Tuesday, August 25, 2015

Inna Ma'al Usri Yusro: "BERSAMA" Kesulitan, Ada Kemudahan

Surat An Nasyroh (Ash Sharh) di ayat 5 dan 6-nya menyebutkan dua kali bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan: “Fa inna ma’al ‘usri ‘yusro” dan “Inna ma’al ‘usri yusro”.

Penting digarisbawahi kata "bersama" dalam ayat itu. Aya itu hendak menegaskan bahwa setiap kesulitan selalu dilengkapi dengan kemudahan. Itu janji Allah dalam Kitab-Nya. Tak akan kita diberikan kesulitan atas sesuatu, kecuali juga kemudahan atas sesuatu itu juga. Tak akan kita dalam satu perkara hanya sulit saja, tapi pasti juga diberi kemudahan. Proporsinya 'pun pastilah minimal sama atau bahkan kemudahannya melebihi kesulitannya. Bahkan, ayat itu menegaskan bahwa kemudahan yang diberikan Allah tak datang setelah kesulitan, tapi "bersama" kesulitan itu sendiri. Melampaui pepatah yang mengatakan berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Sebab, kita terlanjur merasa bahwa kita harus sulit dulu untuk meraih kemudahan. Misalnya, bekerja dulu, baru mendapat gaji. Tapi, tidak bagi kemudahan yang dikaruniakan Allah pada kita. Janji Allah bahwa kemudahan itu akan datang "bersama" dengan (di dalam) kesulitan itu sendiri.

Karena jika kita perhatikan dan resapi dengan seksama, serta merenungkan setiap kesulitan yang dikaruniakan Allah pada kita, maka pastilah ditemukan bahwa didalamnya adalah satu paket dengan kemudahan itu sendiri. Hanya saja, karena kita sering kalap dan suntuk ketika menerima kesulitan, kita jadi abai bahwa didalamnya juga sebenarnya ada kemudahan. Misalnya, sebagaimana diisyarakatkan hadist Nabi, bersama dengan sakit fisik yang kita derita, didalamnya dikaruniakan sehat bagi batin kita oleh Allah berupa kemudahan bagi pikiran kita untuk mengingat Allah, bagi lidah kita untuk berdzikir, dan bagi hati kita untuk bersama dengan Allah dalam ketentraman sejati. Bahkan, dalam kesulitan berupa sakit fisik itu sendiri sebenarnya didalamnya secara bersamaan ada aktifitas organ-organ fisik kita yang sedang melakukan refresh agar tubuh kita kembali fit sebagaimana asalnya. Bayangkan jika kita tak pernah dikaruniai sakit, tanpa kita sadari organ-organ dalam fisik kita yang terforsir itu akan lapuk, lumpuh dan bahkan bisa jadi pada akhirnya mati. Perumpamaannya sebagaimana jamu yang kita minum ketika sakit: bersama pahitnya ia di lidah, ada obat untuk tubuh kita.

Oleh karena itu, para sufi memahami dan meresapi ujian -yang oleh sebagian besar kita sebagai kesulitan- justru sebagai sebuah kenikmatan yang dikaruniakan Allah pada kita karena Kasih Sayang-Nya. Dan memang, kata "adzab" dalam bahasa Arab berasal dari akar kata yang sama yang menghasilkan kata ”adzb" (biasa diterjemahkan sebagai ”siksa”) yang sesungguhnya, salah satu arti kata ini adalah “rasa manis”.

Maka, sebenarnya yang kita butuhkan dan mintakan doa kepada Allah setiap harinya bukan kemudahan dalam hidup, tapi mintalah pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran untuk mengetahui kemudahan apa yang dalam dalam setiap kesulitan yang diberikan Allah pada kita.