Sunday, September 6, 2015

Imam Shamsi Ali: Mengelola Islam di Tengah Stigma

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Esai ini juga dimuat dalam buku "Menyegarkan Islam Kita")

Ada tantangan baru terhadap Muslim dan dunia Islam pasca-Tragedi 11/9 dalam konteks relasi dengan dunia Barat (khususnya Amerika Serikat (AS) dan Eropa). Tantangan itu berupa efek langsung maupun tak langsung dari tragedi yang terlanjur dikaitkan dengan Muslim dan dunia Islam berupa stigma negatif (anarkis, bahkan teroris) tentang Islam yang kemudian memunculkan fenomena Islamophobia. 
John L. Esposito melalui karyanya yang berjudul Masa Depan Islam (terj, 2010) kemudian menjadi salah satu tokoh yang secara gigih mencoba merespon tantangan itu. Karyanya itu memuat data lengkap (khususnya dari sumber-sumber non-Muslim yang kompeten) dengan analisa yang komperhensif berbasis sosiologis dan bahkan teologis. Karya itu cukup mengklarifikasi segala tuduhan dan stigma negatif yang sengaja dibangun atau terbangun sendiri sebagai sebuah efek Tragedi 11/9 terhadap Islam. Namun, tantangan itu benar-benar telah menjadi arus negatif besar bagi Muslim dan dunia Islam, khususnya karena sederet varian politis yang menyelimutinya. 
Di sisi lain, ada nama Imam Shamsi Ali (tokoh Islam di New York, AS) yang merupakan tokoh Muslim di AS (berasal dari Sulawesi Selatan, Indonesia) yang mencoba menggagas respon alternatif guna menghadang arus besar stigma negatif pada Islam itu. Sepak terjang itulah yang kemudian diabadikan oleh Julie Nava dalam buku baru berjudul Imam Shamsi Ali; Menebar Damai di Bumi Barat (2013). Akhir bulan November kemarin, ia juga pulang kampung untuk mengkampanyekan dan menebar kasih Islam-nya di kampung halamannya, Indonesia.   
Menurut penulis, sepak terjang serta pandangan alternatif Shamsi Ali itu penting untuk diikuti dan direfleksikan guna menjadi bekal bagi upaya untuk terus merajut kembali relasi 'mesra' antara dunia Islam dan Barat. Pasalnya, berbeda dengan karya Esposito, sepak terjang dan pandangan keislaman Shamsi Ali -dalam kaitannya guna merespon stigma negatif tentang Islam di Barat- seperti direkam dalam buku itu justru tak sarat akan data maupun analisa yang cenderung bersifat akademis seperti ditulis Esposito. Shamsi Ali justru berkisah tentang pengalaman (ketepukulan, gejolak dan bahkan kecemasan) yang dirasakannya langsung sebagai seorang tokoh Islam pasca-Tragedi 11/9, khususnya dibandingkan dengan kondisi pra-Tragedi 11/9. 
Menurut penulis, itu penting guna memberikan gambaran pada umat Islam yang tak mengalami kehidupan langsung di dunia Barat tentang keberislaman di sana, dengan segala tantangannya, khususnya sebagai minoritas yang kemudian tiba-tiba harus menerima stigma negatif tentang agamanya atas sesuatu yang bukan hanya tak dilakukannya tapi bukan bertentangan dengan pandangan keislamannya. 
Seperti dikemukakan Shamsi Ali dalam buku itu, justru itulah yang kerap absen dari keberislaman kita, yakni apa yang disebutnya outreach atau keterbukaan diri dalam ber-Islam sehingga non-Muslim bisa tahu tentang Islam dan kita secara utuh dan sebenarnya, juga sebaliknya kita tahu dan merasakan agama dan umat non-Islam -yang seperti pengakuan Shamsi Ali- justru sangat ramah, bijak dan bahkan merepresentasikan nilai-nilai keislaman. Sebab, seperti kata pepatah Arab: "Manusia takut pada apa yang tak diketahuinya" (al-nas a'dau ma jahlu). Atau pepatah Indonesia: "Tak kenal maka tak sayang." Itu pula yang menjadi kesimpulan Norman Daniel dalam Islam and the West dan Robert W. Southern dalam Western View of Islam in the Middle Ages, bahwa stigma negatif, ketegangan, bahkan konflik antar agama sering muncul karena ketidaktahuan.  
Oleh karena itu, misalnya, ketika dalam momentum pulang kampungnya kemarin ia siaran dakwah di Radio Silaturahim (Rasil) dan kemudian mendapat mention di akun Twitter-nya agar membatalkan rencana siarannya itu karena Rasil merupakan rasio berstigma Syiah, ia justru meminta agar siapa yang berstigma seperti itu untuk datang dan berdialog langsung dengan redaksi Rasil tentang tuduhan itu. Alih-alih ia meladeni tuduhan itu dengan sederet argumentasi yang kerap kali hanya justru memperkuat stigma tersebut, ia justru meminta penuduh itu melakukan outreach.      
Selain itu, menurut penulis, ada beberapa poin dari keberislaman Shamsi Ali yang patut direnungkan sebagai basis guna membangun keberislaman kita agar benar-benar selaras dengan pesan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin, khususnya di tengah stigma negatif atas Islam. 
Pertama, keberislaman yang adil, dalam arti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Dalam konteks ini, diharamkan untuk mengeneralisir segala sesuatu, termasuk non-Muslim. Seperti yang diperlihatkan Imam Shamsi Ali, misalnya pasca-Tragedi 11/9, ia tak mau terjebak untuk menilai semua non-Muslim (khususnya rakyat AS) sebagai pribadi yang buruk. Sebab, itu artinya, ia terjebak dalam stigma yang tak berdasar, tak adil dan menggeneralisir. Sesuatu yang tak rela dilekatkan pada Muslim secara keseluruhan apalagi Islam. Karenanya, tetap konsisten membangun hubungan baik (sebagaimana sebelum tragedi itu) dengan setiap non-Muslim di AS. Bahkan, pada yang termakan oleh provokasi negatif pada Islam, ia terus berusaha berdialog dan menyadarkan mereka bahwa apa yang terjadi pada AS dalam Tragedi 11/9 bertentangan dengan ajaran Islam dan pandangan mayoritas Muslim, khususnya di AS. 
Kedua, keberislaman yang bertanggung jawab. Beberapa hari setelah Tragedi 11/9, beberapa tokoh dan umat Muslim AS berinisiatif untuk menutup masjid dengan alasan keamanan. Namun, sembari menghimbau agar tetap waspada, ia menolak inisiatif itu karena dinilainya sebagai bentuk ketidakbertanggungjawaban yang bisa memberi kesan bahwa ia dan umat Islam di AS menerima tuduhan negatif pada Islam atas Tragedi 11/9 dan merasa bersalah atas tragedi itu. 
Ketiga, keberislaman yang berparadigma universal. Menurut Imam Shamsi Ali, umat Islam harus bekerjasama secara konstruktif dengan seluruh umat manusia (apapun agama dan keyakinanya) untuk membangun sebuah way of life berdasarkan nilai-nilai universal dan mendasar yang sama dalam setiap agama dan keyakinan, yakni perdamaian dan kemanusiaan. Oleh karena itu, pasca-Tragedi 11/9, ketika sentimen Muslim dan non-Muslim memuncak, ia justru membangun apa yang disebutnya mutual platform atau kalimah sawaa (dalam bahasa Qur'an) berbasis pada nilai universal setiap agama dan keyakinan dan berorientasi pada perdamaian, kemanusiaan dan kebersamaan. Salah satunya, dengan melakukan kerjasama interfaith dengan sinagoge (disponsori Jewish Teological Seminary) hingga menghasilkan karya bersama berjudul Sons of Abraham yang diterbitkan Random House pada September 2013 lalu.
Maka, seperti diperlihatkan Imam Shamsi Ali, pada dasarnya, problem munculnya sentimen atau bahkan konflik antar agama (apalagi internal Islam) adalah keengganan kita untuk terbuka, berdialog secara konstruktif dan tulus dengan "yang lain". Sebab, itulah sebenarnya makna esensial dari silaturahmi, yang patut dibalut dengan akhlak yang baik (akhlakul karimah) serta dugaan yang positif (husnudhon) pada "yang lain".          

0 comments:

Post a Comment