Tuesday, June 16, 2015

Islam Cinta


"Islam Cinta" tentu bukanlah sebuah madzhab atau "isme" dalam Islam. "Islam" dan "Cinta" adalah satu kesatuan yang integral. Cinta adalah salah satu varian dasar dan utama dari Islam. Ada sederet hadist dan ucapan ulama -terlebih syair sufi- tentang itu. Dalam konteks itu, bahkan azab-Nya 'pun tak turun dan berjalan kecuali atas dasar Cinta-Nya. Sehingga, sebagai bagian dari upaya berakhlak seperti akhlak-Nya, maka amar ma'ruf-nahi munkar atau jihad kita 'pun harusnya didasarkan, bernafaskan, dan digerakkan oleh, dalam dan untuk Cinta. Aspek Cinta dalam Islam itu yang sedang diperjuangkan ke permukaan umat Islam Indonesia oleh Haidar Bagir, dkk melalui pembentukan Gerakan Islam Cinta (GIC)-nya sejak 2012 lalu. 

Islam Cinta hadir untuk mencairkan sentimen antar madzhab yang beberapa tahun terakhir ini kerap mengemuka di Indonesia. Ia sekaligus sebuah perlawanan terhadap suara-suara kebencian yang belakangan ini juga kerap muncul mengatasnamakan Islam dan mengoyak sendi-sendi utama Islam kita: mengkafirkan sesama Muslim yang tak sepaham dengan mereka, mengadu-domba madzhab dalam Islam, serta mem-bid'ah-kan Islam Nusantara warisan Wali Songo dan men-thoghut-kan Pancasila yang telah sejak awal kita yakini sebagai prinsip kebangsaan kita yang senafas dengan nilai dasar Islam.  

Islam Cinta juga berarti perlawanan atau penyadaran terhadap berbagai upaya maupun tindakan -yang disengaja atau tak disengaja- yang mereduksi Islam, sehingga Islam menjadi sempit, jumud, terbelakang, dan mengerikan. Bertolak belakang dari misi Allah bagi Islam sebagai rahmatan lil 'alamin: rahmat bagi semesta alam. Islam Cinta berupaya mengembalikan Islam ke khittah-nya yang jelas-jelas ditegaskan oleh-Nya bahwa rahmat-Nya meliputi segala sesuatu yang lebih luas dari -bahkan meliputi- murka-Nya.   

Oleh karena itu, sejak didirikan pertama kali, GIC terbuka, menaungi dan diisi oleh hampir seluruh elemen umat dan tokoh Muslim Indonesia yang meyakini Islam sebagai agama Cinta. Sehingga, dalam pencetusannya, tokoh dari berbagai madzhab, ormas Islam, aliran pemikiran, dan latar belakang turut mengisi dan mendukungnya. 

Sebab, secara konseptual, tak ada alasan untuk tak sepakat dan mendukung Islam Cinta. Tuhan kita adalah Maha Pengasih dan Penyayang, Qur'an juga diawali dengan nama-Nya yang Pengasih dan Penyayang, Nabi Muhammad juga adalah "Nabi Rahmat" (Nabiyu ar-Rahmah), Islam 'pun adalah agama rahmat semesta dan seorang Muslim patut menjadi 'duta' Cinta dengan selalu mengucap salam-rahmat bagi siapa yang ditemuinya.

Apa yang digagas GIC adalah gagasan besar yang menyentuh problem paling mendasar dari krisis Islam kita, bahkan Islam dunia yang bersumbu di Timur Tengah, yakni dengan mengupayakan untuk mengembalikan Islam ke takhta utamanya: singgasana Cinta. Bahkan, lebih jauh lagi, Cinta adalah takhta ke-manusia-an kita. Sebab, atas dasar itulah manusia diciptakan oleh Tuhan. Sehingga dengan dasar itu pula kita akan hidup dan menuju kembali pada-Nya. Dan sebagai Muslim, 'kendaraan' kita untuk kembali pada Cinta itu bernama Islam.

3 Juni kemarin, GIC menyelenggarakan "Festival Islam Cinta" di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Begitulah pengajian ala GIC. Mereka festivalkan Islam Cinta, sehingga keindahan Islam benar-benar mengemuka dan dirasakan umatnya serta umat agama lain. Festival itu tak kalah sakral dan bernilai religius dari pengajian. Namun, dengan format itu, pesan dan rahmat Islam justru lebih mengena dan meluas. Karena memang jalan Islam dan Keselamatan itu begitu luas, seluas rahmat-Nya. (Husein Ja'far Al Hadar, Koran Tempo 16 Juni 2015)

0 comments:

Post a Comment