Thursday, November 26, 2015

Kau yang Sebenarnya adalah Saat Sendiri

Kau yang sebenarnya adalah saat kau sendiri (tak ada orang melihat). 
(Sayyidina Ali bin Abi Thalib)

Saat kita dilihat atau bersama orang lain, kita akan cenderung menahan atau menghindari sesuatu yang buruk: maksiat, dll. Itu sudah lumrah bagi setiap manusia. Kecuali manusia yang benar-benar telah putus urat malunya, bisa jadi ia tak malu untuk melakukan sesuatu yang buruk di depan orang lain atau bahkan khalayak ramai.

Namun, berbeda saat kita sendiri. Bisa jadi atau bahkan sering kali, seseorang yang enggan melakukan keburukan atau kemaksiatan di depan orang lain, ia melakukannya saat sendiri. Sebab, ia merasa, ia takkan menanggung malu lantara tak ada orang lain yang melihatnya. Tak ada beban baginya. Sebagai contoh, seorang koruptor akan cenderung melakukan korupsi secara diam-diam, dalam kesunyian dan kesendirian. Tentu, ia mustahil melakukannya di depan orang lain. Bukan hanya agar ia tak malu atau menjaga citranya, tapi juga karena takut menjadi perkara hukum yang menyengsarakannya. Maling akan datang di malam hari, saat semua mata terpejam dalam tidur.

Maka dari itu, saat sendiri itulah yang sebenar-benarnya diri kita. Sebab, saat itulah kita merasa tak ada beban, tak ada yang tahu jika kita melakukan hal-hal buruk, kemaksiatan, atau hal-hal yang memalukan. Tak perlu malu atau takut. Apa yang Anda lakukan saat sendiri? Itulah diri Anda sejati!

Namun, seorang yang benar-benar baik, dalam sendiri ‘pun ia akan tetap baik. Kebaikannya bukan untuk pencitraan. Ia melakukan kebaikan bukan karena ingin dipuji. Ia lakukan kebaikan karena itu memang kewajiban baginya. Satu-satunya yang diharapkan dari kebaikannya itu hanyalah imbalan dari Sang Pencipta. Sama sekali tak peduli citra di mata manusia lain. Sebab, bahkan tak jarang yang baik di mata Allah itu buruk di mata manusia, karena itu pahit untuk dilakukan. Misalnya, berkata jujur tak jarang membuat kita buruk di mata orang lain atau bahkan celaka, karena kejujuran kita akan mencelakakan orang lain. Karena itu, jujur itu sering kali pahit rasanya. Dan itu memang yang Tuhan kehendaki atas kita: meletakkan kepentingan-Nya di atas kepentingan segala sesuatu, bahkan kepentingan diri kita sendiri.

Selain itu, dalam kesendirian itu, seorang yang benar-benar baik akan cenderung tetap berbuat baik karena ia sadar bahwa tak ada satu inci ‘pun ruang atau satu detik ‘pun waktu di alam semesta ini yang membuat kita sendiri. Kita takkan pernah sendiri. Sebab, selalu ada Tuhan di mana saja dan kapan saja. Kita tak melihat-Nya, tapi Dia selalu melihat kita. Karenanya, dalam kesendirian ‘pun, ia akan tetap dalam kebaikan. Karena ia sadar bahwa ia sedang dilihat oleh Tuhan, dan penilaian sejati adalah milik-Nya. Ia ‘pun sadar bahwa justru dalam kesendirian itu ia sedang diuji: silahkan saja kalian berbuat buruk, tak ada yang melihat, namun Tuhan melihat. Silahkan saja Anda memilih: citra di mata manusia yang itu semu, atau citra di mata Tuhan yang itu sejati.

0 comments:

Post a Comment