Monday, April 24, 2017

Isra Mikraj dalam Tiga Diskursus & Makna: Agama, Filsafat, dan Sains

Fenomena Isra Mikraj memiliki makna yang multiperspektif. Di antaranya makna sosial-kemanusiaan, filosofis, teologis, dan saintis. Dalam pemikiran keislaman, Isra Mikraj merupakan salah satu tema yang ramai dipolemikkan. Fenomena ini menjadi salah satu yang turut memberikan kontribusi terhadap dinamika pemikiran keislaman. Baik itu dalam bidang tafsir Alquran, sejarah Islam, maupun kajian tentang mukjizat. Tulisan ini mencoba menarik dinamika tafsir tentang Isra Mikraj sebagai sebuah diskursus yang bermuara pada tema-tema besar dalam bidang filsafat dan agama. 
Tiga Diskursus
"Tak ada episode kehidupan Nabi Muhammad yang telah menarik perhatian kaum orientalis dan sejarawan agama melebihi episode perjalanan Nabi ke langit yang dikenal dengan Isra Mikraj (Annemarie Schimmel:2001). Peristiwa Isra Mikraj memang merupakan salah satu bagian yang fenomenal dari sejarah Nabi. Salah satu nilai penting dari Isra Mikraj bahwa fenomena ini merangkum sebuah perdebatan besar dalam kajian tentang agama pada umumnya dan Islam khususnya. Analisis tentang Isra Mikraj melibatkan beragam perspektif yang berusaha untuk urun rembug menganalisis dan menawarkan hipotesis terhadap peristiwa tersebut. Mulai dari perspektif teologis, filosofis, dan saintis. Masing-masing memiliki titik tekan yang berbeda dalam memahami fenomena Isra Mikraj. 
Minimal ada tiga diskursus yang terangkum dalam fenomena Isra Mikraj. Pertama, diskursus tentang hubungan antara jasmani dan rohani, antara fisik dan jiwa. Ini merupakan salah satu tema paling pokok dalam diskursus filsafat. Sebagian filsuf mengontraskan antara fisik dan jiwa sebagai dua bagian yang terpisah. Sementara pandangan yang lain memahami jiwa dan badan sebagai bagian yang integral. Dalam konteks Isra Mikraj, muncul dua kesimpulan berbeda terkait dengan soal tersebut. Yaitu pandangan yang menganggap peristiwa tersebut sebagai perjalanan rohani semata dan yang berkesimpulan bukan semata rohani, namun juga jasmani. Setiap pandangan memiliki catatan kritik atas yang lainnya. Pandangan pertama mengajukan kritik bahwa jika merupakan fenomena rohani, Isra Mikraj bukan fenomena yang istimewa (tidak layak dikategorikan sebagai mukjizat). Sebab, hal serupa diklaim bisa dilakukan para sufi dengan metode sufistik tertentu. Sementara kelemahan pandangan kedua yaitu bagaimana menjelaskan fenomena Isra Mikraj dalam logika saintis. 
Kedua, diskursus tentang rasio dan iman atau antara akal dan wahyu. Ini adalah perdebatan klasik yang sama tuanya dengan umur agama dan ilmu pengetahuan itu sendiri. Manusia selalu berada dalam upaya untuk menemukan titik temu, atau setidaknya keterhubungan, antara dua hal tersebut. Sebagian ada yang menyimpulkan bahwa akal (rasio) dan wahyu (iman) memiliki pola 'nalar' yang berbeda dan mustahil disatukan. Namun ada juga yang berusaha menyinergikan keduanya sebagai dua varian yang padu. Bahkan, pada tataran yang ekstrem, ada pandangan yang menegasikan yang satu atas yang lainnya. 
Peristiwa Isra Mikraj merepresentasikan sebuah diskursus yang cukup panjang seputar otoritas akal dan wahyu ini. Dalam konteks yang lebih luas, ini berada dalam domain perdebatan tentang mitos dan logos. Dalam perspektif saintis (rasio-nalitas), peristiwa Isra Mikraj cenderung sulit diterima berdasarkan premis-premis ilmiah. Sementara perspektif wahyu atau iman, meyakini peristiwa tersebut sebagai fenomena mukjizat, yang memang tidak bisa disimplifikasi pada parameter rasionalitas. Memang ada beberapa ulama yang mencoba menyinkronisasikan peristiwa tersebut dengan temuan ilmiah terbaru, namun masih sangat temporer. 
Ketiga, diskursus tentang keterkaitan antara aspek ritual dan spiritual. Dalam tradisi intelektual Islam, ini merupakan perbicangan yang cukup hangat. Yaitu hubungan antara syariat dan makrifat. Pada titik yang paling ekstrem, ada pandangan tertentu yang mengeliminasi signifikansi fungsi dan peran ritual atau syariat, atas dasar apologi pencapaian spiritualitas atau makrifat tertinggi. Namun, perspektif yang lain tetap meneguhkan bahwa meskipun syariat merupakan jalan mencapai makrifat, namun posisi, fungsi dan perannya tetap tidak bisa dieliminasi. 
Peristiwa Isra Mikraj juga merepresentasikan polemik tentang hal itu. Sufi Ibn Farid mengatakan bahwa perjalanan Isra Mikraj yang dialami Nabi merupakan "Tahap ketiga kesatuan yang di dalamnya sang sufi kembali dari "kemabukan ber-manunggal"-nya ke "kesahajaan ber-manunggal" (Annemarie Schimmel:2001). Adapun, Muhammad Iqbal, dalam Lectures on the Reconstruction of Religious Thought in Islam mengatakan bahwa "Muhammad dari Arabia itu naik ke langit tertinggi dan kembali. Demi Allah aku bersumpah, jika aku seperti dia, tentu aku takkan mau kembali." 
Ucapan Ibn Farid merupakan peneguhan tentang pentingnya aspek spritualitas, tanpa menanggalkan aspek ritual atau syariat. Bahwa pada tataran yang sudah 'purna', sufisme justru akan menampilkan spirit kebijaksanaan dalam menghargai syariat, ketimbang ego ke-maqam-an untuk meninggalkannya. Sementara Iqbal berusaha menarik Isra Mikraj sebagai sebuah fenomena yang memuat pesan-pesan sosial-kemanusiaan agama. Bahwa agama dan spiritualitas menjadi bermakna, ketika mampu memberikan implikasi positif pada tataran kemanusiaan. 

Tiga Makna

Itulah tiga diskursus besar dalam filsafat dan teologi, yang ternyata terangkum dalam peristiwa Isra Mikraj. Ketiganya merupakan diskursus yang cukup panjang dan mewarnai sejarah kelahiran dan perkembangan agama itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa Isra Mikraj merupakan fenomena yang menyimpan substansi yang sangat mendalam. 
Terlepas dari perbedaan pandangan dalam memahami fenomena Isra Mikraj dalam ketiga diskursus di atas, bisa dipahami bahwa peristiwa tersebut ternyata memiliki dimensi yang luas. Isra Mikraj menjadi semacam 'wacana' yang bisa menghasilkan hipotesis berbeda, ditinjau dari berbagai perspektif. Fakta ini cukup menarik, karena tidak semua peristiwa dalam sejarah Nabi memiliki kelebihan seperti ini. 
Ditinjau dari perspektif di atas, ada beberapa hal yang bisa kita refleksikan terkait dengan fenomena Isra Mikraj. 
Pertama, bahwa agama (Islam) adalah lorong yang menghubungkan dua ruang: jasmani dan rohani. Karenanya, kekuatan, fungsi dan peran agama terletak pada kemampuannya untuk menjalankan fungsinya dalam menghubungkan kedua ruang tersebut. Penekanan pada yang satu dengan meminimalisasi eksistensi yang lainnya, sama saja dengan mengurangi efektivitas fungsi dan peran agama. Agama (Islam) adalah keseimbangan antara aspek jasmani dan rohani. 
Kedua, pada dasarnya agama (Islam) menawarkan proporsionalitas antara kekuatan akal dan kebersahajaan iman. Yang satu tidak diperkenankan mengeleminasi atau menegasikan yang lain. Tanpa kekuatan rasio, ajaran-ajaran Islam akan tumpul dan bisa mengarah pada stagnasi. Sebaliknya, iman juga dibutuhkan untuk memberikan dasar kebijaksanaan serta moralitas pada hasil kerja rasio. Pada kondisi ataupun kasus tertentu, terbuka kemungkinan akal dan iman memiliki hipotesis yang berbeda. Atau, yang satu tidak melegitimasi fenomena yang lainnya. Namun, bukan berarti bahwa keduanya bertentangan. Agama (Islam) adalah proses pen-sekutu-an yang tidak akan pernah selesai antara rasio dan iman, antara wahyu dan akal. 
Ketiga, dalam agama (Islam) ritual dan spiritual adalah paket kesatuan yang memiliki kelebihan masing-masing dan saling melengkapi. Ritual adalah jalan mencapai spiritualitas, sebagaimana spiritualitas memberikan substansi pada ritual. Dalam konteks yang lebih jauh, dua hal tersebut kemudian memberikan ekses pada tataran sosial-kemanusiaan. Sebab hal terakhir inilah yang menjadi tujuan profetik dari agama itu sendiri. Ritual yang di dalamnya bersemayam kekuatan spiritual adalah media yang bisa menciptakan individu-individu yang saleh secara sosial. 
Polemik tentang fenomena Isra Mikraj pada dasarnya memiliki dimensi yang luas dan cakupan analisis yang luas. Isra Mikraj merepresentasikan problem-problem fundamental yang selama ini menjadi kajian utama filsafat, teologi dan ilmu pengetahuan. Yaitu seputar persoalan badan-jiwa, akal-wahyu, dan ritual-spiritual. Tentu, fenomena Isra Mikraj akan lebih berarti jika kita mampu memaknainya dalam ketiga kerangka tersebut secara komprehensif. (Dimuat di Media Indonesia, 9 Juli 2010)



Wednesday, February 22, 2017

18 Kategori Manusia: Dimanakah Kita?

Tiba-tiba saya teringat pada quote panjang yang konon datang dari Sayyidina Ali. Saya ingin membagikannya pada Anda, dengan sedikit uraian dari saya yang tentu subjektif, sesuai pemahaman dan tafsiran saya atasnya. Dan jika Anda tak setuju atau tafsiran saya tak sesuai kontekstualisasi dengan konteks Anda, minimal Anda bisa membaca quote-nya saja sembari menafsirkannya sendiri sesuai konteks yang tepat bagi Anda.

Kita sering kali terjebak dalam struktur kehidupan yang membuat kita hendak menghindari suatu ekstremisme, namun terjebak pada ekstremisme yang lain di hadapannya. Memilih tak ke kiri, tapi ternyata sampai terlampau ke kanan. Dualisme yang sama-sama mencelakakan. Ironisnya, dualisme itu justru seolah pilihan yang harus dipilih tanpa ada alternatif jalan tengah. Itulah yang dirangkum oleh Sayyidina Ali, yang –seperti dikatakannya dalam pembukaan quote ini- benar-benar membuatnya khawatir pada zaman yang semacam itu. 

Banyak orang baik tapi tak berakal

Kebaikan kadang muncul begitu saja: prematur. Tanpa pertimbangan-pertimbangan atau dasar-dasar rasional-logis. Sehingga, ia sendiri tak bisa mempertanggungjawabkan kebaikan itu sendiri. Karenanya bisa jadi tak berarti atau malah riskan. Atau, ia kadang dijalani sebagai “kecelakaan”. Betapa sering kita mendengar orang menceritakan kebaikannya dengan diawali dengan kata “kebetulan”: “Kebetulan saya senggang, maka saya bantu saja orang itu.” Bahkan kadang kebaikan dilakukan, seperti kata Sayyidina Ali di lain waktu, dalam logika “pedagang” atau “budak”: yang pertama dengan pertimbangan pragmatis, yang kedua pertimbangan ketakutan dan keterpaksaan.  

Ada yang berakal tapi tak beriman

Akal di sini tampaknya menyasar pada akal yang biasanya dikritik oleh para sufi, seperti ibn ‘Arabi dan Jalaluddin Rumi. Akal yang justru menjerumuskan. Dalam terminologi Mazhab Frankfurt, ia disebut “akal instrumental”: akal yang digunakan secara apologetik atau bahasa kita “ngakali”.

Ada lidah fasih tapi berhati lalai

Ini tampaknya adalah sindiran bagi khatib yang memiliki konten dan artikulasi khutbah yang benar dan baik, namun tak memberi keteladanan. Mereka yang disindir Al-Qur’an dalam QS. Al-Saff: 3 tentang orang-orang yang berkata-kata (baik) tapi tak melakukan apa yang dikatakannya.

Ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian

Ke-khusyuk-an sering kali memang membutuhkan kesendirian, keheningan, dst. “Tuhan bersemayam dalam hening,” kata Bunda Teresa. Nabi menyendiri ke Gua Hira untuk merenungkan Allah dan menerima wahyu. Khalwat dalam tradisi sufi ‘pun identik dengan kesendirian. Namun, bukan lantas kita terjebak dalam kesendirian tersebut. Itu hanyalah jeda waktu untuk merenung, ber-khalwat, dll. Setelahnya, kita harus tetap berada di tengah keramaian dan memberi pengaruh positif bagi umat. Quote ini semacam sindiran bagi mereka –tak jarang pula sufi atau ahli ibadah- yang terjebak (hanya hanyut) dalam kesendirian. Mereka yang digambarkan oleh Muhammad Iqbal dengan perkataannya bahwa “Muhammad isra’ ke Sidratul Muntaha, bertemu dengan Tuhan dan kembali turun ke bumi. Jika aku yang melakukannya, niscaya aku takkan turun lagi ke bumi.”Namun, teladan Muhammad memperlihatkan ia kembali ke bumi setelah ke-khusyuk-annya untuk mewarnai dan mengajak manusia ke jalan ke-khusyuk-an sepertinya.

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis

Sebagaimana disabdakan Nabi bahwa kita takkan masuk surga karena amal kita, melainkan rahmat Allah. Bahkan, termasuk Nabi sendiri. Namun, sering kali kita lupa bahwa ibadah adalah bagian dari penghambaan kita agar Dia rela menurunkan rahmat-Nya pada kita. Sehingga, kita yang taat beribadah menjadi sombong, merasa paling benar, paling suci, sehingga menyombongkan diri dengan menuding, menuduh, dan menghakimi orang lain. Kita merasa diri kita mulia dan orang lain hina. Berapa banyak hikmah kisah ulama ahli ibadah yang di ujung hidupnya justru jauh dari keridhaan-Nya karena kesombongannya. 

Ada ahli maksiat tapi rendah hati bagaikan sufi

Sebaliknya, berapa banyak kisah orang-orang yang sepanjang hidupnya “kotor”, tapi ber-muamalah dengan baik. Ada yang muamalah itu tak didasari ketulusan, namun sebagai kedok kemaksiatannya yang dilakukan diam-diam. Namun, ada pula yang bisa jadi tulus, sehingga kadang di akhir hidupnya mereka husnul khotimah karena bertobat secara tulus dan diterima-Nya, meski belum sempat beribadah.

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat

Tak ada larangan untuk bahagia, termasuk tertawa sebagai salah satu ekspresi fisik atas kebahagiaan tersebut. Seperti dikisahkan Gus Mus dalam salah satu karyanya berjudul Canda Nabi dan Tawa Sufi, Rasul ‘pun diriwayatkan pernah bercanda dan tersenyum. Namun, menjadi masalah ketika tawa itu tak bersandar pada sesuatu yang layak ditertawakan atau tertawa secara terus menerus, hingga hatinya berkarat. Tak ada ruang empati di hatinya. 

Ada yang banyak menangis karena kufur nikmat

Seorang yang bergelimang harta, kadang ia mendadak ingin mendekatkan diri pada Allah. Namun, ia hanya fokus pada ibadah. Ia menangis di malam hari di atas sajadahnya. Namun, miskin muamalah. “Tak mendengar” tangisan saudara atau tetangganya yang kelaparan. Mulutnya berdzikir, diikuti oleh tangis di matanya. Namun, tidak pada tangannya: artinya ia tak berbagi harta pada sesama.

Ada yang murah senyum tapi hatinya selalu mengumpat

Inilah tipe seorang yang gemar pencitraan. Tak ada kejujuran dalam ekspresi wajahnya. Seseorang yang sebenarnya sangat tersiksa, namun tetap menjalaninya untuk kepentingan-kepentingan yang sebenarnya semu: pencitraan politik, dll.

Ada yang berhati tulus tapi wajahnya selalu cemberut

Ia seorang yang baik, namun tak memiliki kemampuan interaksi sosial yang baik. Padahal ekspresi itu juga perlu karena begitu banyak orang yang menilai seseorang di awal-awal dari ekspresi fisik dan banyak pula yang bisa jadi tersinggung karena ekspresi fisik. Sehingga, betapapun, kita harus melatih beretiket (sopan santun) secara fisik. Sebab, etika yang baik saja tak cukup, tapi juga harus dibarengi etiket (sopan santun). Bisa pula quote ini membawa kita pada perenungan bahwa niat yang tulus di hati harus dibarengi dengan praktek yang juga baik dan sopan.

Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan

Rasul diutus ke muka bumi untuk memberi teladan. Hadis itu bukan hanya perkataan Rasul, tapi juga tindakan. Perkataan dan tindakan baik harus beriringan, agar kita tak tergolong orang-orang munafik. Inilah yang kadang absen pada da’i. Padahal Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya dengan menyindir: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2).

Ada pelacur yang tampil menjadi figur

Berapa banyak figur-figur yang tampil dan menjadi tokoh hingga panutan hanya dari pencitraan yang aslinya di dalam dirinya terkandung kebusukan.

Ada yang berilmu tapi tak mengerti

Ia seperti Google, kepalanya penuh data keilmuan. Tapi, tak mampu merangkai data-data itu menjadi sebuah pemahaman yang utuh tentang suatu perkara.

Ada yang mengerti tapi tak menjalankan

Orang tipe ini sebenarnya memiliki pemahaman. Ia tahu bahwa berbohong itu buruk. Tapi, ia tak kuasa menjalankannya. Sebab, kepemilikan akan pemahaman atas sesuatu tak menjamin menjalankannya. Kebenaran perlu dibiasakan, dan kebiasaan belum tentu benar. 

Ada yang pintar tapi selalu membodohi

Inilah orang-orang yang ia pintar, tapi kepintarannya tak diimbangi dengan ketulusan hati, sehingga justru digunakan untuk membodohi. Tengoklah para pembesar-pembesar atau tokoh-tokoh, mereka itu pintar-pintar, tapi berapa banyak yang justru menggunakan kepintarannya untuk membodohi rakyat, umat, dll.

Ada yang bodoh tapi tak tau diri

Ada yang pintar dan tahu dirinya pintar. Kepadanya, kita harus berguru. Ada yang pintar tapi tak tahu dirinya pintar. Makai a harus disadarkan. Ada yang bodoh dan sadar dirinya bodoh. Ia hanya butuh diajari. Yang ironi adalah orang yang disebut dengan istilah “jahil murokkab”: bodoh tapi tak sadar bahwa dirinya bodoh. Ia mengoceh, naik “panggung”, dan berlagak seolah dirinya pintar.

Ada yang beragama tapi tak berakhlaq

Akhlak adalah simpul ajaran Islam. Seperti ditegaskan Nabi dalam sabdanya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Begitu pula dalam Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar mempunyai akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4) Oleh karena itu, bahkan -sebagaimana tertuang di Qur’an, fikih selalu diukur dengan parameter akhlak. Misalnya, salat untuk menjauhkan kita dari kekejian dan kemunkaran (QS. Al-‘Ankabut: 45). Puncaknya, sebagaimana Nabi sabdakan bahwa “agama adalah akhlak yang baik, misalnya: jangan marah.” Atau di hadist lain, dikatakan bahwa yang kuat dan lemahnya iman bergantung pada akhlak.

Ada yang berakhlaq tapi tak bertuhan


Akhlak adalah muamalah. Kebertuhanan adalah aqidah. Idealnya, keduanya beriringan. Tapi, tetap saja kenyataannya ada fenomena di mana seseorang begitu cakap akhlaknya, namun kemuliaan akhlak itu tak diberdirikan di atas keimanan pada Tuhan.

Saturday, February 4, 2017

Jangan Lupa Lopa!

Hari itu, menjelang Lebaran. Bapak menegaskan kepada anak buahnya untuk tidak menerima parsel Lebaran. Ia menggelar jumpa pers yang di antaranya mengumumkan, seluruh aparat kejaksaan Sulawesi Selatan tidak terima hadiah dalam bentuk apa pun.

Ketika tiba di rumah, ia melihat ada dua parsel. ”Eh, siapa yang kirim parsel ke sini,” tanyanya dengan raut masam. Melihat mimik wajah geram, seisi rumah bungkam. Belum terjawab pertanyaan geramnya, ditambah pula melihat salah satu parsel tersingkap 10 cm. ”Aduh, siapa yang membuka parsel ini?” Seorang putrinya maju ke depan dan dengan jujur menyatakan dialah yang buka dan mengambil sebuah cokelat. ”Mohon maaf Ayah,” ujar anak perempuan itu. Ayahnya menghela napas, lalu memperingatkan tegas untuk tak melakukan hal itu lagi. Pria Mandar ini menyuruh putranya membeli cokelat dengan ukuran dan jenis yang sama. Lalu cokelat itu dimasukkan ke bungkusan parsel dan segera dikembalikan kepada pengirimnya.

***

Kisah itu bukan dongeng. Meski mungkin kita akan sulit mengimajinasikannya di tengah realitas kepemimpinan bangsa ini yang diselimuti tindak korupsi oknum-oknumnya. 

Bapak itu adalah almarhum Baharuddin Lopa. Jaksa Agung RI di kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kisah itu terjadi kala ia menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan.

Setelah Patrialis Akbar tertangkap tangan sebagai tersangka korupsi, kita rindu Lopa. Kita butuh mengenangnya. Bukan untuk romantisme, tapi optimisme. 

Saya sangat ingat nama itu: “Lopa”. Satu-satunya nama pejabat yang saya tahu selain Gus Dur karena memang Presiden RI saat itu, ditambah kebijakannya yang sangat bijaksana di mata anak SD seperti saya saat itu karena meliburkan penuh sekolah di bulan Ramadhan. Saya mengenal Lopa pertama kali waktu SD, dari ayah saya yang sangat mengidolakannya dan sedih akan wafatnya pada 2001. Namun, baru belakangan saya mengenal pribadi Lopa. Saat SD, karena saya memang diperkenalkan dengannya melalui kisah-kisah kejujuran dan kesederhanaan, saya lebih mengimajinasikannya semacam simbol kejujuran dan kesederhanaan. Harus Lopa berarti harus jujur. Begitu kira-kira.

Jika Bung Hatta punya kisah dengan sepatu merek “Bally”, Lopa juga punya kisah dengan mobil merek “Kijang”. Keduanya bukan malaikat yang tak punya keinginan. Namun, keinginan itu digapainya dengan menabung sedikit demi sedikit, dari gaji dan honor menulis. Bukan memperdagangkan pengaruh, apalagi “palu”. Bedanya, Lopa kesampaian, Hatta tidak hingga wafat karena tabungannya tak kunjung mencukupi lantaran berkejaran dengan biaya listrik dan air rumahnya.

Lopa, juga Hatta mengingatkan saya pada sebait lirik lagu Iwan Fals: “Keinginan adalah sumber penderitaan.” Keinginan sering membuat kita tak kuasa pada diri sendiri. Lalu, bagaimana bisa berkuasa atas orang lain dengan “palu”, “kursi”, dll, jika pada diri sendiri saja tak kuasa? 

Korupsi sering bocor di sepetak keinginan dalam pikiran. Gratifikasi kerap menghujam ke petak itu, menyandera kita, dan membuat “palu” otomatis patah. Bagaimana kita bisa membayangkan kedaulatan hukum tanpa kedaulatan hakim? Hukum bisa saja tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Tapi ia tak bisa tajam ke luar jika masih tumpul ke dalam (diri). Oleh karena itu, kata Lopa, “penegak hukum itu mutlak berintegritas. Ia boleh hidup ekstra sulit, tetapi itu tidak bisa menjadi alasan menerima apa pun dari siapa pun.” 

Dan kini, bagaimana kita bisa membayangkan wajah hukum negeri ini jika Hakim Mahkamah Konstitusi (“Mbah”-nya Hukum Indonesia), kemarin Patrialis dan beberapa tahun lalu bahkan ketuanya, Akil Mochtar terlibat korupsi? Alih-alih akan tegak prinsip hukum: ”the rule of law, and not of man” (hukum yang memerintah dalam suatu negara, bukan kehendak manusia), melainkan ”the rule of man, and not of law” (kehendak manusia yang memerintah dalam suatu negara, bukan hukum).

Lopa menyidang diri dan keluarganya sendiri, sebelum orang lain. Sebab, dari sanalah hukum harus ditegakkan. Persis seperti dikisahkan di awal kolom ini. Sebab, seperti kita lihat dalam kasus Patrialis, kita sering menjadi “industri nasihat”, tapi kosong keteladanan. Oleh karena itu, kata Nabi Muhammad: “Jika Fatimah (putri kesayangannya) mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Karena memang begitu Qur’an mengajar Nabi: “Jagalah diri dan keluargamu dari neraka.” ”the rule of law, and not of man”

Salah satu gagasan Lopa adalah mengaitkan hukum dan ekonomi. Menurutnya, supremasi hukum akan berbanding lurus dengan kinerja ekonomi. ”Banyak di antara masyarakat tidak menyadari, tegaknya hukum menentukan kinerja ekonomi. Sebab, munculnya supremasi hukum akan membuat pelaku bisnis tenang. Kalaupun bisnisnya diusik, para pebisnis itu akan tenang karena ada hukum. Jaksa akan menjalankan tugasnya dengan baik dan hakim akan menjatuhkan vonis yang sesuai hukum dan rasa keadilan,” kata Lopa. Ke-shahih-an gagasan itu memang sudah terbukti sejak lama. Yang paling populer dan anyar adalah China yang sejak 2000 khususnya, supremasi hukum telah berhasil mendorong perekonomian yang sehat dan maju hingga kini menjadi Raksasa Asia. Namun, kasus Patrialis seolah meneguhkan ke-shahih-annya dalam wujud sebaliknya: bagaimana oknum pebisnis memang akan selalu mengincar penegak hukum yang mau memperdagangkan “palu”-nya untuk meruntuhkan supremasi hukum guna meneguhkan menopoli ekonomi, yakni sapi dalam kasus Patrialis.


Maka, jangan lupakan Lopa! Kita ini harus terus mengenangnya. Bukan untuk Lopa, tapi untuk kita. Karena dia adalah inspirasi sekaligus energi bagi kejujuran dan kesederhanaan. “Mengingatnya (Lopa) membimbing kita untuk jujur dan sederhana dalam hidup di tengah pengabdian pada masyarakat,” kata ayah saya suatu hari dulu. Mari kita mulai mengingatnya dengan membacakan doa untuk ruhnya.

Hoax dan Islam

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar

Hoax sedang mendapatkan momentum perbincangannya sebagai bagian dari hiruk pikuk politik Ibu Kota. Namun, mengacu pada makna hoax sebagai berita bohong atau fitnah, tulisan ini hendak menarik perbincangkan soal hoax dalam wilayah yang paling sensitif: agama, khususnya Islam.

Jauh sebelum menyerang politik Ibu Kota, hoax telah menyerang agama dan menggerogoti sendi-sendi keberislaman, termasuk kita di Indonesia. Sehingga umat Islam hanyut dalam sederet silang pendapat hingga konflik atas nama Islam yang sebenarnya semu karena ditopang oleh hoax-hoax. Sering kali kita bertengkar atas nama keyakinan (subjektifitas dan palsu), bukan kebenaran (objektifitas dan nyata). Misalnya, yang kian populer, sebagian umat Islam yang meyakini bumi datar dengan berbasis pada paradigma dan pendekatan “ayatisasi”: mencocok-cocokkan ayat Qur’an dengan pseudosains. Sesuatu yang bisa membawa persepsi salah bahwa agama (Islam) dan sains bertentangan, serta mengingatkan kita pada “Tragedi Galileo” yang menjadi tragedi agama-sains paling memilukan dalam sejarah.

Lebih jauh lagi, dalam sejarah Islam, hoax dicatat sebagai sebab pertama guncangan besar bagi tatanan keislaman yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad. Ia terjadi saat terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan dan kemudian disebut sebagai “al-fitnah al-kubra” (fitnah besar). Di mana saat itu umat Islam saling menebar hoax tentang pembunuhan Khalifah Usman untuk kepentingan politik, hingga terjadi perpecahan pertama dalam sejarah Islam yang bermuara pada peperangan antara Ali dan Muawiyah, serta melahirkan sekte-sekte kalam (teologi) dalam Islam dan terus lestari hingga kini. 

Maka, tak heran jika Sayyidina Ali buru-buru menasehati umat Islam agar dalam suasana kekacauan di mana hoax tersebar dan membuat segalanya terlihat abu-abu, jadilah seperti unta remaja yang tak bisa ditunggangi karena punggungnya masih lemah dan tak bisa diambil susunya karena masih belia. Dalam artian, jangan terjebak dalam kekacauan tersebut lantaran terprovokasi oleh hoax yang disebar untuk saling tuduh dan memecah belah umat.

Diktum “perbedaan adalah rahmat” batal demi hoax. Sebab, diskursus sehat dalam perbedaan sebenarnya bersifat konstruktif. Seperti kata Imam Ghazali, kebenaran seperti cermin yang jatuh dari langit dan pecah di bumi. Ia disatukan dalam satu khazanah diskursus keislaman atau lebih luas lagi: keberagamaan. Karena ia bersumber dari pengetahuan dan dilakoni oleh orang-orang berpengetahuan, maka yang berkembang adalah sikap moderat, toleran, dan saling menghargai.

Kita bisa lihat diskursus itu dalam ushul fiqh (jurisprudensi Islam). Di mana, diskursus antara imam-imamnya (yang paling populer: Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) menghadirkan satu perangkat keilmuan jurisprudensi Islam yang menjadi khazanah monumental hingga kini. Sikap para imam itupun, di tengah perbedaan antar mereka adalah saling menghargai dan memuji dengan berpuncak pada diktum Ibn Hajar al-Haitami: ”Mazhabku benar dan mengandung kesalahan, mazhab selainku salah dan mengandung kebenaran”.

Hoax menjadikan semua itu berubah menjadi tuduhan yang destruktif. Hoax justru menyulap perbedaan (ikhtilaf) menjadi perpecahan (iftiraq). Oleh karena itu, perbedaan dalam teologi Islam awal yang terjadi lantaran hoax justru melahirkan perpecahan, konflik, dan saling bunuh di tubuh umat Islam.

Lantaran bersumber dari ego, hoax dalam Islam menyeruak hingga salah satu simpul terdalam agama: hadis. Sejak 41 H, hoax atas nama Nabi diproduksi dan disebarkan untuk kepentingan-kepentingan kuasa. Ia mempersekusi mazhab, ulama, pandangan, dan segala sesuatu yang menjadi benteng bagi ego rezim. Sekadar gambaran kuantitasnya: dari 600 ribu hadis yang dikumpulkan Imam Bukhari, hanya 2.761 hadis yang dipilihnya. Padahal, sejak awal Nabi telah bersabda: "Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." 

Sebagian para pembuat hadis palsu itu dijuluki “pembohong zuhud”. Artinya, mereka sebenarnya seorang yang taat beribadah. Namun, ketika digugat, mereka mengatakan bahwa mereka berbohong bukan terhadap Nabi (‘ala Nabi), tapi untuk Nabi (li Nabi), dengan asumsi untuk kebaikan Islam. Persis seperti fenomena beberapa tahun terakhir di umat Islam Indonesia, di mana mereka secara sadar mempersekusi sesama Muslim atau non-Muslim dengan hoax-hoax dengan imajinasi bahwa dirinya “pembela Allah dan Rasul-Nya”. Mereka itu juga orang-orang yang taat dalam ibadah.

Kesucian agama dari hoax adalah signifikan dan mendasar. Oleh karena itu, dalam konteks Islam, sejak awal dalam QS. Al-Hijr: 9 ditegaskan bahwa apa yang difirmankan-Nya adalah benar-benar dari-Nya dan akan terus Dia jaga sampai akhir masa. Nabi diutus sebagai manusia suci (ma’shum) untuk meneguhkan kesucian agama yang dibawanya dari tuduhan atau prasangka hoax. Sehingga, Tuhan begitu keras pada pembuat dan penyebar hoax: melaknat, menyebut tak beriman, dan memastikan tempatnya di neraka. Sebab, hoax dalam keberagamaan bukan hanya membuat kesucian agama batal, tapi memaksa umat menerimanya meski bertentangan dengan akal atau bahkan nurani mereka lantaran ia dibungkus dengan sesuatu yang suci. Sehingga, kata Ibn Rusyd, “jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala hal dengan agama.” Dan Al-Qur’an dalam QS. Al-Maidah: 71 mensifati mereka sebagai orang-orang yang buta dan tuli lantaran hoax memang membuat seseorang mendengar kabar yang palsu dan melihat realitas secara palsu.

Maka, dalam momentum ketika kita kian sadar dan khawatir akan kejamnya hoax dalam panggung politik Pilkada Ibu Kota, serta berbondong-bondong merintis berbagai keijakan dan gerakan menanggulanginya, demi tak terjadinya “fitnah besar” di tubuh bangsa ini yang bisa mengancam kesatuan NKRI. Kita juga harus ingat bahwa keberislaman dan keberagamaan kita telah lebih dulu dikoyak-koyak oleh ragam hoax yang membuat umat Islam dan beragama terpecah, sentimen, hingga konflik. Tragedi Sampang, Tolikara, dll adalah segelintir contohnya. Sehingga, kita berharap kebijakan dan gerakan anti-hoax ini akan terus terjaga semangat dan performanya pasca-Pilkada Ibu Kota, bukan hanya untuk urusan politik, tapi juga agama. Sebab, mengutip Imam Bukhari dari Abdullah bin Umar, Al-Qur’an dalam QS. Al-Baqarah: 193 memang memerintahkan kita untuk memerangi hoax, agar ketaatan hanya semata-mata untuk Allah, bukan penguasa. (Sedikit Tambahan dengan artikel dengan judul sama yang dimuat di Koran Tempo, 25 Januari 2017)