Sunday, September 27, 2015

Obituari "Busidin": 'Sekadar' Pengungsi Sampang!

Namanya Busidin. Bukan orang besar, jika "besar" berarti kelas sosial-ekonomi mentereng. Dia orang tua biasa, dengan satu istri tua, tiga anak dan lima cucu. Tak punya jabatan apapun. Ekonominya 'pun luntang-lantung. Bahkan, ia hanyalah seorang pengungsi di negerinya sendiri lantaran pilihan madzhabnya. Ya! Dia salah satu Muslim-Syiah Sampang yang dipaksa mengungsi ke Rusunawa Puspa Agro, Sidoarjo sejak Agustus 2012, hingga harus wafat sebagai pengungsi pada Minggu, 27 September 2015 lalu, lantaran sakit komplikasi berkepanjangan sejak dua tahun lalu. Bahkan, seperti diberitakan Koran Tempo (28/09/2015), sekadar jenazahnya 'pun yang ia sendiri berwasiat untuk dimakamkan di pekarangan rumahnya sendiri, ditolak di kampungnya. Tentu, latar belakangnya adalah sentimen madzhab. Sebab, alasan yang diungkapkan adalah keamanan. Itu terdengar sebagai sebuah alibi saja di telinga Iklil al Milal (koordinator pengungsi Sampang), dengan bertanya: "Ini 'kan hanya jenazah?" Tak adakah secercah kemanusiaan di hati mereka, bahkan pada jenazah sekali 'pun?

Namun, Busidin orang besar. Jika "besar" berarti, seperti ditulis Goenawan Mohamad (GM) dalam pengantarnya untuk "Wasiat Sufi Ayatullah Khomeini" (Yamani, 2001), orang yang mampu mengatasi ruangan jiwanya sendiri yang hendak diimpit benda-benda, karena ia menghendaki suatu kebebasan yang lebih punya arti. Orang besar, lanjut GM, adalah orang yang bekerja untuk akhirat seperti ia akan mati besok, dan bekerja untuk dunia seperti akan hidup selama-lamanya, tapi bukan dengan keserakahan untuk dirinya sendiri.

Busidin adalah orang kecil yang besar. Dia memenuhi syarat sebagai orang besar. Dia merelakan dirinya ditinggalkan pekerjaannya di kampung, menggadaikan kebahagiaan keluarga kecilnya yang biasa dirasakan keluarga kampung, bahkan merelakan dirinya terungsi (sembari terus memperjuangkan untuk kembali bukan karena kerinduan, tapi lebih karena upaya memeperjuangkan hak dan menegakkan konstitusi) untuk kebebasan yang lebih punya arti. Untuk akhiratnya. Kebebasan bermadzhab dan menjalaninya, demi posisi mulia di akhirat kelak sesuai imannya. Dia juga menolak kembali dengan syarat mengubah imannya. Baginya, lebih baik tetap dalam pilihan imannya dengan segala konsekuensinya, daripada raganya bebas tapi imannya tergadainya, hatinya terkhianati, dan batinnya terpenjara.

Busidin juga besar lantaran ia sebuah potret. Potret buram kebermadzhaban -padahal keberagamaan dan berkeyakinan saja dijamin oleh konstitusi bangsa ini. Potret korban yang justru dipersalahkan, diusir, dan bahkan pimpinannya dipenjara. Potret terkoyaknya ukhuwah (persatuan dan persaudaraan) Islam. Potret buruknya relasi Sunni-Syiah di negeri ini. Potret merajalelanya -bahkan di ranah hukum- kalangan "takfiri" (kelompok yang gemar mengkafirkan saudaranya sesama Muslim). Potret terintimidasinya hukum dan konstitusi kita. Potret ironi minoritas di tengah mayoritas. Potret hilangnya kemanusiaan kita. Dan seterusnya.

Bermadzhab, sebagaimana beragaman dan berkeyakinan, adalah hak dasar dan utama setiap orang. Bermukim di kampung sendiri juga adalah sebuah hak setiap warga negara. Bahkan, tulis Qur'an, kepada seorang atau sekelompok yang kita benci sekalipun, kita diharuskan bersikap adil. Tapi, entah, apa yang ada di hati dan pikiran saudara se-Muslimnya di Sampang yang mengusirnya saat hidup dan tetap menolaknya bahkan ketika ia telah wafat.

Namun, kita percaya janji Allah dalam Qur'an, bahwa ia yang rela mati di jalan-Nya, takkan pernah 'mati', walau tak lagi bernyawa. Busidin akan terus 'hidup'. Sebagaimana Munir. Hidup sebagai semangat, jiwa, dan energi di dada kita, untuk terus memperjuangkan hak dan keadilan. Bagi siapapun! Tanpa melihat latar belakang madzhab, agama, keyakinan, dan lain-lainnya. Kita 'pun akan "Menolak Lupa" untuk Busidin. Karena masa depan NKRI ada di sana.

Selamat jalan, Busidin!

0 comments:

Post a Comment