Wednesday, November 19, 2014

Tafsir Ayat: Tak Ada Paksaan dalam Agama

"Tak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya jalan yang benar telah jelas terbedakan dari jalan yang sesat. Karena itu, siapa 'pun kufur terhadap para pendurhaka (tuhan-tuhan palsu) dan mengimani Allah, maka dia sungguh telah berpegangan handel yang sangat kuat, yang tidak ada putusnya. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." 
(QS. Al-Baqarah: 256)
***
"Tak ada paksaan dalam agama ..."

Agama adalah seperangkat kepercayaan atau keyakinan. Agama adalah perkara moralitas dan integritas. Oleh karena itu, pada sifat dasarnya, perkara tentang agama memang mustahil untuk dipaksakan. Orang bisa saja memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu yang bersifat fisik, namun orang tersebut mustahil bisa memaksa seseorang untuk mengimani atau mengingkari sebuah kepercayaan: agama. Kepercayaan adalah buah dari pikiran dan pemahaman. Sehingga, ayat ini sebenarnya sebuah perintah agar kita tak melakukan seluruh bentuk pemaksaan dalam mendakwahkan agama, yang didasarkan atas informasi bahwa karena memang pada kodratnya agama diciptakan sebagai sebuah kepercayaan atau keyakinan di hati dan pikiran yang mustahil bisa dipaksakan, bagaimanapun juga caranya.

"... Sesungguhnya jalan yang benar telah jelas terbedakan dari jalan yang sesat ..."  

Ayat ini dipertegas lagi dengan informasi bahwa agama adalah jalan yang benar, yang itu jelas-jelas berbeda dengan jalan yang sesat. Oleh karena itu, sebenarnya tak perlu dilakukan pemaksaan di dalamnya, karena siapa saja yang hati dan pikirannya terbuka dan jernih, dengan dakwah yang tanpa dipaksakan, akan memahami kebenaran agama tersebut, mengetahui perbedaannya dengan jalan kesesatan, dan akhirnya memilih untuk meyakini jalan agama itu. Sehingga, benar-benar tak ada kebutuhan untuk memaksakan dalam perkara agama yang jelas-jelas dan gamblang manfaat mengikutinya dan keburukan menjauhinya, serta jelas dan gamblang pula tentang pahala bagi yang mengikutinya dan hukuman bagi yang menolaknya. Pemaksaan dalam agama benar-benar diposisikan sebagai bentuk ketidakrasionalan, bahkan kepicikan. 

Dalam perkara agama, seorang memang diwajibkan untuk merdeka. Sebab, ini menyangkut keyakinan. Apalagi, agama memang menghendaki keikhlasan dan ketulusan yang akan berimplikasi pada penyerahan total, kepasrahan dan ketundukan penuh.     

Menurut 'Allamah Thabathaba'i dalam Tafsir Mizan Jilid 4 (hlm 236), ayat ini juga sangkalan yang kuat atas anggapan sebagian Muslim atau 'pun non-Muslim yang menganggap Islam sebagai agama pedang. Perkara perang dalam Islam, bukanlah bertujuan untuk mendapatkan kemajuan material dan juga bukan untuk menyebarkan agama dengan jalan kekerasan. Pikiran bahwa Islam membolehkan dakwah dengan pedang adalah muncul dari pikiran yang keruh. Perang dalam Islam adalah dalam konteks bagi kita untuk menyelamatkan dan membela diri jika diserang oleh musuh kebenaran.

Ayat ini juga tak di-nasakh oleh ayat perang, meskipun sebagian penulis Muslim beranggapan begitu. Perintah dalam ayat ini tak bisa di-nasakh, kecuali jika, dan sampai, alasannya juga di-nasakh, yakni bahwa sesungguhnya jalan yang benar sudah jelas berbeda dengan jalan yang sesat. Selama alasannya sih berlaku, dan memang mustahil akan pernah tak berlaku, maka ayat ini tak tetap absah. Ayat perang dalam Islam sama sekali bukan bertujuan pula untuk menegaskan perbedaan antara kebenaran dan kebatilan. Sebab, itu adalah perkara yang jelas dan gamblang. Justru, menurut penulis, perang bisa jadi membuat perkara yang jelas dan gamblang itu sedikit tertutupi oleh tingkah oknum yang berdakwah keras atas nama ayat Qur'an tersebut.  

"... Karena itu, siapa 'pun kufur terhadap para pendurhaka (thoghut, tuhan-tuhan palsu) dan mengimani Allah, maka dia sungguh telah berpegangan handel yang sangat kuat, yang tidak ada putusnya ..." 

"Thoghut" berarti "memberontak, berdurhaka, dan melanggar". Istilah itu digunakan untuk menyebut segala bentuk agen dan penyebab kedurhakaan, pemberontakan dan pelanggaran, seperti tuhan-tuhan palsu dan berhala-berhala dari kalangan setan, jin atau manusia, feminim atau maskulin, dan tunggal atau 'pun jamak.
Kalimat kufur pada thoghut disebut sebelum iman pada Allah. Ini bermakna bahwa pegangan yang kuat dan mustahil putus itu akan tercapai jika kita melepaskan thoghut terlebih dulu untuk kemudian beriman pada Allah. Seseorang yang ingin memegang sesuatu, memang sepatutnya melepas sesuatu yang lain, apalagi keduanya bertentangan.  

'Urwah berarti bagian dari sesuatu ayng dibuat untuk memegang sesuatu tersebut, seperti handel pada panci. Ayat ini menegaskan bahwa mengimani Allah adalah kenikmatan puncak yang menenangkan. Sebagaimana handel pada panci, seseorang takkan merasa tenang dalam memegang panci, kecuali memegang kuat-kuat handelnya.

"... Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." 

Kalimat ini menegaskan kembali bahwa iman adalah tentang hati dan lidah. Yang hanya dilidah, tapi tak di hati itu munafik, bukan iman. (Tulisan ini sebagian besar didasarkan pada Tafsir Mizan karya 'Allamah Thabathaba'i) 

0 comments:

Post a Comment