Monday, April 27, 2015

Buku Terbaru: "Menyegarkan Islam Kita"



Judul : Menyegarkan Islam Kita: Dari Ibrahim sampai Hawking, dari Adam hingga Era Digital"
Penulis: Husein Ja'far Al Hadar
Penerbit: Quanta (Elex Media Komputindo)
Bisa didapat di Toko Buku Gramedia seluruh Indonesia atau beli secara online dengan hanya SMS atau WA ke Fadel di 081228241709
Video Resensi Buku ini bisa ditonton di YouTube dengan link ini >> http://bit.ly/1RICJxp
***


Husein Ja'far Al Hadar hidup di tahun-tahun saat Islam memiliki pengalamannya tersendiri yang begitu menarik dan tak kalah menariknya dengan abad-abad lalu yang pernah dilalui oleh sejarah Islam. Islam akhir 1990-an dan awal 2000-an ini adalah Islam yang berhadapan dengan sederet fenomena dan tantangannya: kelas menengah Muslim dengan corak keberislaman yang nge-pop, temuan-temuan sains yang menggemparkan dan dihadap-hadapkan dengan Islam, terorisme atas nama Islam yang anti-Barat, oto-terorisme atas nama Islam yang mempermainkan isu sektarian, hingga Islam di era digital. Esai-esai dalam buku "Menyegarkan Islam Kita" ini memotret semua fenomena itu di saat fenomena-fenomena itu sedang hangat diperbincangkan di media massa. Oleh karena itu, tanpa mengurangi bobot kajian keislaman dalam bingkai filosofisnya, esai-esai dalam buku ini juga memiliki konteks (bersifat kontekstual) yang membuat perbincangannya 'segar'. 

Husein sendiri, walaupun masih muda, memiliki latar belakang, sejarah, persinggungan, serta pergolakan tersendiri yang menjadi salah satu alasan maupun dorongan yang membuat penulis berada dalam pusaran fenomena yang beragam itu, mengamatinya secara seksama, merenungkannya, untuk kemudian menuliskannya menjadi esai-esai dalam rentang waktu sekitar lima tahun di berbagai media massa nasional. Penulis lahir sebagai habib (al-Husaini, dari keturunan Sayyidina Husain), pernah mondok di salah satu pesantren (YAPI Bangil, Jawa Timur) yang menjadikan Syiah sebagai salah satu madzhab Islam yang diajarkan dan dikaji secara terbuka bersama ajaran madzhab-madzhab lain (khususnya Sunni), kuliah (jurusan filsafat) di universitas (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) yang sempat mendapat dua label yang sebenarnya paradoks: liberal dan radikal, aktif membaca dan mengikuti kajian-kajian tentang islamisasi sains (bersama Prof. Mulyadi Kartanegara di CIPSI), menjadi CEO perusahaan yang bergerak dalam industri digital, serta hidup selama delapan tahun di simpul modernisme (Ibu Kota Jakarta). Oleh karena itu, bagi Husein, esai-esai dalam buku ini memiliki kekuatan tersendiri dari pengalaman penulisnya: menjadi bagian dari fenomena yang ditulisnya.

Buku ini adalah kumpulan esai-esai pilihan penulis yang sebagian besar pernah dimuat di media massa nasional (Majalah Tempo, Kompas, Koran Tempo,Media Indonesia, dll) dalam kurun waktu sekitar 5 tahun terakhir. Buku ini semacam kumpulan pemikiran yang selama ini terserak dalam berbagai esai penulis, namun sebenarnya memiliki satu benang merah yang penting bagi keberislaman kita saat ini dan di sini: Indonesia. Di dalamnya memuat beberapa tema pokok: dari pemikiran teologis yang bersentuhan dengan dinding-dinding sains, pemikiran keislaman yang bersemangat 'menyegarkan' tentang berbagai fenomena keislaman, pemikiran seputar pendidikan Islam, rekaman pemikiran tokoh-tokoh besar Islam maupun non-Muslim, pemikiran tentang kebahasaan dalam bingkai Islam yang filosofis, hingga pemikiran dan tantangan Islam di zaman digital. Semua itu menjadi menarik sebagai sebuah buku karena, pertama, disatukan oleh satu tema besar tentang pemikiran keislaman yang maju dan moderat. Kedua, ditulis oleh seorang intelektual muda Muslim Indonesia yang mencoba menghadirkan pemikiran keislaman alternatif yang 'menyegarkan'. Ketiga, hasil renungan filosofis dengan teori-teori filsafat yang mencukupi. Keempat, ditulis dengan gaya penulisan yang populer dan tak menjenuhkan.

Menurut Komaruddin Hidayat (Cendekiawan Muslim sekaligus Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2006-2014) dalam pengantarnya atas buku ini yang berjudul "Menuju Universalitas Islam", buku karya intelektual muda Islam Indonesia yang juga alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini merupakan hasil pembacaan filosofis atas partikularitas zaman yang dihadapi oleh Islam, tentu saja menurut perspektif penulisnya. Mulai dari soal diskursus partikel Tuhan, konsep kosmologi Stephen Hawking, terorisme global, hingga soal fenomena sufisme perkotaan. Oleh Husein, yang berlatar belakang pendidikan filsafat, setiap partikulitas zaman yang dihadapi oleh Islam kemudian coba “diangkat” ke perspektif universal, untuk didialogkan dengan konsepsi keislaman yang relavan dengan persoalan tersebut. Di sinilah terjadi proses dialog antara yang universal dan yang partikular. Karena, menurut Husein, Islam tidak didikte zaman, tidak pula Islam mendikte zaman. Ia ingin menyajikan sebuah sintesa dari keduanya, sehingga terasa baru, meskipun dari elemen-elemen klasik. Sebuah Islam yang relevan dengan kebaruan zaman, tanpa mengalami krisis esensi-substansi. Mungkin inilah yang dimaksud dengan “menyegarkan Islam” yang dimaksud Husein dalam buku ini. 

Selanjutnya, tulis Komaruddin Hidayat, sekalipun Husein termasuk seorang intelektual muda, namun buku ini memiliki keseriusan dalam menyajikannya, sebuah pendekatan yang segar layaknya pemikiran  seorang anak muda yang peka dengan dinamika zaman. Dalam tulisan Beragama di Era Digital, misalnya, pembaca akan merasakan betul bahwa tantangan Islam kini dan esok, salah satunya pada persoalan semakin digitalnya zaman. Semua dimensi kehidupan diformulasikan secara digital. Digitalisasi adalah tantangan teraktual Islam kini dan di masa mendatang, yang secara peka dicium oleh penulis buku ini. Dimanakah Islam, saat nanti dunia dijalankan dengan byte-byte teknologi digital? Tergilas oleh digitalisasi, atau bersembunyi dari digitalisasi? Bagi Husein, keduanya bukan opsi. Ada opsi ketiga hasil pemaduannya atas universalitas Islam dan partikularitas zaman. Seperti inilah kesegaran-kesegaran Islam yang dihidangkan buku ini. 

Oleh karena itu, Komarddin Hidayat menyampaikan apresiasi atas lahirnya karya tulis ini, di saat masyarakat lebih menyenangi budaya bicara dan menonton, bukannya merenung dan menulis. Menurutnya, Islam Indonesia membutuhkan proses pembacaan terhadap realitas aktual yang terus dinamis, agar tidak gagap dan kehilangan arah berhadapan dengan progresifitas zaman. Tidak juga kehilangan jati diri sebagai bangsa religius yang sangat besar potensinya. Selamat membaca. 

Adapun menurut Anies Baswedan (Menteri Pendidikan Kebudayaan Dasar dan Menengah) dalam endorsementnya, "berkat kepiawaiannya dalam menganalisa dan berefleksi, Husein menulis buku yang membahas tema-tema rumit, seperti perihal filsafat dan teologi, menjadi lebih mudah dicerna. Dengan pembahasan ringan dan sekali-tuntas, buku ini tepat untuk menjadi teman refleksi pada saat-saat santai." Sedangkan menurut Dr. Haidar Bagir (Pakar Filsafat Islam, Ketua Gerakan Islam Cinta), "buku ini hasil dialog penulisnya dengan berbagai wacana dan problematika kontemporer dalam ranah keagamaan dan keislaman. Pembaca akan dibawa menelusuri berbagai isu-isu aktual yang hingga kini masih ramai diperbicangkan. Mulai dari soal Partikel Tuhan, konsep ketuhanan ala Albert Einstein dan Stephen Hawking, hingga soal terorisme global. Dengan caranya sendiri, buku ini memutaakhirkan wawasan kita tentang berbagai soal kontemporer penting dengan bahan-bahan dan informasi yang bisa diandalkan." Dan, menurut Imam Shamsi Ali (Imam Besar Islamic Center of New York, Amerika Serikat), "buku ini membuka mata dan membawa harapan baru, sekaligus mendorong semangat baru bagi umat ini untuk membangun karya, sehingga kegemilangan Islam tidak saja menjadi sebutan sejarah, tapi kembali memenuhi harapan umat manusia di abad ini.".

Akhirnya, semoga karya ini dapat ikut mewarnai khazanah keilmuan dan keislaman di Indonesia. Demi Islam yang 'segar', Islam Indonesia. 

Sunday, April 26, 2015

Beragama di Tengah Kekacauan

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Dimuat Kompas 27/4/2015)

Sejarah Islam telah terbentang selama sekitar 14 abad. Ada beragam nilai, hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari sana. Mengutip Murtadha Muthahhari (filosof Muslim Iran kontemporer), sejarah memiliki nilai epistemologis. Sejarah adalah sumber pengetahuan. Sering kali, masa depan justru terlihat gamblang dan cerah dengan kacamata masa lalu. Sebab, mengacu pada Hegel, gerak sejarah melahirkan tesis, antisesis, dan sintesa, serta begitu seterusnya. Sehingga, apa yang pernah ada dalam sejarah bisa menjadi pegangan bagi kita dalam menatap dan menjalani saat ini dengan segala fenomena dan tantangannya. Termasuk dalam konteks keislaman.

Kini kita sampai pada suatu masa sulit bagi umat Islam di dunia, tak terkecuali Indonesia. Suatu masa yang bisa disebut sebagai masa kekacauan. Kita sedang menghadapi apa yang bisa kita sebut di Indonesia dengan istilah "darurat terorisme", dengan Islamic State (IS) sebagai aktor utamanya dan berbagai kekacauan di Palestina, Irak, Suriah, hingga Yaman. Kekacauan yang terjadi menjadi mengerikan bukan hanya karena menghabiskan dan menumpahkan ratusan ribu nyawa dan darah dengan cara yang keji. Tapi juga karena kekacauan itu terjadi akibat 'perselingkuhan' antara agama (Islam) dan politik. Sebuah 'perselingkuhan' klasik yang sering terjadi dan berulang akibat 'seksi'-nya isu agama dalam kacamata politik rendahan yang propagandis. 

Dan, sejarah mencatat bahwa kekacauan semacam ini pernah terjadi pada abad 11-13 M. Masa itu bisa disebut sebagai salah satu masa paling kacau dalam sejarah dunia Islam. Masa kacau itu terjadi dalam bentuk yang berbeda-beda di beberapa wilayah: dari Perang Salib, invasi Mongol, perpecahan akut Dinasti Abbasiyah, hingga kekacauan yang ditimbulkan oleh Ibadiyah (sekte paling ekstrem dari Khawarij) dan Qaramitah. Namun, meskipun bentuknya berbeda-beda di tiap kawasan di Timur Tengah, semua kekacauan itu memiliki akar yang sama sebagaimana yang terjadi saat ini, yakni berbasis pada sentimen dan propaganda agama atau madzhab.    

Merespon kekacauan itu, setidaknya ada dua kecenderungan dan sikap yang muncul dari kalangan ulama Islam. Pertama, kecenderungan dan sikap ekstrem. Kecenderungan dan sikap ini berupaya membangun politik identitas (Muslim) yang 'sentimen' terhadap musuh-musuh Islam saat itu, serta mengkritalisasi doktrin-doktrin Islam agar kaku, paten, dan berdiri sendiri secara angkuh. Kecenderungan dan sikap ini diwakili oleh Ibn Taimiyah dalam konteks Perang Salib dan invasi Mongol. Kedua, sebaliknya, yakni kecenderungan dan sikap moderat. Kecenderungan dan sikap ini berupaya membangun politik akomodatif yang toleran, mencari titik temu, dan merangkul kelompok di luar Islam, bahkan meskipun oknum-oknum politiknya saat itu menjadi musuh dan penyerang kaum dan negara Muslim. Juga, mengambil jarak dari politik guna menyelamatkan tradisi dan peradaban keilmuan Islam, meskipun tetap memberikan pengaruh positif dalam upaya menyelesaikan kekacauan politik yang terjadi. Kecenderungan dan sikap ini diwakili oleh ulama dalam jaringan 'rahasia' bernama Ikhwan as-Shafa di tengah perpecahan akut Dinasti Abbasiyah, sufi tersohor Jalaluddin Rumi, dan para habaib Hadhramaut (Yaman) menghadapi Ibadiyah dan Qaramitah. 

Adapun dalam konteks kekacauan di masa kita saat ini, tak sedikit umat Islam yang mengarah pada kecenderungan ekstrem ala Ibn Taimiyah. Kita seolah lupa kalau di samping itu kita memiliki kecenderungan lain yang dibangun dan diteladankan oleh nama-nama besar seperti Ikhwan as-Shafa, Rumi, dan para habaib Hadhramaut. Padahal, menurut penulis, kecenderungan ala mereka yang justru tepat untuk dipelajari, dipilih, dan diterapkan dalam merespon kekacauan di masa kita saat ini. Sebab, pertama, kini kita hidup di dunia yang modern dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, HAM, kebebasan, kemoderatan, toleransi, dst. Kecenderungan sikap ala Ibn Taimiyah ternilai tak sesuai dengan konteks yang melingkupi kita saat ini. Justru kecenderungan yang moderat 'lah yang bisa menjadi solusi, memberi titik terang, sekaligus mempertahankan citra Islam sebagai agama lintas zaman dan rahmatan lil 'alamin dengan peradabannya yang agung. Kedua, kecederungan ekstrem cenderung menarik agama ke simpul konflik berbasis politik. Sehingga, kecenderungan itu akan rentan menjadikan agama dipermainkan secara politis oleh kepentingan kelompok yang terlibat dalam konflik guna memperakut benang kusut kekacauan yang terjadi dan berkembang, serta menjadikan agama tereduksi dari sebuah nilai yang berorientasi luhur dan kedamaian menuju aturan berorientasi keduniawian dan sarat konflik. Adapun kecenderungan moderat justru positif karena akan membuat agama berjarak dengan politik, namun tetap mengambil peran proporsional dan strategis dalam membantu penyelesaian konflik yang terjadi tanpa harus terjebak dalam pusaran konfliknya. Dengan begitu, agam juga akan terus bertahta dalam keagungannya. Ketiga, kecederungan ekstrem akan membuat agama statis, kaku, dan gersang karena sibuk dan terlibat dalam kekacauan politik yang terjadi dan terpecah-belah akibat kepentingan-kepentingan kelompok yang sedang berkonflik. Sedangkan kecenderungan moderat akan membuat agama terus berkembang dan luwes karena aktifitas keilmuan dan keagamaannya akan terus berjalan tanpa harus tersita atau terpecah-belah akibat kekacauan yang terjadi.

Ajaran, ilmu, dan peradaban Islam harus diselamatkan di tengah kekacauan saat ini. Relasi yang harus dibangun adalah Islam berperan dalam menyelesaikan kekacauan politik yang terjadi, bukan sebaliknya: politik menarik dan mempropaganda Islam untuk kekacauan yang diciptakannya, sehingga keberadaan Islam justru memperakut konflik yang terjadi dan Islam sendiri terpecah-pecah mengikuti friksi yang terjadi dalam kekacauan politik yang terjadi. Ikhwan as-Shafa melakukannya dengan membangun sinkretisme dan persaudaraan universal yang lintas agama, madzhab, bangsa, dll, Rumi melakukannya dengan bersyair sufistik untuk menjaga nilai-nilai dasar Islam (khususnya dalam tasawuf) dan mencairkan suasana secara syahdu, sedangkan para habaib melalui founding father-nya -yakni Faqih al-Muqaddam- melakukannya tindak simbolik yang sangat populer dengan mematahkan pedang sebagai simbol gagasan perdamaian yang kemudian ditindaklanjuti dengan membangun peradaban madani yang berbasis pada tasawuf akhlaqi (tasawuf praktis) hingga tersebar ke Indonesia. Itulah teladan keberagamaan kita di tengah kekacauan saat ini. 

Untuk Islam, Kami Titip Hadhramaut pada Yaman!

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Versi Ringkas Tulisan ini Pernah Dimuat Koran Tempo 16/4/2015 dengan judul "Titip Hadhramaut kepada Yaman")

Yaman bergolak. Sejak Arab Spring 'berhembus' ke negeri itu, hingga kini Yaman terus terjebak dalam status quo. Di bawah rezim Ali Abdullah Saleh, rakyat Yaman merasakan jauh dari apa yang mereka harapkan dari sebuah bangsa. Saat Musim Semi Arab bersemi di sana dengan tumbangnya rezim Ali Abdullah Saleh, harapan itu sempat terbesit kembali, namun kembali sirna seiring kegagalan Abd. Rabbu Mansour Hadi melakukan rekonsiliasi nasional dan mengelola tunas demokrasi yang baru tumbuh di sana. 

Houthi yang telah lama ikut berjuang, menjadi salah satu kelompok penting penggagas Musim Semi Arab di Yaman, dan merindukan iklim demokrasi untuk ikut dalam kontestasi kenegaraan dan kebangsaan membangun Yaman, justru kembali diabaikan. Padahal, Houthi adalah salah satu kelompok penting dan berpengaruh di Yaman yang di tengah status quo menyelimuti Yaman sejak Ali Abdullah Saleh hingga Abd. Rabbu Mansour Hadi, terus menjaga asa rakyat Yaman akan kejayaan negeri itu suatu hari dengan berfokus pada pendidikan dan kebudayaan. Mereka merindukan terbukanya kran demokrasi di sana justru karena mereka telah menyiapkan basis-basis utama bagi demokrasi, yakni pendidikan dan kebudayaan. Sebab, tanpa itu, jika 'pun Yaman berkembang dan maju, namun nihil akan basis pendidikan dan budaya. Sehingga, tak ada artinya demokrasi, karena akan dinikmati oleh segelintir kekuatan hegemon dari dalam maupun luar dan kosong identitas serta harga diri.

Namun, terlepas dari hiruk-pikuk politik yang mengakibatkan pergolakan di Yaman itu, ada perkara yang penting, bukan hanya untuk Yaman, melainkan untuk Islam. Oleh karena itu, perkara ini harus disadari dan dijaga bersama oleh pihak-pihak atau kelompok-kelompok yang sedang berkonflik di sana. Perkara itu yakni Hadhramaut. 

Secara geo-ekonomi, Hadhramaut memang bukan kawasan yang menarik. Sejak sebelum Masehi, kawasan itu telah dipisahkan dari wilayah Arab lain oleh Rub Al-Khali sehingga populer disebut kawasan kosong (empty quarter). Masyarakatnya Hadhramaut dulu menyebut kawasannya itu sebagai al-wadi wa al-shahra’ (lembah dan padang pasir), karena memang begitulah keadaan geografis kawasan itu. Kondisi geografis yang tak menarik itu bahkan hingga membuat nama "Hadhramaut" sendiri dilegendakan dengan sesuatu yang ironi. Ada sebuah legenda yang juga terkenal tentang asal mula nama "Hadhramaut" yang mengisahkan bahwa kawasan itu dinamai Hadhramaut karena dalam kawasan itu terdapat sebuah pohon yang disebut al-liban. Dalam kepercayaan masyarakat Hadhramaut, pohon itu memiliki bau yang sangat mematikan. Sehingga, setiap orang yang datang (hadr, dalam bahasa Arab) ke sana dan mencium bau pohon itu akan mati (maut, dalam bahasa Arab). Maka, para ahli bahasa kemudian mengaitkan legenda tersebut dengan penamaan atas Hadramaut yang dinilai tersusun dari dua kosa kata; hadr dan maut. Namun, sebenarnya nama "Hadhramaut" diriwayatkan berasal dari nama anak Qathan Bin Abir Bin Syah Bin Arpakhasad Bin Sam Bin Nuh yang salah satunya bernama Hadhramaut. Hadhramaut memiliki saudara bernama Oman yang kemudian diadopsi menjadi nama daerah Oman serta Ya’rab dan Jurham. Namun, raja pertama kawasan Hadhramaut adalah saudaranya yang bernama Ya’rab, bukan Hadhramaut itu sendiri. Riwayat ini salah satunya dapat ditemui dalam Injil Perjanjian Lama pada Pasal Kejadian (10): 21-32. Tetapi, fakta sejarah tentang riwayat ini masih sangat minim, sehingga butuh kajian arkeologis yang mendalam dan kritis untuk menelusuri riwayat tersebut serta sejarah Hadhramaut sejak awal berdirinya. 

Akan tetapi, meskipun secara geografis tak menarik, dalam aspek pendidikan-budaya dan sosio-religio, Hadhramaut merupakan kawasan penting. Hadhramaut adalah salah satu pusat peradaban Islam di Timur Tengah. Sejarah kawasan ini hingga terukir dalam Qur’an Surat Al-Ahqaf (26): 21, di mana Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebut bahwa yang dimaksud Al-Ahqaf dalam ayat tersebut adalah kawasan Hadhramaut, tempat tinggal Kaum ‘Ad, kaumnya Nabu Hud. Bahkan sejarahnya bisa ditemui dalam Injil Perjanjian Lama pada Pasal Kejadian (10): 21-32. Wa’il Bin Hajar Al Hadhrami (raja dari Dinasti Hadhramaut) tercatat di barisan pertama yang masuk Islam, bahkan jauh sebelum Nabi Muhammad mengutus utusannya ke sana untuk mengislamkan kawasan penting bagi Nabi Muammad itu. 

Sejak penghujung abad IX M, seiring dengan hijrahnya Imam Ahmad al-Muhajir ke Hadhramaut dari Bashrah (Irak) untuk misi dakwah dan membangun peradaban Islam di sana, Hadhramaut mulai menjadi salah satu pusat peradaban Islam sebagaimana Kairo, Baghdad, Najaf, Qom, dll. Dari kawasan itu pula, embrio masyarakat madani Islam kemudian tersebar luas ke seantero dunia; dari Afrika, India hingga kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. (Thariqah ‘Alawiyyah, 2001) Hingga abad ke 17 M, diperkirakan terdapat 300 ahli fiqh dan 80 wali di Tarim, salah satu kota di Hadhramaut, yeng mengajarkan ilmunya di masjid-masjid hingga masjid di sana layaknya pesantren atau universitas Islam. 

Hadhramaut adalah aset penting Islam, bukan sekadar Yaman. Oleh karena itu, pihak yang berkonflik patut menyadarinya dan menjaganya di tengah kecamuk Yaman saat ini. Bahkan, tepat jika PBB melalui UNESCO menginstuksikan itu, mempertimbangkan kayanya nilai budaya dan peradaban di sana. Di tengah ironi kecamuk politik apapun, agama dengan seluruh asetnya harus diamankan dan dijaga bersama oleh siapapun, termasuk mereka yang berkonflik. Apalagi, jangan sampai, agama dijadikan isu untuk pragmatisme politik pihak yang berkonflik, seperti dikait-kaitkannya konflik Yaman dengan isu Sunni-Syiah. Sebab, selain itu tak ada dan bahkan ditentang dalam agama, juga karena sejarahnya sejak dulu Sunni-Syiah berdampingan, bergandengan, dan bergotongroyong membangun peradaban Islam di Hadhramaut. Bahkan, sejak dulu, Hadhramaut menjadi negara paling damai dalam konteks isu Sunni-Syiah, karena penganut Sunni dan Syiah di sana walaupun sama-sama besar dan kuat, namun terus bergandengan tangan sebagai saudara. Sehingga, justru sebaliknya, agama harusnya dijadikan 'obat penawar' bagi kecamuk Yaman. Sehingga, dari Hadhramaut 'lah, harapan masa depan Yaman yang damai kita gantungkan. 

Kemerdekaan Palestina

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Dimuat Koran Tempo 24/4/2015)

Salah satu agenda sekaligus misi utama peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Jakarta dan Bandung adalah kemerdekaan Palestina. Hal ini menjadi begitu signifikan bukan hanya karena merupakan amanat UUD 1945, atau karena bangsa Palestina berperan penting dalam pengakuan Kemerdekaan RI 1945, atau pula sebagai implementasi dari salah satu janji kampanye Presiden Joko Widodo (Jokowi). Tapi juga juga karena Palestina salah satu anak tangga penting menuju cita-cita perdamaian global. Yang terakhir ini yang sering terlupakan. Dan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (almarhum) telah jauh-jauh hari mengingatkan kita bahwa "perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi."

Kita memang kerap berilusi. Artinya, tahu tujuan tapi tak tahu atau malah salah jalan menujunya. Salah satunya seperti disindir oleh lirik lagu Perdamaian yang dipopulerkan grup kasidah Nasida Ria: "Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai." Kita cinta, rindu, dan bervisi akan perdamaian, namun masih berdiri di atas dogma politik klasik menyesatkan peninggalan era kekaisaran Romawi: "Si vis pacem, para bellum" (Bila Anda ingin damai, siapkanlah perang).

Ilusi ala Romawi itu kemudian diformat ulang oleh Israel menjadi ilusi lain, yakni perdamaian tanpa keadilan. Israel selalu mengatakan bahwa perdamaian bisa tercapai asalkan Palestina menyepakati kesepakatan yang dibuat secara tak adil oleh mereka. Ilusi itulah yang digebrak Gus Dur. Keadilan adalah syarat mutlak tercapainya perdamaian. Tanpa keadilan, perdamaian hanya ilusi atau, jika pun tercapai, hanyalah semu. Sebab, perdamaian bukan kesepakatan. Ia hanya bisa tegak jika pihak-pihak yang terkait merasa telah diperlakukan dan mendapat keadilan. Karena itu, dalam kaitan dengan konflik Israel-Palestina, kesepakatan demi kesepakatan terus ditorehkan, namun semua itu semu dan ilusi.

Karena itu, Presiden Sukarno dalam Pidato HUT Proklamasi 1946 menegaskan, "Kita bangsa yang cinta perdamaian, tetapi lebih cinta kemerdekaan." Sebab, sebagaimana Gus Dur, Bung Karno tahu, sadar, dan yakin bahwa mustahil akan tercapai perdamaian tanpa kemerdekaan sebagai asas paling dasar dari keadilan; dan jika kemerdekaan tercapai, langkah menuju perdamaian tinggal menunggu waktu dan selangkah lagi. Karena itu, kita bisa baca bagaimana Presiden Sukarno mengartikan kemerdekaan seperti ditulisnya dalam Indonesia Menggugat dengan mengutip perkataan Erskin Childers, salah seorang pemimpin Irlandia, bahwa, "Kemerdekaan bukanlah soal tawar-menawar. Dia ada atau tidak ada. Kalau orang menguranginya, maka itu bukan kemerdekaan." Persis, bahwa kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan bukan perkara kesepakatan.

Akhirnya, memang sering kali perdamaian tak pernah tercapai, karena memang kita tak tahu jalan menuju ke sana. Kita bersyukur karena para pendiri dan tokoh negeri ini tahu betul hakikat perdamaian. Karena itu, mereka menjadi pencetus KAA 1955 dan melangkah konkret dengan membentuk Gerakan Non-Blok (GNB) 1961. Sebab, perdamaian tak kan pernah tercapai dengan kita miring ke Timur atau Barat, melainkan hanya jika kita tegak, lurus, dan di tengah. Itulah keadilan. Itulah yang ingin kembali ditorehkan dalam peringatan KAA kali ini, dengan kemerdekaan Palestina sebagai 'harga mati'. Titik!