Saturday, January 2, 2016

Otoritarisnime Saudi: Pernah Alhamad, Kini Al-Nimr Korbannya

Membuka tahun 2016, Kerajaan Arab Saudi mengeksekusi mati ulama (Syiah): Syekh Nimr al-Nimr. Sebagaimana kerap dilakukan Arab Saudi, ia mengeksekusi siapa saja yang menentang otoritaranismenya yang ditopang doktrin Wahabisme. Pada penghujung tahun 2012, seorang tokoh Muslim (liberal) bernama Turki Alhamad juga pernah ditangkap dan sempat dipenjarakan oleh Arab Saudi lantaran sebab yang sama: menyuarakan keberislaman yang maju dan anti otoritarianisme. Berikut ini tulisan saya yang pernah dimuat Rubrik Ide, Koran Tempo Minggu pada 20 Oktober 2013 tentang Turki Alhamad. 

Saya ingin menunjukkan bahwa eksekusi yang terjadi pada Alhamad (penjara) dan Al-Nimr (mati) memang kerap dilakukan rezim Arab Saudi pada ulama-ulama atau tokoh-tokoh Islam yang moderat dan maju serta menentang otoritarianisme rezim Saud, dan karenanya berseberangan dengan doktrin resmi Arab Saudi: Wahabisme. Sehingga, jangan sampai fakta ini ditarik-tarik menjadi 'komoditi' untuk perang opini seputar politik Timur Tengah yang sedang kacau atau sektarianisme Sunni-Syiah yang sedang populer. Bagi Arab Saudi, siapa saja (baik Syiah, Sunni, liberal atau ulama Islam madzhab manapun) yang menentang otoritarianisme Arab Saudi atau doktrin resminya: Wahabisme, akan ditekan hingga dieksekusi. Sebagaimana itu pernah terjadi pada Alhamad yang liberal atau 'pun pada Al-Nimr yang Syiah, namun konsisten menetang semua yang dinilainya otoriter: termasuk Assad di Suriah. Al-Nimr sendiri merupakan ulama pendukung para pengunjuk rasa anti-pemerintah dan pro-demokrasi pada masa 'berseminya' Musim Semi Arab.

***

Di penghujung tahun 2012, jagat Twitter dikejutkan oleh berita penangkapan salah satu tokoh Muslim Arab Saudi -kelahiran Yordania- bernama Turki Alhamad. Selain dikenal sebagai pemikir Islam yang moderat (bahkan sebagian menyebutnya liberal), ia juga dikenal sebagai pengamat politik yang kritis terhadap sistem dan kebijakan politik Arab Saudi yang kerap kali diskriminatif.  

Selain sebagai pemikir Muslim dan pengamat politik, Alhamad juga seorang novelis. Dan, justru novelnya 'lah yang membuatnya telah empat kali difatwa sesat oleh ulama-ulama Wahabi di negerinya, sejak tahun 1999. Pasalnya, Alhamad menyampaikan ide dan pemikiran kritis-progresifnya secara naratif melalui novel. Oleh karena itu, novelnya dinilai 'bermasalah' bagi para ulama yang mendapat perlindungan langsung dan penuh dari penguasa Arab Saudi.

Melalui trilogi novelnya yang terbit tahun 1998, Alhamad menyampaikan pesan-pesan keberagamaan yang rasional-logis sekaligus mengkampanyekan kebebasan beragama, berbincang isu seksualitas, dan yang paling ektrim adalah mengungkap gerakan-gerakan politik bawah tanah berlatar Arab Saudi era akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an. Tiga tema -agama, seksualitas dan politik- yang dianggap tabu untuk dibicarakan di Arab Saudi itu, karena gerakan Wahabisme yang kuat mencengkram dan kekuasaan yang otoriter, justru menjadi tema utama trilogi novel Alhamad. Sebab Alhamad memang hadir untuk mendobrak keterbelakangan, ke-jumud-an, kekakuan dan otoritarianisme yang bersemi di negerinya. Di negerinya, ia seperti dinamit yang terus meledak-ledak menghancurkan segala bentuk ke-jahiliyah-an di sana.

Saat gerakan terorisme atas nama agama (Islam) populer pasca-Tragedi 9/11, dengan Al-Qaeda sebagai 'tokoh' sentralnya, dan begitu mempengaruhi paradigma Muslim dunia, hingga sulit mencari garis tegas pemisah antara teror dan jihad, Alhamad hadir sebagai oposisi terhadap Islam-nya Al-Qaeda. Bahkan, ia menyebut gerakan itu sebagai gerakan berbasis iman yang ilusi, karena memonopoli keimanan dan mengklaim kelompoknya tentara Tuhan dan siapa saja yang berbeda dengannya tentara setan. Sehingga, tak heran jika kemudian Al-Qaeda lebih jauh dari Wahabisme, yakni memvonisnya murtad Alhamad.

Akhirnya, 24 Desember 2012 lalu, sepak terjang intelektualitas keislaman Alhamad benar-benar dipasung oleh 'perselingkuhan' antara agamawan dan penguasa. Bukan secara langsung karena novelnya, melainkan karena rangkaian tweet-nya di jagat Twitter. Walaupun, Alhamad tak pernah bisa dipisahkan dari novelnya.

Atas perintah Menteri Dalam Negeri Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Nayef, ia ditangkap karena rangkaian 'kicauan'-nya di Twitter (ia 'berkicau' melalui akun pribadinya: @TurkiHAlhamad1) yang, seperti yang selalu dikemukakannya, bahwa doktrin tentang kemanusiaan yang dibawa oleh Nabi Muhammad telah diubah oleh sebagian kalangan (mengacu pada Wahabisme) menjadi doktrin kebencian terhadap sesama manusia dengan kedok syariat Islam. Dan ironisnya, sampai saat ini, tak ada penjelasan konkrit apa yang salah dari Turki Alhamad dan 'kicauan'-nya. Toh, bukankah 'kicauan'-nya itu hanya memaparkan tentang salah satu fenomena keberagamaan (keberislaman) jahiliyah yang kian marak, menggelisahkan umat beragama dan melegitimasi berbagai kekerasan atas nama Tuhan?   

Menurut penulis, 'kicauan' Alhamad memang pahit bagi internal Muslim. Namun, di balik kepahitan itu justru otokritiknya menukik ke dasar masalah keberislaman kita di era kontemporer saat ini. 'Kicauan' itu mendesak kita agar mempertanyakan dan merenungkan kembali; apa kita benar-benar mewarisi Islam yang diajarkan Nabi Muhammad yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian serta mendidik manusia bersikap toleran pada perbedaan di internal Muslim maupun antar umat beragama. Atau, kita justru telah 'murtad' dari nilai-nilai dasar Islam yang diajarkan Muhammad dengan membangun keberislaman berbasis fanatisme, ekstrimisme dan anarkisme yang bersumber dari kebencian dan ketertutupan atas perbedaan tafsir dan pandangan keislaman. Tak peduli walau justru perbedaan itu yang sebenarnya memperkaya khazanah peradaban Islam kita sekaligus representasi dari Islam sebagai agama rahmat. 

Tentu, pada dasarnya, kebencian dan ketertutupan bukan bagian dari Islam yang diajarkan Nabi Muhammad. Kita justru menemukan referensi atas kedua sikap itu dari kelompok bernama Khawarij. Khawarij merupakan gerakan politik yang berkhianat pada keputusan arbitrase (tahkim) Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang kala itu menjabat sebagai khalifah Islam. Khawarij kemudian mengemas diri menjadi kelompok yang mengatasnamakan Islam, lengkap dengan teologi dan ajarannya sendiri, dengan corak paling khas dan kental dari kelompok itu yakni mengkafirkan (takfiriyah) kelompok selain mereka atas dasar kebencian dan ketertutupan. Karenanya, sejak kemunculannya, Khawarij telah dikategorikan keluar dari Islam (murtad), sesuai dengan nama mereka sendiri, yakni “khowaarij” yang secara bahasa berasal dari kata “khowaarij” yang berarti “mereka yang keluar”.

Nah, meskipun secara ‘institusi’ Khawarij telah musnah karena kesesatannya. Namun corak keberislaman ala Khawarij masih sering diadopsi dan dipraktekkan –entah secara sadar atau tidak sadar- oleh sebagaian umat yang mengatasnamakan bagian dari Islam. Karenanya, istilah neo-Khawarij menjadi relevan dan populer di zaman pascamusnahnya Khawarij itu sendiri, termasuk zaman ini. Dan, menurut penulis, pandangan neo-Khawarij inilah yang memicu vonis dan fatwa sesat, kafir, murtad, dsb, kepada orang-orang yang berpandangan Islam maju, seperti Alhamad (dan Al-Nimr)

Akhirnya, Islam sejatinya sangat terbuka dan toleran terhadap perbedaan. Dalam doktrin Islam, mengacu pada hadist Nabi Muhammad, yang sesat adalah siapa saja yang menyesatkan sesama Muslim. Sehingga, kita 'pun harus bertanya, mengapa Alhamad dan Tajul yang justru difatwa sesat, diserang dan dihukum? Bukankah mereka yang justru mendakwahkan Islam sejati yang anti-kebencian, ketertutupan dan sikap sesat-menyesatkan, serta menebar toleransi, perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan?