Friday, September 25, 2015

Dari Tragedi Mina, Jadi Tragedi Muslim Indonesia

Untuk kesekian kalinya, “Tragedi Mina” kembali terjadi. Ia sudah sering terjadi: 1987, 1990, 1994, 1997, 2006, dan 2015. Ia bahkan hingga menjadi kisah horor tersendiri dalam sejarah haji. Sehingga, tak heran jika saat jemaah haji diantar oleh sanak keluarganya saat hendak berangkat, prosesi itu diiringi isak-tangis seolah hendak mengantar tentara ke medan perang.

“Tragedi Mina 2015” adalah yang terbesar kedua dalam sejarah, setelah “Tragedi Mina 1990” yang menyebabkan syahid-nya 1.426 jemaah dengan sebagian besar korban saat itu adalah jemaah haji dari Asia, terutama Indonesia dan Malaysia. Adapun kali ini, lebih 1500-an korban dan 700-an syahid. Karenanya, tragedi kali ini harus benar-benar 'digaduhkan' guna mendesak Kerajaan Arab Saudi mempertanggung-jawabkan laporan atas tragedi itu secara transparan dan komperhensif, serta mengintrospeksinya secara objektif agar horor di Mina tak lagi mengintai jemaah haji setiap tahunnya.

Mengapa sasaran pertama kritik adalah Arab Saudi? Ada sebagian pihak yang mempertanyakan, bahkan menggugat itu. Karenanya, pembahasan ini patut diawali dengan menjawab pertanyaan itu.

Pertama, karena Saudi bukan hanya memilih, tapi tertutup pada negara luar dalam pengelolaan haji dan pengurusan Haramain. Berbeda, misalnya, dengan Italia yang memberi kedaulatan (suci) pada Vatikan. Sehingga, sudah sepatutnya bagi Arab Saudi untuk tak hanya mengambil manfaat dari haji, tapi juga bertanggung-jawab atas segala sesuatu terkaitnya, termasuk tragedi. Walaupun tragedi itu, misalnya, disebabkan oleh pihak ketiga atau jemaah haji, tetaplah Arab Saudi yang harus ‘pasang badan’ pertama dan terdepan. Dia tak bisa menyalahkan pihak luar dan apalagi jemaah, karena ia yang memilih untuk bertanggung-jawab atas haji, tentunya dengan manfaat ekonomi-bisnis yang ia dapatkan serta –kalau mereka yakin- keberkahan yang mereka dapatkan dari Allah karena telah menjamu tamu-Nya.

Kedua, beberapa saat pasca-Tragedi Mina 2015, Menteri Kesehatan Arab Saudi, Khaled al-Falih langsung menyalahkan jemaah haji atas tragedi itu. Padahal, di saat-saat awal semacam itu, pihak Saudi harusnya berkomentar normatif secara bijak dan meneduhkan, misalnya, meminta semua pihak menahan diri sampai diketahui sebabnya dan menyatakan mereka berjanji akan urus dengan maksimal tragedi itu. Sehingga, takkan memicu kontroversi dan arogansi umat. Tapi, yang terjadi, tanpa penyelidikan dan bukti, otoritas Arab Saudi justru langsung menuding jemaah. Sehingga, tak heran jika tuduhan itu langsung berbalik pada mereka. Sebab, sampai investigasi selesai, memang Arab Saudi yang harus bertanggung-jawab.

Ketiga, karena Tragedi Mina terlampau sering. Dan, Tragedi Mina 2015 ini adalah tragedi kesekian yang terjadi dalam pelaksanaan haji tahun ini, setelah sebelumnya yang sangat populer adalah tragedi jatuhnya crane (ironi karena di musim haji, crane dibiarkan tetap beroperasi dan lalu-lalang di atas jutaan jemaah haji setiap harinya) di Masjidil Haram hingga menewaskan serta membuat luka-luka puluhan jemaah haji. Sehingga, sudah sepatutnya Arab Saudi introspeksi dan mengantisipasi dengan menerapkan management super rapi dan safety, sehingga tragedi takkan terulang lagi, apalagi sampai terulang lagi untuk yang terbesar kedua.

Namun, yang disayangkan adalah karena kritik atas Arab Saudi itu tak diterima secara bijak. Misalnya, bisa dilihat di media sosial, khususnya yang penulis amati di Twitter, alih-alih mendengar dan merespon kritik itu secara bijak atau minimal normatif, kritik itu justru dibalas dengan hujatan berbasis fitnah. Ini memang kian populer dalam masyarakat kita. Sebagian oknum Muslim Indonesia yang anti-kritik, memiliki cara yang ironi dalam merespon kritik. Mereka meresponnya dengan subjektif, berbasis fitnah, tanpa sumber yang jelas dan berorientasi menyerang personal. 

Pertama, kritik objektif atas Arab Saudi dibalas dengan respon yang subjektif alias semau mereka sendiri. Bahkan, misalnya dalam jejaring Twiter, kita bisa lihat bagaimana responnya sangat membabi-buta semau mereka. Jika kita ikuti, hingga akhirnya tak karuan pembahasannya: nyasar sana-sini. Tak lagi logis. Misalnya, bahkan di Twitter ditemui respon yang membandingkan Tragedi Mina dengan problem Suriah dan Yaman atau bahkan bencana alam di Indonesia. Di sini, saya jadi diingatkan dengan 'logika' yang mengaitkan jatuhnya crane di Masjidil Haram dengan kedatangan Presiden Jokowi. Alur 'logika'-nya sama. Bahkan, oknum penyebarnya juga relatif sama.

Terkait dengan respon tak logis mereka itu, saya merasa juga perlu sedikit membahas tentang 'logika' mereka yang mengaitkan Tragedi Mina 2015 dengan takdir. Membaca 'logika' itu, ingatan saya jadi terlempar pada masa Bani Umayyah di mana rezim itu menjadikan alibi teologis soal takdir sebagai legitimasi bagi kediktatoran mereka. Bahkan, jika mereka membunuh rival politiknya lantara nafsu berkuasanya, mereka kemudian katakan, "bukan kami yang membunuh, tapi Allah yang membunuh." Sebab, pemimpin rezim itu mengklaim dirinya sebagai "wakil Tuhan" dan dinastinya sebagai "Dinasti Islam". Dan itu rasanya relatif sama dengan paradigma khas pemimpin dan Dinasti Saud.

Kedua, kritik itu dianggapnya sebagai fitnah. Meskipun selengkap, seobjektif, dan selogis apapun sumber, fakta dan analisanya. Basis logikannya 'pun sentimen, khususnya sentimen madzhab. Sehingga, direspon 'lah dengan fitnah. Misalnya, dibilang 'lah bahwa Tragedi Mina 2015 lantaran jemaah haji Iran yang sengaja melawan arus untuk mengacaukan haji dan membuat Tragedi Mina. Padahal, para jemaah haji Iran itu Muslim biasa seperti kita yang tak berdosa dan tak punya tendensi selain mulia dan suci: berhaji memenuhi panggilan Allah sebagai kewajiban kelima dalam rukun Islamnya. Bahkan, sungguh tega karena tuduhan keji semacam itu diarahkan pada mereka (jemaah haji Iran) yang di dalamnya salah satunya berada Sayyid Mohsen Mousawi (Juara Musabaqoh Tilawatil Qur'an Dunia di Malaysia pada 2015). Sayyid Mohsen dan para jemaah haji Iran itu adalah korban. Di antara para korban itu bahkan ada ratusan jiwa yang mati syahid di sana. Tapi, mereka yang korban itu justru dituduh sebagai dalang Tragedi Mina. 'Logika' ini mengingatkan saya pada 'logika' mereka pada Kasus Sampang, di mana para penganut Muslim-Syiah di sana yang menjadi korban penyerangan justru dinilai sebagai pelaku, dan pemimpin Muslim-Syiah Sampang, Ustadz Tajul Muluk, justru yang dipenjara.

Dan jelas-jelas tuduhan itu mustahil dan tak logis, karena bagaimana bisa upaya menyulut tragedi semacam itu luput dan dibiarkan terjadi oleh regulasi dan kontrol Arab Saudi yang begitu ketat. Apalagi, jika memang itu yang terjadi, bukankah itu bentuk kelalaian Arab Saudi dalam menindak pengacau di sana? Dan, yang benar-benar mengerikan karena dari tuduhan pada jemaah haji Iran itu kemudian 'melompat' pada serangan mereka pada Syiah. Hanya karena rakyat Iran mayoritas Syiah? Sebuah tindakan yang seolah menguak latar belakang mereka: sentimen sektarian.

Ketiga, respon mereka juga tanpa sumber yang jelas. Bahkan, sumbernya sekadar pesan elektronik dari seorang yang tak jelas. Padahal, kini zamannya ketika sumber media mainstream 'pun perlu diverifikasi kebenarannya karena arus informasi yang begitu bebas, khususnya di era digital ini.

Keempat, respon mereka cenderung menyerang personal, bukan masalah yang dibahas. Sehingga sungguh menyedihkan. Tragedi ini jadi alasan untuk menyebar fitnah personal tentang orang-orang yang mereka benci tanpa alasan yang jelas. Padahal, jelas-jelas, Islam mengajarkan kita untuk tak melihat siapa yang berbicara, tapi apa yang dibicarakan.

Sehingga, saya jadi menilai bahwa Tragedi Mina bukan hanya menjadi tragedi di Mina, tapi juga Tragedi Indonesia alias tragedi di Indonesia. Karena tragedi di sana membuat kita saling serang dengan fitnah yang keji yang bukan mengurai masalah Tragedi Mina, tapi justru membuat tragedi baru di sini yang bisa jadi lebih ironi karena bukan lagi fisik, tapi fitnah pada person, negara, bangsa, bahkan madzhab.

0 comments:

Post a Comment