Sunday, June 21, 2015

Islam itu Nikmat

Salah satu nikmat terbesar yang khusus dan hanya dimiliki oleh seorang Muslim adalah "nikmat Islam". Kita mungkin sudah sering mendengar itu dari para penceramah (khatib) di masjid-masjid, musholla-musholla, majlis taklim, dan lain-lain. Mereka biasanya mengawali khotbahnya dengan mengajak pendengarnya untuk mensyukuri nikmat Islam yang dikaruniakan Allah pada kita. 

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan nikmat Islam itu? Sudahkan kita menyadari dan merasakannya? Sebab itu penting untuk semakin mengokohkan Islam kita. Sehingga kita tahu dan sadar bahwa Islam dengan segala kewajiban dan aturannya itu sebenarnya nikmat. Dengan begitu, kita akan enjoy dalam ber-Islam, bukan malah merasakan Islam sebagai kekangan bagi kita. 

Sebab, pada dasarnya, kewajiban dan aturan-aturan Islam yang diterapkan Allah untuk kita sebagai Muslim adalah sesuai dengan fitrah atau keinginan dan tujuan paling mendasar dan utama kita dalam hidup, bukan hanya kini di dunia tapi juga nanti di akhirat. Dalam hal ini, kita bisa umpamakan Islam itu bagaikan olahraha. Olahraga itu memang melelahkan. Karenanya tak sedikit orang yang berat dan malas berolahraga. Tapi, jika kita tahu dan sadar bahwa fitrah jasmani kita -mau atau tak mau, suka atau tak suka- harus berolahraga agar sehat dan tetap bugar, maka kita akan merasakan nikmatnya berolahraga. Tiap tetes keringat yang keluar dari berolahraga akan menumbuhkan sikap puas, gembira dan tenang karena kita telah memenuhi kebutuhan jasmani kita sekaligus memastikan sa depan tubuh kita tetap sehat dan bugar. Sehingga olahraga tak akan lagi menjadi beban. Tiap akan mengerjakannya 'pun akan penuh bersemangat. 

Begitu pula dengan Islam. Jika kita tahu dan sadar bahwa fitrah batin kita -mau atau tak mau, suka atau tak suka- membutuhkan Islam, maka kita akan nikmat, enjoy, dan bersemangat dalam mengerjakan semua kewajiban dan aturan Islam. Karena kita tahu dan sadar bahwa itu sebenarnya bukan tuntutan atau kekangan bagi kita, tapi bimbingan dari Allah bagi kita untuk menggapai kebahagiaan dunia dan keselamatan akhirat. Sehingga kita sadar bahwa Islam adalah nikmat dan mensyukurinya. Sebab, kita beruntung dalam hidup ini sudah ada bimbingannya, rambu-rambunya untuk meraih kesuksesan hidup. Dan tak tanggung-tanggung, bimbingan itu langsung dari Allah, Pemilik Semesta Alam ini. Maka kita yakin bahwa bimbingannya tak mungkin salah, bahkan sekedar kurang atau tak sempurna sedikit 'pun saja tidak. Jadi, jika diibaratkan hidup ini berlayar, Islam adalah kompasnya, yang membimbing kita menuju dan dengan jalan yang terbaik, paling tepat dan pintas. Sebab, orang lain masih harus berpikir, membuat teori ini dan itu, mencari guru atau motivator sini dan situ, dan lain-lainnya untuk meraih kesuksesan hidup. Sedangkan kita, alhamdulillah, sejak lahir sudah dikarunia kompas kehidupan yang pasti akan membimbing kita pada kesuksesan terbaik dan sempurna, meskipun di awal-awal kita tak tahu atau tak sadar akan itu. Tapi, lambat laun, seiring ketaatan, keihklasan dan kedewasan kita dalam ber-Islam, maka kita akan tahu bahwa jalan terbaik meraih kesempurnaan dan kebahagiaan hidup adalah dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya yang telah tertuang dalam 'diktat' bernama Islam.       
Bahkan, nikmat Islam ini sebenarnya secara tak langsung juga nikmat bagi non-Muslim. Mungkin, sebagai agama, nikmat itu khusus bagi seorang Muslim, dalam kaitannya keselamatan di akhirat kelak. Tapi, Islam sebagai bimbingan hidup (way of life), dalam kaitannya dengan kebahagiaan di dunia, jika kita terapkan, akan dirasakan pula nikmatnya oleh non-Muslim. Misalnya saja, kewajiban atau aturan Islam yang mewajibkan seorang Muslim untuk menjaga kebersihan. "Kebersihan adalah sebagian dari iman," begitu bunyi ketentuannya. Nah, kalau kita taat pada kewajiban itu, maka diri dan lingkungan kita akan selalu bersih. Sehingga siapa 'pun yang hidup berdampingan, berinteraksi dan bersosialisasi dengan kita, akan merasakan nikmat Islam kita yang telah menjaga kebersihan itu, Orang akan senang karena kawan atau tetangga dan lingkungannya bersih. Itulah yang dimaksud dengan nikmat kesempurnan Islam. Islam sebagai agama memang mungkin tak dianut oleh seluruh masyarakat di lingkungan kita, baik lingkungan rumah, kantor atau lingkungan kita lainnya. Tapi, kesempurnaan Islam sebagai way of life akan dirasakan oleh mereka juga. Sehingga mereka akan nyaman hidup dengan kita, meskipun berbeda agama.  

Dengan itu pula sebenarnya kita bukan hanya menuntaskan kewajiban kita untuk menjaga kebersihan, tapi juga mendapat nilai plus yakni mendakwahkan Islam. Sebab, setiap Muslim adalah duta Islam. Mereka yang non-Muslim kebanyakan tak belajar ajaran kita. Penilaian mereka akan Islam besar kemungkinan dengan melihat tingkah laku atau kebiasaan kita yang tak lain adalah seorang Muslim. Kalau keberislaman kita menyamankan orang lain, maka kita berarti telah membuat citra Islam positif di benak mereka. Sehingga, paling tidak, mereka akan salut pada Islam yang kita anut. Sebaliknya, jika kita sebagai Muslim tak menjalankan dengan baik ketentuan Islam, maka itu akan membuat citra Islam menjadi negatif. Inilah yang oleh Muhammad Abduh (Tokoh Pembaruan Islam Mesir) disebut bahwa "Islam sering kali dihancurkan oleh umatnya." Sehingga, kata Abduh, "tak jarang saya melihat Muslim di Mesir, tapi tak melihat Islam di sana. Tapi saya melihat Islam di Prancis, walaupun saya tak melihat Muslim di sana."

0 comments:

Post a Comment