aceh, Bengkulu, Jawa, hingga Madura, Sura memiliki ragam ekspresi peringatan duka berbasis budaya: ada upacara Tabot di Bengkulu hingga pembagian bubur Sura di Jawa.

Asyura sendiri, meski menandai sebuah tragedi pembantaian yang terjadi pada bulan yang dilarang berperang (apalagi membantai), sarat akan pesan-pesan toleransi dan perdamaian. Cendekiawan Annemarie Schimmel, dalam salah satu artikel khusus tentang asyura berjudul Karbala and the Imam Husain in Persian and Indo-Muslim Literature, bahkan heran bagaimana Sayyidina Husain justru menekankan pentingnya nilai-nilai tertinggi HAM dan perdamaian dari pembantaian terhadap dirinya. Sebab, dengan membawa wanita, anak-anak, bahkan bayi, Sayyidina Husain justru hendak memperlihatkan bahwa darah dan nyawanya, keluarga serta sahabatnya, akan ia relakan demi sebuah sejarah paling mengerikan agar tak lagi ada pertumpahan darah atau anarkisme atas nama Islam, kekhilafahan, dan lain-lain.

Dalam sejarahnya, rombongan keluarga Sayyidina Husain bahkan justru disambut dan diperlakukan dengan baik oleh salah seorang pendeta di salah satu gereja di bukit Syam (Suriah), yang kini diabadikan sebagai situs sejarah Islam bernama Ra'sul Husain (Kepala Husain). Walhasil, lengkaplah pesan Asyura bahwa perdamaian dan kemanusiaan adalah pesan dan perkara universal yang lintas agama, apalagi sekadar madzhab. Di sisi lain, ironisnya, Ibn Taimiyyah, yang menjadi kiblat kubu ekstremis Islam, justru memutarbalikkan sejarah Asyura untuk mengubur pesan-pesan damainya dan pesan kritisnya demi doktrin khilafah yang kian kerap digadang-gadang oleh kaum muslim radikal di dunia, termasuk Indonesia.

Karena itu, Asyura harus terus diperingati sebagai salah satu aset budaya Islam Indonesia sebagai penghayatan dan ekspresi Islam khas Indonesia yang damai, toleran, humanis, akulturatif, dan mengandung pesan lintas mazhab serta lintas agama.

Monday, November 3, 2014

Syair Imam Syafi'i ra Tentang Kesyahidan Sayyidina Husain as di Karbala

Syair pilu Imam Syafi'i ra tentang kesyahidan Sayyidina Husain as di Padang Karbala

Hatiku mengeluh karena hati manusia sedang merana. Kantuk tak lagi datang, susah tidur membuatku pusing.
Wahai siapa yang akan sampaikan pesanku pada Al-Husain, yang dibantai meski tak berdosa.

Bajunya seakan dicelup basah dengan warna merah. Kini pedang 'pun meratap. Kuda yang kemarin meringkik, juga meratap.

Bumi gempa karena keluarga Muhammad. Demi mereka, gunung kukuh akan meleleh. Benda langit rontok, bintang gemetar.

Wahai cadur dirobek, demikian juga hati!
Orang yang bershalawat untuk dia yang diutus dari Bani Hasyim, dia juga memerangi anak-anaknya.

Alangkah anehnya! Jika aku dianggap berdosa karena cinta pada keluarga Muhammad, maka aku takkan bertaubat atas dosa ini.

(Kitab Mukasyafah al-Qulub fu Mukhtsar Ilm al-Ghuyub & Kitab Diwan al-Imam as-Syafi'i ra)