Thursday, December 4, 2014

Memprovokasi Perdamaian

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Dimuat Koran Tempo, 4 Desember 2014)

Pada pertengahan November lalu, Prof. Din Syamsuddin (Ketua MUI dan Ketua Umum PP Muhammadiyah) berkhotbah di mimbar Gereja Vatikan di depan petinggi-petinggi Kristen (dan juga Islam) dunia dalam The 3rd Catholic-Muslim Forum yang bertajuk "Working Together to Serve Other". Sekolompok petinggi Islam dan Kristen itu berkomitmen untuk mengajak umatnya bekerja bersama untuk kemanusiaan, perdamaian, dan misi luhur universal lainnya melampaui sekat-sekat agama yang membedakan mereka.  
Ini sebuah gagasan dan gerakan yang kian populer dalam upaya merajut perdamaian antar-pemeluk agama, khususnya agama-agama samawi: Yahudi, Kristen, dan Islam. Gagasan dan gerakan ini melampaui sekadar dialog yang jauh sebelumnya telah lebih dulu populer dalam keragaman umat beragama. Dialog dirasa tak cukup dalam menumbuhkan kesadaran dan merekatkan persaudaraan antarumat beragama. Apalagi, dialog bersifat verbalistik semata, yakni diskusi dan bertukar gagasan.  Dibutuhkan gerakan yang mendorong umat lintas agama untuk bekerja bersama, saling mengisi dan membantu, bergotong royong, saling bersentuhan, serta berada dalam satu payung demi nilai-nilai luhur universal yang diyakini bersama dalam agama-agama mereka. Walhasil, kedekatan itu terlihat nyata. Dengan demikian, diharapkan kedekatan dan persaudaraan antarumat beragama terbangun kokoh.  
Pendeta Jacky Manuputty, penggerak "Provokator Perdamaian", melakukan apa yang ia sebut sebagai art for peace (seni untuk perdamaian) di Maluku sejak 2007. Dalam program ini, umat lintas agama dirangkul untuk bekerja bersama, khususnya dalam bidang seni. Ia menyebutnya sebagai provokasi untuk perdamaian. Itu pula yang dilakukan Imam Shamsi Ali, imam asal Sulawesi yang tinggal di New York, bersama Rabi Marc Schneier, pemuka agama Yahudi berpengaruh di Amerika Serikat, sejak 2007. Pengalamannya kemudian ditulis dalam buku berjudul Sons of Abraham (Anak-anak Ibrahim, 2014). Bahkan, lebih jauh, mereka bukan hanya mengajak umatnya bekerja sama, tapi juga saling membela: Kaum muslim melawan stigma anti-semit dan umat Yahudi melawan stigma Islamofobia. 
Sebab, sebagaimana ditulis Imam Shamsi Ali, yang justru kerap absen dari keberagamaan kita adalah apa yang ia sebut outreach (keterbukaan diri dalam beragama), sehingga umat beragama bisa memahami agama-agama lain milik saudaranya secara utuh dengan sumber dari penganutnya sendiri. Karena seperti kata pepatah Arab: "Manusia takut kepada apa yang tak diketahuinya" (al-nas a'dau ma jahilu). Itu pula yang menjadi kesimpulan Norman Daniel dalam buku Islam and the West dan Robert W. Southern dalam Western View of Islam in the Middle Ages, bahwa stigma negatif, ketegangan, serta konflik antar-agama sering muncul akibat ketidaktahuan yang dialami umat beragama.
Kekacauan di Palestina, yang juga diprovokasi oleh politisasi agama, secara tak langsung mendidik umat beragama di sana untuk bersikap terbuka, dewasa, dan maju dalam beragama. Walhasil, Manuel Musallam, salah seorang pastor di Palestina, pada April 2014, ketika Israel kembali membombardir Palestina, dengan tulus dan nyata menyatakan, "Jika masjidmu terkena bom Israel, silahkan kumandangkan azan dari gereja kami!" Kehidupan beragama kita di sini seharusnya belajar dari fenomena itu. Jangan menunggu keadaan yang mengajari kita, sebagaimana di Palestina. 

0 comments:

Post a Comment