Saturday, February 4, 2017

Hoax dan Islam

Oleh: Husein Ja'far Al Hadar

Hoax sedang mendapatkan momentum perbincangannya sebagai bagian dari hiruk pikuk politik Ibu Kota. Namun, mengacu pada makna hoax sebagai berita bohong atau fitnah, tulisan ini hendak menarik perbincangkan soal hoax dalam wilayah yang paling sensitif: agama, khususnya Islam.

Jauh sebelum menyerang politik Ibu Kota, hoax telah menyerang agama dan menggerogoti sendi-sendi keberislaman, termasuk kita di Indonesia. Sehingga umat Islam hanyut dalam sederet silang pendapat hingga konflik atas nama Islam yang sebenarnya semu karena ditopang oleh hoax-hoax. Sering kali kita bertengkar atas nama keyakinan (subjektifitas dan palsu), bukan kebenaran (objektifitas dan nyata). Misalnya, yang kian populer, sebagian umat Islam yang meyakini bumi datar dengan berbasis pada paradigma dan pendekatan “ayatisasi”: mencocok-cocokkan ayat Qur’an dengan pseudosains. Sesuatu yang bisa membawa persepsi salah bahwa agama (Islam) dan sains bertentangan, serta mengingatkan kita pada “Tragedi Galileo” yang menjadi tragedi agama-sains paling memilukan dalam sejarah.

Lebih jauh lagi, dalam sejarah Islam, hoax dicatat sebagai sebab pertama guncangan besar bagi tatanan keislaman yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad. Ia terjadi saat terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan dan kemudian disebut sebagai “al-fitnah al-kubra” (fitnah besar). Di mana saat itu umat Islam saling menebar hoax tentang pembunuhan Khalifah Usman untuk kepentingan politik, hingga terjadi perpecahan pertama dalam sejarah Islam yang bermuara pada peperangan antara Ali dan Muawiyah, serta melahirkan sekte-sekte kalam (teologi) dalam Islam dan terus lestari hingga kini. 

Maka, tak heran jika Sayyidina Ali buru-buru menasehati umat Islam agar dalam suasana kekacauan di mana hoax tersebar dan membuat segalanya terlihat abu-abu, jadilah seperti unta remaja yang tak bisa ditunggangi karena punggungnya masih lemah dan tak bisa diambil susunya karena masih belia. Dalam artian, jangan terjebak dalam kekacauan tersebut lantaran terprovokasi oleh hoax yang disebar untuk saling tuduh dan memecah belah umat.

Diktum “perbedaan adalah rahmat” batal demi hoax. Sebab, diskursus sehat dalam perbedaan sebenarnya bersifat konstruktif. Seperti kata Imam Ghazali, kebenaran seperti cermin yang jatuh dari langit dan pecah di bumi. Ia disatukan dalam satu khazanah diskursus keislaman atau lebih luas lagi: keberagamaan. Karena ia bersumber dari pengetahuan dan dilakoni oleh orang-orang berpengetahuan, maka yang berkembang adalah sikap moderat, toleran, dan saling menghargai.

Kita bisa lihat diskursus itu dalam ushul fiqh (jurisprudensi Islam). Di mana, diskursus antara imam-imamnya (yang paling populer: Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) menghadirkan satu perangkat keilmuan jurisprudensi Islam yang menjadi khazanah monumental hingga kini. Sikap para imam itupun, di tengah perbedaan antar mereka adalah saling menghargai dan memuji dengan berpuncak pada diktum Ibn Hajar al-Haitami: ”Mazhabku benar dan mengandung kesalahan, mazhab selainku salah dan mengandung kebenaran”.

Hoax menjadikan semua itu berubah menjadi tuduhan yang destruktif. Hoax justru menyulap perbedaan (ikhtilaf) menjadi perpecahan (iftiraq). Oleh karena itu, perbedaan dalam teologi Islam awal yang terjadi lantaran hoax justru melahirkan perpecahan, konflik, dan saling bunuh di tubuh umat Islam.

Lantaran bersumber dari ego, hoax dalam Islam menyeruak hingga salah satu simpul terdalam agama: hadis. Sejak 41 H, hoax atas nama Nabi diproduksi dan disebarkan untuk kepentingan-kepentingan kuasa. Ia mempersekusi mazhab, ulama, pandangan, dan segala sesuatu yang menjadi benteng bagi ego rezim. Sekadar gambaran kuantitasnya: dari 600 ribu hadis yang dikumpulkan Imam Bukhari, hanya 2.761 hadis yang dipilihnya. Padahal, sejak awal Nabi telah bersabda: "Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." 

Sebagian para pembuat hadis palsu itu dijuluki “pembohong zuhud”. Artinya, mereka sebenarnya seorang yang taat beribadah. Namun, ketika digugat, mereka mengatakan bahwa mereka berbohong bukan terhadap Nabi (‘ala Nabi), tapi untuk Nabi (li Nabi), dengan asumsi untuk kebaikan Islam. Persis seperti fenomena beberapa tahun terakhir di umat Islam Indonesia, di mana mereka secara sadar mempersekusi sesama Muslim atau non-Muslim dengan hoax-hoax dengan imajinasi bahwa dirinya “pembela Allah dan Rasul-Nya”. Mereka itu juga orang-orang yang taat dalam ibadah.

Kesucian agama dari hoax adalah signifikan dan mendasar. Oleh karena itu, dalam konteks Islam, sejak awal dalam QS. Al-Hijr: 9 ditegaskan bahwa apa yang difirmankan-Nya adalah benar-benar dari-Nya dan akan terus Dia jaga sampai akhir masa. Nabi diutus sebagai manusia suci (ma’shum) untuk meneguhkan kesucian agama yang dibawanya dari tuduhan atau prasangka hoax. Sehingga, Tuhan begitu keras pada pembuat dan penyebar hoax: melaknat, menyebut tak beriman, dan memastikan tempatnya di neraka. Sebab, hoax dalam keberagamaan bukan hanya membuat kesucian agama batal, tapi memaksa umat menerimanya meski bertentangan dengan akal atau bahkan nurani mereka lantaran ia dibungkus dengan sesuatu yang suci. Sehingga, kata Ibn Rusyd, “jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala hal dengan agama.” Dan Al-Qur’an dalam QS. Al-Maidah: 71 mensifati mereka sebagai orang-orang yang buta dan tuli lantaran hoax memang membuat seseorang mendengar kabar yang palsu dan melihat realitas secara palsu.

Maka, dalam momentum ketika kita kian sadar dan khawatir akan kejamnya hoax dalam panggung politik Pilkada Ibu Kota, serta berbondong-bondong merintis berbagai keijakan dan gerakan menanggulanginya, demi tak terjadinya “fitnah besar” di tubuh bangsa ini yang bisa mengancam kesatuan NKRI. Kita juga harus ingat bahwa keberislaman dan keberagamaan kita telah lebih dulu dikoyak-koyak oleh ragam hoax yang membuat umat Islam dan beragama terpecah, sentimen, hingga konflik. Tragedi Sampang, Tolikara, dll adalah segelintir contohnya. Sehingga, kita berharap kebijakan dan gerakan anti-hoax ini akan terus terjaga semangat dan performanya pasca-Pilkada Ibu Kota, bukan hanya untuk urusan politik, tapi juga agama. Sebab, mengutip Imam Bukhari dari Abdullah bin Umar, Al-Qur’an dalam QS. Al-Baqarah: 193 memang memerintahkan kita untuk memerangi hoax, agar ketaatan hanya semata-mata untuk Allah, bukan penguasa. (Sedikit Tambahan dengan artikel dengan judul sama yang dimuat di Koran Tempo, 25 Januari 2017)

0 comments:

Post a Comment