Thursday, November 26, 2015

Berhati-hatilah dengan Baik dan Buruk-mu

Boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. 
(Qur’an Al-Baqarah: 216)

Cobalah Anda cek tentang apa yang Anda sukai dan benci. Lalu, pikirkan kembali, apa yang Anda sukai itu benar-benar baik dan apakah yang Anda benci itu benar-benar buruk?

Kita sering gegabah menilai. Dasarnya ‘pun sering kali lemah: mata atau paling jauh akal. Sehingga, tak jarang, kita menyukai apa yang sebenarnya tak baik bagi kita. Persis seperti anak kecil: ia cenderung menyukai apa yang tak baik baginya. Padahal, ada hati yang paling tajam penglihatannya. Namun, justru ia yang paling sering diabaikan. Kita sering atau bahkan selalu melihat dan memikirkan sesuatu untuk menilainya, tapi jarang merasakannya sebagai alat untuk menilai.

Alih-alih, berhati-hatilah pada apa yang kita sukai atau kita benci. Sebab, sering kali itu bersumber dari dorongan nafsu atau godaan setan. Sebab, hukumnya adalah sebaliknya: segala yang buruk itu nikmat dan indah padahal semu, dan semua yang baik itu berat dan pahit padahal sejati. Jangan terkecoh!

Di luar semua itu ‘pun, jangan kita menyukai atau membenci sesuatu secara berlebihan. Sebab, segala sesuatu selain Tuhan dan Rasul-Nya itu bisa berubah dan tak suci. Karena itu, janganlah berlebihan dalam menyukai atau membencinya. Bisa jadi sesuatu yang kita sukai saat ini, ia akan berubah menyebalkan esok hari. Dan bisa jadi pula sesuatu yang jadi musuh kita kemarin, hari ini berpaling menjadi kawan kita.

Apalagi, sesuatu itu menjadi tak baik bukan hanya karena ia memang tak baik, begitu pula sebaliknya. Tapi lantaran kondisinya saja. Kebaikan yang hadir dalam waktu atau kondisi yang tak tepat, ia bisa jadi keburukan. Olahraga itu baik, namun akan jadi buruk jika dilakukan saat kita sedang kurang sehat.

Baik atau buruk itu ada pada kesejatian. Kesejatian itu dipenuhi ornamen yang perlu dipertimbangkan. Maka, jangan gegabah dalam menilai sesuatu. Gunakan seluruh potensi kita dan kondisi untuk menguji kesejatian sesuatu: benar-benar buruk atau baik.

0 comments:

Post a Comment