Wednesday, February 22, 2017

18 Kategori Manusia: Dimanakah Kita?

Tiba-tiba saya teringat pada quote panjang yang konon datang dari Sayyidina Ali. Saya ingin membagikannya pada Anda, dengan sedikit uraian dari saya yang tentu subjektif, sesuai pemahaman dan tafsiran saya atasnya. Dan jika Anda tak setuju atau tafsiran saya tak sesuai kontekstualisasi dengan konteks Anda, minimal Anda bisa membaca quote-nya saja sembari menafsirkannya sendiri sesuai konteks yang tepat bagi Anda.

Kita sering kali terjebak dalam struktur kehidupan yang membuat kita hendak menghindari suatu ekstremisme, namun terjebak pada ekstremisme yang lain di hadapannya. Memilih tak ke kiri, tapi ternyata sampai terlampau ke kanan. Dualisme yang sama-sama mencelakakan. Ironisnya, dualisme itu justru seolah pilihan yang harus dipilih tanpa ada alternatif jalan tengah. Itulah yang dirangkum oleh Sayyidina Ali, yang –seperti dikatakannya dalam pembukaan quote ini- benar-benar membuatnya khawatir pada zaman yang semacam itu. 

Banyak orang baik tapi tak berakal

Kebaikan kadang muncul begitu saja: prematur. Tanpa pertimbangan-pertimbangan atau dasar-dasar rasional-logis. Sehingga, ia sendiri tak bisa mempertanggungjawabkan kebaikan itu sendiri. Karenanya bisa jadi tak berarti atau malah riskan. Atau, ia kadang dijalani sebagai “kecelakaan”. Betapa sering kita mendengar orang menceritakan kebaikannya dengan diawali dengan kata “kebetulan”: “Kebetulan saya senggang, maka saya bantu saja orang itu.” Bahkan kadang kebaikan dilakukan, seperti kata Sayyidina Ali di lain waktu, dalam logika “pedagang” atau “budak”: yang pertama dengan pertimbangan pragmatis, yang kedua pertimbangan ketakutan dan keterpaksaan.  

Ada yang berakal tapi tak beriman

Akal di sini tampaknya menyasar pada akal yang biasanya dikritik oleh para sufi, seperti ibn ‘Arabi dan Jalaluddin Rumi. Akal yang justru menjerumuskan. Dalam terminologi Mazhab Frankfurt, ia disebut “akal instrumental”: akal yang digunakan secara apologetik atau bahasa kita “ngakali”.

Ada lidah fasih tapi berhati lalai

Ini tampaknya adalah sindiran bagi khatib yang memiliki konten dan artikulasi khutbah yang benar dan baik, namun tak memberi keteladanan. Mereka yang disindir Al-Qur’an dalam QS. Al-Saff: 3 tentang orang-orang yang berkata-kata (baik) tapi tak melakukan apa yang dikatakannya.

Ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian

Ke-khusyuk-an sering kali memang membutuhkan kesendirian, keheningan, dst. “Tuhan bersemayam dalam hening,” kata Bunda Teresa. Nabi menyendiri ke Gua Hira untuk merenungkan Allah dan menerima wahyu. Khalwat dalam tradisi sufi ‘pun identik dengan kesendirian. Namun, bukan lantas kita terjebak dalam kesendirian tersebut. Itu hanyalah jeda waktu untuk merenung, ber-khalwat, dll. Setelahnya, kita harus tetap berada di tengah keramaian dan memberi pengaruh positif bagi umat. Quote ini semacam sindiran bagi mereka –tak jarang pula sufi atau ahli ibadah- yang terjebak (hanya hanyut) dalam kesendirian. Mereka yang digambarkan oleh Muhammad Iqbal dengan perkataannya bahwa “Muhammad isra’ ke Sidratul Muntaha, bertemu dengan Tuhan dan kembali turun ke bumi. Jika aku yang melakukannya, niscaya aku takkan turun lagi ke bumi.”Namun, teladan Muhammad memperlihatkan ia kembali ke bumi setelah ke-khusyuk-annya untuk mewarnai dan mengajak manusia ke jalan ke-khusyuk-an sepertinya.

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis

Sebagaimana disabdakan Nabi bahwa kita takkan masuk surga karena amal kita, melainkan rahmat Allah. Bahkan, termasuk Nabi sendiri. Namun, sering kali kita lupa bahwa ibadah adalah bagian dari penghambaan kita agar Dia rela menurunkan rahmat-Nya pada kita. Sehingga, kita yang taat beribadah menjadi sombong, merasa paling benar, paling suci, sehingga menyombongkan diri dengan menuding, menuduh, dan menghakimi orang lain. Kita merasa diri kita mulia dan orang lain hina. Berapa banyak hikmah kisah ulama ahli ibadah yang di ujung hidupnya justru jauh dari keridhaan-Nya karena kesombongannya. 

Ada ahli maksiat tapi rendah hati bagaikan sufi

Sebaliknya, berapa banyak kisah orang-orang yang sepanjang hidupnya “kotor”, tapi ber-muamalah dengan baik. Ada yang muamalah itu tak didasari ketulusan, namun sebagai kedok kemaksiatannya yang dilakukan diam-diam. Namun, ada pula yang bisa jadi tulus, sehingga kadang di akhir hidupnya mereka husnul khotimah karena bertobat secara tulus dan diterima-Nya, meski belum sempat beribadah.

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat

Tak ada larangan untuk bahagia, termasuk tertawa sebagai salah satu ekspresi fisik atas kebahagiaan tersebut. Seperti dikisahkan Gus Mus dalam salah satu karyanya berjudul Canda Nabi dan Tawa Sufi, Rasul ‘pun diriwayatkan pernah bercanda dan tersenyum. Namun, menjadi masalah ketika tawa itu tak bersandar pada sesuatu yang layak ditertawakan atau tertawa secara terus menerus, hingga hatinya berkarat. Tak ada ruang empati di hatinya. 

Ada yang banyak menangis karena kufur nikmat

Seorang yang bergelimang harta, kadang ia mendadak ingin mendekatkan diri pada Allah. Namun, ia hanya fokus pada ibadah. Ia menangis di malam hari di atas sajadahnya. Namun, miskin muamalah. “Tak mendengar” tangisan saudara atau tetangganya yang kelaparan. Mulutnya berdzikir, diikuti oleh tangis di matanya. Namun, tidak pada tangannya: artinya ia tak berbagi harta pada sesama.

Ada yang murah senyum tapi hatinya selalu mengumpat

Inilah tipe seorang yang gemar pencitraan. Tak ada kejujuran dalam ekspresi wajahnya. Seseorang yang sebenarnya sangat tersiksa, namun tetap menjalaninya untuk kepentingan-kepentingan yang sebenarnya semu: pencitraan politik, dll.

Ada yang berhati tulus tapi wajahnya selalu cemberut

Ia seorang yang baik, namun tak memiliki kemampuan interaksi sosial yang baik. Padahal ekspresi itu juga perlu karena begitu banyak orang yang menilai seseorang di awal-awal dari ekspresi fisik dan banyak pula yang bisa jadi tersinggung karena ekspresi fisik. Sehingga, betapapun, kita harus melatih beretiket (sopan santun) secara fisik. Sebab, etika yang baik saja tak cukup, tapi juga harus dibarengi etiket (sopan santun). Bisa pula quote ini membawa kita pada perenungan bahwa niat yang tulus di hati harus dibarengi dengan praktek yang juga baik dan sopan.

Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan

Rasul diutus ke muka bumi untuk memberi teladan. Hadis itu bukan hanya perkataan Rasul, tapi juga tindakan. Perkataan dan tindakan baik harus beriringan, agar kita tak tergolong orang-orang munafik. Inilah yang kadang absen pada da’i. Padahal Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya dengan menyindir: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2).

Ada pelacur yang tampil menjadi figur

Berapa banyak figur-figur yang tampil dan menjadi tokoh hingga panutan hanya dari pencitraan yang aslinya di dalam dirinya terkandung kebusukan.

Ada yang berilmu tapi tak mengerti

Ia seperti Google, kepalanya penuh data keilmuan. Tapi, tak mampu merangkai data-data itu menjadi sebuah pemahaman yang utuh tentang suatu perkara.

Ada yang mengerti tapi tak menjalankan

Orang tipe ini sebenarnya memiliki pemahaman. Ia tahu bahwa berbohong itu buruk. Tapi, ia tak kuasa menjalankannya. Sebab, kepemilikan akan pemahaman atas sesuatu tak menjamin menjalankannya. Kebenaran perlu dibiasakan, dan kebiasaan belum tentu benar. 

Ada yang pintar tapi selalu membodohi

Inilah orang-orang yang ia pintar, tapi kepintarannya tak diimbangi dengan ketulusan hati, sehingga justru digunakan untuk membodohi. Tengoklah para pembesar-pembesar atau tokoh-tokoh, mereka itu pintar-pintar, tapi berapa banyak yang justru menggunakan kepintarannya untuk membodohi rakyat, umat, dll.

Ada yang bodoh tapi tak tau diri

Ada yang pintar dan tahu dirinya pintar. Kepadanya, kita harus berguru. Ada yang pintar tapi tak tahu dirinya pintar. Makai a harus disadarkan. Ada yang bodoh dan sadar dirinya bodoh. Ia hanya butuh diajari. Yang ironi adalah orang yang disebut dengan istilah “jahil murokkab”: bodoh tapi tak sadar bahwa dirinya bodoh. Ia mengoceh, naik “panggung”, dan berlagak seolah dirinya pintar.

Ada yang beragama tapi tak berakhlaq

Akhlak adalah simpul ajaran Islam. Seperti ditegaskan Nabi dalam sabdanya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Begitu pula dalam Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar mempunyai akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4) Oleh karena itu, bahkan -sebagaimana tertuang di Qur’an, fikih selalu diukur dengan parameter akhlak. Misalnya, salat untuk menjauhkan kita dari kekejian dan kemunkaran (QS. Al-‘Ankabut: 45). Puncaknya, sebagaimana Nabi sabdakan bahwa “agama adalah akhlak yang baik, misalnya: jangan marah.” Atau di hadist lain, dikatakan bahwa yang kuat dan lemahnya iman bergantung pada akhlak.

Ada yang berakhlaq tapi tak bertuhan


Akhlak adalah muamalah. Kebertuhanan adalah aqidah. Idealnya, keduanya beriringan. Tapi, tetap saja kenyataannya ada fenomena di mana seseorang begitu cakap akhlaknya, namun kemuliaan akhlak itu tak diberdirikan di atas keimanan pada Tuhan.

0 comments:

Post a Comment