Thursday, December 31, 2015

Filosofi Tahun Baru: Ia Bukan Bilangan Angka, Tapi Kesadaran

Sejatinya, waktu itu bukan tentang detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dan seterusnya. Waktu juga bukan kalender. Itu hanyalah hitungan tentang waktu yang kemudian menjadi formal di tengah peradaban manusia.

Kalender merupakan karya kreativitas manusia, sedangkan waktu itu sendiri merupakan ciptaan Tuhan. Karenanya, jika waktu bersifat universal, maka tak begitu dengan kalender. Beragam jenis kalender bisa ditemui di dunia ini. Ada yang disebut dengan "Kalender Masehi" yang menjadikan kematian Isa Al Masih sebagai titik pembeda; sebelum kematiannya disebut "Sebelum Masehi" dan setelah wafatnya disebut dengan "Masehi". Selain itu, ada pula "Kalender Cina", "Kalender Thailand" dan tentu saja "Kalender Islam" yang didasarkan pada hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Karena sifatnya yang parsial, maka saat ini, ketika kita merayakan Tahun Baru Hijriyah 1434, maka tahun ini justru 2012 (tahun saat tulisan ini dibuat) di Kalender Masehi, 2563 menurut Kalender Cina, serta 2555 dalam konteks Kalender Thailand.

Dalam suasana Tahun Baru kali ini, penulis hendak membahas tentang sesuatu yang lebih mendasar dan substansial dari sekadar kalender, yakni tentang waktu itu sendiri. Penulis hendak mengurai filosofi waktu guna menjadi renungan bagi kita di suasana Tahun Baru ini. Sehingga, waktu kita menjadi kembali independen, bebas dan penuh makna.

Kita tahu bahwa waktu sangatlah penting dalam kehidupan kita. Karenanya, banyak kita temui kata-kata mutiara seperti time is money (waktu adalah uang), guna mendorong kita agar memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Namun, bukan itulah filosofi waktu. Sebab, jika waktu diandaikan sebagai uang, maka waktu bukan hanya tak lagi independen, melainkan menjadi sangat kapitalistik; waktu dinilai bermanfaat jika diisi dengan kegiatan-kegiatan yang menhasilkan uang semata. Ironi!

Kita juga telah mengkotak-kotakkan waktu kita sesuai dengan kalender. Kita memahami Senin sebagai hari yang menyebalkan, karena Senin adalah hari aktif pertama setiap pekan, baik untuk bekerja, belajar atau melakukan rutinitas lainnya. Dan, tentu, yang kita selalu harapkan adalah akhir pekan (weekend), karena di hari itu kita libur dan bebas melakukan aktifitas yang menghibur. Padahal, dalam salah satu perkataan mulianya, Sayyidina Ali Bin Abi Thalib menegaskan bahwa bagi seorang Muslim seharusnya setiap waktunya adalah membahagiakan. Sebab, bagi seorang Muslim, seharusnya segala aktifitasnya dipahami dalam konteks ibadah. Dan, sejatinya, kebahagiaan sejati didapat dalam praktek ibadah. Karenanya, sebenarnya setiap waktu Muslim adalah sakral dan karenanya membahagiakan.

Waktu kita terasa banal dan tak sakral. Sehingga, kita isi waktu kita dengan berbagai rutinitas yang tak bermakna, atau bahkan membuang-buangnya untuk sesuatu yang negatif. Sehingga, pada akhirnya, hidup kita 'pun ikut banal. Sebab, waktu terkait erat dengan keber-Ada-an manusia. Singkatnya, mustahil hidup manusia menjadi bermakna jika mereka tak mampu memaknai waktunya. Itulah setidaknya hipotesa Martin Heidegger, filosof Jerman tersohor itu, yang kemudian ditulisnya dalam bukunya yang berjudul "Sein und Zeit" (Ada dan Waktu).

Oleh karena itu, untuk menghindari banalitas waktu, setiap manusia patut terus merasa cemas (sorge). Sebab, dengan begitu, kita bisa menghayati waktu secara otentik dan bermakna. Menurut Soren Kierkegaard, filsuf Denmark yang juga Bapak Eksistensialisme, kecemasan bersifat ontologis dan signifikan karena akan menggiring manusia pada iman. Sebab, ketika merasa cemas, manusia akan melompat kepada iman. Sehingga, kecemasan itu akan mendorong manusia modern ini untuk kembali beriman dan taat terhadap keimanannya. Pada ujungnya, mereka akan kembali menghayati setiap kegiatannya sebagai ibadah. Maka, waktunya 'pun akan kembali sakral dan bermakna.

Sebagaimana ditegaskan pula oleh Heidegger, dengan suasana hati yang selalu cemas, setiap individu akan menghayati setiap detik waktunya secara otentik dan bermakna. Dengan kecemasan, manusia tak akan melewati waktunya kecuali untuk sesuatu yang otentik dan bermakna. Mereka akan menghabiskan waktunya sebagaimana seorang anak yang sedang berada di dalam ambulans yang sedang mengantar ibunya yang sedang sekarat ke rumah sakit. Setiap detik menjadi sangat penting dan berarti.

Dan, bagi Heidegger, kecemasan yang paling otentik yaitu kecemasan akan kematian. Sebab dengan suasana hati yang selalu cemas akan kematian, seseorang akan selalu memanfaatkan dan mengisi waktunya dengan otentik dan penuh makna. Persis seperti nasehat Sayyidina Ali Bin Abi Thalib yang menganjurkan manusia agar selalu mengingat dan membayangkan seolah-olah ia akan mati esok hari.
Inilah seharusnya renungan kita dalam momentum pergantian tahun. Filosofi waktu seperti di atas yang patut kita terapkan dalam melihat dan menghayati waktu kita. Sehingga, waktu kita menjadi bermakna. Dan, pada akhirnya, kita tak menjadi seseorang yang oleh Qur'an disebut sebagai "manusia merugi" dalam QS. Al ‘Ashr. Wallahu a'lam

Wednesday, December 23, 2015

Islam, Natal, dan Persaudaraan

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Dimuat di Koran Tempo, 23 Desember 2015)

Setiap Natal tiba, diam-diam ada kekhawatiran, bukan hanya pada masyarakat Kristiani, tapi juga masyarakat Muslim (moderat) di Indonesia. Kekhawatiran yang berpangkal dari munculnya pandangan atau pendapat kalangan Muslim (ekstrim) yang kerap dianggap fatwa oleh sebagian umat Islam, tentang pengharaman mengucapkan selamat Natal pada umat Kristiani. Saat inipun, kekhawatiran itu kembali muncul, apalagi seiring mulai merebaknya kalangan takfiri di tengah-tengah kita, yang bahkan sulit bersikap toleran terhadap peringatan keislaman sesama Muslim, seperti terjadi pada peringatan Asyura oleh masyarakat Muslim-Syiah atau diam-diam kepada perayaan Maulid Nabi Muhammad yang dituduh bid’ah (kesesatan). Sehingga, pengharamannya kian tampak sebagai ekspresi sentimen keberagamaan dan kebermadzhaban yang bisa berwajah apa saja dan mengena siapa saja yang berbeda dan dibenci mereka. Karenanya, tepat untuk merefleksikannya, di saat momentum Natal dan Maulid Nabi yang tahun ini hampir bersamaan.

Doktrin tentang pengharaman ucapan selamat Natal biasanya berkiblat pada Ibn Taimiyah (ulama abad ke-14 yang sering disebut sebagai "Bapak Fundamentalisme Islam"). Termasuk fatwa MUI 1981, menurut Amidan (Ketua MUI) pada 2012, menunjukkan pengharaman mengucapkan selamat Natal dengan berdasar pada Ibn Taimiyah (dan juga Ibn Qayyim).

Menurut penulis, ada kesalahpahaman dalam membaca dan memahami Ibn Taimiyah dengan segala doktrinnya, termasuk perkara ucapan selamat Natal. Ibn Taimiyah dengan segala doktrinnya tak bisa dilihat dan diposisikan begitu saja, tanpa mempertimbangkan konteks yang melingkupinya. Sebab, fatwa-fatwanya tak terlepas dari konteks yang melingkupinya, yakni Perang Salib. Sehingga, doktrin pengharaman ucapan selamat Natal dan berbagai doktrin fundamentalisnya tak lepas dari nuansa politis untuk menarik garis batas ketat dan membangun 'benteng' pada umat Islam yang kala itu benar-benar merasa terancam dengan kekuatan dan propaganda Salib. Oleh karena itu, dalil yang digunakan dalam doktrin pengharaman ucapan selamat Natal adalah karena kekhawatiran terancamnya iman atau tindakan itu dinilai menyerupai kaum Kristiani.

Tentu, konteks itu kini bukan hanya sudah tak ada, melainkan berbalik: kini antar agama justru sedang menggagas upaya perdamaian, toleransi, serta persaudaraan. Sehingga, misalnya, bahkan Syekh Yusuf Qardawi 'pun, menghalalkannya dengan mempertimbangkan konteks masa kini dan hubungan umat Islam dan Kristen yang damai. Terlebih, konteks Indonesia adalah negara Pancasila yang demokratis (sedangkan Negara Islam Iran saja tak mengharamkan ucapan selamat Natal bagi pemimpinnya, termasuk dilakukan oleh Ruhullah Khomaeni) dan hubungan antar umat beragama Indonesia begitu harmonis.

Maka, dilihat dari perspektif doktrin pengharaman ucapan selamat Natal 'pun, pengharaman itu tak sesuai dengan konteks Islam Indonesia dan Islam masa kini. Alih-alih justru lebih sesuai dengan dalil penghalalannya yang didasarkan pada QS. Al-Mumtahanah: 8 dan QS. An-Nisaa': 86 yang memerintahkan kita agar berlaku adil pada umat beragama yang berdamai dengan kita, serta membalas penghormatan umat agama lain pada kita dengan penghormatan yang sama atau bahkan lebih. Bukankah umat Kristiani berdamai dan berbuat baik pada kita, serta ucapkan selamat Idul Fitri tiap kita berlebaran? Apalagi, sebagaimana dikemukakan Prof. Quraish Shihab, dengan merujuk pada QS. Maryam: 33, Allah 'pun mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi Isa. Adapun perbedaan landasan kita dan Kristen dalam memahami posisi Isa, itu soal iman masing-masing yang Tuhan Maha Tahu atas semua itu. Sehingga, tak perlu dikhawatirkan, apalagi menganggapnya sebagai ancaman terhadap iman.

Lebih jauh lagi, menurut penulis, kini konteks keberagamaan kita dan masyarakat dunia sedang mengarah pada apa diperkenalkan pertama kali oleh Ismail Raji Faruqi pada tahun 1980-an sebagai “Trialogue of Abrahamic Faiths”: sebuah pengetahuan tentang persaudaraan antar agama-agama samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) dengan berbasis pada kesamaan nilai-nilai dasar keimanan dan keagamaannya yang dikenal dengan “millat Ibarahim” (jalan Ibrahim). Sebagaimana dikemukakan oleh sejarawan Richard Bulliet (2004), sudah sepatutnya bagi umat beragama untuk tidak lagi melihat hubungan antar penganut agama samawi dalam konteks hubungan persaingan, keterancaman, dan konflik seperti di era Perang Salib. Namun, sepatutnya bagi mereka untuk menjalin dan mengembangkan hubungan yang penuh persaudaraan.

Oleh karena itu, menurut penulis, mempertimbangkan konteks kekinian dan ke-di sini-an, mengucapkan selamat Natal seharusnya justru dianjurkan demi mendukung misi persaudaraan antar agama. Bahkan, kita harus berani memulai apa yang Pdt. Jacky Manuputty, penggerak "Provokator Perdamaian" di Maluku 2007, disebut sebagai "provokasi perdamaian", yakni beranjak dari sekadar dialog antar agama, menuju sikap kebersaudaraan antar agama dengan -salah satunya- ikut mengucapkan selamat Natal. Bahkan, kita bisa lebih jauh lagi, seperti Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dari GP Ansor, yang setiap tahunnya bahkan ikut menjaga gereja-gereja umat Kristiani saat menjalankan ibadah Natal. Atau, sebagaimana dijalankan sejak 2007 oleh Imam Shamsi Ali, imam asal Sulawesi di New York, bersama Rabi Marc Schneier, pemuka Yahudi berpengaruh di Amerika Serikat (AS), yang pengalamannya itu ditulis dalam "Sons of Abraham" (Anak-anak Ibrahim, 2014), di mana mereka mengajak umatnya untuk bukan lagi sekadar bekerjasama, melainkan saling membela. Sehingga, dengan begitu, kedekatan kita tak lagi abstrak dan verbal, namun nyata dan fisik.

Friday, November 27, 2015

Punya Orang Tua, Tapi Anda Tak Masuk Surga? RUGI!!!

Rugi bagi siapa yang punya orang tua, tapi tak masuk surge. Sebab, terbentang pintu surge di depannya, tapi ia tak masuk.
(Rasulullah)

Orang tua adalah pintu surga. Karena itu, ia juga berarti pintu neraka. Dalam arti, ia akan menjadi pintu surga bagi kita jika berbakti padanya. Namun, ia akan otomatis menjadi pintu neraka jika kita durhaka padanya. Maka, seperti kata Rasul, sungguh rugi siapa yang punya orang tua, namun ia tak masuk surga, sebab terbentang pintu surge di depannya, namun ia tak memasukinya. Dan sesungguhnya, manusia mana yang tak punya orang tua? Semua punya orang tua. Meskipun, bisa jadi telah wafat. Namun, meskipun telah wafat, bukan berarti pintu surge tertutup. Ia tetap terbuka. Karena bakti tak hanya bisa dilakukan pada orang tua yang hidup, tapi juga yang telah wafat dengan selalu mendoakan, menziarahi, dll.

Allah tahu bahwa orang tua kita bukanlah manusia suci yang terbebas dari dosa. Karena itu, Allah tak memerintahkan kita untuk taat padanya, melainkan berbakti. Dalam arti, saat mereka melakukan atau memerintahkan sesuatu yang salah, jangan taati mereka, tapi tetaplah berbakti atau berbuat baik padanya.

Bahkan, jika ‘pun ibumu membuangmu saat kau baru lahir, tetaplah kau wajib berbakti padanya. Sebab, pertama, dosanya yang telah membuangmu adalah urusannya dengan Allah. Ia bukan urusanmu. Sedangkan urusanmu dengan Allah adalah kewajiban untuk selalu berbakti padanya, apapun keadaan mereka. Kedua, seperti dikisahkan bahwa suatu saat, ada seorang sahabat Nabi yang menggendong ibunya dari Yaman ke Mekkah-Madinah untuk berhaji dan hingga pulang kembali. Lalu, ia bertanya pada Nabi, apa itu cukup untuk membalas budi pada orang tuanya? Nabi menjawab, satu tarikan nafas ibumu saat ia melahirkanmu, tak cukup kau bayar dengan apa yang telah kau lakukan. Dalam arti, jika ‘pun ibumu membuangmu setelah kau lahir, ia tetaplah memiliki budi tak terhingga padamu saat melahirkanmu. Maka, sudah menjadi kewajiban bagimu untuk berbakti padanya tanpa henti. Tak ada istilah “mantan” orang tua, maka tak ada pula istilah berhenti berbakti padanya.

Allah begitu keras ketika memerintahkan kita berbakti pada orang tua. Bahkan, kata-Nya dalam Qur’an, kita bilang “ah” saja padanya, itu akan seketika mengundang murka-Nya pada kita. Apalagi lebih dari itu. Bayangkan!

Mari doakan kedua orang tua kita.

Dalam doa untuk kedua orang tua yang diajarkan Allah dalam Qur'an pada kita, di sana dijadikan "perawatannya saat kita masih kecil" sebagai panji utama. Mengapa? Karena saat orang tua kita telah tua, tingkah laku, mental, dan pembawaannya kembali seperti anak kecil. Ia ingin selalu ditemani, dimanja, diperhatikan, bahkan ia membutuhkan kita untuk mengurusi makan, minum, obat, hingga perkara buang air besar lantaran mereka sudah tak bisa melakukannya sendiri lagi. Maka, saat itulah kita diuji atas doa kita, jika kita benar-benar sungguh-sungguh dengan doa itu, rawatlah ia sebagaimana ia merawat kita saat kecil dulu, karena kondisinya saat itu persis seperti kondisi kita saat kecil. Saat itulah doa kita diuji: hanya sekadar doa di mulut, atau juga dalam praktek. Dan, saat tiiba waktu itu, tak ada sebaik-baiknya sikap selain tetap lemah lembut dan sabar. Selanjutnya, sungguh surga benar-benar milik Anda!

Thursday, November 26, 2015

Berhati-hatilah dengan Baik dan Buruk-mu

Boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. 
(Qur’an Al-Baqarah: 216)

Cobalah Anda cek tentang apa yang Anda sukai dan benci. Lalu, pikirkan kembali, apa yang Anda sukai itu benar-benar baik dan apakah yang Anda benci itu benar-benar buruk?

Kita sering gegabah menilai. Dasarnya ‘pun sering kali lemah: mata atau paling jauh akal. Sehingga, tak jarang, kita menyukai apa yang sebenarnya tak baik bagi kita. Persis seperti anak kecil: ia cenderung menyukai apa yang tak baik baginya. Padahal, ada hati yang paling tajam penglihatannya. Namun, justru ia yang paling sering diabaikan. Kita sering atau bahkan selalu melihat dan memikirkan sesuatu untuk menilainya, tapi jarang merasakannya sebagai alat untuk menilai.

Alih-alih, berhati-hatilah pada apa yang kita sukai atau kita benci. Sebab, sering kali itu bersumber dari dorongan nafsu atau godaan setan. Sebab, hukumnya adalah sebaliknya: segala yang buruk itu nikmat dan indah padahal semu, dan semua yang baik itu berat dan pahit padahal sejati. Jangan terkecoh!

Di luar semua itu ‘pun, jangan kita menyukai atau membenci sesuatu secara berlebihan. Sebab, segala sesuatu selain Tuhan dan Rasul-Nya itu bisa berubah dan tak suci. Karena itu, janganlah berlebihan dalam menyukai atau membencinya. Bisa jadi sesuatu yang kita sukai saat ini, ia akan berubah menyebalkan esok hari. Dan bisa jadi pula sesuatu yang jadi musuh kita kemarin, hari ini berpaling menjadi kawan kita.

Apalagi, sesuatu itu menjadi tak baik bukan hanya karena ia memang tak baik, begitu pula sebaliknya. Tapi lantaran kondisinya saja. Kebaikan yang hadir dalam waktu atau kondisi yang tak tepat, ia bisa jadi keburukan. Olahraga itu baik, namun akan jadi buruk jika dilakukan saat kita sedang kurang sehat.

Baik atau buruk itu ada pada kesejatian. Kesejatian itu dipenuhi ornamen yang perlu dipertimbangkan. Maka, jangan gegabah dalam menilai sesuatu. Gunakan seluruh potensi kita dan kondisi untuk menguji kesejatian sesuatu: benar-benar buruk atau baik.

Kau yang Sebenarnya adalah Saat Sendiri

Kau yang sebenarnya adalah saat kau sendiri (tak ada orang melihat). 
(Sayyidina Ali bin Abi Thalib)

Saat kita dilihat atau bersama orang lain, kita akan cenderung menahan atau menghindari sesuatu yang buruk: maksiat, dll. Itu sudah lumrah bagi setiap manusia. Kecuali manusia yang benar-benar telah putus urat malunya, bisa jadi ia tak malu untuk melakukan sesuatu yang buruk di depan orang lain atau bahkan khalayak ramai.

Namun, berbeda saat kita sendiri. Bisa jadi atau bahkan sering kali, seseorang yang enggan melakukan keburukan atau kemaksiatan di depan orang lain, ia melakukannya saat sendiri. Sebab, ia merasa, ia takkan menanggung malu lantara tak ada orang lain yang melihatnya. Tak ada beban baginya. Sebagai contoh, seorang koruptor akan cenderung melakukan korupsi secara diam-diam, dalam kesunyian dan kesendirian. Tentu, ia mustahil melakukannya di depan orang lain. Bukan hanya agar ia tak malu atau menjaga citranya, tapi juga karena takut menjadi perkara hukum yang menyengsarakannya. Maling akan datang di malam hari, saat semua mata terpejam dalam tidur.

Maka dari itu, saat sendiri itulah yang sebenar-benarnya diri kita. Sebab, saat itulah kita merasa tak ada beban, tak ada yang tahu jika kita melakukan hal-hal buruk, kemaksiatan, atau hal-hal yang memalukan. Tak perlu malu atau takut. Apa yang Anda lakukan saat sendiri? Itulah diri Anda sejati!

Namun, seorang yang benar-benar baik, dalam sendiri ‘pun ia akan tetap baik. Kebaikannya bukan untuk pencitraan. Ia melakukan kebaikan bukan karena ingin dipuji. Ia lakukan kebaikan karena itu memang kewajiban baginya. Satu-satunya yang diharapkan dari kebaikannya itu hanyalah imbalan dari Sang Pencipta. Sama sekali tak peduli citra di mata manusia lain. Sebab, bahkan tak jarang yang baik di mata Allah itu buruk di mata manusia, karena itu pahit untuk dilakukan. Misalnya, berkata jujur tak jarang membuat kita buruk di mata orang lain atau bahkan celaka, karena kejujuran kita akan mencelakakan orang lain. Karena itu, jujur itu sering kali pahit rasanya. Dan itu memang yang Tuhan kehendaki atas kita: meletakkan kepentingan-Nya di atas kepentingan segala sesuatu, bahkan kepentingan diri kita sendiri.

Selain itu, dalam kesendirian itu, seorang yang benar-benar baik akan cenderung tetap berbuat baik karena ia sadar bahwa tak ada satu inci ‘pun ruang atau satu detik ‘pun waktu di alam semesta ini yang membuat kita sendiri. Kita takkan pernah sendiri. Sebab, selalu ada Tuhan di mana saja dan kapan saja. Kita tak melihat-Nya, tapi Dia selalu melihat kita. Karenanya, dalam kesendirian ‘pun, ia akan tetap dalam kebaikan. Karena ia sadar bahwa ia sedang dilihat oleh Tuhan, dan penilaian sejati adalah milik-Nya. Ia ‘pun sadar bahwa justru dalam kesendirian itu ia sedang diuji: silahkan saja kalian berbuat buruk, tak ada yang melihat, namun Tuhan melihat. Silahkan saja Anda memilih: citra di mata manusia yang itu semu, atau citra di mata Tuhan yang itu sejati.

Sunday, November 15, 2015

Salah Kaprah Jihad (di Paris)


Paris diguncang teror yang mengerikan pada Jum'at malam. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas teror itu. Meski, penulis tak mengerti apa maksud kata "bertanggung jawab" tersebut. Sekedar mau bilang bahwa mereka pelakunya? Itu bukan bertanggung jawab namanya bukan?! Meski pula kita juga harus tak begitu saja percaya dengan klaim itu, sebelum ada verifikasi jelas tentang pelaku teror tersebut. Sebab, salah satu misi utama ISIS adalah menebar ketakutan di seluruh penjuru dunia. Apalagi kini mereka sedang krisis eksistensi setelah dipukul telak Rusia. Jadi, bisa saja itu hanya klaim belaka untuk menebar ketakutan akan mereka dan seolah mau mengumumkan ada dunia bahwa mereka masih kuat. Entahlah! Kita tunggu saja hasil verifikasinya.

Yang jelas, salah satu ideologi utama dan dasar ISIS adalah jihad. Abu Mus’ab az-Zarqawi, peletak cikal-bakal IS, berhasil direkrut dari kehidupannya sebagai pemuda nakal dengan pesona doktrin tentang jihad. Akhirnya, ia tumbuh menjadi seorang yang hanya memahami Islam sebagai jihad. Ironisnya, pendidikan kita pun sering kali mengasosiasi Nabi lebih sebagai pendekar perang yang mengisi hidupnya dengan perang.

Seperti dikemukakan Syaikh Hasan bin Farhan al-Maliky, ulama moderat Arab Saudi, IS tenggelam dalam lautan keutamaan jihad, sementara mereka tak memahami sedikit pun tentang prinsip-prinsip jihad paling dasar. Mereka adalah orang yang menganggap Islam dan kehidupan Nabi Muhammad hanya perkara perang. Padahal, menurut sebuah penelitian, jika dikalkulasi, karier kerasulan Nabi kira-kira 23 tahun atau 8.000 hari. Jumlah hari Nabi berperang hanya 80 hari jika tanpa melibatkan persiapan dan sebagainya. Artinya, secara total, hari peperangan Nabi hanya 10 persen atau 1 persen dari karier kenabiannya. Ironisnya, yang 90 persen atau 99 persen inilah yang justru tak dipahami dan diyakini oleh IS dan para pengikut serta pendukungnya. Itu pula yang kerap diajarkan berulang-ulang tentang Islam dan Nabi dalam pendidikan anak-anak kita.

Padahal, menurut Nabi, jihad bukan hanya dilakukan dengan berperang. Justru, Nabi menyebut perang sebagai jihad kecil (jihâd ashghar) dan melawan nafsu sebagai jihad besar (jihâd akbar). Alkisah, saat Nabi pulang dari Perang Tabuk, ketika para sahabat berkata, “Kita baru saja pulang dari perang besar”. Nabi justru berkomentar, “(Sebaliknya) kita baru pulang dari perang kecil, menuju perang besar,” yakni jihad melawan nafsu. Dan, tak ada orang yang mati syahid dalam jihad kecil, sebelum dia menang dalam jihad besar. Artinya, kesyahidan sejati justru bukan didapat dari medan perang saja, tapi juga dari perang melawan nafsu terlebih dulu. Sayyidina Ali pernah mengurungkan ayunan pedangnya saat menyadari bahwa ayunan pedang itu disebabkan nafsunya. Nabi sendiri pun tak syahid di medan perang. Adapun jihad model IS justru karnaval nafsu: kekejaman, keberingasan, dan kesadisan.

Jihad dalam konteks perang pun tak dipahami dengan benar dan kadang tereduksi oleh IS dan mungkin oleh sebagian kita. Jelas-jelas Al-Quran dalam al-Baqarah: 190, an-Nisaa’: 75 dan al-Hajj: 40 menjelaskan bahwa yang diperbolehkan-atau diwajibkan-untuk diperangi adalah orang-orang yang memerangi kita, dan itu pun jangan melampaui batas, serta berperang dalam rangka membela hak-hak orang-orang tertindas atau terusir dari kampung halamannya. Adapun yang dilakukan IS justru menindas dan mengusir orang lain, atau malah saudara muslimnya dari kampung halamannya di Mosul, Tikrit, dan wilayah-wilayah lain yang dikuasainya, hanya karena perbedaan mazhab, ideologi, atau pandangan.

Perang IS juga bukan lagi hanya menerobos etika perang Islam, tapi sangat melampaui batas dengan berlaku sadis terhadap tawanannya. Kita harus menjauhkan anak-anak dan lembaga pendidikan kita dari salah kaprah jihad ini. (Artikel ini pernah dimuat di Koran Tempo 20 September 2014 dengan judul "IS, Jihad, dan Pendidikan Kita" dan dimuat di buku penulis: "Menyegarkan Islam Kita". Kini penulis hadirkan kembali dengan judul baru dan tambahan di paragraf pertama)

Wednesday, October 21, 2015

Pesan Damai Sura

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Pernah Dimuat Koran Tempo, 6 November 2014)

Muharram dalam kalender Hijriyah memiliki nilai signifikan dalam perspektif Islam. Bukan hanya karena ini bulan pertama dalam kalender Hijriyah yang ditandai hijrahnya Nabi Muhammad, sehingga patut menjadi titik refleksi untuk transformasi diri, keberislaman, dan keberumatan menuju titik lebih baik. Atau agar kita tak menjadi pribadi atau umat yang merugi, tak cakap meng-otentik-kan waktu dan tak pandai memastikan bahwa hari esok lebih baik daripada kemarin. Tapi juga karena ini adalah salah satu dari empat bulan toleransi dan perdamaian dalam Islam. 

Muharam adalah salah satu bulan suci yang diharamkan oleh Allah untuk berperang. Terminologi "Muharam" bahkan berasal dari akar kata bahasa Arab: "h-r-m", yang berarti "suci". Karena itu, bulan ini adalah momentum tepat untuk merefleksikan rapor toleransi umat Islam guna kembali mengoreksi, berintrospeksi, dan meningkatkan kualitas toleransi keislaman kita, serta terus merajut perdamaian antar-mazhab dan umat beragama.

Adapun dalam tradisi Islam Indonesia, Muharam memiliki nilai signifikan plus lain, yakni dikenalnya bulan ini sebagai bulan Sura. Terminologi "Sura" berasal dari Asyura: ajaran dan peringatan umat Islam dalam mengenang terbunuhnya Sayyidina Husain (cucu Nabi) di Karbala (Irak) dalam pembantaian oleh pasukan di bawah perintah Yazid dari Dinasti Umayyah. Dalam tradisi Islam Indonesia, dari Aceh, Bengkulu, Jawa, hingga Madura, Sura memiliki ragam ekspresi peringatan duka berbasis budaya: ada upacara Tabot di Bengkulu hingga pembagian bubur Sura di Jawa.

Asyura sendiri, meski menandai sebuah tragedi pembantaian yang terjadi pada bulan yang dilarang berperang (apalagi membantai), sarat akan pesan-pesan toleransi dan perdamaian. Cendekiawan Annemarie Schimmel, dalam salah satu artikel khusus tentang asyura berjudul Karbala and the Imam Husain in Persian and Indo-Muslim Literature, bahkan heran bagaimana Sayyidina Husain justru menekankan pentingnya nilai-nilai tertinggi HAM dan perdamaian dari pembantaian terhadap dirinya. Sebab, dengan membawa wanita, anak-anak, bahkan bayi, Sayyidina Husain justru hendak memperlihatkan bahwa darah dan nyawanya, keluarga serta sahabatnya, akan ia relakan demi sebuah sejarah paling mengerikan agar tak lagi ada pertumpahan darah atau anarkisme atas nama Islam, kekhilafahan, dan lain-lain. 

Dalam sejarahnya, rombongan keluarga Sayyidina Husain bahkan justru disambut dan diperlakukan dengan baik oleh salah seorang pendeta di salah satu gereja di bukit Syam (Suriah), yang kini diabadikan sebagai situs sejarah Islam bernama Ra'sul Husain (Kepala Husain). Walhasil, lengkaplah pesan Asyura bahwa perdamaian dan kemanusiaan adalah pesan dan perkara universal yang lintas agama, apalagi sekadar madzhab. Di sisi lain, ironisnya, Ibn Taimiyyah, yang menjadi kiblat kubu ekstremis Islam, justru memutarbalikkan sejarah Asyura untuk mengubur pesan-pesan damainya dan pesan kritisnya demi doktrin khilafah yang kian kerap digadang-gadang oleh kaum muslim radikal di dunia, termasuk Indonesia. 

Karena itu, Asyura harus terus diperingati sebagai salah satu aset budaya Islam Indonesia sebagai penghayatan dan ekspresi Islam khas Indonesia yang damai, toleran, humanis, akulturatif, dan mengandung pesan lintas mazhab serta lintas agama. 

Sunday, September 27, 2015

Obituari "Busidin": 'Sekadar' Pengungsi Sampang!

Namanya Busidin. Bukan orang besar, jika "besar" berarti kelas sosial-ekonomi mentereng. Dia orang tua biasa, dengan satu istri tua, tiga anak dan lima cucu. Tak punya jabatan apapun. Ekonominya 'pun luntang-lantung. Bahkan, ia hanyalah seorang pengungsi di negerinya sendiri lantaran pilihan madzhabnya. Ya! Dia salah satu Muslim-Syiah Sampang yang dipaksa mengungsi ke Rusunawa Puspa Agro, Sidoarjo sejak Agustus 2012, hingga harus wafat sebagai pengungsi pada Minggu, 27 September 2015 lalu, lantaran sakit komplikasi berkepanjangan sejak dua tahun lalu. Bahkan, seperti diberitakan Koran Tempo (28/09/2015), sekadar jenazahnya 'pun yang ia sendiri berwasiat untuk dimakamkan di pekarangan rumahnya sendiri, ditolak di kampungnya. Tentu, latar belakangnya adalah sentimen madzhab. Sebab, alasan yang diungkapkan adalah keamanan. Itu terdengar sebagai sebuah alibi saja di telinga Iklil al Milal (koordinator pengungsi Sampang), dengan bertanya: "Ini 'kan hanya jenazah?" Tak adakah secercah kemanusiaan di hati mereka, bahkan pada jenazah sekali 'pun?

Namun, Busidin orang besar. Jika "besar" berarti, seperti ditulis Goenawan Mohamad (GM) dalam pengantarnya untuk "Wasiat Sufi Ayatullah Khomeini" (Yamani, 2001), orang yang mampu mengatasi ruangan jiwanya sendiri yang hendak diimpit benda-benda, karena ia menghendaki suatu kebebasan yang lebih punya arti. Orang besar, lanjut GM, adalah orang yang bekerja untuk akhirat seperti ia akan mati besok, dan bekerja untuk dunia seperti akan hidup selama-lamanya, tapi bukan dengan keserakahan untuk dirinya sendiri.

Busidin adalah orang kecil yang besar. Dia memenuhi syarat sebagai orang besar. Dia merelakan dirinya ditinggalkan pekerjaannya di kampung, menggadaikan kebahagiaan keluarga kecilnya yang biasa dirasakan keluarga kampung, bahkan merelakan dirinya terungsi (sembari terus memperjuangkan untuk kembali bukan karena kerinduan, tapi lebih karena upaya memeperjuangkan hak dan menegakkan konstitusi) untuk kebebasan yang lebih punya arti. Untuk akhiratnya. Kebebasan bermadzhab dan menjalaninya, demi posisi mulia di akhirat kelak sesuai imannya. Dia juga menolak kembali dengan syarat mengubah imannya. Baginya, lebih baik tetap dalam pilihan imannya dengan segala konsekuensinya, daripada raganya bebas tapi imannya tergadainya, hatinya terkhianati, dan batinnya terpenjara.

Busidin juga besar lantaran ia sebuah potret. Potret buram kebermadzhaban -padahal keberagamaan dan berkeyakinan saja dijamin oleh konstitusi bangsa ini. Potret korban yang justru dipersalahkan, diusir, dan bahkan pimpinannya dipenjara. Potret terkoyaknya ukhuwah (persatuan dan persaudaraan) Islam. Potret buruknya relasi Sunni-Syiah di negeri ini. Potret merajalelanya -bahkan di ranah hukum- kalangan "takfiri" (kelompok yang gemar mengkafirkan saudaranya sesama Muslim). Potret terintimidasinya hukum dan konstitusi kita. Potret ironi minoritas di tengah mayoritas. Potret hilangnya kemanusiaan kita. Dan seterusnya.

Bermadzhab, sebagaimana beragaman dan berkeyakinan, adalah hak dasar dan utama setiap orang. Bermukim di kampung sendiri juga adalah sebuah hak setiap warga negara. Bahkan, tulis Qur'an, kepada seorang atau sekelompok yang kita benci sekalipun, kita diharuskan bersikap adil. Tapi, entah, apa yang ada di hati dan pikiran saudara se-Muslimnya di Sampang yang mengusirnya saat hidup dan tetap menolaknya bahkan ketika ia telah wafat.

Namun, kita percaya janji Allah dalam Qur'an, bahwa ia yang rela mati di jalan-Nya, takkan pernah 'mati', walau tak lagi bernyawa. Busidin akan terus 'hidup'. Sebagaimana Munir. Hidup sebagai semangat, jiwa, dan energi di dada kita, untuk terus memperjuangkan hak dan keadilan. Bagi siapapun! Tanpa melihat latar belakang madzhab, agama, keyakinan, dan lain-lainnya. Kita 'pun akan "Menolak Lupa" untuk Busidin. Karena masa depan NKRI ada di sana.

Selamat jalan, Busidin!

Friday, September 25, 2015

Dari Tragedi Mina, Jadi Tragedi Muslim Indonesia

Untuk kesekian kalinya, “Tragedi Mina” kembali terjadi. Ia sudah sering terjadi: 1987, 1990, 1994, 1997, 2006, dan 2015. Ia bahkan hingga menjadi kisah horor tersendiri dalam sejarah haji. Sehingga, tak heran jika saat jemaah haji diantar oleh sanak keluarganya saat hendak berangkat, prosesi itu diiringi isak-tangis seolah hendak mengantar tentara ke medan perang.

“Tragedi Mina 2015” adalah yang terbesar kedua dalam sejarah, setelah “Tragedi Mina 1990” yang menyebabkan syahid-nya 1.426 jemaah dengan sebagian besar korban saat itu adalah jemaah haji dari Asia, terutama Indonesia dan Malaysia. Adapun kali ini, lebih 1500-an korban dan 700-an syahid. Karenanya, tragedi kali ini harus benar-benar 'digaduhkan' guna mendesak Kerajaan Arab Saudi mempertanggung-jawabkan laporan atas tragedi itu secara transparan dan komperhensif, serta mengintrospeksinya secara objektif agar horor di Mina tak lagi mengintai jemaah haji setiap tahunnya.

Mengapa sasaran pertama kritik adalah Arab Saudi? Ada sebagian pihak yang mempertanyakan, bahkan menggugat itu. Karenanya, pembahasan ini patut diawali dengan menjawab pertanyaan itu.

Pertama, karena Saudi bukan hanya memilih, tapi tertutup pada negara luar dalam pengelolaan haji dan pengurusan Haramain. Berbeda, misalnya, dengan Italia yang memberi kedaulatan (suci) pada Vatikan. Sehingga, sudah sepatutnya bagi Arab Saudi untuk tak hanya mengambil manfaat dari haji, tapi juga bertanggung-jawab atas segala sesuatu terkaitnya, termasuk tragedi. Walaupun tragedi itu, misalnya, disebabkan oleh pihak ketiga atau jemaah haji, tetaplah Arab Saudi yang harus ‘pasang badan’ pertama dan terdepan. Dia tak bisa menyalahkan pihak luar dan apalagi jemaah, karena ia yang memilih untuk bertanggung-jawab atas haji, tentunya dengan manfaat ekonomi-bisnis yang ia dapatkan serta –kalau mereka yakin- keberkahan yang mereka dapatkan dari Allah karena telah menjamu tamu-Nya.

Kedua, beberapa saat pasca-Tragedi Mina 2015, Menteri Kesehatan Arab Saudi, Khaled al-Falih langsung menyalahkan jemaah haji atas tragedi itu. Padahal, di saat-saat awal semacam itu, pihak Saudi harusnya berkomentar normatif secara bijak dan meneduhkan, misalnya, meminta semua pihak menahan diri sampai diketahui sebabnya dan menyatakan mereka berjanji akan urus dengan maksimal tragedi itu. Sehingga, takkan memicu kontroversi dan arogansi umat. Tapi, yang terjadi, tanpa penyelidikan dan bukti, otoritas Arab Saudi justru langsung menuding jemaah. Sehingga, tak heran jika tuduhan itu langsung berbalik pada mereka. Sebab, sampai investigasi selesai, memang Arab Saudi yang harus bertanggung-jawab.

Ketiga, karena Tragedi Mina terlampau sering. Dan, Tragedi Mina 2015 ini adalah tragedi kesekian yang terjadi dalam pelaksanaan haji tahun ini, setelah sebelumnya yang sangat populer adalah tragedi jatuhnya crane (ironi karena di musim haji, crane dibiarkan tetap beroperasi dan lalu-lalang di atas jutaan jemaah haji setiap harinya) di Masjidil Haram hingga menewaskan serta membuat luka-luka puluhan jemaah haji. Sehingga, sudah sepatutnya Arab Saudi introspeksi dan mengantisipasi dengan menerapkan management super rapi dan safety, sehingga tragedi takkan terulang lagi, apalagi sampai terulang lagi untuk yang terbesar kedua.

Namun, yang disayangkan adalah karena kritik atas Arab Saudi itu tak diterima secara bijak. Misalnya, bisa dilihat di media sosial, khususnya yang penulis amati di Twitter, alih-alih mendengar dan merespon kritik itu secara bijak atau minimal normatif, kritik itu justru dibalas dengan hujatan berbasis fitnah. Ini memang kian populer dalam masyarakat kita. Sebagian oknum Muslim Indonesia yang anti-kritik, memiliki cara yang ironi dalam merespon kritik. Mereka meresponnya dengan subjektif, berbasis fitnah, tanpa sumber yang jelas dan berorientasi menyerang personal. 

Pertama, kritik objektif atas Arab Saudi dibalas dengan respon yang subjektif alias semau mereka sendiri. Bahkan, misalnya dalam jejaring Twiter, kita bisa lihat bagaimana responnya sangat membabi-buta semau mereka. Jika kita ikuti, hingga akhirnya tak karuan pembahasannya: nyasar sana-sini. Tak lagi logis. Misalnya, bahkan di Twitter ditemui respon yang membandingkan Tragedi Mina dengan problem Suriah dan Yaman atau bahkan bencana alam di Indonesia. Di sini, saya jadi diingatkan dengan 'logika' yang mengaitkan jatuhnya crane di Masjidil Haram dengan kedatangan Presiden Jokowi. Alur 'logika'-nya sama. Bahkan, oknum penyebarnya juga relatif sama.

Terkait dengan respon tak logis mereka itu, saya merasa juga perlu sedikit membahas tentang 'logika' mereka yang mengaitkan Tragedi Mina 2015 dengan takdir. Membaca 'logika' itu, ingatan saya jadi terlempar pada masa Bani Umayyah di mana rezim itu menjadikan alibi teologis soal takdir sebagai legitimasi bagi kediktatoran mereka. Bahkan, jika mereka membunuh rival politiknya lantara nafsu berkuasanya, mereka kemudian katakan, "bukan kami yang membunuh, tapi Allah yang membunuh." Sebab, pemimpin rezim itu mengklaim dirinya sebagai "wakil Tuhan" dan dinastinya sebagai "Dinasti Islam". Dan itu rasanya relatif sama dengan paradigma khas pemimpin dan Dinasti Saud.

Kedua, kritik itu dianggapnya sebagai fitnah. Meskipun selengkap, seobjektif, dan selogis apapun sumber, fakta dan analisanya. Basis logikannya 'pun sentimen, khususnya sentimen madzhab. Sehingga, direspon 'lah dengan fitnah. Misalnya, dibilang 'lah bahwa Tragedi Mina 2015 lantaran jemaah haji Iran yang sengaja melawan arus untuk mengacaukan haji dan membuat Tragedi Mina. Padahal, para jemaah haji Iran itu Muslim biasa seperti kita yang tak berdosa dan tak punya tendensi selain mulia dan suci: berhaji memenuhi panggilan Allah sebagai kewajiban kelima dalam rukun Islamnya. Bahkan, sungguh tega karena tuduhan keji semacam itu diarahkan pada mereka (jemaah haji Iran) yang di dalamnya salah satunya berada Sayyid Mohsen Mousawi (Juara Musabaqoh Tilawatil Qur'an Dunia di Malaysia pada 2015). Sayyid Mohsen dan para jemaah haji Iran itu adalah korban. Di antara para korban itu bahkan ada ratusan jiwa yang mati syahid di sana. Tapi, mereka yang korban itu justru dituduh sebagai dalang Tragedi Mina. 'Logika' ini mengingatkan saya pada 'logika' mereka pada Kasus Sampang, di mana para penganut Muslim-Syiah di sana yang menjadi korban penyerangan justru dinilai sebagai pelaku, dan pemimpin Muslim-Syiah Sampang, Ustadz Tajul Muluk, justru yang dipenjara.

Dan jelas-jelas tuduhan itu mustahil dan tak logis, karena bagaimana bisa upaya menyulut tragedi semacam itu luput dan dibiarkan terjadi oleh regulasi dan kontrol Arab Saudi yang begitu ketat. Apalagi, jika memang itu yang terjadi, bukankah itu bentuk kelalaian Arab Saudi dalam menindak pengacau di sana? Dan, yang benar-benar mengerikan karena dari tuduhan pada jemaah haji Iran itu kemudian 'melompat' pada serangan mereka pada Syiah. Hanya karena rakyat Iran mayoritas Syiah? Sebuah tindakan yang seolah menguak latar belakang mereka: sentimen sektarian.

Ketiga, respon mereka juga tanpa sumber yang jelas. Bahkan, sumbernya sekadar pesan elektronik dari seorang yang tak jelas. Padahal, kini zamannya ketika sumber media mainstream 'pun perlu diverifikasi kebenarannya karena arus informasi yang begitu bebas, khususnya di era digital ini.

Keempat, respon mereka cenderung menyerang personal, bukan masalah yang dibahas. Sehingga sungguh menyedihkan. Tragedi ini jadi alasan untuk menyebar fitnah personal tentang orang-orang yang mereka benci tanpa alasan yang jelas. Padahal, jelas-jelas, Islam mengajarkan kita untuk tak melihat siapa yang berbicara, tapi apa yang dibicarakan.

Sehingga, saya jadi menilai bahwa Tragedi Mina bukan hanya menjadi tragedi di Mina, tapi juga Tragedi Indonesia alias tragedi di Indonesia. Karena tragedi di sana membuat kita saling serang dengan fitnah yang keji yang bukan mengurai masalah Tragedi Mina, tapi justru membuat tragedi baru di sini yang bisa jadi lebih ironi karena bukan lagi fisik, tapi fitnah pada person, negara, bangsa, bahkan madzhab.

Thursday, September 10, 2015

Harta Karun itu Bernama "Hikmah"

"Hikmah adalah harta karun yang dimiliki seorang Muslim"

(Sayyidina Ali)


Dengan segala kenikmatannya, Islam masih menambahkan seorang Muslim satu harta karun yang sangat berharga. Sayyidina Ali yang mengemukakan itu. Harta karun itu berupa: "hikmah". 

Seorang Muslim haruslah pandai memungut hikmah. Bahkan, kata Sayyidina Ali, walau itu datang dari mulutnya seorang yang munafik sekali 'pun. Atau, kata pepatah Arab, walau ia datang dari (maaf-maaf) pantat seekor anjing. Sebegitu pentingnya hikmah bagi kita, sehingga permisalannya 'pun diambil dari yang paling buruk sekali 'pun.

Bagaimana mendapatkan harta karun seorang Muslim itu? Syarat pertamanya adalah bahwa kita tak boleh melihat sesuatu hanya pada apa yang tampak atau dari satu sudut pandang saja. Tapi, diharuskan menggali aspek-aspek lain yang mendalam, dari sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang umumnya. Misalnya, ketika kita kehilangan uang atau barang berharga, sudut pandang pada umumnya akan melihat itu sebagai musibah dan menyesalinya. Bahkan, tak jarang kita yang kemudian mencari-cari kambing hitam atas musibah itu dengan menyalahkan orang lain atas kehilangan itu atau bahakan menyalahkan diri sendiri: "Kenapa juga saya harus bawa dompet?!" atau penyesalan-penyelasan lainnya yang tak bermanfaat bagi kita dan bahkan berdampak negatif karena membuat kita menyesal berlarut-larut atau menyalah-nyalahkan diri sendiri atau malah orang lain.

Maka, pola pandang yang berbasis hikmah, atas kasus itu, kita akan melihat dari sudut pandang lain yang positif. Misalnya, alih-alih kita menganggap itu musibah, justru sebaliknya: menganggap kehilangan itu sebagai tolak bala' (musibah). Itulah yang diajarkan nenek moyang kita, bahwa kehilangan akan uang atau barang yang kita cintai sebenarnya adalah cara Allah untuk menolakkan bala' yang akan datang pada kita. Sehingga dengan begitu kita jadi berpikir malah untung terjadi kehilangan itu, karena jika tidak kita akan terkena bala' yang tentu efek dan penderitaannya akan jauh lebih berat dari sekadar kehilangan uang atau barang yang kita cintai.

Atau, Muslim pemburu hikmah bisa juga menggeser sudut pandangnya tentang insiden kehilangan itu dengan mengelola hatinya dari yang awalnya mengaggap itu kehilangan, tapi digeser dengan menghitungnya sedekah, sembari berdoa agar yang menemukannya adalah orang yang benar-benar membutukannya. Sehingga, alih-alih kita akan dapat dosa karena menyesal berlarut-larut dan menyalahkan orang lain atau diri sendiri, peristiwa kehilangan itu justru menjadi ladang pahala bagi kita untuk beramal.

Sunday, September 6, 2015

Imam Shamsi Ali: Mengelola Islam di Tengah Stigma

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Esai ini juga dimuat dalam buku "Menyegarkan Islam Kita")

Ada tantangan baru terhadap Muslim dan dunia Islam pasca-Tragedi 11/9 dalam konteks relasi dengan dunia Barat (khususnya Amerika Serikat (AS) dan Eropa). Tantangan itu berupa efek langsung maupun tak langsung dari tragedi yang terlanjur dikaitkan dengan Muslim dan dunia Islam berupa stigma negatif (anarkis, bahkan teroris) tentang Islam yang kemudian memunculkan fenomena Islamophobia. 
John L. Esposito melalui karyanya yang berjudul Masa Depan Islam (terj, 2010) kemudian menjadi salah satu tokoh yang secara gigih mencoba merespon tantangan itu. Karyanya itu memuat data lengkap (khususnya dari sumber-sumber non-Muslim yang kompeten) dengan analisa yang komperhensif berbasis sosiologis dan bahkan teologis. Karya itu cukup mengklarifikasi segala tuduhan dan stigma negatif yang sengaja dibangun atau terbangun sendiri sebagai sebuah efek Tragedi 11/9 terhadap Islam. Namun, tantangan itu benar-benar telah menjadi arus negatif besar bagi Muslim dan dunia Islam, khususnya karena sederet varian politis yang menyelimutinya. 
Di sisi lain, ada nama Imam Shamsi Ali (tokoh Islam di New York, AS) yang merupakan tokoh Muslim di AS (berasal dari Sulawesi Selatan, Indonesia) yang mencoba menggagas respon alternatif guna menghadang arus besar stigma negatif pada Islam itu. Sepak terjang itulah yang kemudian diabadikan oleh Julie Nava dalam buku baru berjudul Imam Shamsi Ali; Menebar Damai di Bumi Barat (2013). Akhir bulan November kemarin, ia juga pulang kampung untuk mengkampanyekan dan menebar kasih Islam-nya di kampung halamannya, Indonesia.   
Menurut penulis, sepak terjang serta pandangan alternatif Shamsi Ali itu penting untuk diikuti dan direfleksikan guna menjadi bekal bagi upaya untuk terus merajut kembali relasi 'mesra' antara dunia Islam dan Barat. Pasalnya, berbeda dengan karya Esposito, sepak terjang dan pandangan keislaman Shamsi Ali -dalam kaitannya guna merespon stigma negatif tentang Islam di Barat- seperti direkam dalam buku itu justru tak sarat akan data maupun analisa yang cenderung bersifat akademis seperti ditulis Esposito. Shamsi Ali justru berkisah tentang pengalaman (ketepukulan, gejolak dan bahkan kecemasan) yang dirasakannya langsung sebagai seorang tokoh Islam pasca-Tragedi 11/9, khususnya dibandingkan dengan kondisi pra-Tragedi 11/9. 
Menurut penulis, itu penting guna memberikan gambaran pada umat Islam yang tak mengalami kehidupan langsung di dunia Barat tentang keberislaman di sana, dengan segala tantangannya, khususnya sebagai minoritas yang kemudian tiba-tiba harus menerima stigma negatif tentang agamanya atas sesuatu yang bukan hanya tak dilakukannya tapi bukan bertentangan dengan pandangan keislamannya. 
Seperti dikemukakan Shamsi Ali dalam buku itu, justru itulah yang kerap absen dari keberislaman kita, yakni apa yang disebutnya outreach atau keterbukaan diri dalam ber-Islam sehingga non-Muslim bisa tahu tentang Islam dan kita secara utuh dan sebenarnya, juga sebaliknya kita tahu dan merasakan agama dan umat non-Islam -yang seperti pengakuan Shamsi Ali- justru sangat ramah, bijak dan bahkan merepresentasikan nilai-nilai keislaman. Sebab, seperti kata pepatah Arab: "Manusia takut pada apa yang tak diketahuinya" (al-nas a'dau ma jahlu). Atau pepatah Indonesia: "Tak kenal maka tak sayang." Itu pula yang menjadi kesimpulan Norman Daniel dalam Islam and the West dan Robert W. Southern dalam Western View of Islam in the Middle Ages, bahwa stigma negatif, ketegangan, bahkan konflik antar agama sering muncul karena ketidaktahuan.  
Oleh karena itu, misalnya, ketika dalam momentum pulang kampungnya kemarin ia siaran dakwah di Radio Silaturahim (Rasil) dan kemudian mendapat mention di akun Twitter-nya agar membatalkan rencana siarannya itu karena Rasil merupakan rasio berstigma Syiah, ia justru meminta agar siapa yang berstigma seperti itu untuk datang dan berdialog langsung dengan redaksi Rasil tentang tuduhan itu. Alih-alih ia meladeni tuduhan itu dengan sederet argumentasi yang kerap kali hanya justru memperkuat stigma tersebut, ia justru meminta penuduh itu melakukan outreach.      
Selain itu, menurut penulis, ada beberapa poin dari keberislaman Shamsi Ali yang patut direnungkan sebagai basis guna membangun keberislaman kita agar benar-benar selaras dengan pesan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin, khususnya di tengah stigma negatif atas Islam. 
Pertama, keberislaman yang adil, dalam arti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Dalam konteks ini, diharamkan untuk mengeneralisir segala sesuatu, termasuk non-Muslim. Seperti yang diperlihatkan Imam Shamsi Ali, misalnya pasca-Tragedi 11/9, ia tak mau terjebak untuk menilai semua non-Muslim (khususnya rakyat AS) sebagai pribadi yang buruk. Sebab, itu artinya, ia terjebak dalam stigma yang tak berdasar, tak adil dan menggeneralisir. Sesuatu yang tak rela dilekatkan pada Muslim secara keseluruhan apalagi Islam. Karenanya, tetap konsisten membangun hubungan baik (sebagaimana sebelum tragedi itu) dengan setiap non-Muslim di AS. Bahkan, pada yang termakan oleh provokasi negatif pada Islam, ia terus berusaha berdialog dan menyadarkan mereka bahwa apa yang terjadi pada AS dalam Tragedi 11/9 bertentangan dengan ajaran Islam dan pandangan mayoritas Muslim, khususnya di AS. 
Kedua, keberislaman yang bertanggung jawab. Beberapa hari setelah Tragedi 11/9, beberapa tokoh dan umat Muslim AS berinisiatif untuk menutup masjid dengan alasan keamanan. Namun, sembari menghimbau agar tetap waspada, ia menolak inisiatif itu karena dinilainya sebagai bentuk ketidakbertanggungjawaban yang bisa memberi kesan bahwa ia dan umat Islam di AS menerima tuduhan negatif pada Islam atas Tragedi 11/9 dan merasa bersalah atas tragedi itu. 
Ketiga, keberislaman yang berparadigma universal. Menurut Imam Shamsi Ali, umat Islam harus bekerjasama secara konstruktif dengan seluruh umat manusia (apapun agama dan keyakinanya) untuk membangun sebuah way of life berdasarkan nilai-nilai universal dan mendasar yang sama dalam setiap agama dan keyakinan, yakni perdamaian dan kemanusiaan. Oleh karena itu, pasca-Tragedi 11/9, ketika sentimen Muslim dan non-Muslim memuncak, ia justru membangun apa yang disebutnya mutual platform atau kalimah sawaa (dalam bahasa Qur'an) berbasis pada nilai universal setiap agama dan keyakinan dan berorientasi pada perdamaian, kemanusiaan dan kebersamaan. Salah satunya, dengan melakukan kerjasama interfaith dengan sinagoge (disponsori Jewish Teological Seminary) hingga menghasilkan karya bersama berjudul Sons of Abraham yang diterbitkan Random House pada September 2013 lalu.
Maka, seperti diperlihatkan Imam Shamsi Ali, pada dasarnya, problem munculnya sentimen atau bahkan konflik antar agama (apalagi internal Islam) adalah keengganan kita untuk terbuka, berdialog secara konstruktif dan tulus dengan "yang lain". Sebab, itulah sebenarnya makna esensial dari silaturahmi, yang patut dibalut dengan akhlak yang baik (akhlakul karimah) serta dugaan yang positif (husnudhon) pada "yang lain".          

Tuesday, August 25, 2015

Inna Ma'al Usri Yusro: "BERSAMA" Kesulitan, Ada Kemudahan

Surat An Nasyroh (Ash Sharh) di ayat 5 dan 6-nya menyebutkan dua kali bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan: “Fa inna ma’al ‘usri ‘yusro” dan “Inna ma’al ‘usri yusro”.

Penting digarisbawahi kata "bersama" dalam ayat itu. Aya itu hendak menegaskan bahwa setiap kesulitan selalu dilengkapi dengan kemudahan. Itu janji Allah dalam Kitab-Nya. Tak akan kita diberikan kesulitan atas sesuatu, kecuali juga kemudahan atas sesuatu itu juga. Tak akan kita dalam satu perkara hanya sulit saja, tapi pasti juga diberi kemudahan. Proporsinya 'pun pastilah minimal sama atau bahkan kemudahannya melebihi kesulitannya. Bahkan, ayat itu menegaskan bahwa kemudahan yang diberikan Allah tak datang setelah kesulitan, tapi "bersama" kesulitan itu sendiri. Melampaui pepatah yang mengatakan berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Sebab, kita terlanjur merasa bahwa kita harus sulit dulu untuk meraih kemudahan. Misalnya, bekerja dulu, baru mendapat gaji. Tapi, tidak bagi kemudahan yang dikaruniakan Allah pada kita. Janji Allah bahwa kemudahan itu akan datang "bersama" dengan (di dalam) kesulitan itu sendiri.

Karena jika kita perhatikan dan resapi dengan seksama, serta merenungkan setiap kesulitan yang dikaruniakan Allah pada kita, maka pastilah ditemukan bahwa didalamnya adalah satu paket dengan kemudahan itu sendiri. Hanya saja, karena kita sering kalap dan suntuk ketika menerima kesulitan, kita jadi abai bahwa didalamnya juga sebenarnya ada kemudahan. Misalnya, sebagaimana diisyarakatkan hadist Nabi, bersama dengan sakit fisik yang kita derita, didalamnya dikaruniakan sehat bagi batin kita oleh Allah berupa kemudahan bagi pikiran kita untuk mengingat Allah, bagi lidah kita untuk berdzikir, dan bagi hati kita untuk bersama dengan Allah dalam ketentraman sejati. Bahkan, dalam kesulitan berupa sakit fisik itu sendiri sebenarnya didalamnya secara bersamaan ada aktifitas organ-organ fisik kita yang sedang melakukan refresh agar tubuh kita kembali fit sebagaimana asalnya. Bayangkan jika kita tak pernah dikaruniai sakit, tanpa kita sadari organ-organ dalam fisik kita yang terforsir itu akan lapuk, lumpuh dan bahkan bisa jadi pada akhirnya mati. Perumpamaannya sebagaimana jamu yang kita minum ketika sakit: bersama pahitnya ia di lidah, ada obat untuk tubuh kita.

Oleh karena itu, para sufi memahami dan meresapi ujian -yang oleh sebagian besar kita sebagai kesulitan- justru sebagai sebuah kenikmatan yang dikaruniakan Allah pada kita karena Kasih Sayang-Nya. Dan memang, kata "adzab" dalam bahasa Arab berasal dari akar kata yang sama yang menghasilkan kata ”adzb" (biasa diterjemahkan sebagai ”siksa”) yang sesungguhnya, salah satu arti kata ini adalah “rasa manis”.

Maka, sebenarnya yang kita butuhkan dan mintakan doa kepada Allah setiap harinya bukan kemudahan dalam hidup, tapi mintalah pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran untuk mengetahui kemudahan apa yang dalam dalam setiap kesulitan yang diberikan Allah pada kita.

Monday, June 22, 2015

Tak Kalah, Tapi Ngalah

"Seorang Muslim yang kuat adalah dia yang mampu membalas, tapi tak mau melakukannya."
(Sayyidina Ali)
***

Inilah pelajaran sangat berharga yang diajarkan Kanjeng Sunan pada kita sebagai Muslim di Nusantara. Kanjeng Sunan memberi kosakata yang bisa kita jadikan 'jimat' untuk kesuksesan hidup di dunia dan akhirat. Kosakata itu adalah "ngalah". Ngalah tentu bukan berarti kalah, malah sebaliknya: ngalah adalah sikap yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang menang. Seorang yang kalah mustahil bisa ngalah. Sebab, bagaimana mau ngalah, kita memang kenyataanya kalah kok

Oleh karena itu, syarat utama kita untuk bisa memakai 'jimat' Kanjeng Sunan ini adalah memastikan terlebih dulu bahwa diri kita menang. Tapi, yang dimaksud menang bukan hanya karena kita lebih kuat atau jago, tapi juga lebih benar, lebih tepat, dan lebih-lebih lainnya. 

Ngalah berarti merelakan diri seolah-olah kalah demi kebaikan. Ini juga sekaligus syarat kedua bagi kita yang mau ngalah. Jadi orang yang mau ngalah, harus memastikan dulu bahwa sikap ngalah kita itu akan membawa kebaikan dan sikap ngotot menang kita justru akan membawa keburukan. Sebab, yang terbaik adalah kemenangan kita, maka itu harus diperjuangkan, meskipun itu berat dan pahit. 

Kebaikannya bisa bermacam-macam, bisa jadi untuk membahagiakan orang lain, bisa juga untuk kebaikan yang lebih besar (maslahat), dan lain-lain. Contoh ngalah untuk membahagiakan orang lain, misalnya ada suatu proyek pekerjaan yang kita bisa mengerjakannya, tapi kita ngalah pada orang lain yang juga bisa mengerjakannya tapi ia sangat membutuhkan fee dari proyek pekerjaan itu untuk memberi nafkah keluarganya, sehingga ngalah-nya kita akan membahagiakan ia dan keluarganya. Adapun contoh ngalah untuk maslahat, misalnya saat macet di jalan raya, kemudian ada kendaraan di belakang kita yang sekonyong-konyong memaksa menerobos antrian kendaraan kita yang sebenarnya berada di depan dia. Sebenarnya kita yang lebih "berhak" untuk menang, dalam arti berada di depan dia. Tapi, kita merasa "berkewajiban" ngalah, yakni merelakan dia untuk mendahului kita agar kemacetan tak semakin runyam. Oleh karena itu, ngalah juga berarti mendahulukan kewajiban di atas hak.  

Ngalah juga harus dibarengi dengan berprasangka baik. Ini penting sebagai bagian dari syarat ngalah selanjutnya. Karena jika kita ngalah tanpa berprasangka baik, maka kita akan sakit hati, dan atau kotor hati karena akan berpikir yang tidak-tidak tentang orang itu yang bisa jadi itu sebenarnya tak ada atau tak dilakukan orang itu, sehingga jatuhnya adalah fitnah. Tapi kalau dibarengi dengan prasangka baik, kita akan tenang, senang dan bersih hati karena kita jadi berpikir, misalnya: "Ya, mungkin saja orang itu melakukan hal itu karena terburu-haru lantaran ada kerabatnya yang sakit atau sesuatu yang tak boleh ia tinggalkan." 

Jika kita mampu ngalah pada orang lain, meskipun bisa menang, maka sebagaimana kata Sayyidina Ali, sebenarnya kita jauh lebih kuat dari orang lain itu. Sebab, pertama, kita sebenarnya bisa saja menang pada orang lain itu dan artinya pada kenyataannya kita sudah lebih kuat dari dia. Kedua, kita juga menang melawan diri kita sendiri, yakni ego atau nafsu kita. Dan sebenarnya yang kedua ini jauh lebih besar tantangan dan pahalanya dari yang pertama, sebagaimana sabda Rasulullah bahwa jihad yang terbesar adalah bukan jihad melawan musuh di luar diri kita,melainkan musuh di dalam diri kita, yakni segala sesuatu yang munculnya dari nafsu: egoisme, iri, dengki, dan lain-lain.

Sunday, June 21, 2015

Islam itu Nikmat

Salah satu nikmat terbesar yang khusus dan hanya dimiliki oleh seorang Muslim adalah "nikmat Islam". Kita mungkin sudah sering mendengar itu dari para penceramah (khatib) di masjid-masjid, musholla-musholla, majlis taklim, dan lain-lain. Mereka biasanya mengawali khotbahnya dengan mengajak pendengarnya untuk mensyukuri nikmat Islam yang dikaruniakan Allah pada kita. 

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan nikmat Islam itu? Sudahkan kita menyadari dan merasakannya? Sebab itu penting untuk semakin mengokohkan Islam kita. Sehingga kita tahu dan sadar bahwa Islam dengan segala kewajiban dan aturannya itu sebenarnya nikmat. Dengan begitu, kita akan enjoy dalam ber-Islam, bukan malah merasakan Islam sebagai kekangan bagi kita. 

Sebab, pada dasarnya, kewajiban dan aturan-aturan Islam yang diterapkan Allah untuk kita sebagai Muslim adalah sesuai dengan fitrah atau keinginan dan tujuan paling mendasar dan utama kita dalam hidup, bukan hanya kini di dunia tapi juga nanti di akhirat. Dalam hal ini, kita bisa umpamakan Islam itu bagaikan olahraha. Olahraga itu memang melelahkan. Karenanya tak sedikit orang yang berat dan malas berolahraga. Tapi, jika kita tahu dan sadar bahwa fitrah jasmani kita -mau atau tak mau, suka atau tak suka- harus berolahraga agar sehat dan tetap bugar, maka kita akan merasakan nikmatnya berolahraga. Tiap tetes keringat yang keluar dari berolahraga akan menumbuhkan sikap puas, gembira dan tenang karena kita telah memenuhi kebutuhan jasmani kita sekaligus memastikan sa depan tubuh kita tetap sehat dan bugar. Sehingga olahraga tak akan lagi menjadi beban. Tiap akan mengerjakannya 'pun akan penuh bersemangat. 

Begitu pula dengan Islam. Jika kita tahu dan sadar bahwa fitrah batin kita -mau atau tak mau, suka atau tak suka- membutuhkan Islam, maka kita akan nikmat, enjoy, dan bersemangat dalam mengerjakan semua kewajiban dan aturan Islam. Karena kita tahu dan sadar bahwa itu sebenarnya bukan tuntutan atau kekangan bagi kita, tapi bimbingan dari Allah bagi kita untuk menggapai kebahagiaan dunia dan keselamatan akhirat. Sehingga kita sadar bahwa Islam adalah nikmat dan mensyukurinya. Sebab, kita beruntung dalam hidup ini sudah ada bimbingannya, rambu-rambunya untuk meraih kesuksesan hidup. Dan tak tanggung-tanggung, bimbingan itu langsung dari Allah, Pemilik Semesta Alam ini. Maka kita yakin bahwa bimbingannya tak mungkin salah, bahkan sekedar kurang atau tak sempurna sedikit 'pun saja tidak. Jadi, jika diibaratkan hidup ini berlayar, Islam adalah kompasnya, yang membimbing kita menuju dan dengan jalan yang terbaik, paling tepat dan pintas. Sebab, orang lain masih harus berpikir, membuat teori ini dan itu, mencari guru atau motivator sini dan situ, dan lain-lainnya untuk meraih kesuksesan hidup. Sedangkan kita, alhamdulillah, sejak lahir sudah dikarunia kompas kehidupan yang pasti akan membimbing kita pada kesuksesan terbaik dan sempurna, meskipun di awal-awal kita tak tahu atau tak sadar akan itu. Tapi, lambat laun, seiring ketaatan, keihklasan dan kedewasan kita dalam ber-Islam, maka kita akan tahu bahwa jalan terbaik meraih kesempurnaan dan kebahagiaan hidup adalah dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya yang telah tertuang dalam 'diktat' bernama Islam.       
Bahkan, nikmat Islam ini sebenarnya secara tak langsung juga nikmat bagi non-Muslim. Mungkin, sebagai agama, nikmat itu khusus bagi seorang Muslim, dalam kaitannya keselamatan di akhirat kelak. Tapi, Islam sebagai bimbingan hidup (way of life), dalam kaitannya dengan kebahagiaan di dunia, jika kita terapkan, akan dirasakan pula nikmatnya oleh non-Muslim. Misalnya saja, kewajiban atau aturan Islam yang mewajibkan seorang Muslim untuk menjaga kebersihan. "Kebersihan adalah sebagian dari iman," begitu bunyi ketentuannya. Nah, kalau kita taat pada kewajiban itu, maka diri dan lingkungan kita akan selalu bersih. Sehingga siapa 'pun yang hidup berdampingan, berinteraksi dan bersosialisasi dengan kita, akan merasakan nikmat Islam kita yang telah menjaga kebersihan itu, Orang akan senang karena kawan atau tetangga dan lingkungannya bersih. Itulah yang dimaksud dengan nikmat kesempurnan Islam. Islam sebagai agama memang mungkin tak dianut oleh seluruh masyarakat di lingkungan kita, baik lingkungan rumah, kantor atau lingkungan kita lainnya. Tapi, kesempurnaan Islam sebagai way of life akan dirasakan oleh mereka juga. Sehingga mereka akan nyaman hidup dengan kita, meskipun berbeda agama.  

Dengan itu pula sebenarnya kita bukan hanya menuntaskan kewajiban kita untuk menjaga kebersihan, tapi juga mendapat nilai plus yakni mendakwahkan Islam. Sebab, setiap Muslim adalah duta Islam. Mereka yang non-Muslim kebanyakan tak belajar ajaran kita. Penilaian mereka akan Islam besar kemungkinan dengan melihat tingkah laku atau kebiasaan kita yang tak lain adalah seorang Muslim. Kalau keberislaman kita menyamankan orang lain, maka kita berarti telah membuat citra Islam positif di benak mereka. Sehingga, paling tidak, mereka akan salut pada Islam yang kita anut. Sebaliknya, jika kita sebagai Muslim tak menjalankan dengan baik ketentuan Islam, maka itu akan membuat citra Islam menjadi negatif. Inilah yang oleh Muhammad Abduh (Tokoh Pembaruan Islam Mesir) disebut bahwa "Islam sering kali dihancurkan oleh umatnya." Sehingga, kata Abduh, "tak jarang saya melihat Muslim di Mesir, tapi tak melihat Islam di sana. Tapi saya melihat Islam di Prancis, walaupun saya tak melihat Muslim di sana."

Tuesday, June 16, 2015

Islam Cinta


"Islam Cinta" tentu bukanlah sebuah madzhab atau "isme" dalam Islam. "Islam" dan "Cinta" adalah satu kesatuan yang integral. Cinta adalah salah satu varian dasar dan utama dari Islam. Ada sederet hadist dan ucapan ulama -terlebih syair sufi- tentang itu. Dalam konteks itu, bahkan azab-Nya 'pun tak turun dan berjalan kecuali atas dasar Cinta-Nya. Sehingga, sebagai bagian dari upaya berakhlak seperti akhlak-Nya, maka amar ma'ruf-nahi munkar atau jihad kita 'pun harusnya didasarkan, bernafaskan, dan digerakkan oleh, dalam dan untuk Cinta. Aspek Cinta dalam Islam itu yang sedang diperjuangkan ke permukaan umat Islam Indonesia oleh Haidar Bagir, dkk melalui pembentukan Gerakan Islam Cinta (GIC)-nya sejak 2012 lalu. 

Islam Cinta hadir untuk mencairkan sentimen antar madzhab yang beberapa tahun terakhir ini kerap mengemuka di Indonesia. Ia sekaligus sebuah perlawanan terhadap suara-suara kebencian yang belakangan ini juga kerap muncul mengatasnamakan Islam dan mengoyak sendi-sendi utama Islam kita: mengkafirkan sesama Muslim yang tak sepaham dengan mereka, mengadu-domba madzhab dalam Islam, serta mem-bid'ah-kan Islam Nusantara warisan Wali Songo dan men-thoghut-kan Pancasila yang telah sejak awal kita yakini sebagai prinsip kebangsaan kita yang senafas dengan nilai dasar Islam.  

Islam Cinta juga berarti perlawanan atau penyadaran terhadap berbagai upaya maupun tindakan -yang disengaja atau tak disengaja- yang mereduksi Islam, sehingga Islam menjadi sempit, jumud, terbelakang, dan mengerikan. Bertolak belakang dari misi Allah bagi Islam sebagai rahmatan lil 'alamin: rahmat bagi semesta alam. Islam Cinta berupaya mengembalikan Islam ke khittah-nya yang jelas-jelas ditegaskan oleh-Nya bahwa rahmat-Nya meliputi segala sesuatu yang lebih luas dari -bahkan meliputi- murka-Nya.   

Oleh karena itu, sejak didirikan pertama kali, GIC terbuka, menaungi dan diisi oleh hampir seluruh elemen umat dan tokoh Muslim Indonesia yang meyakini Islam sebagai agama Cinta. Sehingga, dalam pencetusannya, tokoh dari berbagai madzhab, ormas Islam, aliran pemikiran, dan latar belakang turut mengisi dan mendukungnya. 

Sebab, secara konseptual, tak ada alasan untuk tak sepakat dan mendukung Islam Cinta. Tuhan kita adalah Maha Pengasih dan Penyayang, Qur'an juga diawali dengan nama-Nya yang Pengasih dan Penyayang, Nabi Muhammad juga adalah "Nabi Rahmat" (Nabiyu ar-Rahmah), Islam 'pun adalah agama rahmat semesta dan seorang Muslim patut menjadi 'duta' Cinta dengan selalu mengucap salam-rahmat bagi siapa yang ditemuinya.

Apa yang digagas GIC adalah gagasan besar yang menyentuh problem paling mendasar dari krisis Islam kita, bahkan Islam dunia yang bersumbu di Timur Tengah, yakni dengan mengupayakan untuk mengembalikan Islam ke takhta utamanya: singgasana Cinta. Bahkan, lebih jauh lagi, Cinta adalah takhta ke-manusia-an kita. Sebab, atas dasar itulah manusia diciptakan oleh Tuhan. Sehingga dengan dasar itu pula kita akan hidup dan menuju kembali pada-Nya. Dan sebagai Muslim, 'kendaraan' kita untuk kembali pada Cinta itu bernama Islam.

3 Juni kemarin, GIC menyelenggarakan "Festival Islam Cinta" di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Begitulah pengajian ala GIC. Mereka festivalkan Islam Cinta, sehingga keindahan Islam benar-benar mengemuka dan dirasakan umatnya serta umat agama lain. Festival itu tak kalah sakral dan bernilai religius dari pengajian. Namun, dengan format itu, pesan dan rahmat Islam justru lebih mengena dan meluas. Karena memang jalan Islam dan Keselamatan itu begitu luas, seluas rahmat-Nya. (Husein Ja'far Al Hadar, Koran Tempo 16 Juni 2015)

Monday, April 27, 2015

Buku Terbaru: "Menyegarkan Islam Kita"



Judul : Menyegarkan Islam Kita: Dari Ibrahim sampai Hawking, dari Adam hingga Era Digital"
Penulis: Husein Ja'far Al Hadar
Penerbit: Quanta (Elex Media Komputindo)
Bisa didapat di Toko Buku Gramedia seluruh Indonesia atau beli secara online dengan hanya SMS atau WA ke Fadel di 081228241709
Video Resensi Buku ini bisa ditonton di YouTube dengan link ini >> http://bit.ly/1RICJxp
***


Husein Ja'far Al Hadar hidup di tahun-tahun saat Islam memiliki pengalamannya tersendiri yang begitu menarik dan tak kalah menariknya dengan abad-abad lalu yang pernah dilalui oleh sejarah Islam. Islam akhir 1990-an dan awal 2000-an ini adalah Islam yang berhadapan dengan sederet fenomena dan tantangannya: kelas menengah Muslim dengan corak keberislaman yang nge-pop, temuan-temuan sains yang menggemparkan dan dihadap-hadapkan dengan Islam, terorisme atas nama Islam yang anti-Barat, oto-terorisme atas nama Islam yang mempermainkan isu sektarian, hingga Islam di era digital. Esai-esai dalam buku "Menyegarkan Islam Kita" ini memotret semua fenomena itu di saat fenomena-fenomena itu sedang hangat diperbincangkan di media massa. Oleh karena itu, tanpa mengurangi bobot kajian keislaman dalam bingkai filosofisnya, esai-esai dalam buku ini juga memiliki konteks (bersifat kontekstual) yang membuat perbincangannya 'segar'. 

Husein sendiri, walaupun masih muda, memiliki latar belakang, sejarah, persinggungan, serta pergolakan tersendiri yang menjadi salah satu alasan maupun dorongan yang membuat penulis berada dalam pusaran fenomena yang beragam itu, mengamatinya secara seksama, merenungkannya, untuk kemudian menuliskannya menjadi esai-esai dalam rentang waktu sekitar lima tahun di berbagai media massa nasional. Penulis lahir sebagai habib (al-Husaini, dari keturunan Sayyidina Husain), pernah mondok di salah satu pesantren (YAPI Bangil, Jawa Timur) yang menjadikan Syiah sebagai salah satu madzhab Islam yang diajarkan dan dikaji secara terbuka bersama ajaran madzhab-madzhab lain (khususnya Sunni), kuliah (jurusan filsafat) di universitas (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) yang sempat mendapat dua label yang sebenarnya paradoks: liberal dan radikal, aktif membaca dan mengikuti kajian-kajian tentang islamisasi sains (bersama Prof. Mulyadi Kartanegara di CIPSI), menjadi CEO perusahaan yang bergerak dalam industri digital, serta hidup selama delapan tahun di simpul modernisme (Ibu Kota Jakarta). Oleh karena itu, bagi Husein, esai-esai dalam buku ini memiliki kekuatan tersendiri dari pengalaman penulisnya: menjadi bagian dari fenomena yang ditulisnya.

Buku ini adalah kumpulan esai-esai pilihan penulis yang sebagian besar pernah dimuat di media massa nasional (Majalah Tempo, Kompas, Koran Tempo,Media Indonesia, dll) dalam kurun waktu sekitar 5 tahun terakhir. Buku ini semacam kumpulan pemikiran yang selama ini terserak dalam berbagai esai penulis, namun sebenarnya memiliki satu benang merah yang penting bagi keberislaman kita saat ini dan di sini: Indonesia. Di dalamnya memuat beberapa tema pokok: dari pemikiran teologis yang bersentuhan dengan dinding-dinding sains, pemikiran keislaman yang bersemangat 'menyegarkan' tentang berbagai fenomena keislaman, pemikiran seputar pendidikan Islam, rekaman pemikiran tokoh-tokoh besar Islam maupun non-Muslim, pemikiran tentang kebahasaan dalam bingkai Islam yang filosofis, hingga pemikiran dan tantangan Islam di zaman digital. Semua itu menjadi menarik sebagai sebuah buku karena, pertama, disatukan oleh satu tema besar tentang pemikiran keislaman yang maju dan moderat. Kedua, ditulis oleh seorang intelektual muda Muslim Indonesia yang mencoba menghadirkan pemikiran keislaman alternatif yang 'menyegarkan'. Ketiga, hasil renungan filosofis dengan teori-teori filsafat yang mencukupi. Keempat, ditulis dengan gaya penulisan yang populer dan tak menjenuhkan.

Menurut Komaruddin Hidayat (Cendekiawan Muslim sekaligus Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2006-2014) dalam pengantarnya atas buku ini yang berjudul "Menuju Universalitas Islam", buku karya intelektual muda Islam Indonesia yang juga alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini merupakan hasil pembacaan filosofis atas partikularitas zaman yang dihadapi oleh Islam, tentu saja menurut perspektif penulisnya. Mulai dari soal diskursus partikel Tuhan, konsep kosmologi Stephen Hawking, terorisme global, hingga soal fenomena sufisme perkotaan. Oleh Husein, yang berlatar belakang pendidikan filsafat, setiap partikulitas zaman yang dihadapi oleh Islam kemudian coba “diangkat” ke perspektif universal, untuk didialogkan dengan konsepsi keislaman yang relavan dengan persoalan tersebut. Di sinilah terjadi proses dialog antara yang universal dan yang partikular. Karena, menurut Husein, Islam tidak didikte zaman, tidak pula Islam mendikte zaman. Ia ingin menyajikan sebuah sintesa dari keduanya, sehingga terasa baru, meskipun dari elemen-elemen klasik. Sebuah Islam yang relevan dengan kebaruan zaman, tanpa mengalami krisis esensi-substansi. Mungkin inilah yang dimaksud dengan “menyegarkan Islam” yang dimaksud Husein dalam buku ini. 

Selanjutnya, tulis Komaruddin Hidayat, sekalipun Husein termasuk seorang intelektual muda, namun buku ini memiliki keseriusan dalam menyajikannya, sebuah pendekatan yang segar layaknya pemikiran  seorang anak muda yang peka dengan dinamika zaman. Dalam tulisan Beragama di Era Digital, misalnya, pembaca akan merasakan betul bahwa tantangan Islam kini dan esok, salah satunya pada persoalan semakin digitalnya zaman. Semua dimensi kehidupan diformulasikan secara digital. Digitalisasi adalah tantangan teraktual Islam kini dan di masa mendatang, yang secara peka dicium oleh penulis buku ini. Dimanakah Islam, saat nanti dunia dijalankan dengan byte-byte teknologi digital? Tergilas oleh digitalisasi, atau bersembunyi dari digitalisasi? Bagi Husein, keduanya bukan opsi. Ada opsi ketiga hasil pemaduannya atas universalitas Islam dan partikularitas zaman. Seperti inilah kesegaran-kesegaran Islam yang dihidangkan buku ini. 

Oleh karena itu, Komarddin Hidayat menyampaikan apresiasi atas lahirnya karya tulis ini, di saat masyarakat lebih menyenangi budaya bicara dan menonton, bukannya merenung dan menulis. Menurutnya, Islam Indonesia membutuhkan proses pembacaan terhadap realitas aktual yang terus dinamis, agar tidak gagap dan kehilangan arah berhadapan dengan progresifitas zaman. Tidak juga kehilangan jati diri sebagai bangsa religius yang sangat besar potensinya. Selamat membaca. 

Adapun menurut Anies Baswedan (Menteri Pendidikan Kebudayaan Dasar dan Menengah) dalam endorsementnya, "berkat kepiawaiannya dalam menganalisa dan berefleksi, Husein menulis buku yang membahas tema-tema rumit, seperti perihal filsafat dan teologi, menjadi lebih mudah dicerna. Dengan pembahasan ringan dan sekali-tuntas, buku ini tepat untuk menjadi teman refleksi pada saat-saat santai." Sedangkan menurut Dr. Haidar Bagir (Pakar Filsafat Islam, Ketua Gerakan Islam Cinta), "buku ini hasil dialog penulisnya dengan berbagai wacana dan problematika kontemporer dalam ranah keagamaan dan keislaman. Pembaca akan dibawa menelusuri berbagai isu-isu aktual yang hingga kini masih ramai diperbicangkan. Mulai dari soal Partikel Tuhan, konsep ketuhanan ala Albert Einstein dan Stephen Hawking, hingga soal terorisme global. Dengan caranya sendiri, buku ini memutaakhirkan wawasan kita tentang berbagai soal kontemporer penting dengan bahan-bahan dan informasi yang bisa diandalkan." Dan, menurut Imam Shamsi Ali (Imam Besar Islamic Center of New York, Amerika Serikat), "buku ini membuka mata dan membawa harapan baru, sekaligus mendorong semangat baru bagi umat ini untuk membangun karya, sehingga kegemilangan Islam tidak saja menjadi sebutan sejarah, tapi kembali memenuhi harapan umat manusia di abad ini.".

Akhirnya, semoga karya ini dapat ikut mewarnai khazanah keilmuan dan keislaman di Indonesia. Demi Islam yang 'segar', Islam Indonesia. 

Sunday, April 26, 2015

Beragama di Tengah Kekacauan

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Dimuat Kompas 27/4/2015)

Sejarah Islam telah terbentang selama sekitar 14 abad. Ada beragam nilai, hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari sana. Mengutip Murtadha Muthahhari (filosof Muslim Iran kontemporer), sejarah memiliki nilai epistemologis. Sejarah adalah sumber pengetahuan. Sering kali, masa depan justru terlihat gamblang dan cerah dengan kacamata masa lalu. Sebab, mengacu pada Hegel, gerak sejarah melahirkan tesis, antisesis, dan sintesa, serta begitu seterusnya. Sehingga, apa yang pernah ada dalam sejarah bisa menjadi pegangan bagi kita dalam menatap dan menjalani saat ini dengan segala fenomena dan tantangannya. Termasuk dalam konteks keislaman.

Kini kita sampai pada suatu masa sulit bagi umat Islam di dunia, tak terkecuali Indonesia. Suatu masa yang bisa disebut sebagai masa kekacauan. Kita sedang menghadapi apa yang bisa kita sebut di Indonesia dengan istilah "darurat terorisme", dengan Islamic State (IS) sebagai aktor utamanya dan berbagai kekacauan di Palestina, Irak, Suriah, hingga Yaman. Kekacauan yang terjadi menjadi mengerikan bukan hanya karena menghabiskan dan menumpahkan ratusan ribu nyawa dan darah dengan cara yang keji. Tapi juga karena kekacauan itu terjadi akibat 'perselingkuhan' antara agama (Islam) dan politik. Sebuah 'perselingkuhan' klasik yang sering terjadi dan berulang akibat 'seksi'-nya isu agama dalam kacamata politik rendahan yang propagandis. 

Dan, sejarah mencatat bahwa kekacauan semacam ini pernah terjadi pada abad 11-13 M. Masa itu bisa disebut sebagai salah satu masa paling kacau dalam sejarah dunia Islam. Masa kacau itu terjadi dalam bentuk yang berbeda-beda di beberapa wilayah: dari Perang Salib, invasi Mongol, perpecahan akut Dinasti Abbasiyah, hingga kekacauan yang ditimbulkan oleh Ibadiyah (sekte paling ekstrem dari Khawarij) dan Qaramitah. Namun, meskipun bentuknya berbeda-beda di tiap kawasan di Timur Tengah, semua kekacauan itu memiliki akar yang sama sebagaimana yang terjadi saat ini, yakni berbasis pada sentimen dan propaganda agama atau madzhab.    

Merespon kekacauan itu, setidaknya ada dua kecenderungan dan sikap yang muncul dari kalangan ulama Islam. Pertama, kecenderungan dan sikap ekstrem. Kecenderungan dan sikap ini berupaya membangun politik identitas (Muslim) yang 'sentimen' terhadap musuh-musuh Islam saat itu, serta mengkritalisasi doktrin-doktrin Islam agar kaku, paten, dan berdiri sendiri secara angkuh. Kecenderungan dan sikap ini diwakili oleh Ibn Taimiyah dalam konteks Perang Salib dan invasi Mongol. Kedua, sebaliknya, yakni kecenderungan dan sikap moderat. Kecenderungan dan sikap ini berupaya membangun politik akomodatif yang toleran, mencari titik temu, dan merangkul kelompok di luar Islam, bahkan meskipun oknum-oknum politiknya saat itu menjadi musuh dan penyerang kaum dan negara Muslim. Juga, mengambil jarak dari politik guna menyelamatkan tradisi dan peradaban keilmuan Islam, meskipun tetap memberikan pengaruh positif dalam upaya menyelesaikan kekacauan politik yang terjadi. Kecenderungan dan sikap ini diwakili oleh ulama dalam jaringan 'rahasia' bernama Ikhwan as-Shafa di tengah perpecahan akut Dinasti Abbasiyah, sufi tersohor Jalaluddin Rumi, dan para habaib Hadhramaut (Yaman) menghadapi Ibadiyah dan Qaramitah. 

Adapun dalam konteks kekacauan di masa kita saat ini, tak sedikit umat Islam yang mengarah pada kecenderungan ekstrem ala Ibn Taimiyah. Kita seolah lupa kalau di samping itu kita memiliki kecenderungan lain yang dibangun dan diteladankan oleh nama-nama besar seperti Ikhwan as-Shafa, Rumi, dan para habaib Hadhramaut. Padahal, menurut penulis, kecenderungan ala mereka yang justru tepat untuk dipelajari, dipilih, dan diterapkan dalam merespon kekacauan di masa kita saat ini. Sebab, pertama, kini kita hidup di dunia yang modern dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, HAM, kebebasan, kemoderatan, toleransi, dst. Kecenderungan sikap ala Ibn Taimiyah ternilai tak sesuai dengan konteks yang melingkupi kita saat ini. Justru kecenderungan yang moderat 'lah yang bisa menjadi solusi, memberi titik terang, sekaligus mempertahankan citra Islam sebagai agama lintas zaman dan rahmatan lil 'alamin dengan peradabannya yang agung. Kedua, kecederungan ekstrem cenderung menarik agama ke simpul konflik berbasis politik. Sehingga, kecenderungan itu akan rentan menjadikan agama dipermainkan secara politis oleh kepentingan kelompok yang terlibat dalam konflik guna memperakut benang kusut kekacauan yang terjadi dan berkembang, serta menjadikan agama tereduksi dari sebuah nilai yang berorientasi luhur dan kedamaian menuju aturan berorientasi keduniawian dan sarat konflik. Adapun kecenderungan moderat justru positif karena akan membuat agama berjarak dengan politik, namun tetap mengambil peran proporsional dan strategis dalam membantu penyelesaian konflik yang terjadi tanpa harus terjebak dalam pusaran konfliknya. Dengan begitu, agam juga akan terus bertahta dalam keagungannya. Ketiga, kecederungan ekstrem akan membuat agama statis, kaku, dan gersang karena sibuk dan terlibat dalam kekacauan politik yang terjadi dan terpecah-belah akibat kepentingan-kepentingan kelompok yang sedang berkonflik. Sedangkan kecenderungan moderat akan membuat agama terus berkembang dan luwes karena aktifitas keilmuan dan keagamaannya akan terus berjalan tanpa harus tersita atau terpecah-belah akibat kekacauan yang terjadi.

Ajaran, ilmu, dan peradaban Islam harus diselamatkan di tengah kekacauan saat ini. Relasi yang harus dibangun adalah Islam berperan dalam menyelesaikan kekacauan politik yang terjadi, bukan sebaliknya: politik menarik dan mempropaganda Islam untuk kekacauan yang diciptakannya, sehingga keberadaan Islam justru memperakut konflik yang terjadi dan Islam sendiri terpecah-pecah mengikuti friksi yang terjadi dalam kekacauan politik yang terjadi. Ikhwan as-Shafa melakukannya dengan membangun sinkretisme dan persaudaraan universal yang lintas agama, madzhab, bangsa, dll, Rumi melakukannya dengan bersyair sufistik untuk menjaga nilai-nilai dasar Islam (khususnya dalam tasawuf) dan mencairkan suasana secara syahdu, sedangkan para habaib melalui founding father-nya -yakni Faqih al-Muqaddam- melakukannya tindak simbolik yang sangat populer dengan mematahkan pedang sebagai simbol gagasan perdamaian yang kemudian ditindaklanjuti dengan membangun peradaban madani yang berbasis pada tasawuf akhlaqi (tasawuf praktis) hingga tersebar ke Indonesia. Itulah teladan keberagamaan kita di tengah kekacauan saat ini. 

Untuk Islam, Kami Titip Hadhramaut pada Yaman!

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Versi Ringkas Tulisan ini Pernah Dimuat Koran Tempo 16/4/2015 dengan judul "Titip Hadhramaut kepada Yaman")

Yaman bergolak. Sejak Arab Spring 'berhembus' ke negeri itu, hingga kini Yaman terus terjebak dalam status quo. Di bawah rezim Ali Abdullah Saleh, rakyat Yaman merasakan jauh dari apa yang mereka harapkan dari sebuah bangsa. Saat Musim Semi Arab bersemi di sana dengan tumbangnya rezim Ali Abdullah Saleh, harapan itu sempat terbesit kembali, namun kembali sirna seiring kegagalan Abd. Rabbu Mansour Hadi melakukan rekonsiliasi nasional dan mengelola tunas demokrasi yang baru tumbuh di sana. 

Houthi yang telah lama ikut berjuang, menjadi salah satu kelompok penting penggagas Musim Semi Arab di Yaman, dan merindukan iklim demokrasi untuk ikut dalam kontestasi kenegaraan dan kebangsaan membangun Yaman, justru kembali diabaikan. Padahal, Houthi adalah salah satu kelompok penting dan berpengaruh di Yaman yang di tengah status quo menyelimuti Yaman sejak Ali Abdullah Saleh hingga Abd. Rabbu Mansour Hadi, terus menjaga asa rakyat Yaman akan kejayaan negeri itu suatu hari dengan berfokus pada pendidikan dan kebudayaan. Mereka merindukan terbukanya kran demokrasi di sana justru karena mereka telah menyiapkan basis-basis utama bagi demokrasi, yakni pendidikan dan kebudayaan. Sebab, tanpa itu, jika 'pun Yaman berkembang dan maju, namun nihil akan basis pendidikan dan budaya. Sehingga, tak ada artinya demokrasi, karena akan dinikmati oleh segelintir kekuatan hegemon dari dalam maupun luar dan kosong identitas serta harga diri.

Namun, terlepas dari hiruk-pikuk politik yang mengakibatkan pergolakan di Yaman itu, ada perkara yang penting, bukan hanya untuk Yaman, melainkan untuk Islam. Oleh karena itu, perkara ini harus disadari dan dijaga bersama oleh pihak-pihak atau kelompok-kelompok yang sedang berkonflik di sana. Perkara itu yakni Hadhramaut. 

Secara geo-ekonomi, Hadhramaut memang bukan kawasan yang menarik. Sejak sebelum Masehi, kawasan itu telah dipisahkan dari wilayah Arab lain oleh Rub Al-Khali sehingga populer disebut kawasan kosong (empty quarter). Masyarakatnya Hadhramaut dulu menyebut kawasannya itu sebagai al-wadi wa al-shahra’ (lembah dan padang pasir), karena memang begitulah keadaan geografis kawasan itu. Kondisi geografis yang tak menarik itu bahkan hingga membuat nama "Hadhramaut" sendiri dilegendakan dengan sesuatu yang ironi. Ada sebuah legenda yang juga terkenal tentang asal mula nama "Hadhramaut" yang mengisahkan bahwa kawasan itu dinamai Hadhramaut karena dalam kawasan itu terdapat sebuah pohon yang disebut al-liban. Dalam kepercayaan masyarakat Hadhramaut, pohon itu memiliki bau yang sangat mematikan. Sehingga, setiap orang yang datang (hadr, dalam bahasa Arab) ke sana dan mencium bau pohon itu akan mati (maut, dalam bahasa Arab). Maka, para ahli bahasa kemudian mengaitkan legenda tersebut dengan penamaan atas Hadramaut yang dinilai tersusun dari dua kosa kata; hadr dan maut. Namun, sebenarnya nama "Hadhramaut" diriwayatkan berasal dari nama anak Qathan Bin Abir Bin Syah Bin Arpakhasad Bin Sam Bin Nuh yang salah satunya bernama Hadhramaut. Hadhramaut memiliki saudara bernama Oman yang kemudian diadopsi menjadi nama daerah Oman serta Ya’rab dan Jurham. Namun, raja pertama kawasan Hadhramaut adalah saudaranya yang bernama Ya’rab, bukan Hadhramaut itu sendiri. Riwayat ini salah satunya dapat ditemui dalam Injil Perjanjian Lama pada Pasal Kejadian (10): 21-32. Tetapi, fakta sejarah tentang riwayat ini masih sangat minim, sehingga butuh kajian arkeologis yang mendalam dan kritis untuk menelusuri riwayat tersebut serta sejarah Hadhramaut sejak awal berdirinya. 

Akan tetapi, meskipun secara geografis tak menarik, dalam aspek pendidikan-budaya dan sosio-religio, Hadhramaut merupakan kawasan penting. Hadhramaut adalah salah satu pusat peradaban Islam di Timur Tengah. Sejarah kawasan ini hingga terukir dalam Qur’an Surat Al-Ahqaf (26): 21, di mana Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebut bahwa yang dimaksud Al-Ahqaf dalam ayat tersebut adalah kawasan Hadhramaut, tempat tinggal Kaum ‘Ad, kaumnya Nabu Hud. Bahkan sejarahnya bisa ditemui dalam Injil Perjanjian Lama pada Pasal Kejadian (10): 21-32. Wa’il Bin Hajar Al Hadhrami (raja dari Dinasti Hadhramaut) tercatat di barisan pertama yang masuk Islam, bahkan jauh sebelum Nabi Muhammad mengutus utusannya ke sana untuk mengislamkan kawasan penting bagi Nabi Muammad itu. 

Sejak penghujung abad IX M, seiring dengan hijrahnya Imam Ahmad al-Muhajir ke Hadhramaut dari Bashrah (Irak) untuk misi dakwah dan membangun peradaban Islam di sana, Hadhramaut mulai menjadi salah satu pusat peradaban Islam sebagaimana Kairo, Baghdad, Najaf, Qom, dll. Dari kawasan itu pula, embrio masyarakat madani Islam kemudian tersebar luas ke seantero dunia; dari Afrika, India hingga kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. (Thariqah ‘Alawiyyah, 2001) Hingga abad ke 17 M, diperkirakan terdapat 300 ahli fiqh dan 80 wali di Tarim, salah satu kota di Hadhramaut, yeng mengajarkan ilmunya di masjid-masjid hingga masjid di sana layaknya pesantren atau universitas Islam. 

Hadhramaut adalah aset penting Islam, bukan sekadar Yaman. Oleh karena itu, pihak yang berkonflik patut menyadarinya dan menjaganya di tengah kecamuk Yaman saat ini. Bahkan, tepat jika PBB melalui UNESCO menginstuksikan itu, mempertimbangkan kayanya nilai budaya dan peradaban di sana. Di tengah ironi kecamuk politik apapun, agama dengan seluruh asetnya harus diamankan dan dijaga bersama oleh siapapun, termasuk mereka yang berkonflik. Apalagi, jangan sampai, agama dijadikan isu untuk pragmatisme politik pihak yang berkonflik, seperti dikait-kaitkannya konflik Yaman dengan isu Sunni-Syiah. Sebab, selain itu tak ada dan bahkan ditentang dalam agama, juga karena sejarahnya sejak dulu Sunni-Syiah berdampingan, bergandengan, dan bergotongroyong membangun peradaban Islam di Hadhramaut. Bahkan, sejak dulu, Hadhramaut menjadi negara paling damai dalam konteks isu Sunni-Syiah, karena penganut Sunni dan Syiah di sana walaupun sama-sama besar dan kuat, namun terus bergandengan tangan sebagai saudara. Sehingga, justru sebaliknya, agama harusnya dijadikan 'obat penawar' bagi kecamuk Yaman. Sehingga, dari Hadhramaut 'lah, harapan masa depan Yaman yang damai kita gantungkan. 

Kemerdekaan Palestina

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Dimuat Koran Tempo 24/4/2015)

Salah satu agenda sekaligus misi utama peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Jakarta dan Bandung adalah kemerdekaan Palestina. Hal ini menjadi begitu signifikan bukan hanya karena merupakan amanat UUD 1945, atau karena bangsa Palestina berperan penting dalam pengakuan Kemerdekaan RI 1945, atau pula sebagai implementasi dari salah satu janji kampanye Presiden Joko Widodo (Jokowi). Tapi juga juga karena Palestina salah satu anak tangga penting menuju cita-cita perdamaian global. Yang terakhir ini yang sering terlupakan. Dan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (almarhum) telah jauh-jauh hari mengingatkan kita bahwa "perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi."

Kita memang kerap berilusi. Artinya, tahu tujuan tapi tak tahu atau malah salah jalan menujunya. Salah satunya seperti disindir oleh lirik lagu Perdamaian yang dipopulerkan grup kasidah Nasida Ria: "Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai." Kita cinta, rindu, dan bervisi akan perdamaian, namun masih berdiri di atas dogma politik klasik menyesatkan peninggalan era kekaisaran Romawi: "Si vis pacem, para bellum" (Bila Anda ingin damai, siapkanlah perang).

Ilusi ala Romawi itu kemudian diformat ulang oleh Israel menjadi ilusi lain, yakni perdamaian tanpa keadilan. Israel selalu mengatakan bahwa perdamaian bisa tercapai asalkan Palestina menyepakati kesepakatan yang dibuat secara tak adil oleh mereka. Ilusi itulah yang digebrak Gus Dur. Keadilan adalah syarat mutlak tercapainya perdamaian. Tanpa keadilan, perdamaian hanya ilusi atau, jika pun tercapai, hanyalah semu. Sebab, perdamaian bukan kesepakatan. Ia hanya bisa tegak jika pihak-pihak yang terkait merasa telah diperlakukan dan mendapat keadilan. Karena itu, dalam kaitan dengan konflik Israel-Palestina, kesepakatan demi kesepakatan terus ditorehkan, namun semua itu semu dan ilusi.

Karena itu, Presiden Sukarno dalam Pidato HUT Proklamasi 1946 menegaskan, "Kita bangsa yang cinta perdamaian, tetapi lebih cinta kemerdekaan." Sebab, sebagaimana Gus Dur, Bung Karno tahu, sadar, dan yakin bahwa mustahil akan tercapai perdamaian tanpa kemerdekaan sebagai asas paling dasar dari keadilan; dan jika kemerdekaan tercapai, langkah menuju perdamaian tinggal menunggu waktu dan selangkah lagi. Karena itu, kita bisa baca bagaimana Presiden Sukarno mengartikan kemerdekaan seperti ditulisnya dalam Indonesia Menggugat dengan mengutip perkataan Erskin Childers, salah seorang pemimpin Irlandia, bahwa, "Kemerdekaan bukanlah soal tawar-menawar. Dia ada atau tidak ada. Kalau orang menguranginya, maka itu bukan kemerdekaan." Persis, bahwa kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan bukan perkara kesepakatan.

Akhirnya, memang sering kali perdamaian tak pernah tercapai, karena memang kita tak tahu jalan menuju ke sana. Kita bersyukur karena para pendiri dan tokoh negeri ini tahu betul hakikat perdamaian. Karena itu, mereka menjadi pencetus KAA 1955 dan melangkah konkret dengan membentuk Gerakan Non-Blok (GNB) 1961. Sebab, perdamaian tak kan pernah tercapai dengan kita miring ke Timur atau Barat, melainkan hanya jika kita tegak, lurus, dan di tengah. Itulah keadilan. Itulah yang ingin kembali ditorehkan dalam peringatan KAA kali ini, dengan kemerdekaan Palestina sebagai 'harga mati'. Titik! 

Friday, March 6, 2015

Visi Keberagamaan Presiden

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Dimuat Koran Tempo, 6/02/2015)

Saat pertama kali terpilih menjadi Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) langsung menerima kunjungan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair di kediamannya. Di sana, Blair sempat bertanya pada Jokowi terkait langkah pemerintahannya ke depan dalam menghadapi gerakan ekstremis yang mengatasnamakan agama. Pertanyaan itu memang sangat relevan dengan Jokowi selaku Presiden Indonesia. Pasalnya, pertama, isu gerakan ekstremis atas nama agama (khususnya Islam dalam kaitannya dengan Islamic State, IS) memang menjadi salah satu isu besar dan utama di kancah global, dengan Timur Tengah sebagai pusarannya. Isu itu menjadi ancaman bagi dunia, apalagi Indonesia dengan mayoritas penduduknya Muslim. Kedua, Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk Muslim terbesar di dunia dan corak keislamannya yang khas dinilai bisa menjadi alternatif bagi Islam di Timur Tengah yang telah lama carut-marut akibat isu ekstremisme dan sektarian.

Menjawab pertanyaan itu, Jokowi dengan tegas dan terus terang mengaku tak sepaham dengan kebijakan sebagian negara-negara Barat yang langsung mengambil jalan pendekatan militer (security approach) untuk membendung ekstremis. Menurut Jokowi, cara yang paling ampuh untuk menangkal gerakan-gerakan itu dengan pendekatan keagamaan (religion approach) dan budaya (culture approach).Menurut penulis, pendekatan keagamaan dan budaya merupakan dua modal besar Islam Indonesia. Jika keduanya bisa dijalankan beriringan, di samping pendekatan militer atau hukum, Indonesia berpeluang menjadi 'kiblat' bagi pola keberislaman masyarakat Muslim global dan penanganan ekstremisme agama.

Pertama, dalam konteks pendekatan keagamaan, Islam Indonesia memiliki corak yang berbeda dengan Islam Timur Tengah. Islam Indonesia sejak awal masuknya telah berbasis kemoderatan, bukan penaklukan. Islam Indonesia lebih kental akan nuansa dakwah berorientasi cinta-kasih dan toleransi berbasis tasawuf yang salah satu sumber utamanya adalah Hadhramaut (Yaman), bukan Arab Saudi, Irak atau negara-negara Timur Tengah lainnya yang sejak dulu dikenal memiliki keberislaman yang berbasis dan berorientasi hukum. Meminjam istilah Jalaluddin Rakhmat (cendekiawan Islam Indonesia), Islam Indonesia lebih mendahulukan akhlak (dan kemaslahatan) ketimbang fiqih (dan persinggungan).

Kedua, dalam konteks pendekatan budaya, Islam Indonesia sejak awal dibawa masuk dengan corak akulturatif: mengindonesiakan Islam, bukan mengislamkan Indonesia. Oleh karena itu, Islam kemudian menjadi bagian dari tradisi Indonesia, bukan justru Indonesia dipaksa menjadi bagian dari 'dinasti' Islam. Kita jeli dalam memisahkan antara ajaran Islam dan budaya Arab untuk kemudian menyerap Islamnya saja dan mengakulturasikannya dengan budaya Indonesia. Sehingga, sebagaimana dikemukakan Azyumardi Azra (sejarawan Islam Indonesia), Islam Indonesia yang terbentuk adalah Islam yang 'berbunga-bunga' (flowery Islam): 'bunga-bunganya' berupa budaya dan kearifan lokal Indonesia yang hampir bisa ditemui di setiap ajaran atau ritual Islam kita, dan tentunya tanpa mengubah sedikit 'pun substansi ajaran Islamnya. Berbeda dengan Islam Timur Tengah yang 'gersang'.

Dua pendekatan itu yang, walaupun telah begitu apik dan gagah disampaikan oleh Presiden Jokowi, namun belum terlihat dan terasa implementasinya. Justru, pendekatan hukum yang kian tampak sedang serius digarap oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin berupa pembentukan "RUU Perlindungan Umat Beragama". Tentu, pendekatan hukum itu penting sebagai perangkat perlindungan akhir bagi kasus-kasus kekerasan agama. Namun, kita mendesak butuh dua pendekatan itu agar kita bukan terus menindak kasus, tapi mengantisipasi penyebab dan akar-akar munculnya.