Monday, April 27, 2015

Buku Terbaru: "Menyegarkan Islam Kita"



Judul : Menyegarkan Islam Kita: Dari Ibrahim sampai Hawking, dari Adam hingga Era Digital"
Penulis: Husein Ja'far Al Hadar
Penerbit: Quanta (Elex Media Komputindo)
Bisa didapat di Toko Buku Gramedia seluruh Indonesia atau beli secara online dengan hanya SMS atau WA ke Fadel di 081228241709
Video Resensi Buku ini bisa ditonton di YouTube dengan link ini >> http://bit.ly/1RICJxp
***


Husein Ja'far Al Hadar hidup di tahun-tahun saat Islam memiliki pengalamannya tersendiri yang begitu menarik dan tak kalah menariknya dengan abad-abad lalu yang pernah dilalui oleh sejarah Islam. Islam akhir 1990-an dan awal 2000-an ini adalah Islam yang berhadapan dengan sederet fenomena dan tantangannya: kelas menengah Muslim dengan corak keberislaman yang nge-pop, temuan-temuan sains yang menggemparkan dan dihadap-hadapkan dengan Islam, terorisme atas nama Islam yang anti-Barat, oto-terorisme atas nama Islam yang mempermainkan isu sektarian, hingga Islam di era digital. Esai-esai dalam buku "Menyegarkan Islam Kita" ini memotret semua fenomena itu di saat fenomena-fenomena itu sedang hangat diperbincangkan di media massa. Oleh karena itu, tanpa mengurangi bobot kajian keislaman dalam bingkai filosofisnya, esai-esai dalam buku ini juga memiliki konteks (bersifat kontekstual) yang membuat perbincangannya 'segar'. 

Husein sendiri, walaupun masih muda, memiliki latar belakang, sejarah, persinggungan, serta pergolakan tersendiri yang menjadi salah satu alasan maupun dorongan yang membuat penulis berada dalam pusaran fenomena yang beragam itu, mengamatinya secara seksama, merenungkannya, untuk kemudian menuliskannya menjadi esai-esai dalam rentang waktu sekitar lima tahun di berbagai media massa nasional. Penulis lahir sebagai habib (al-Husaini, dari keturunan Sayyidina Husain), pernah mondok di salah satu pesantren (YAPI Bangil, Jawa Timur) yang menjadikan Syiah sebagai salah satu madzhab Islam yang diajarkan dan dikaji secara terbuka bersama ajaran madzhab-madzhab lain (khususnya Sunni), kuliah (jurusan filsafat) di universitas (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) yang sempat mendapat dua label yang sebenarnya paradoks: liberal dan radikal, aktif membaca dan mengikuti kajian-kajian tentang islamisasi sains (bersama Prof. Mulyadi Kartanegara di CIPSI), menjadi CEO perusahaan yang bergerak dalam industri digital, serta hidup selama delapan tahun di simpul modernisme (Ibu Kota Jakarta). Oleh karena itu, bagi Husein, esai-esai dalam buku ini memiliki kekuatan tersendiri dari pengalaman penulisnya: menjadi bagian dari fenomena yang ditulisnya.

Buku ini adalah kumpulan esai-esai pilihan penulis yang sebagian besar pernah dimuat di media massa nasional (Majalah Tempo, Kompas, Koran Tempo,Media Indonesia, dll) dalam kurun waktu sekitar 5 tahun terakhir. Buku ini semacam kumpulan pemikiran yang selama ini terserak dalam berbagai esai penulis, namun sebenarnya memiliki satu benang merah yang penting bagi keberislaman kita saat ini dan di sini: Indonesia. Di dalamnya memuat beberapa tema pokok: dari pemikiran teologis yang bersentuhan dengan dinding-dinding sains, pemikiran keislaman yang bersemangat 'menyegarkan' tentang berbagai fenomena keislaman, pemikiran seputar pendidikan Islam, rekaman pemikiran tokoh-tokoh besar Islam maupun non-Muslim, pemikiran tentang kebahasaan dalam bingkai Islam yang filosofis, hingga pemikiran dan tantangan Islam di zaman digital. Semua itu menjadi menarik sebagai sebuah buku karena, pertama, disatukan oleh satu tema besar tentang pemikiran keislaman yang maju dan moderat. Kedua, ditulis oleh seorang intelektual muda Muslim Indonesia yang mencoba menghadirkan pemikiran keislaman alternatif yang 'menyegarkan'. Ketiga, hasil renungan filosofis dengan teori-teori filsafat yang mencukupi. Keempat, ditulis dengan gaya penulisan yang populer dan tak menjenuhkan.

Menurut Komaruddin Hidayat (Cendekiawan Muslim sekaligus Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2006-2014) dalam pengantarnya atas buku ini yang berjudul "Menuju Universalitas Islam", buku karya intelektual muda Islam Indonesia yang juga alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini merupakan hasil pembacaan filosofis atas partikularitas zaman yang dihadapi oleh Islam, tentu saja menurut perspektif penulisnya. Mulai dari soal diskursus partikel Tuhan, konsep kosmologi Stephen Hawking, terorisme global, hingga soal fenomena sufisme perkotaan. Oleh Husein, yang berlatar belakang pendidikan filsafat, setiap partikulitas zaman yang dihadapi oleh Islam kemudian coba “diangkat” ke perspektif universal, untuk didialogkan dengan konsepsi keislaman yang relavan dengan persoalan tersebut. Di sinilah terjadi proses dialog antara yang universal dan yang partikular. Karena, menurut Husein, Islam tidak didikte zaman, tidak pula Islam mendikte zaman. Ia ingin menyajikan sebuah sintesa dari keduanya, sehingga terasa baru, meskipun dari elemen-elemen klasik. Sebuah Islam yang relevan dengan kebaruan zaman, tanpa mengalami krisis esensi-substansi. Mungkin inilah yang dimaksud dengan “menyegarkan Islam” yang dimaksud Husein dalam buku ini. 

Selanjutnya, tulis Komaruddin Hidayat, sekalipun Husein termasuk seorang intelektual muda, namun buku ini memiliki keseriusan dalam menyajikannya, sebuah pendekatan yang segar layaknya pemikiran  seorang anak muda yang peka dengan dinamika zaman. Dalam tulisan Beragama di Era Digital, misalnya, pembaca akan merasakan betul bahwa tantangan Islam kini dan esok, salah satunya pada persoalan semakin digitalnya zaman. Semua dimensi kehidupan diformulasikan secara digital. Digitalisasi adalah tantangan teraktual Islam kini dan di masa mendatang, yang secara peka dicium oleh penulis buku ini. Dimanakah Islam, saat nanti dunia dijalankan dengan byte-byte teknologi digital? Tergilas oleh digitalisasi, atau bersembunyi dari digitalisasi? Bagi Husein, keduanya bukan opsi. Ada opsi ketiga hasil pemaduannya atas universalitas Islam dan partikularitas zaman. Seperti inilah kesegaran-kesegaran Islam yang dihidangkan buku ini. 

Oleh karena itu, Komarddin Hidayat menyampaikan apresiasi atas lahirnya karya tulis ini, di saat masyarakat lebih menyenangi budaya bicara dan menonton, bukannya merenung dan menulis. Menurutnya, Islam Indonesia membutuhkan proses pembacaan terhadap realitas aktual yang terus dinamis, agar tidak gagap dan kehilangan arah berhadapan dengan progresifitas zaman. Tidak juga kehilangan jati diri sebagai bangsa religius yang sangat besar potensinya. Selamat membaca. 

Adapun menurut Anies Baswedan (Menteri Pendidikan Kebudayaan Dasar dan Menengah) dalam endorsementnya, "berkat kepiawaiannya dalam menganalisa dan berefleksi, Husein menulis buku yang membahas tema-tema rumit, seperti perihal filsafat dan teologi, menjadi lebih mudah dicerna. Dengan pembahasan ringan dan sekali-tuntas, buku ini tepat untuk menjadi teman refleksi pada saat-saat santai." Sedangkan menurut Dr. Haidar Bagir (Pakar Filsafat Islam, Ketua Gerakan Islam Cinta), "buku ini hasil dialog penulisnya dengan berbagai wacana dan problematika kontemporer dalam ranah keagamaan dan keislaman. Pembaca akan dibawa menelusuri berbagai isu-isu aktual yang hingga kini masih ramai diperbicangkan. Mulai dari soal Partikel Tuhan, konsep ketuhanan ala Albert Einstein dan Stephen Hawking, hingga soal terorisme global. Dengan caranya sendiri, buku ini memutaakhirkan wawasan kita tentang berbagai soal kontemporer penting dengan bahan-bahan dan informasi yang bisa diandalkan." Dan, menurut Imam Shamsi Ali (Imam Besar Islamic Center of New York, Amerika Serikat), "buku ini membuka mata dan membawa harapan baru, sekaligus mendorong semangat baru bagi umat ini untuk membangun karya, sehingga kegemilangan Islam tidak saja menjadi sebutan sejarah, tapi kembali memenuhi harapan umat manusia di abad ini.".

Akhirnya, semoga karya ini dapat ikut mewarnai khazanah keilmuan dan keislaman di Indonesia. Demi Islam yang 'segar', Islam Indonesia. 

0 comments:

Post a Comment