Tuesday, January 13, 2015

Cara Merespon Penghinaan ala Nabi

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Dimuat Koran Tempo, 13 Januari 2014)

Alkisah, saat Nabi di Thaif, beliau bukan hanya dicaci dan dihina, namun diusir dengan lemparan batu. Melihat itu, Jibril datang menghampiri Nabi dan menawarkan untuk membinasakan seluruh pelaku kejam pada Nabi di Thaif itu dengan menimpakan gunung pada mereka. Namun, Nabi menolaknya dan justru mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah dan keturunannya dikaruniai nikmat Islam. Dan, sejarah mencatat, kesabaran, kebijaksanaan dan sikap rahmat Nabi itu justru berhasil membuat budak Nasrani bernama Addas terkesima pada beliau dan masuk Islam, serta Thaif 'pun akhirnya beberata tahun kemudian menjadi salah satu kota yang dikuasai Nabi dan Islam.

Begitulah teladan Nabi dalam membalas penghina atau bahkan penyerangnya, sekaligus mencari kemenangan atas mereka. Dan itu hanyalah salah satu yang populer di antara berbagai penghinaan dan penyerangan pada Nabi yang secara konsisten beliau balas dengan rahmat. Perang yang beliau lakukan 'pun tak lebih sebagai bentuk rahmatnya: untuk menyadarkan musuh-musuhnya. Itulah yang kemudian, misalnya, diteladani oleh Sayyidina Ali yang secara konsisten membalas perlakukan buruk para Khawarij -termasuk pembunuhnya- dengan rahmat. 

Hinaan dan perlakukan buruk itu sering kali terulang pada nama, karya, atau simbol-simbol Nabi lainnya di masa-masa pasca-wafat Nabi, termasuk di Perancis oleh Charlie Hebdo atau fitnah "Fitna" di Belanda. Dan, mungkin, hal serupa akan terus ada di setiap zaman dan belahan dunia. 

Maka, terhadap penghinaan pada Nabi itu, kita patut meresponnya sebagaimana Nabi meresponnya dulu, yakni konsisten dengan jalan rahmat. Hinaan atau fitnah semacam itu bisa jadi muncul karena ketidaktahuan yang berpondasikan fanatisme dan sentimen. Terhadap mereka, Nabi meneladankan agar kita mengoreksi, mengajari dan mendoakan mereka. Di samping itu, hinaan atau fitnah semacam itu bisa jadi dimunculkan atas dasar pengetahuan dan kesadaran sebagai propaganda untuk memancing naluri rendah (nafsu) kita agar kemudian kita melakukan tindakan hina dan buruk citra kita serta menjadi kalah. Maka, atas hal itu, Nabi meneladankan agar kita tak terpancing oleh mereka dan tetap konsisten untuk membalasnya dengan bijak dan rahmat. Sebab, keburukan (ke-munkar-an) patut dijawab dengan kebaikan (ke-makruf-an) agar tak membentuk lingkaran setan yang tak ada ujungnya. Lagi pula, kita belajar pada Nabi bahwa kebenaran yang disampaikan dengan baik saja -seperti Nabi lakukan di Thaif- belum tentu diterima, apalagi jika kita sampaikan dengan buruk. Nabi meneladankan agar kebenaran dan kebaikan serta niat dan cara berjalan beriringan. Adapun yang diperlihatkan oleh para ekstrimis-teroris penyerang Charlie Hebdo itu adalah 'pembajakan' kemuliaan dan nama besar Nabi untuk memfasilitasi dan melegitimasi nafsu dan misi ekstrimis dan teroris mereka.   

Pada akhirnya, yang ingin disaksikan dunia tentang semua penghinaan itu adalah sikap umat Islam dalam meresponnya. Kesalahan, apalagi keburukan, kita dalam meresponnya hanya akan menyebabkan kita tejebak dalam kehinaan serupa atau terjebak dalam perangkap propaganda mereka. Sehingga, sejatinya kita telah berarti meneladani para penghina itu, bukan justru meneladani Nabi. Sebagaimana kata Kiai Mustafa Bisri, yang menghina agama kita takkan bisa merusak agama kita. Yang bisa merusak agama kita justru perilaku kita yang bertentangan dengan ajaran agama (dan teladan Nabi) kita. Islam atau Nabi takkan hina karena (hinaan) orang lain, tapi akan hina karena perlakukan tak islami dari umat Islam dan Nabi itu sendiri.

Friday, January 2, 2015

Muhammad; Sebuah Narasi Besar

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Pernah Dimuat Koran Tempo, 13 Februari 2011)    

          Kesan yang ditampilkan Karen Armstrong tentang Nabi Muhammad dalam Muhammad; Prophet For Our Time yaitu sembari mengungkap dan memperkenalkan sosok Muhammad sebagai seorang mistikus –bukan nabi- yang memiliki kedekatan dan menjalin hubungan transendental dengan Tuhan dari puncak gunung atau dalam gua. Armstrong juga berkonsentrasi pada sosok Muhammad sebagai seorang reformer politik dan sosial yang piawai. Malah, yang kedua ini justru lebih kuat dan dominan dalam karya Atmstrong tersebut.
            Menurut penulis, Armstrong mewakili cara pandang orang-orang Barat terhadap Muhammad. Seperti Armstrong, orang-orang Barat cenderung membangun perspektif dan narasinya tentang Muhammad lebih pada aspek antroposentris beliau ketimbang aspek transendentalnya. Selain karena faktor rasionalisme yang begitu ketat mempengaruhi paradigma masyarakat Barat modern hingga tak menyisakan ruang apresiasi bagi variabel-variabel yang bersifat mistik, seperti kata Armstrong dalam Muhammad; A Biography Of The Prophet. Yang jauh lebih kuat dan penting yaitu faktor keyakinan orang-orang Barat yang berdiri di atas pondasi iman (Kristen) bahwa hubungan langit dan bumi telah terputus dengan kehadiran Yesus Kristus, sebagaimana diungkapkan Alwi Shihab, cendekiawan Muslim pakar perbandingan agama, dalam catatan kritisnya terhadap terjemahan karya William E. Phipps (1998) tentang Muhammad dan Isa. Oleh karena itu, walaupun kita akan mendapatkan perspektif dan narasi yang kental akan pujian dan kekaguman terhadap Muhammad dari orang-orang Barat seperti Will Durant, George Sale, Timothy hingga Edward Gibbon. Namun, semua itu lebih berbasis aspek antroposentrisnya. Mereka tetap tak pernah mengakuinya sebagai seorang nabi.
            Sebagaimana pandangan Alwi Shihab, memang terasa mustahil bagi umat Islam jika berharap orang-orang Barat (Kristen) itu bersedia untuk mengakui Muhammad sebagai nabi yang diutus untuk seluruh manusia. Sebab, itu berarti mereka mengkafiri iman Kristen mereka yang tidak mengakui kenabian pasca-Yesus Kristus. Yang terjauh mungkin pandangan semacam yang dikemukakan Paul Of Antioch yang mengakui kenabian Muhammad khusus untuk orang Arab yang dinilainya pandangan itu tidak menyalahi iman Kristen. Oleh karena itu, perspektif ala Armstrong dan Paul Of Antioch tersebut sebenarnya patut diterima secara penuh, memuaskan dan legowo oleh umat Islam sebagai pandangan yang objektif terhadap Nabi Muhammad. Pandangan semacam itu juga patut dirasa cukup oleh kita untuk menjadi titik temu sekaligus titik tolak guna membangun toleransi dan kerukunan antar kita (umat Islam) dengan orang-orang Barat (Kristen). Sehingga, tak akan ada lagi fenomena kekerasan –apalagi konflik- bernuansa agama seperti yang beberapa hari lalu terjadi di Temanggung.
            Sebenarnya, paradigma semacam itu pula lah yang patut dibangun dalam relasi antara Islam dan Ahmadiyah. Ada baiknya jika umat Islam memandang Mirza Ghulam Ahmad sebagaimana orang-orang Barat (Kristen) memandang Nabi Muhammad dan masyarakat Ahmadiyah (khususnya Qadian) memahami pandangan itu sebagai pandangan yang objektif serta kemudian menerimanya secara puas dan legowo. Yang terjauh mungkin pandangan sebagian umat Islam yang bersedia mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang mujaddid (pembaharu) –bukan seorang nabi- sebagaimana diyakini Ahmadiyah Lahore (Gerakan Ahmadiyah Indonesia). Sehingga, semacam insiden yang baru-baru ini terjadi di Cikeusik takkan kembali terulang. Begitulah sebaiknya pola toleransi dan kerukunan umat beragama dibangun dalam tatanan keberagamaan masyarakat kita; mendialogkan dan menyatukan apa yang selaras dan beririsan serta menyadari dan saling memahami secara legowo tentang apa yang mustahil untuk dikompromikan. Itulah salah satu renungan dan hikmah kontekstual paling relevan untuk umat Islam, khususnya di Indonesia, pada momentum Maulid Nabi Muhammad kali ini.
            Bertolak dari situ, dalam momentum Maulid Nabi Muhammad kali ini, maka ada baiknya bila umat Islam memilih untuk bersikap toleran dan menghargai aspek-aspek yang berada pada wilayah iman-transendensial, khususnya terkait Nabi Muhammad. Sebab, aspek itu berada dalam ‘radius’ keyakinan yang mustahil untuk dikompromikan. Sehingga, seharusnya aspek antroposentris sosok Muhammad lah yang kemudian patut dieksploitasi, apresiasi dan dialogkan secara intensif. Pasalnya, justru dimensi antroposentris Muhammad itulah wujud Islam yang ‘hidup’, kontekstual dan relevan tersimpan. Oleh karena itu, Murtadha Muthahhari (1989) menyebut Muhammad dan sejarahnya sebagai salah satu sumber (hukum) Islam. Diri beliau juga merupakan implementasi dari Islam. Dengan demikian, kita akan lebih ‘dekat’ dan mudah memahami Islam dari sosok Muhammad, khususnya untuk ‘konsumsi’ zaman ini.
            Nah, dalam konteks antroposentrisnya, Muhammad kemudian kita kenal; pertama, sebagai seorang pemimpin yang ternilai mampu melepaskan masyarakat Arab-Jahiliyah kala itu dari kultur sosial yang sarat dengan benih-benih fanatisme dan diskriminasi, baik dalam tatanan suku-qabilah, strata sosial-ekonomi hingga gender. Lalu merekonstruksi suatu tatanan sosial masyarakat Arab yang berlandaskan pada nilai-nilai egalitarianisme, pluralisme dan toleransi.
            Kedua, sebagai sosok yang mampu mereformasi corak perpolitikan dan kepemimpinan yang cenderung otoriter-hegemonik. Melalui Negara Madinah, Muhammad SAW menampilkan dan mengembangkan suatu tatanan politik masyarakat yang cenderung berlandaskan pada nilai-nilai demokrasi. Beliau membangun basis dan kekuatan politik-kepemimpinannya justru dari kalangan rakyat yang terpinggirkan (mustadhafin). Pada titik ini, momentum Maulid Nabi ternilai relevan untuk menjadi kritik sosial-politik bagi corak kepemimpinan di Timur Tengah, khususnya Mesir, yang otoritarianisme dan berbasis ‘ningrat’ sekaligus spirit serta landasan bagi kalangan menengah dan terpinggirkan di sana.
            Sebagaimana disadari dan dinasehatkan Armstrong, kita patut menjadikan sosok Muhammad sebagai titik berangkat yang baik dengan memahaminya sebagai sosok kompleks yang menolak kategorisasi dangkal yang didorong oleh ideologi semata. Sosok genius luar biasa yang mendirikan sebuah agama dan tradisi budaya yang bukan didasarkan pada pedang, melainkan namanya; Islam, yang berarti perdamaian dan kerukunan. Kita harus membangun narasi besar sosok Muhammad yang penuh keramahan, kemuliaan dan keteladanan untuk mengorganisasikan kembali keberagamaan dan hidup kita (zusammenhang des lebens), seperti kata Dilthey, filsuf Jerman tersohor itu. Agar tak terjadi kontradiksi antara Islam transendental Tuhan dengan Islam antroposentris Muhammad, seperti kita lihat di Temanggung, Cikeusik atau bahkan Mesir sekali pun.