Friday, November 27, 2015

Punya Orang Tua, Tapi Anda Tak Masuk Surga? RUGI!!!

Rugi bagi siapa yang punya orang tua, tapi tak masuk surge. Sebab, terbentang pintu surge di depannya, tapi ia tak masuk.
(Rasulullah)

Orang tua adalah pintu surga. Karena itu, ia juga berarti pintu neraka. Dalam arti, ia akan menjadi pintu surga bagi kita jika berbakti padanya. Namun, ia akan otomatis menjadi pintu neraka jika kita durhaka padanya. Maka, seperti kata Rasul, sungguh rugi siapa yang punya orang tua, namun ia tak masuk surga, sebab terbentang pintu surge di depannya, namun ia tak memasukinya. Dan sesungguhnya, manusia mana yang tak punya orang tua? Semua punya orang tua. Meskipun, bisa jadi telah wafat. Namun, meskipun telah wafat, bukan berarti pintu surge tertutup. Ia tetap terbuka. Karena bakti tak hanya bisa dilakukan pada orang tua yang hidup, tapi juga yang telah wafat dengan selalu mendoakan, menziarahi, dll.

Allah tahu bahwa orang tua kita bukanlah manusia suci yang terbebas dari dosa. Karena itu, Allah tak memerintahkan kita untuk taat padanya, melainkan berbakti. Dalam arti, saat mereka melakukan atau memerintahkan sesuatu yang salah, jangan taati mereka, tapi tetaplah berbakti atau berbuat baik padanya.

Bahkan, jika ‘pun ibumu membuangmu saat kau baru lahir, tetaplah kau wajib berbakti padanya. Sebab, pertama, dosanya yang telah membuangmu adalah urusannya dengan Allah. Ia bukan urusanmu. Sedangkan urusanmu dengan Allah adalah kewajiban untuk selalu berbakti padanya, apapun keadaan mereka. Kedua, seperti dikisahkan bahwa suatu saat, ada seorang sahabat Nabi yang menggendong ibunya dari Yaman ke Mekkah-Madinah untuk berhaji dan hingga pulang kembali. Lalu, ia bertanya pada Nabi, apa itu cukup untuk membalas budi pada orang tuanya? Nabi menjawab, satu tarikan nafas ibumu saat ia melahirkanmu, tak cukup kau bayar dengan apa yang telah kau lakukan. Dalam arti, jika ‘pun ibumu membuangmu setelah kau lahir, ia tetaplah memiliki budi tak terhingga padamu saat melahirkanmu. Maka, sudah menjadi kewajiban bagimu untuk berbakti padanya tanpa henti. Tak ada istilah “mantan” orang tua, maka tak ada pula istilah berhenti berbakti padanya.

Allah begitu keras ketika memerintahkan kita berbakti pada orang tua. Bahkan, kata-Nya dalam Qur’an, kita bilang “ah” saja padanya, itu akan seketika mengundang murka-Nya pada kita. Apalagi lebih dari itu. Bayangkan!

Mari doakan kedua orang tua kita.

Dalam doa untuk kedua orang tua yang diajarkan Allah dalam Qur'an pada kita, di sana dijadikan "perawatannya saat kita masih kecil" sebagai panji utama. Mengapa? Karena saat orang tua kita telah tua, tingkah laku, mental, dan pembawaannya kembali seperti anak kecil. Ia ingin selalu ditemani, dimanja, diperhatikan, bahkan ia membutuhkan kita untuk mengurusi makan, minum, obat, hingga perkara buang air besar lantaran mereka sudah tak bisa melakukannya sendiri lagi. Maka, saat itulah kita diuji atas doa kita, jika kita benar-benar sungguh-sungguh dengan doa itu, rawatlah ia sebagaimana ia merawat kita saat kecil dulu, karena kondisinya saat itu persis seperti kondisi kita saat kecil. Saat itulah doa kita diuji: hanya sekadar doa di mulut, atau juga dalam praktek. Dan, saat tiiba waktu itu, tak ada sebaik-baiknya sikap selain tetap lemah lembut dan sabar. Selanjutnya, sungguh surga benar-benar milik Anda!

Thursday, November 26, 2015

Berhati-hatilah dengan Baik dan Buruk-mu

Boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. 
(Qur’an Al-Baqarah: 216)

Cobalah Anda cek tentang apa yang Anda sukai dan benci. Lalu, pikirkan kembali, apa yang Anda sukai itu benar-benar baik dan apakah yang Anda benci itu benar-benar buruk?

Kita sering gegabah menilai. Dasarnya ‘pun sering kali lemah: mata atau paling jauh akal. Sehingga, tak jarang, kita menyukai apa yang sebenarnya tak baik bagi kita. Persis seperti anak kecil: ia cenderung menyukai apa yang tak baik baginya. Padahal, ada hati yang paling tajam penglihatannya. Namun, justru ia yang paling sering diabaikan. Kita sering atau bahkan selalu melihat dan memikirkan sesuatu untuk menilainya, tapi jarang merasakannya sebagai alat untuk menilai.

Alih-alih, berhati-hatilah pada apa yang kita sukai atau kita benci. Sebab, sering kali itu bersumber dari dorongan nafsu atau godaan setan. Sebab, hukumnya adalah sebaliknya: segala yang buruk itu nikmat dan indah padahal semu, dan semua yang baik itu berat dan pahit padahal sejati. Jangan terkecoh!

Di luar semua itu ‘pun, jangan kita menyukai atau membenci sesuatu secara berlebihan. Sebab, segala sesuatu selain Tuhan dan Rasul-Nya itu bisa berubah dan tak suci. Karena itu, janganlah berlebihan dalam menyukai atau membencinya. Bisa jadi sesuatu yang kita sukai saat ini, ia akan berubah menyebalkan esok hari. Dan bisa jadi pula sesuatu yang jadi musuh kita kemarin, hari ini berpaling menjadi kawan kita.

Apalagi, sesuatu itu menjadi tak baik bukan hanya karena ia memang tak baik, begitu pula sebaliknya. Tapi lantaran kondisinya saja. Kebaikan yang hadir dalam waktu atau kondisi yang tak tepat, ia bisa jadi keburukan. Olahraga itu baik, namun akan jadi buruk jika dilakukan saat kita sedang kurang sehat.

Baik atau buruk itu ada pada kesejatian. Kesejatian itu dipenuhi ornamen yang perlu dipertimbangkan. Maka, jangan gegabah dalam menilai sesuatu. Gunakan seluruh potensi kita dan kondisi untuk menguji kesejatian sesuatu: benar-benar buruk atau baik.

Kau yang Sebenarnya adalah Saat Sendiri

Kau yang sebenarnya adalah saat kau sendiri (tak ada orang melihat). 
(Sayyidina Ali bin Abi Thalib)

Saat kita dilihat atau bersama orang lain, kita akan cenderung menahan atau menghindari sesuatu yang buruk: maksiat, dll. Itu sudah lumrah bagi setiap manusia. Kecuali manusia yang benar-benar telah putus urat malunya, bisa jadi ia tak malu untuk melakukan sesuatu yang buruk di depan orang lain atau bahkan khalayak ramai.

Namun, berbeda saat kita sendiri. Bisa jadi atau bahkan sering kali, seseorang yang enggan melakukan keburukan atau kemaksiatan di depan orang lain, ia melakukannya saat sendiri. Sebab, ia merasa, ia takkan menanggung malu lantara tak ada orang lain yang melihatnya. Tak ada beban baginya. Sebagai contoh, seorang koruptor akan cenderung melakukan korupsi secara diam-diam, dalam kesunyian dan kesendirian. Tentu, ia mustahil melakukannya di depan orang lain. Bukan hanya agar ia tak malu atau menjaga citranya, tapi juga karena takut menjadi perkara hukum yang menyengsarakannya. Maling akan datang di malam hari, saat semua mata terpejam dalam tidur.

Maka dari itu, saat sendiri itulah yang sebenar-benarnya diri kita. Sebab, saat itulah kita merasa tak ada beban, tak ada yang tahu jika kita melakukan hal-hal buruk, kemaksiatan, atau hal-hal yang memalukan. Tak perlu malu atau takut. Apa yang Anda lakukan saat sendiri? Itulah diri Anda sejati!

Namun, seorang yang benar-benar baik, dalam sendiri ‘pun ia akan tetap baik. Kebaikannya bukan untuk pencitraan. Ia melakukan kebaikan bukan karena ingin dipuji. Ia lakukan kebaikan karena itu memang kewajiban baginya. Satu-satunya yang diharapkan dari kebaikannya itu hanyalah imbalan dari Sang Pencipta. Sama sekali tak peduli citra di mata manusia lain. Sebab, bahkan tak jarang yang baik di mata Allah itu buruk di mata manusia, karena itu pahit untuk dilakukan. Misalnya, berkata jujur tak jarang membuat kita buruk di mata orang lain atau bahkan celaka, karena kejujuran kita akan mencelakakan orang lain. Karena itu, jujur itu sering kali pahit rasanya. Dan itu memang yang Tuhan kehendaki atas kita: meletakkan kepentingan-Nya di atas kepentingan segala sesuatu, bahkan kepentingan diri kita sendiri.

Selain itu, dalam kesendirian itu, seorang yang benar-benar baik akan cenderung tetap berbuat baik karena ia sadar bahwa tak ada satu inci ‘pun ruang atau satu detik ‘pun waktu di alam semesta ini yang membuat kita sendiri. Kita takkan pernah sendiri. Sebab, selalu ada Tuhan di mana saja dan kapan saja. Kita tak melihat-Nya, tapi Dia selalu melihat kita. Karenanya, dalam kesendirian ‘pun, ia akan tetap dalam kebaikan. Karena ia sadar bahwa ia sedang dilihat oleh Tuhan, dan penilaian sejati adalah milik-Nya. Ia ‘pun sadar bahwa justru dalam kesendirian itu ia sedang diuji: silahkan saja kalian berbuat buruk, tak ada yang melihat, namun Tuhan melihat. Silahkan saja Anda memilih: citra di mata manusia yang itu semu, atau citra di mata Tuhan yang itu sejati.

Sunday, November 15, 2015

Salah Kaprah Jihad (di Paris)


Paris diguncang teror yang mengerikan pada Jum'at malam. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas teror itu. Meski, penulis tak mengerti apa maksud kata "bertanggung jawab" tersebut. Sekedar mau bilang bahwa mereka pelakunya? Itu bukan bertanggung jawab namanya bukan?! Meski pula kita juga harus tak begitu saja percaya dengan klaim itu, sebelum ada verifikasi jelas tentang pelaku teror tersebut. Sebab, salah satu misi utama ISIS adalah menebar ketakutan di seluruh penjuru dunia. Apalagi kini mereka sedang krisis eksistensi setelah dipukul telak Rusia. Jadi, bisa saja itu hanya klaim belaka untuk menebar ketakutan akan mereka dan seolah mau mengumumkan ada dunia bahwa mereka masih kuat. Entahlah! Kita tunggu saja hasil verifikasinya.

Yang jelas, salah satu ideologi utama dan dasar ISIS adalah jihad. Abu Mus’ab az-Zarqawi, peletak cikal-bakal IS, berhasil direkrut dari kehidupannya sebagai pemuda nakal dengan pesona doktrin tentang jihad. Akhirnya, ia tumbuh menjadi seorang yang hanya memahami Islam sebagai jihad. Ironisnya, pendidikan kita pun sering kali mengasosiasi Nabi lebih sebagai pendekar perang yang mengisi hidupnya dengan perang.

Seperti dikemukakan Syaikh Hasan bin Farhan al-Maliky, ulama moderat Arab Saudi, IS tenggelam dalam lautan keutamaan jihad, sementara mereka tak memahami sedikit pun tentang prinsip-prinsip jihad paling dasar. Mereka adalah orang yang menganggap Islam dan kehidupan Nabi Muhammad hanya perkara perang. Padahal, menurut sebuah penelitian, jika dikalkulasi, karier kerasulan Nabi kira-kira 23 tahun atau 8.000 hari. Jumlah hari Nabi berperang hanya 80 hari jika tanpa melibatkan persiapan dan sebagainya. Artinya, secara total, hari peperangan Nabi hanya 10 persen atau 1 persen dari karier kenabiannya. Ironisnya, yang 90 persen atau 99 persen inilah yang justru tak dipahami dan diyakini oleh IS dan para pengikut serta pendukungnya. Itu pula yang kerap diajarkan berulang-ulang tentang Islam dan Nabi dalam pendidikan anak-anak kita.

Padahal, menurut Nabi, jihad bukan hanya dilakukan dengan berperang. Justru, Nabi menyebut perang sebagai jihad kecil (jihâd ashghar) dan melawan nafsu sebagai jihad besar (jihâd akbar). Alkisah, saat Nabi pulang dari Perang Tabuk, ketika para sahabat berkata, “Kita baru saja pulang dari perang besar”. Nabi justru berkomentar, “(Sebaliknya) kita baru pulang dari perang kecil, menuju perang besar,” yakni jihad melawan nafsu. Dan, tak ada orang yang mati syahid dalam jihad kecil, sebelum dia menang dalam jihad besar. Artinya, kesyahidan sejati justru bukan didapat dari medan perang saja, tapi juga dari perang melawan nafsu terlebih dulu. Sayyidina Ali pernah mengurungkan ayunan pedangnya saat menyadari bahwa ayunan pedang itu disebabkan nafsunya. Nabi sendiri pun tak syahid di medan perang. Adapun jihad model IS justru karnaval nafsu: kekejaman, keberingasan, dan kesadisan.

Jihad dalam konteks perang pun tak dipahami dengan benar dan kadang tereduksi oleh IS dan mungkin oleh sebagian kita. Jelas-jelas Al-Quran dalam al-Baqarah: 190, an-Nisaa’: 75 dan al-Hajj: 40 menjelaskan bahwa yang diperbolehkan-atau diwajibkan-untuk diperangi adalah orang-orang yang memerangi kita, dan itu pun jangan melampaui batas, serta berperang dalam rangka membela hak-hak orang-orang tertindas atau terusir dari kampung halamannya. Adapun yang dilakukan IS justru menindas dan mengusir orang lain, atau malah saudara muslimnya dari kampung halamannya di Mosul, Tikrit, dan wilayah-wilayah lain yang dikuasainya, hanya karena perbedaan mazhab, ideologi, atau pandangan.

Perang IS juga bukan lagi hanya menerobos etika perang Islam, tapi sangat melampaui batas dengan berlaku sadis terhadap tawanannya. Kita harus menjauhkan anak-anak dan lembaga pendidikan kita dari salah kaprah jihad ini. (Artikel ini pernah dimuat di Koran Tempo 20 September 2014 dengan judul "IS, Jihad, dan Pendidikan Kita" dan dimuat di buku penulis: "Menyegarkan Islam Kita". Kini penulis hadirkan kembali dengan judul baru dan tambahan di paragraf pertama)