Monday, June 22, 2015

Tak Kalah, Tapi Ngalah

"Seorang Muslim yang kuat adalah dia yang mampu membalas, tapi tak mau melakukannya."
(Sayyidina Ali)
***

Inilah pelajaran sangat berharga yang diajarkan Kanjeng Sunan pada kita sebagai Muslim di Nusantara. Kanjeng Sunan memberi kosakata yang bisa kita jadikan 'jimat' untuk kesuksesan hidup di dunia dan akhirat. Kosakata itu adalah "ngalah". Ngalah tentu bukan berarti kalah, malah sebaliknya: ngalah adalah sikap yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang menang. Seorang yang kalah mustahil bisa ngalah. Sebab, bagaimana mau ngalah, kita memang kenyataanya kalah kok

Oleh karena itu, syarat utama kita untuk bisa memakai 'jimat' Kanjeng Sunan ini adalah memastikan terlebih dulu bahwa diri kita menang. Tapi, yang dimaksud menang bukan hanya karena kita lebih kuat atau jago, tapi juga lebih benar, lebih tepat, dan lebih-lebih lainnya. 

Ngalah berarti merelakan diri seolah-olah kalah demi kebaikan. Ini juga sekaligus syarat kedua bagi kita yang mau ngalah. Jadi orang yang mau ngalah, harus memastikan dulu bahwa sikap ngalah kita itu akan membawa kebaikan dan sikap ngotot menang kita justru akan membawa keburukan. Sebab, yang terbaik adalah kemenangan kita, maka itu harus diperjuangkan, meskipun itu berat dan pahit. 

Kebaikannya bisa bermacam-macam, bisa jadi untuk membahagiakan orang lain, bisa juga untuk kebaikan yang lebih besar (maslahat), dan lain-lain. Contoh ngalah untuk membahagiakan orang lain, misalnya ada suatu proyek pekerjaan yang kita bisa mengerjakannya, tapi kita ngalah pada orang lain yang juga bisa mengerjakannya tapi ia sangat membutuhkan fee dari proyek pekerjaan itu untuk memberi nafkah keluarganya, sehingga ngalah-nya kita akan membahagiakan ia dan keluarganya. Adapun contoh ngalah untuk maslahat, misalnya saat macet di jalan raya, kemudian ada kendaraan di belakang kita yang sekonyong-konyong memaksa menerobos antrian kendaraan kita yang sebenarnya berada di depan dia. Sebenarnya kita yang lebih "berhak" untuk menang, dalam arti berada di depan dia. Tapi, kita merasa "berkewajiban" ngalah, yakni merelakan dia untuk mendahului kita agar kemacetan tak semakin runyam. Oleh karena itu, ngalah juga berarti mendahulukan kewajiban di atas hak.  

Ngalah juga harus dibarengi dengan berprasangka baik. Ini penting sebagai bagian dari syarat ngalah selanjutnya. Karena jika kita ngalah tanpa berprasangka baik, maka kita akan sakit hati, dan atau kotor hati karena akan berpikir yang tidak-tidak tentang orang itu yang bisa jadi itu sebenarnya tak ada atau tak dilakukan orang itu, sehingga jatuhnya adalah fitnah. Tapi kalau dibarengi dengan prasangka baik, kita akan tenang, senang dan bersih hati karena kita jadi berpikir, misalnya: "Ya, mungkin saja orang itu melakukan hal itu karena terburu-haru lantaran ada kerabatnya yang sakit atau sesuatu yang tak boleh ia tinggalkan." 

Jika kita mampu ngalah pada orang lain, meskipun bisa menang, maka sebagaimana kata Sayyidina Ali, sebenarnya kita jauh lebih kuat dari orang lain itu. Sebab, pertama, kita sebenarnya bisa saja menang pada orang lain itu dan artinya pada kenyataannya kita sudah lebih kuat dari dia. Kedua, kita juga menang melawan diri kita sendiri, yakni ego atau nafsu kita. Dan sebenarnya yang kedua ini jauh lebih besar tantangan dan pahalanya dari yang pertama, sebagaimana sabda Rasulullah bahwa jihad yang terbesar adalah bukan jihad melawan musuh di luar diri kita,melainkan musuh di dalam diri kita, yakni segala sesuatu yang munculnya dari nafsu: egoisme, iri, dengki, dan lain-lain.

Sunday, June 21, 2015

Islam itu Nikmat

Salah satu nikmat terbesar yang khusus dan hanya dimiliki oleh seorang Muslim adalah "nikmat Islam". Kita mungkin sudah sering mendengar itu dari para penceramah (khatib) di masjid-masjid, musholla-musholla, majlis taklim, dan lain-lain. Mereka biasanya mengawali khotbahnya dengan mengajak pendengarnya untuk mensyukuri nikmat Islam yang dikaruniakan Allah pada kita. 

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan nikmat Islam itu? Sudahkan kita menyadari dan merasakannya? Sebab itu penting untuk semakin mengokohkan Islam kita. Sehingga kita tahu dan sadar bahwa Islam dengan segala kewajiban dan aturannya itu sebenarnya nikmat. Dengan begitu, kita akan enjoy dalam ber-Islam, bukan malah merasakan Islam sebagai kekangan bagi kita. 

Sebab, pada dasarnya, kewajiban dan aturan-aturan Islam yang diterapkan Allah untuk kita sebagai Muslim adalah sesuai dengan fitrah atau keinginan dan tujuan paling mendasar dan utama kita dalam hidup, bukan hanya kini di dunia tapi juga nanti di akhirat. Dalam hal ini, kita bisa umpamakan Islam itu bagaikan olahraha. Olahraga itu memang melelahkan. Karenanya tak sedikit orang yang berat dan malas berolahraga. Tapi, jika kita tahu dan sadar bahwa fitrah jasmani kita -mau atau tak mau, suka atau tak suka- harus berolahraga agar sehat dan tetap bugar, maka kita akan merasakan nikmatnya berolahraga. Tiap tetes keringat yang keluar dari berolahraga akan menumbuhkan sikap puas, gembira dan tenang karena kita telah memenuhi kebutuhan jasmani kita sekaligus memastikan sa depan tubuh kita tetap sehat dan bugar. Sehingga olahraga tak akan lagi menjadi beban. Tiap akan mengerjakannya 'pun akan penuh bersemangat. 

Begitu pula dengan Islam. Jika kita tahu dan sadar bahwa fitrah batin kita -mau atau tak mau, suka atau tak suka- membutuhkan Islam, maka kita akan nikmat, enjoy, dan bersemangat dalam mengerjakan semua kewajiban dan aturan Islam. Karena kita tahu dan sadar bahwa itu sebenarnya bukan tuntutan atau kekangan bagi kita, tapi bimbingan dari Allah bagi kita untuk menggapai kebahagiaan dunia dan keselamatan akhirat. Sehingga kita sadar bahwa Islam adalah nikmat dan mensyukurinya. Sebab, kita beruntung dalam hidup ini sudah ada bimbingannya, rambu-rambunya untuk meraih kesuksesan hidup. Dan tak tanggung-tanggung, bimbingan itu langsung dari Allah, Pemilik Semesta Alam ini. Maka kita yakin bahwa bimbingannya tak mungkin salah, bahkan sekedar kurang atau tak sempurna sedikit 'pun saja tidak. Jadi, jika diibaratkan hidup ini berlayar, Islam adalah kompasnya, yang membimbing kita menuju dan dengan jalan yang terbaik, paling tepat dan pintas. Sebab, orang lain masih harus berpikir, membuat teori ini dan itu, mencari guru atau motivator sini dan situ, dan lain-lainnya untuk meraih kesuksesan hidup. Sedangkan kita, alhamdulillah, sejak lahir sudah dikarunia kompas kehidupan yang pasti akan membimbing kita pada kesuksesan terbaik dan sempurna, meskipun di awal-awal kita tak tahu atau tak sadar akan itu. Tapi, lambat laun, seiring ketaatan, keihklasan dan kedewasan kita dalam ber-Islam, maka kita akan tahu bahwa jalan terbaik meraih kesempurnaan dan kebahagiaan hidup adalah dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya yang telah tertuang dalam 'diktat' bernama Islam.       
Bahkan, nikmat Islam ini sebenarnya secara tak langsung juga nikmat bagi non-Muslim. Mungkin, sebagai agama, nikmat itu khusus bagi seorang Muslim, dalam kaitannya keselamatan di akhirat kelak. Tapi, Islam sebagai bimbingan hidup (way of life), dalam kaitannya dengan kebahagiaan di dunia, jika kita terapkan, akan dirasakan pula nikmatnya oleh non-Muslim. Misalnya saja, kewajiban atau aturan Islam yang mewajibkan seorang Muslim untuk menjaga kebersihan. "Kebersihan adalah sebagian dari iman," begitu bunyi ketentuannya. Nah, kalau kita taat pada kewajiban itu, maka diri dan lingkungan kita akan selalu bersih. Sehingga siapa 'pun yang hidup berdampingan, berinteraksi dan bersosialisasi dengan kita, akan merasakan nikmat Islam kita yang telah menjaga kebersihan itu, Orang akan senang karena kawan atau tetangga dan lingkungannya bersih. Itulah yang dimaksud dengan nikmat kesempurnan Islam. Islam sebagai agama memang mungkin tak dianut oleh seluruh masyarakat di lingkungan kita, baik lingkungan rumah, kantor atau lingkungan kita lainnya. Tapi, kesempurnaan Islam sebagai way of life akan dirasakan oleh mereka juga. Sehingga mereka akan nyaman hidup dengan kita, meskipun berbeda agama.  

Dengan itu pula sebenarnya kita bukan hanya menuntaskan kewajiban kita untuk menjaga kebersihan, tapi juga mendapat nilai plus yakni mendakwahkan Islam. Sebab, setiap Muslim adalah duta Islam. Mereka yang non-Muslim kebanyakan tak belajar ajaran kita. Penilaian mereka akan Islam besar kemungkinan dengan melihat tingkah laku atau kebiasaan kita yang tak lain adalah seorang Muslim. Kalau keberislaman kita menyamankan orang lain, maka kita berarti telah membuat citra Islam positif di benak mereka. Sehingga, paling tidak, mereka akan salut pada Islam yang kita anut. Sebaliknya, jika kita sebagai Muslim tak menjalankan dengan baik ketentuan Islam, maka itu akan membuat citra Islam menjadi negatif. Inilah yang oleh Muhammad Abduh (Tokoh Pembaruan Islam Mesir) disebut bahwa "Islam sering kali dihancurkan oleh umatnya." Sehingga, kata Abduh, "tak jarang saya melihat Muslim di Mesir, tapi tak melihat Islam di sana. Tapi saya melihat Islam di Prancis, walaupun saya tak melihat Muslim di sana."

Tuesday, June 16, 2015

Islam Cinta


"Islam Cinta" tentu bukanlah sebuah madzhab atau "isme" dalam Islam. "Islam" dan "Cinta" adalah satu kesatuan yang integral. Cinta adalah salah satu varian dasar dan utama dari Islam. Ada sederet hadist dan ucapan ulama -terlebih syair sufi- tentang itu. Dalam konteks itu, bahkan azab-Nya 'pun tak turun dan berjalan kecuali atas dasar Cinta-Nya. Sehingga, sebagai bagian dari upaya berakhlak seperti akhlak-Nya, maka amar ma'ruf-nahi munkar atau jihad kita 'pun harusnya didasarkan, bernafaskan, dan digerakkan oleh, dalam dan untuk Cinta. Aspek Cinta dalam Islam itu yang sedang diperjuangkan ke permukaan umat Islam Indonesia oleh Haidar Bagir, dkk melalui pembentukan Gerakan Islam Cinta (GIC)-nya sejak 2012 lalu. 

Islam Cinta hadir untuk mencairkan sentimen antar madzhab yang beberapa tahun terakhir ini kerap mengemuka di Indonesia. Ia sekaligus sebuah perlawanan terhadap suara-suara kebencian yang belakangan ini juga kerap muncul mengatasnamakan Islam dan mengoyak sendi-sendi utama Islam kita: mengkafirkan sesama Muslim yang tak sepaham dengan mereka, mengadu-domba madzhab dalam Islam, serta mem-bid'ah-kan Islam Nusantara warisan Wali Songo dan men-thoghut-kan Pancasila yang telah sejak awal kita yakini sebagai prinsip kebangsaan kita yang senafas dengan nilai dasar Islam.  

Islam Cinta juga berarti perlawanan atau penyadaran terhadap berbagai upaya maupun tindakan -yang disengaja atau tak disengaja- yang mereduksi Islam, sehingga Islam menjadi sempit, jumud, terbelakang, dan mengerikan. Bertolak belakang dari misi Allah bagi Islam sebagai rahmatan lil 'alamin: rahmat bagi semesta alam. Islam Cinta berupaya mengembalikan Islam ke khittah-nya yang jelas-jelas ditegaskan oleh-Nya bahwa rahmat-Nya meliputi segala sesuatu yang lebih luas dari -bahkan meliputi- murka-Nya.   

Oleh karena itu, sejak didirikan pertama kali, GIC terbuka, menaungi dan diisi oleh hampir seluruh elemen umat dan tokoh Muslim Indonesia yang meyakini Islam sebagai agama Cinta. Sehingga, dalam pencetusannya, tokoh dari berbagai madzhab, ormas Islam, aliran pemikiran, dan latar belakang turut mengisi dan mendukungnya. 

Sebab, secara konseptual, tak ada alasan untuk tak sepakat dan mendukung Islam Cinta. Tuhan kita adalah Maha Pengasih dan Penyayang, Qur'an juga diawali dengan nama-Nya yang Pengasih dan Penyayang, Nabi Muhammad juga adalah "Nabi Rahmat" (Nabiyu ar-Rahmah), Islam 'pun adalah agama rahmat semesta dan seorang Muslim patut menjadi 'duta' Cinta dengan selalu mengucap salam-rahmat bagi siapa yang ditemuinya.

Apa yang digagas GIC adalah gagasan besar yang menyentuh problem paling mendasar dari krisis Islam kita, bahkan Islam dunia yang bersumbu di Timur Tengah, yakni dengan mengupayakan untuk mengembalikan Islam ke takhta utamanya: singgasana Cinta. Bahkan, lebih jauh lagi, Cinta adalah takhta ke-manusia-an kita. Sebab, atas dasar itulah manusia diciptakan oleh Tuhan. Sehingga dengan dasar itu pula kita akan hidup dan menuju kembali pada-Nya. Dan sebagai Muslim, 'kendaraan' kita untuk kembali pada Cinta itu bernama Islam.

3 Juni kemarin, GIC menyelenggarakan "Festival Islam Cinta" di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Begitulah pengajian ala GIC. Mereka festivalkan Islam Cinta, sehingga keindahan Islam benar-benar mengemuka dan dirasakan umatnya serta umat agama lain. Festival itu tak kalah sakral dan bernilai religius dari pengajian. Namun, dengan format itu, pesan dan rahmat Islam justru lebih mengena dan meluas. Karena memang jalan Islam dan Keselamatan itu begitu luas, seluas rahmat-Nya. (Husein Ja'far Al Hadar, Koran Tempo 16 Juni 2015)