Sunday, April 26, 2015

Untuk Islam, Kami Titip Hadhramaut pada Yaman!

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Versi Ringkas Tulisan ini Pernah Dimuat Koran Tempo 16/4/2015 dengan judul "Titip Hadhramaut kepada Yaman")

Yaman bergolak. Sejak Arab Spring 'berhembus' ke negeri itu, hingga kini Yaman terus terjebak dalam status quo. Di bawah rezim Ali Abdullah Saleh, rakyat Yaman merasakan jauh dari apa yang mereka harapkan dari sebuah bangsa. Saat Musim Semi Arab bersemi di sana dengan tumbangnya rezim Ali Abdullah Saleh, harapan itu sempat terbesit kembali, namun kembali sirna seiring kegagalan Abd. Rabbu Mansour Hadi melakukan rekonsiliasi nasional dan mengelola tunas demokrasi yang baru tumbuh di sana. 

Houthi yang telah lama ikut berjuang, menjadi salah satu kelompok penting penggagas Musim Semi Arab di Yaman, dan merindukan iklim demokrasi untuk ikut dalam kontestasi kenegaraan dan kebangsaan membangun Yaman, justru kembali diabaikan. Padahal, Houthi adalah salah satu kelompok penting dan berpengaruh di Yaman yang di tengah status quo menyelimuti Yaman sejak Ali Abdullah Saleh hingga Abd. Rabbu Mansour Hadi, terus menjaga asa rakyat Yaman akan kejayaan negeri itu suatu hari dengan berfokus pada pendidikan dan kebudayaan. Mereka merindukan terbukanya kran demokrasi di sana justru karena mereka telah menyiapkan basis-basis utama bagi demokrasi, yakni pendidikan dan kebudayaan. Sebab, tanpa itu, jika 'pun Yaman berkembang dan maju, namun nihil akan basis pendidikan dan budaya. Sehingga, tak ada artinya demokrasi, karena akan dinikmati oleh segelintir kekuatan hegemon dari dalam maupun luar dan kosong identitas serta harga diri.

Namun, terlepas dari hiruk-pikuk politik yang mengakibatkan pergolakan di Yaman itu, ada perkara yang penting, bukan hanya untuk Yaman, melainkan untuk Islam. Oleh karena itu, perkara ini harus disadari dan dijaga bersama oleh pihak-pihak atau kelompok-kelompok yang sedang berkonflik di sana. Perkara itu yakni Hadhramaut. 

Secara geo-ekonomi, Hadhramaut memang bukan kawasan yang menarik. Sejak sebelum Masehi, kawasan itu telah dipisahkan dari wilayah Arab lain oleh Rub Al-Khali sehingga populer disebut kawasan kosong (empty quarter). Masyarakatnya Hadhramaut dulu menyebut kawasannya itu sebagai al-wadi wa al-shahra’ (lembah dan padang pasir), karena memang begitulah keadaan geografis kawasan itu. Kondisi geografis yang tak menarik itu bahkan hingga membuat nama "Hadhramaut" sendiri dilegendakan dengan sesuatu yang ironi. Ada sebuah legenda yang juga terkenal tentang asal mula nama "Hadhramaut" yang mengisahkan bahwa kawasan itu dinamai Hadhramaut karena dalam kawasan itu terdapat sebuah pohon yang disebut al-liban. Dalam kepercayaan masyarakat Hadhramaut, pohon itu memiliki bau yang sangat mematikan. Sehingga, setiap orang yang datang (hadr, dalam bahasa Arab) ke sana dan mencium bau pohon itu akan mati (maut, dalam bahasa Arab). Maka, para ahli bahasa kemudian mengaitkan legenda tersebut dengan penamaan atas Hadramaut yang dinilai tersusun dari dua kosa kata; hadr dan maut. Namun, sebenarnya nama "Hadhramaut" diriwayatkan berasal dari nama anak Qathan Bin Abir Bin Syah Bin Arpakhasad Bin Sam Bin Nuh yang salah satunya bernama Hadhramaut. Hadhramaut memiliki saudara bernama Oman yang kemudian diadopsi menjadi nama daerah Oman serta Ya’rab dan Jurham. Namun, raja pertama kawasan Hadhramaut adalah saudaranya yang bernama Ya’rab, bukan Hadhramaut itu sendiri. Riwayat ini salah satunya dapat ditemui dalam Injil Perjanjian Lama pada Pasal Kejadian (10): 21-32. Tetapi, fakta sejarah tentang riwayat ini masih sangat minim, sehingga butuh kajian arkeologis yang mendalam dan kritis untuk menelusuri riwayat tersebut serta sejarah Hadhramaut sejak awal berdirinya. 

Akan tetapi, meskipun secara geografis tak menarik, dalam aspek pendidikan-budaya dan sosio-religio, Hadhramaut merupakan kawasan penting. Hadhramaut adalah salah satu pusat peradaban Islam di Timur Tengah. Sejarah kawasan ini hingga terukir dalam Qur’an Surat Al-Ahqaf (26): 21, di mana Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebut bahwa yang dimaksud Al-Ahqaf dalam ayat tersebut adalah kawasan Hadhramaut, tempat tinggal Kaum ‘Ad, kaumnya Nabu Hud. Bahkan sejarahnya bisa ditemui dalam Injil Perjanjian Lama pada Pasal Kejadian (10): 21-32. Wa’il Bin Hajar Al Hadhrami (raja dari Dinasti Hadhramaut) tercatat di barisan pertama yang masuk Islam, bahkan jauh sebelum Nabi Muhammad mengutus utusannya ke sana untuk mengislamkan kawasan penting bagi Nabi Muammad itu. 

Sejak penghujung abad IX M, seiring dengan hijrahnya Imam Ahmad al-Muhajir ke Hadhramaut dari Bashrah (Irak) untuk misi dakwah dan membangun peradaban Islam di sana, Hadhramaut mulai menjadi salah satu pusat peradaban Islam sebagaimana Kairo, Baghdad, Najaf, Qom, dll. Dari kawasan itu pula, embrio masyarakat madani Islam kemudian tersebar luas ke seantero dunia; dari Afrika, India hingga kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. (Thariqah ‘Alawiyyah, 2001) Hingga abad ke 17 M, diperkirakan terdapat 300 ahli fiqh dan 80 wali di Tarim, salah satu kota di Hadhramaut, yeng mengajarkan ilmunya di masjid-masjid hingga masjid di sana layaknya pesantren atau universitas Islam. 

Hadhramaut adalah aset penting Islam, bukan sekadar Yaman. Oleh karena itu, pihak yang berkonflik patut menyadarinya dan menjaganya di tengah kecamuk Yaman saat ini. Bahkan, tepat jika PBB melalui UNESCO menginstuksikan itu, mempertimbangkan kayanya nilai budaya dan peradaban di sana. Di tengah ironi kecamuk politik apapun, agama dengan seluruh asetnya harus diamankan dan dijaga bersama oleh siapapun, termasuk mereka yang berkonflik. Apalagi, jangan sampai, agama dijadikan isu untuk pragmatisme politik pihak yang berkonflik, seperti dikait-kaitkannya konflik Yaman dengan isu Sunni-Syiah. Sebab, selain itu tak ada dan bahkan ditentang dalam agama, juga karena sejarahnya sejak dulu Sunni-Syiah berdampingan, bergandengan, dan bergotongroyong membangun peradaban Islam di Hadhramaut. Bahkan, sejak dulu, Hadhramaut menjadi negara paling damai dalam konteks isu Sunni-Syiah, karena penganut Sunni dan Syiah di sana walaupun sama-sama besar dan kuat, namun terus bergandengan tangan sebagai saudara. Sehingga, justru sebaliknya, agama harusnya dijadikan 'obat penawar' bagi kecamuk Yaman. Sehingga, dari Hadhramaut 'lah, harapan masa depan Yaman yang damai kita gantungkan. 

0 comments:

Post a Comment