Thursday, December 31, 2015

Filosofi Tahun Baru: Ia Bukan Bilangan Angka, Tapi Kesadaran

Sejatinya, waktu itu bukan tentang detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dan seterusnya. Waktu juga bukan kalender. Itu hanyalah hitungan tentang waktu yang kemudian menjadi formal di tengah peradaban manusia.

Kalender merupakan karya kreativitas manusia, sedangkan waktu itu sendiri merupakan ciptaan Tuhan. Karenanya, jika waktu bersifat universal, maka tak begitu dengan kalender. Beragam jenis kalender bisa ditemui di dunia ini. Ada yang disebut dengan "Kalender Masehi" yang menjadikan kematian Isa Al Masih sebagai titik pembeda; sebelum kematiannya disebut "Sebelum Masehi" dan setelah wafatnya disebut dengan "Masehi". Selain itu, ada pula "Kalender Cina", "Kalender Thailand" dan tentu saja "Kalender Islam" yang didasarkan pada hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Karena sifatnya yang parsial, maka saat ini, ketika kita merayakan Tahun Baru Hijriyah 1434, maka tahun ini justru 2012 (tahun saat tulisan ini dibuat) di Kalender Masehi, 2563 menurut Kalender Cina, serta 2555 dalam konteks Kalender Thailand.

Dalam suasana Tahun Baru kali ini, penulis hendak membahas tentang sesuatu yang lebih mendasar dan substansial dari sekadar kalender, yakni tentang waktu itu sendiri. Penulis hendak mengurai filosofi waktu guna menjadi renungan bagi kita di suasana Tahun Baru ini. Sehingga, waktu kita menjadi kembali independen, bebas dan penuh makna.

Kita tahu bahwa waktu sangatlah penting dalam kehidupan kita. Karenanya, banyak kita temui kata-kata mutiara seperti time is money (waktu adalah uang), guna mendorong kita agar memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Namun, bukan itulah filosofi waktu. Sebab, jika waktu diandaikan sebagai uang, maka waktu bukan hanya tak lagi independen, melainkan menjadi sangat kapitalistik; waktu dinilai bermanfaat jika diisi dengan kegiatan-kegiatan yang menhasilkan uang semata. Ironi!

Kita juga telah mengkotak-kotakkan waktu kita sesuai dengan kalender. Kita memahami Senin sebagai hari yang menyebalkan, karena Senin adalah hari aktif pertama setiap pekan, baik untuk bekerja, belajar atau melakukan rutinitas lainnya. Dan, tentu, yang kita selalu harapkan adalah akhir pekan (weekend), karena di hari itu kita libur dan bebas melakukan aktifitas yang menghibur. Padahal, dalam salah satu perkataan mulianya, Sayyidina Ali Bin Abi Thalib menegaskan bahwa bagi seorang Muslim seharusnya setiap waktunya adalah membahagiakan. Sebab, bagi seorang Muslim, seharusnya segala aktifitasnya dipahami dalam konteks ibadah. Dan, sejatinya, kebahagiaan sejati didapat dalam praktek ibadah. Karenanya, sebenarnya setiap waktu Muslim adalah sakral dan karenanya membahagiakan.

Waktu kita terasa banal dan tak sakral. Sehingga, kita isi waktu kita dengan berbagai rutinitas yang tak bermakna, atau bahkan membuang-buangnya untuk sesuatu yang negatif. Sehingga, pada akhirnya, hidup kita 'pun ikut banal. Sebab, waktu terkait erat dengan keber-Ada-an manusia. Singkatnya, mustahil hidup manusia menjadi bermakna jika mereka tak mampu memaknai waktunya. Itulah setidaknya hipotesa Martin Heidegger, filosof Jerman tersohor itu, yang kemudian ditulisnya dalam bukunya yang berjudul "Sein und Zeit" (Ada dan Waktu).

Oleh karena itu, untuk menghindari banalitas waktu, setiap manusia patut terus merasa cemas (sorge). Sebab, dengan begitu, kita bisa menghayati waktu secara otentik dan bermakna. Menurut Soren Kierkegaard, filsuf Denmark yang juga Bapak Eksistensialisme, kecemasan bersifat ontologis dan signifikan karena akan menggiring manusia pada iman. Sebab, ketika merasa cemas, manusia akan melompat kepada iman. Sehingga, kecemasan itu akan mendorong manusia modern ini untuk kembali beriman dan taat terhadap keimanannya. Pada ujungnya, mereka akan kembali menghayati setiap kegiatannya sebagai ibadah. Maka, waktunya 'pun akan kembali sakral dan bermakna.

Sebagaimana ditegaskan pula oleh Heidegger, dengan suasana hati yang selalu cemas, setiap individu akan menghayati setiap detik waktunya secara otentik dan bermakna. Dengan kecemasan, manusia tak akan melewati waktunya kecuali untuk sesuatu yang otentik dan bermakna. Mereka akan menghabiskan waktunya sebagaimana seorang anak yang sedang berada di dalam ambulans yang sedang mengantar ibunya yang sedang sekarat ke rumah sakit. Setiap detik menjadi sangat penting dan berarti.

Dan, bagi Heidegger, kecemasan yang paling otentik yaitu kecemasan akan kematian. Sebab dengan suasana hati yang selalu cemas akan kematian, seseorang akan selalu memanfaatkan dan mengisi waktunya dengan otentik dan penuh makna. Persis seperti nasehat Sayyidina Ali Bin Abi Thalib yang menganjurkan manusia agar selalu mengingat dan membayangkan seolah-olah ia akan mati esok hari.
Inilah seharusnya renungan kita dalam momentum pergantian tahun. Filosofi waktu seperti di atas yang patut kita terapkan dalam melihat dan menghayati waktu kita. Sehingga, waktu kita menjadi bermakna. Dan, pada akhirnya, kita tak menjadi seseorang yang oleh Qur'an disebut sebagai "manusia merugi" dalam QS. Al ‘Ashr. Wallahu a'lam

1 comments:

wal asri,, inna al-insana laa fii khusrin, illa ladzina aamanu wa aamilushshalihat....

Post a Comment