Tuesday, February 17, 2015

Hikmah Insiden Az-Zikra

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Dimuat di Koran Tempo, 17 Februari 2014)

Insiden di Kompleks Majelis Zikir Az-Zikra yang dipimpin Ustad Arifin Ilham sebenarnya adalah sebuah insiden kecil, walaupun itu perlu direspons secara sigap dan tegas oleh aparat hukum karena telanjur dikait-kaitkan dengan isu sektarian Sunni-Syiah, agar tak jadi preseden buruk bagi keislaman kita di Indonesia. Namun ada sederet hikmah besar yang menjadi catatan penulis soal insiden itu.

Pertama, insiden itu menunjukkan bahwa di tengah berangsur dan relatif harmonisnya hubungan Sunni-Syiah, setidaknya pasca-rekonsiliasi kasus Sampang, isu Sunni-Syiah masih dilihat sebagian pihak yang tak bertanggung jawab sebagai isu "seksi" yang bisa kapan saja dan di mana saja dijadikan komoditas untuk kepentingan-kepentingan rendahan.

Karena itu, pemuka Islam dan pemerintah harus berupaya keras untuk merangkulkan dua mazhab besar dalam Islam itu dalam ukhuwah (persatuan dan persaudaraan). Sebab, kenyataan di Timur Tengah, isu itu kian menjadi komoditas yang risikonya mengerikan dan menyengsarakan kedua penganutnya, rakyat umum, bahkan keutuhan negaranya.

Kedua, kita sering kali gagap menarik garis batas tegas antara oknum dan ajaran. Tingkah laku oknum yang anarkistis sering kali membawa kita menuduh yang tidak-tidak tentang ajaran oknum itu. Bahkan, dalam konteks insiden Az-Zikra, walaupun pelakunya telah jelas-jelas mengaku bukan Syiah, kita masih menjadikannya landasan menyesatkan Syiah. Padahal, kalaupun ada oknum Syiah atau Sunni yang melakukan tindak anarkistis, seharusnya kita berkonsentrasi mengutuk oknum dan tingkah anarkistisnya, bukan justru menyesatkan mazhabnya, karena kita yakin bahwa ajaran agama apa pun  mengajarkan kedamaian bagi umatnya.

Ketiga, kita sering kali berkonsentrasi dan menindak akibat, tanpa melihat atau juga menindak sebab. Dalam insiden Az-Zikra, misalnya, tindakan anarkistis-provokatif yang terjadi disebabkan oleh spanduk provokatif dari pihak yang tak bertanggung jawab. Padahal keduanya berkelindan dan mustahil menyelesaikannya jika hanya menindak akibatnya dan mengabaikan sebabnya.

Keempat, pemasangan spanduk provokatif itu didasarkan karena Syiah dianggap sesat dan spanduk semacam itu biasa dipasang di berbagai kawasan. Artinya, pertama, ada spanduk-spanduk provokatif lain di berbagai wilayah yang senada, tapi tak ditindak tegas sehingga menjadi preseden buruk. Kedua, Syiah masih dinilai sebagai mazhab sesat. Tak jarang tuduhan itu dikaitkan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Karena itu, menurut penulis, sesuai dengan keputusan ulama dan dunia Islam dalam Deklarasi Amman 2005 yang ditindaklanjuti dengan Deklarasi Bogor, pemerintah dan MUI harus menegaskan ketidaksesatan Syiah, dan bahwa Syiah adalah salah satu mazhab Islam. Sebab, jika tidak, MUI akan terus dicatut menjadi legitimasi tindak anarkisme sektarian.

Akhirnya, penulis terinspirasi untuk mengutip pesan luhur Ustad Arifin Ilham, semoga kita semua diberi hidayah. Agar tak mudah terprovokasi, mengedepankan rahmat di atas nafsu, dan berbesar hati untuk sepakat bersaudara walau di tengah perbedaan dan ketaksepakatan.

0 comments:

Post a Comment