Sunday, September 27, 2015

Obituari "Busidin": 'Sekadar' Pengungsi Sampang!

Namanya Busidin. Bukan orang besar, jika "besar" berarti kelas sosial-ekonomi mentereng. Dia orang tua biasa, dengan satu istri tua, tiga anak dan lima cucu. Tak punya jabatan apapun. Ekonominya 'pun luntang-lantung. Bahkan, ia hanyalah seorang pengungsi di negerinya sendiri lantaran pilihan madzhabnya. Ya! Dia salah satu Muslim-Syiah Sampang yang dipaksa mengungsi ke Rusunawa Puspa Agro, Sidoarjo sejak Agustus 2012, hingga harus wafat sebagai pengungsi pada Minggu, 27 September 2015 lalu, lantaran sakit komplikasi berkepanjangan sejak dua tahun lalu. Bahkan, seperti diberitakan Koran Tempo (28/09/2015), sekadar jenazahnya 'pun yang ia sendiri berwasiat untuk dimakamkan di pekarangan rumahnya sendiri, ditolak di kampungnya. Tentu, latar belakangnya adalah sentimen madzhab. Sebab, alasan yang diungkapkan adalah keamanan. Itu terdengar sebagai sebuah alibi saja di telinga Iklil al Milal (koordinator pengungsi Sampang), dengan bertanya: "Ini 'kan hanya jenazah?" Tak adakah secercah kemanusiaan di hati mereka, bahkan pada jenazah sekali 'pun?

Namun, Busidin orang besar. Jika "besar" berarti, seperti ditulis Goenawan Mohamad (GM) dalam pengantarnya untuk "Wasiat Sufi Ayatullah Khomeini" (Yamani, 2001), orang yang mampu mengatasi ruangan jiwanya sendiri yang hendak diimpit benda-benda, karena ia menghendaki suatu kebebasan yang lebih punya arti. Orang besar, lanjut GM, adalah orang yang bekerja untuk akhirat seperti ia akan mati besok, dan bekerja untuk dunia seperti akan hidup selama-lamanya, tapi bukan dengan keserakahan untuk dirinya sendiri.

Busidin adalah orang kecil yang besar. Dia memenuhi syarat sebagai orang besar. Dia merelakan dirinya ditinggalkan pekerjaannya di kampung, menggadaikan kebahagiaan keluarga kecilnya yang biasa dirasakan keluarga kampung, bahkan merelakan dirinya terungsi (sembari terus memperjuangkan untuk kembali bukan karena kerinduan, tapi lebih karena upaya memeperjuangkan hak dan menegakkan konstitusi) untuk kebebasan yang lebih punya arti. Untuk akhiratnya. Kebebasan bermadzhab dan menjalaninya, demi posisi mulia di akhirat kelak sesuai imannya. Dia juga menolak kembali dengan syarat mengubah imannya. Baginya, lebih baik tetap dalam pilihan imannya dengan segala konsekuensinya, daripada raganya bebas tapi imannya tergadainya, hatinya terkhianati, dan batinnya terpenjara.

Busidin juga besar lantaran ia sebuah potret. Potret buram kebermadzhaban -padahal keberagamaan dan berkeyakinan saja dijamin oleh konstitusi bangsa ini. Potret korban yang justru dipersalahkan, diusir, dan bahkan pimpinannya dipenjara. Potret terkoyaknya ukhuwah (persatuan dan persaudaraan) Islam. Potret buruknya relasi Sunni-Syiah di negeri ini. Potret merajalelanya -bahkan di ranah hukum- kalangan "takfiri" (kelompok yang gemar mengkafirkan saudaranya sesama Muslim). Potret terintimidasinya hukum dan konstitusi kita. Potret ironi minoritas di tengah mayoritas. Potret hilangnya kemanusiaan kita. Dan seterusnya.

Bermadzhab, sebagaimana beragaman dan berkeyakinan, adalah hak dasar dan utama setiap orang. Bermukim di kampung sendiri juga adalah sebuah hak setiap warga negara. Bahkan, tulis Qur'an, kepada seorang atau sekelompok yang kita benci sekalipun, kita diharuskan bersikap adil. Tapi, entah, apa yang ada di hati dan pikiran saudara se-Muslimnya di Sampang yang mengusirnya saat hidup dan tetap menolaknya bahkan ketika ia telah wafat.

Namun, kita percaya janji Allah dalam Qur'an, bahwa ia yang rela mati di jalan-Nya, takkan pernah 'mati', walau tak lagi bernyawa. Busidin akan terus 'hidup'. Sebagaimana Munir. Hidup sebagai semangat, jiwa, dan energi di dada kita, untuk terus memperjuangkan hak dan keadilan. Bagi siapapun! Tanpa melihat latar belakang madzhab, agama, keyakinan, dan lain-lainnya. Kita 'pun akan "Menolak Lupa" untuk Busidin. Karena masa depan NKRI ada di sana.

Selamat jalan, Busidin!

Friday, September 25, 2015

Dari Tragedi Mina, Jadi Tragedi Muslim Indonesia

Untuk kesekian kalinya, “Tragedi Mina” kembali terjadi. Ia sudah sering terjadi: 1987, 1990, 1994, 1997, 2006, dan 2015. Ia bahkan hingga menjadi kisah horor tersendiri dalam sejarah haji. Sehingga, tak heran jika saat jemaah haji diantar oleh sanak keluarganya saat hendak berangkat, prosesi itu diiringi isak-tangis seolah hendak mengantar tentara ke medan perang.

“Tragedi Mina 2015” adalah yang terbesar kedua dalam sejarah, setelah “Tragedi Mina 1990” yang menyebabkan syahid-nya 1.426 jemaah dengan sebagian besar korban saat itu adalah jemaah haji dari Asia, terutama Indonesia dan Malaysia. Adapun kali ini, lebih 1500-an korban dan 700-an syahid. Karenanya, tragedi kali ini harus benar-benar 'digaduhkan' guna mendesak Kerajaan Arab Saudi mempertanggung-jawabkan laporan atas tragedi itu secara transparan dan komperhensif, serta mengintrospeksinya secara objektif agar horor di Mina tak lagi mengintai jemaah haji setiap tahunnya.

Mengapa sasaran pertama kritik adalah Arab Saudi? Ada sebagian pihak yang mempertanyakan, bahkan menggugat itu. Karenanya, pembahasan ini patut diawali dengan menjawab pertanyaan itu.

Pertama, karena Saudi bukan hanya memilih, tapi tertutup pada negara luar dalam pengelolaan haji dan pengurusan Haramain. Berbeda, misalnya, dengan Italia yang memberi kedaulatan (suci) pada Vatikan. Sehingga, sudah sepatutnya bagi Arab Saudi untuk tak hanya mengambil manfaat dari haji, tapi juga bertanggung-jawab atas segala sesuatu terkaitnya, termasuk tragedi. Walaupun tragedi itu, misalnya, disebabkan oleh pihak ketiga atau jemaah haji, tetaplah Arab Saudi yang harus ‘pasang badan’ pertama dan terdepan. Dia tak bisa menyalahkan pihak luar dan apalagi jemaah, karena ia yang memilih untuk bertanggung-jawab atas haji, tentunya dengan manfaat ekonomi-bisnis yang ia dapatkan serta –kalau mereka yakin- keberkahan yang mereka dapatkan dari Allah karena telah menjamu tamu-Nya.

Kedua, beberapa saat pasca-Tragedi Mina 2015, Menteri Kesehatan Arab Saudi, Khaled al-Falih langsung menyalahkan jemaah haji atas tragedi itu. Padahal, di saat-saat awal semacam itu, pihak Saudi harusnya berkomentar normatif secara bijak dan meneduhkan, misalnya, meminta semua pihak menahan diri sampai diketahui sebabnya dan menyatakan mereka berjanji akan urus dengan maksimal tragedi itu. Sehingga, takkan memicu kontroversi dan arogansi umat. Tapi, yang terjadi, tanpa penyelidikan dan bukti, otoritas Arab Saudi justru langsung menuding jemaah. Sehingga, tak heran jika tuduhan itu langsung berbalik pada mereka. Sebab, sampai investigasi selesai, memang Arab Saudi yang harus bertanggung-jawab.

Ketiga, karena Tragedi Mina terlampau sering. Dan, Tragedi Mina 2015 ini adalah tragedi kesekian yang terjadi dalam pelaksanaan haji tahun ini, setelah sebelumnya yang sangat populer adalah tragedi jatuhnya crane (ironi karena di musim haji, crane dibiarkan tetap beroperasi dan lalu-lalang di atas jutaan jemaah haji setiap harinya) di Masjidil Haram hingga menewaskan serta membuat luka-luka puluhan jemaah haji. Sehingga, sudah sepatutnya Arab Saudi introspeksi dan mengantisipasi dengan menerapkan management super rapi dan safety, sehingga tragedi takkan terulang lagi, apalagi sampai terulang lagi untuk yang terbesar kedua.

Namun, yang disayangkan adalah karena kritik atas Arab Saudi itu tak diterima secara bijak. Misalnya, bisa dilihat di media sosial, khususnya yang penulis amati di Twitter, alih-alih mendengar dan merespon kritik itu secara bijak atau minimal normatif, kritik itu justru dibalas dengan hujatan berbasis fitnah. Ini memang kian populer dalam masyarakat kita. Sebagian oknum Muslim Indonesia yang anti-kritik, memiliki cara yang ironi dalam merespon kritik. Mereka meresponnya dengan subjektif, berbasis fitnah, tanpa sumber yang jelas dan berorientasi menyerang personal. 

Pertama, kritik objektif atas Arab Saudi dibalas dengan respon yang subjektif alias semau mereka sendiri. Bahkan, misalnya dalam jejaring Twiter, kita bisa lihat bagaimana responnya sangat membabi-buta semau mereka. Jika kita ikuti, hingga akhirnya tak karuan pembahasannya: nyasar sana-sini. Tak lagi logis. Misalnya, bahkan di Twitter ditemui respon yang membandingkan Tragedi Mina dengan problem Suriah dan Yaman atau bahkan bencana alam di Indonesia. Di sini, saya jadi diingatkan dengan 'logika' yang mengaitkan jatuhnya crane di Masjidil Haram dengan kedatangan Presiden Jokowi. Alur 'logika'-nya sama. Bahkan, oknum penyebarnya juga relatif sama.

Terkait dengan respon tak logis mereka itu, saya merasa juga perlu sedikit membahas tentang 'logika' mereka yang mengaitkan Tragedi Mina 2015 dengan takdir. Membaca 'logika' itu, ingatan saya jadi terlempar pada masa Bani Umayyah di mana rezim itu menjadikan alibi teologis soal takdir sebagai legitimasi bagi kediktatoran mereka. Bahkan, jika mereka membunuh rival politiknya lantara nafsu berkuasanya, mereka kemudian katakan, "bukan kami yang membunuh, tapi Allah yang membunuh." Sebab, pemimpin rezim itu mengklaim dirinya sebagai "wakil Tuhan" dan dinastinya sebagai "Dinasti Islam". Dan itu rasanya relatif sama dengan paradigma khas pemimpin dan Dinasti Saud.

Kedua, kritik itu dianggapnya sebagai fitnah. Meskipun selengkap, seobjektif, dan selogis apapun sumber, fakta dan analisanya. Basis logikannya 'pun sentimen, khususnya sentimen madzhab. Sehingga, direspon 'lah dengan fitnah. Misalnya, dibilang 'lah bahwa Tragedi Mina 2015 lantaran jemaah haji Iran yang sengaja melawan arus untuk mengacaukan haji dan membuat Tragedi Mina. Padahal, para jemaah haji Iran itu Muslim biasa seperti kita yang tak berdosa dan tak punya tendensi selain mulia dan suci: berhaji memenuhi panggilan Allah sebagai kewajiban kelima dalam rukun Islamnya. Bahkan, sungguh tega karena tuduhan keji semacam itu diarahkan pada mereka (jemaah haji Iran) yang di dalamnya salah satunya berada Sayyid Mohsen Mousawi (Juara Musabaqoh Tilawatil Qur'an Dunia di Malaysia pada 2015). Sayyid Mohsen dan para jemaah haji Iran itu adalah korban. Di antara para korban itu bahkan ada ratusan jiwa yang mati syahid di sana. Tapi, mereka yang korban itu justru dituduh sebagai dalang Tragedi Mina. 'Logika' ini mengingatkan saya pada 'logika' mereka pada Kasus Sampang, di mana para penganut Muslim-Syiah di sana yang menjadi korban penyerangan justru dinilai sebagai pelaku, dan pemimpin Muslim-Syiah Sampang, Ustadz Tajul Muluk, justru yang dipenjara.

Dan jelas-jelas tuduhan itu mustahil dan tak logis, karena bagaimana bisa upaya menyulut tragedi semacam itu luput dan dibiarkan terjadi oleh regulasi dan kontrol Arab Saudi yang begitu ketat. Apalagi, jika memang itu yang terjadi, bukankah itu bentuk kelalaian Arab Saudi dalam menindak pengacau di sana? Dan, yang benar-benar mengerikan karena dari tuduhan pada jemaah haji Iran itu kemudian 'melompat' pada serangan mereka pada Syiah. Hanya karena rakyat Iran mayoritas Syiah? Sebuah tindakan yang seolah menguak latar belakang mereka: sentimen sektarian.

Ketiga, respon mereka juga tanpa sumber yang jelas. Bahkan, sumbernya sekadar pesan elektronik dari seorang yang tak jelas. Padahal, kini zamannya ketika sumber media mainstream 'pun perlu diverifikasi kebenarannya karena arus informasi yang begitu bebas, khususnya di era digital ini.

Keempat, respon mereka cenderung menyerang personal, bukan masalah yang dibahas. Sehingga sungguh menyedihkan. Tragedi ini jadi alasan untuk menyebar fitnah personal tentang orang-orang yang mereka benci tanpa alasan yang jelas. Padahal, jelas-jelas, Islam mengajarkan kita untuk tak melihat siapa yang berbicara, tapi apa yang dibicarakan.

Sehingga, saya jadi menilai bahwa Tragedi Mina bukan hanya menjadi tragedi di Mina, tapi juga Tragedi Indonesia alias tragedi di Indonesia. Karena tragedi di sana membuat kita saling serang dengan fitnah yang keji yang bukan mengurai masalah Tragedi Mina, tapi justru membuat tragedi baru di sini yang bisa jadi lebih ironi karena bukan lagi fisik, tapi fitnah pada person, negara, bangsa, bahkan madzhab.

Thursday, September 10, 2015

Harta Karun itu Bernama "Hikmah"

"Hikmah adalah harta karun yang dimiliki seorang Muslim"

(Sayyidina Ali)


Dengan segala kenikmatannya, Islam masih menambahkan seorang Muslim satu harta karun yang sangat berharga. Sayyidina Ali yang mengemukakan itu. Harta karun itu berupa: "hikmah". 

Seorang Muslim haruslah pandai memungut hikmah. Bahkan, kata Sayyidina Ali, walau itu datang dari mulutnya seorang yang munafik sekali 'pun. Atau, kata pepatah Arab, walau ia datang dari (maaf-maaf) pantat seekor anjing. Sebegitu pentingnya hikmah bagi kita, sehingga permisalannya 'pun diambil dari yang paling buruk sekali 'pun.

Bagaimana mendapatkan harta karun seorang Muslim itu? Syarat pertamanya adalah bahwa kita tak boleh melihat sesuatu hanya pada apa yang tampak atau dari satu sudut pandang saja. Tapi, diharuskan menggali aspek-aspek lain yang mendalam, dari sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang umumnya. Misalnya, ketika kita kehilangan uang atau barang berharga, sudut pandang pada umumnya akan melihat itu sebagai musibah dan menyesalinya. Bahkan, tak jarang kita yang kemudian mencari-cari kambing hitam atas musibah itu dengan menyalahkan orang lain atas kehilangan itu atau bahakan menyalahkan diri sendiri: "Kenapa juga saya harus bawa dompet?!" atau penyesalan-penyelasan lainnya yang tak bermanfaat bagi kita dan bahkan berdampak negatif karena membuat kita menyesal berlarut-larut atau menyalah-nyalahkan diri sendiri atau malah orang lain.

Maka, pola pandang yang berbasis hikmah, atas kasus itu, kita akan melihat dari sudut pandang lain yang positif. Misalnya, alih-alih kita menganggap itu musibah, justru sebaliknya: menganggap kehilangan itu sebagai tolak bala' (musibah). Itulah yang diajarkan nenek moyang kita, bahwa kehilangan akan uang atau barang yang kita cintai sebenarnya adalah cara Allah untuk menolakkan bala' yang akan datang pada kita. Sehingga dengan begitu kita jadi berpikir malah untung terjadi kehilangan itu, karena jika tidak kita akan terkena bala' yang tentu efek dan penderitaannya akan jauh lebih berat dari sekadar kehilangan uang atau barang yang kita cintai.

Atau, Muslim pemburu hikmah bisa juga menggeser sudut pandangnya tentang insiden kehilangan itu dengan mengelola hatinya dari yang awalnya mengaggap itu kehilangan, tapi digeser dengan menghitungnya sedekah, sembari berdoa agar yang menemukannya adalah orang yang benar-benar membutukannya. Sehingga, alih-alih kita akan dapat dosa karena menyesal berlarut-larut dan menyalahkan orang lain atau diri sendiri, peristiwa kehilangan itu justru menjadi ladang pahala bagi kita untuk beramal.

Sunday, September 6, 2015

Imam Shamsi Ali: Mengelola Islam di Tengah Stigma

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Esai ini juga dimuat dalam buku "Menyegarkan Islam Kita")

Ada tantangan baru terhadap Muslim dan dunia Islam pasca-Tragedi 11/9 dalam konteks relasi dengan dunia Barat (khususnya Amerika Serikat (AS) dan Eropa). Tantangan itu berupa efek langsung maupun tak langsung dari tragedi yang terlanjur dikaitkan dengan Muslim dan dunia Islam berupa stigma negatif (anarkis, bahkan teroris) tentang Islam yang kemudian memunculkan fenomena Islamophobia. 
John L. Esposito melalui karyanya yang berjudul Masa Depan Islam (terj, 2010) kemudian menjadi salah satu tokoh yang secara gigih mencoba merespon tantangan itu. Karyanya itu memuat data lengkap (khususnya dari sumber-sumber non-Muslim yang kompeten) dengan analisa yang komperhensif berbasis sosiologis dan bahkan teologis. Karya itu cukup mengklarifikasi segala tuduhan dan stigma negatif yang sengaja dibangun atau terbangun sendiri sebagai sebuah efek Tragedi 11/9 terhadap Islam. Namun, tantangan itu benar-benar telah menjadi arus negatif besar bagi Muslim dan dunia Islam, khususnya karena sederet varian politis yang menyelimutinya. 
Di sisi lain, ada nama Imam Shamsi Ali (tokoh Islam di New York, AS) yang merupakan tokoh Muslim di AS (berasal dari Sulawesi Selatan, Indonesia) yang mencoba menggagas respon alternatif guna menghadang arus besar stigma negatif pada Islam itu. Sepak terjang itulah yang kemudian diabadikan oleh Julie Nava dalam buku baru berjudul Imam Shamsi Ali; Menebar Damai di Bumi Barat (2013). Akhir bulan November kemarin, ia juga pulang kampung untuk mengkampanyekan dan menebar kasih Islam-nya di kampung halamannya, Indonesia.   
Menurut penulis, sepak terjang serta pandangan alternatif Shamsi Ali itu penting untuk diikuti dan direfleksikan guna menjadi bekal bagi upaya untuk terus merajut kembali relasi 'mesra' antara dunia Islam dan Barat. Pasalnya, berbeda dengan karya Esposito, sepak terjang dan pandangan keislaman Shamsi Ali -dalam kaitannya guna merespon stigma negatif tentang Islam di Barat- seperti direkam dalam buku itu justru tak sarat akan data maupun analisa yang cenderung bersifat akademis seperti ditulis Esposito. Shamsi Ali justru berkisah tentang pengalaman (ketepukulan, gejolak dan bahkan kecemasan) yang dirasakannya langsung sebagai seorang tokoh Islam pasca-Tragedi 11/9, khususnya dibandingkan dengan kondisi pra-Tragedi 11/9. 
Menurut penulis, itu penting guna memberikan gambaran pada umat Islam yang tak mengalami kehidupan langsung di dunia Barat tentang keberislaman di sana, dengan segala tantangannya, khususnya sebagai minoritas yang kemudian tiba-tiba harus menerima stigma negatif tentang agamanya atas sesuatu yang bukan hanya tak dilakukannya tapi bukan bertentangan dengan pandangan keislamannya. 
Seperti dikemukakan Shamsi Ali dalam buku itu, justru itulah yang kerap absen dari keberislaman kita, yakni apa yang disebutnya outreach atau keterbukaan diri dalam ber-Islam sehingga non-Muslim bisa tahu tentang Islam dan kita secara utuh dan sebenarnya, juga sebaliknya kita tahu dan merasakan agama dan umat non-Islam -yang seperti pengakuan Shamsi Ali- justru sangat ramah, bijak dan bahkan merepresentasikan nilai-nilai keislaman. Sebab, seperti kata pepatah Arab: "Manusia takut pada apa yang tak diketahuinya" (al-nas a'dau ma jahlu). Atau pepatah Indonesia: "Tak kenal maka tak sayang." Itu pula yang menjadi kesimpulan Norman Daniel dalam Islam and the West dan Robert W. Southern dalam Western View of Islam in the Middle Ages, bahwa stigma negatif, ketegangan, bahkan konflik antar agama sering muncul karena ketidaktahuan.  
Oleh karena itu, misalnya, ketika dalam momentum pulang kampungnya kemarin ia siaran dakwah di Radio Silaturahim (Rasil) dan kemudian mendapat mention di akun Twitter-nya agar membatalkan rencana siarannya itu karena Rasil merupakan rasio berstigma Syiah, ia justru meminta agar siapa yang berstigma seperti itu untuk datang dan berdialog langsung dengan redaksi Rasil tentang tuduhan itu. Alih-alih ia meladeni tuduhan itu dengan sederet argumentasi yang kerap kali hanya justru memperkuat stigma tersebut, ia justru meminta penuduh itu melakukan outreach.      
Selain itu, menurut penulis, ada beberapa poin dari keberislaman Shamsi Ali yang patut direnungkan sebagai basis guna membangun keberislaman kita agar benar-benar selaras dengan pesan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin, khususnya di tengah stigma negatif atas Islam. 
Pertama, keberislaman yang adil, dalam arti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Dalam konteks ini, diharamkan untuk mengeneralisir segala sesuatu, termasuk non-Muslim. Seperti yang diperlihatkan Imam Shamsi Ali, misalnya pasca-Tragedi 11/9, ia tak mau terjebak untuk menilai semua non-Muslim (khususnya rakyat AS) sebagai pribadi yang buruk. Sebab, itu artinya, ia terjebak dalam stigma yang tak berdasar, tak adil dan menggeneralisir. Sesuatu yang tak rela dilekatkan pada Muslim secara keseluruhan apalagi Islam. Karenanya, tetap konsisten membangun hubungan baik (sebagaimana sebelum tragedi itu) dengan setiap non-Muslim di AS. Bahkan, pada yang termakan oleh provokasi negatif pada Islam, ia terus berusaha berdialog dan menyadarkan mereka bahwa apa yang terjadi pada AS dalam Tragedi 11/9 bertentangan dengan ajaran Islam dan pandangan mayoritas Muslim, khususnya di AS. 
Kedua, keberislaman yang bertanggung jawab. Beberapa hari setelah Tragedi 11/9, beberapa tokoh dan umat Muslim AS berinisiatif untuk menutup masjid dengan alasan keamanan. Namun, sembari menghimbau agar tetap waspada, ia menolak inisiatif itu karena dinilainya sebagai bentuk ketidakbertanggungjawaban yang bisa memberi kesan bahwa ia dan umat Islam di AS menerima tuduhan negatif pada Islam atas Tragedi 11/9 dan merasa bersalah atas tragedi itu. 
Ketiga, keberislaman yang berparadigma universal. Menurut Imam Shamsi Ali, umat Islam harus bekerjasama secara konstruktif dengan seluruh umat manusia (apapun agama dan keyakinanya) untuk membangun sebuah way of life berdasarkan nilai-nilai universal dan mendasar yang sama dalam setiap agama dan keyakinan, yakni perdamaian dan kemanusiaan. Oleh karena itu, pasca-Tragedi 11/9, ketika sentimen Muslim dan non-Muslim memuncak, ia justru membangun apa yang disebutnya mutual platform atau kalimah sawaa (dalam bahasa Qur'an) berbasis pada nilai universal setiap agama dan keyakinan dan berorientasi pada perdamaian, kemanusiaan dan kebersamaan. Salah satunya, dengan melakukan kerjasama interfaith dengan sinagoge (disponsori Jewish Teological Seminary) hingga menghasilkan karya bersama berjudul Sons of Abraham yang diterbitkan Random House pada September 2013 lalu.
Maka, seperti diperlihatkan Imam Shamsi Ali, pada dasarnya, problem munculnya sentimen atau bahkan konflik antar agama (apalagi internal Islam) adalah keengganan kita untuk terbuka, berdialog secara konstruktif dan tulus dengan "yang lain". Sebab, itulah sebenarnya makna esensial dari silaturahmi, yang patut dibalut dengan akhlak yang baik (akhlakul karimah) serta dugaan yang positif (husnudhon) pada "yang lain".