Wednesday, December 23, 2015

Islam, Natal, dan Persaudaraan

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar
(Dimuat di Koran Tempo, 23 Desember 2015)

Setiap Natal tiba, diam-diam ada kekhawatiran, bukan hanya pada masyarakat Kristiani, tapi juga masyarakat Muslim (moderat) di Indonesia. Kekhawatiran yang berpangkal dari munculnya pandangan atau pendapat kalangan Muslim (ekstrim) yang kerap dianggap fatwa oleh sebagian umat Islam, tentang pengharaman mengucapkan selamat Natal pada umat Kristiani. Saat inipun, kekhawatiran itu kembali muncul, apalagi seiring mulai merebaknya kalangan takfiri di tengah-tengah kita, yang bahkan sulit bersikap toleran terhadap peringatan keislaman sesama Muslim, seperti terjadi pada peringatan Asyura oleh masyarakat Muslim-Syiah atau diam-diam kepada perayaan Maulid Nabi Muhammad yang dituduh bid’ah (kesesatan). Sehingga, pengharamannya kian tampak sebagai ekspresi sentimen keberagamaan dan kebermadzhaban yang bisa berwajah apa saja dan mengena siapa saja yang berbeda dan dibenci mereka. Karenanya, tepat untuk merefleksikannya, di saat momentum Natal dan Maulid Nabi yang tahun ini hampir bersamaan.

Doktrin tentang pengharaman ucapan selamat Natal biasanya berkiblat pada Ibn Taimiyah (ulama abad ke-14 yang sering disebut sebagai "Bapak Fundamentalisme Islam"). Termasuk fatwa MUI 1981, menurut Amidan (Ketua MUI) pada 2012, menunjukkan pengharaman mengucapkan selamat Natal dengan berdasar pada Ibn Taimiyah (dan juga Ibn Qayyim).

Menurut penulis, ada kesalahpahaman dalam membaca dan memahami Ibn Taimiyah dengan segala doktrinnya, termasuk perkara ucapan selamat Natal. Ibn Taimiyah dengan segala doktrinnya tak bisa dilihat dan diposisikan begitu saja, tanpa mempertimbangkan konteks yang melingkupinya. Sebab, fatwa-fatwanya tak terlepas dari konteks yang melingkupinya, yakni Perang Salib. Sehingga, doktrin pengharaman ucapan selamat Natal dan berbagai doktrin fundamentalisnya tak lepas dari nuansa politis untuk menarik garis batas ketat dan membangun 'benteng' pada umat Islam yang kala itu benar-benar merasa terancam dengan kekuatan dan propaganda Salib. Oleh karena itu, dalil yang digunakan dalam doktrin pengharaman ucapan selamat Natal adalah karena kekhawatiran terancamnya iman atau tindakan itu dinilai menyerupai kaum Kristiani.

Tentu, konteks itu kini bukan hanya sudah tak ada, melainkan berbalik: kini antar agama justru sedang menggagas upaya perdamaian, toleransi, serta persaudaraan. Sehingga, misalnya, bahkan Syekh Yusuf Qardawi 'pun, menghalalkannya dengan mempertimbangkan konteks masa kini dan hubungan umat Islam dan Kristen yang damai. Terlebih, konteks Indonesia adalah negara Pancasila yang demokratis (sedangkan Negara Islam Iran saja tak mengharamkan ucapan selamat Natal bagi pemimpinnya, termasuk dilakukan oleh Ruhullah Khomaeni) dan hubungan antar umat beragama Indonesia begitu harmonis.

Maka, dilihat dari perspektif doktrin pengharaman ucapan selamat Natal 'pun, pengharaman itu tak sesuai dengan konteks Islam Indonesia dan Islam masa kini. Alih-alih justru lebih sesuai dengan dalil penghalalannya yang didasarkan pada QS. Al-Mumtahanah: 8 dan QS. An-Nisaa': 86 yang memerintahkan kita agar berlaku adil pada umat beragama yang berdamai dengan kita, serta membalas penghormatan umat agama lain pada kita dengan penghormatan yang sama atau bahkan lebih. Bukankah umat Kristiani berdamai dan berbuat baik pada kita, serta ucapkan selamat Idul Fitri tiap kita berlebaran? Apalagi, sebagaimana dikemukakan Prof. Quraish Shihab, dengan merujuk pada QS. Maryam: 33, Allah 'pun mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi Isa. Adapun perbedaan landasan kita dan Kristen dalam memahami posisi Isa, itu soal iman masing-masing yang Tuhan Maha Tahu atas semua itu. Sehingga, tak perlu dikhawatirkan, apalagi menganggapnya sebagai ancaman terhadap iman.

Lebih jauh lagi, menurut penulis, kini konteks keberagamaan kita dan masyarakat dunia sedang mengarah pada apa diperkenalkan pertama kali oleh Ismail Raji Faruqi pada tahun 1980-an sebagai “Trialogue of Abrahamic Faiths”: sebuah pengetahuan tentang persaudaraan antar agama-agama samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) dengan berbasis pada kesamaan nilai-nilai dasar keimanan dan keagamaannya yang dikenal dengan “millat Ibarahim” (jalan Ibrahim). Sebagaimana dikemukakan oleh sejarawan Richard Bulliet (2004), sudah sepatutnya bagi umat beragama untuk tidak lagi melihat hubungan antar penganut agama samawi dalam konteks hubungan persaingan, keterancaman, dan konflik seperti di era Perang Salib. Namun, sepatutnya bagi mereka untuk menjalin dan mengembangkan hubungan yang penuh persaudaraan.

Oleh karena itu, menurut penulis, mempertimbangkan konteks kekinian dan ke-di sini-an, mengucapkan selamat Natal seharusnya justru dianjurkan demi mendukung misi persaudaraan antar agama. Bahkan, kita harus berani memulai apa yang Pdt. Jacky Manuputty, penggerak "Provokator Perdamaian" di Maluku 2007, disebut sebagai "provokasi perdamaian", yakni beranjak dari sekadar dialog antar agama, menuju sikap kebersaudaraan antar agama dengan -salah satunya- ikut mengucapkan selamat Natal. Bahkan, kita bisa lebih jauh lagi, seperti Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dari GP Ansor, yang setiap tahunnya bahkan ikut menjaga gereja-gereja umat Kristiani saat menjalankan ibadah Natal. Atau, sebagaimana dijalankan sejak 2007 oleh Imam Shamsi Ali, imam asal Sulawesi di New York, bersama Rabi Marc Schneier, pemuka Yahudi berpengaruh di Amerika Serikat (AS), yang pengalamannya itu ditulis dalam "Sons of Abraham" (Anak-anak Ibrahim, 2014), di mana mereka mengajak umatnya untuk bukan lagi sekadar bekerjasama, melainkan saling membela. Sehingga, dengan begitu, kedekatan kita tak lagi abstrak dan verbal, namun nyata dan fisik.

0 comments:

Post a Comment