Monday, April 24, 2017

Isra Mikraj dalam Tiga Diskursus & Makna: Agama, Filsafat, dan Sains

Fenomena Isra Mikraj memiliki makna yang multiperspektif. Di antaranya makna sosial-kemanusiaan, filosofis, teologis, dan saintis. Dalam pemikiran keislaman, Isra Mikraj merupakan salah satu tema yang ramai dipolemikkan. Fenomena ini menjadi salah satu yang turut memberikan kontribusi terhadap dinamika pemikiran keislaman. Baik itu dalam bidang tafsir Alquran, sejarah Islam, maupun kajian tentang mukjizat. Tulisan ini mencoba menarik dinamika tafsir tentang Isra Mikraj sebagai sebuah diskursus yang bermuara pada tema-tema besar dalam bidang filsafat dan agama. 
Tiga Diskursus
"Tak ada episode kehidupan Nabi Muhammad yang telah menarik perhatian kaum orientalis dan sejarawan agama melebihi episode perjalanan Nabi ke langit yang dikenal dengan Isra Mikraj (Annemarie Schimmel:2001). Peristiwa Isra Mikraj memang merupakan salah satu bagian yang fenomenal dari sejarah Nabi. Salah satu nilai penting dari Isra Mikraj bahwa fenomena ini merangkum sebuah perdebatan besar dalam kajian tentang agama pada umumnya dan Islam khususnya. Analisis tentang Isra Mikraj melibatkan beragam perspektif yang berusaha untuk urun rembug menganalisis dan menawarkan hipotesis terhadap peristiwa tersebut. Mulai dari perspektif teologis, filosofis, dan saintis. Masing-masing memiliki titik tekan yang berbeda dalam memahami fenomena Isra Mikraj. 
Minimal ada tiga diskursus yang terangkum dalam fenomena Isra Mikraj. Pertama, diskursus tentang hubungan antara jasmani dan rohani, antara fisik dan jiwa. Ini merupakan salah satu tema paling pokok dalam diskursus filsafat. Sebagian filsuf mengontraskan antara fisik dan jiwa sebagai dua bagian yang terpisah. Sementara pandangan yang lain memahami jiwa dan badan sebagai bagian yang integral. Dalam konteks Isra Mikraj, muncul dua kesimpulan berbeda terkait dengan soal tersebut. Yaitu pandangan yang menganggap peristiwa tersebut sebagai perjalanan rohani semata dan yang berkesimpulan bukan semata rohani, namun juga jasmani. Setiap pandangan memiliki catatan kritik atas yang lainnya. Pandangan pertama mengajukan kritik bahwa jika merupakan fenomena rohani, Isra Mikraj bukan fenomena yang istimewa (tidak layak dikategorikan sebagai mukjizat). Sebab, hal serupa diklaim bisa dilakukan para sufi dengan metode sufistik tertentu. Sementara kelemahan pandangan kedua yaitu bagaimana menjelaskan fenomena Isra Mikraj dalam logika saintis. 
Kedua, diskursus tentang rasio dan iman atau antara akal dan wahyu. Ini adalah perdebatan klasik yang sama tuanya dengan umur agama dan ilmu pengetahuan itu sendiri. Manusia selalu berada dalam upaya untuk menemukan titik temu, atau setidaknya keterhubungan, antara dua hal tersebut. Sebagian ada yang menyimpulkan bahwa akal (rasio) dan wahyu (iman) memiliki pola 'nalar' yang berbeda dan mustahil disatukan. Namun ada juga yang berusaha menyinergikan keduanya sebagai dua varian yang padu. Bahkan, pada tataran yang ekstrem, ada pandangan yang menegasikan yang satu atas yang lainnya. 
Peristiwa Isra Mikraj merepresentasikan sebuah diskursus yang cukup panjang seputar otoritas akal dan wahyu ini. Dalam konteks yang lebih luas, ini berada dalam domain perdebatan tentang mitos dan logos. Dalam perspektif saintis (rasio-nalitas), peristiwa Isra Mikraj cenderung sulit diterima berdasarkan premis-premis ilmiah. Sementara perspektif wahyu atau iman, meyakini peristiwa tersebut sebagai fenomena mukjizat, yang memang tidak bisa disimplifikasi pada parameter rasionalitas. Memang ada beberapa ulama yang mencoba menyinkronisasikan peristiwa tersebut dengan temuan ilmiah terbaru, namun masih sangat temporer. 
Ketiga, diskursus tentang keterkaitan antara aspek ritual dan spiritual. Dalam tradisi intelektual Islam, ini merupakan perbicangan yang cukup hangat. Yaitu hubungan antara syariat dan makrifat. Pada titik yang paling ekstrem, ada pandangan tertentu yang mengeliminasi signifikansi fungsi dan peran ritual atau syariat, atas dasar apologi pencapaian spiritualitas atau makrifat tertinggi. Namun, perspektif yang lain tetap meneguhkan bahwa meskipun syariat merupakan jalan mencapai makrifat, namun posisi, fungsi dan perannya tetap tidak bisa dieliminasi. 
Peristiwa Isra Mikraj juga merepresentasikan polemik tentang hal itu. Sufi Ibn Farid mengatakan bahwa perjalanan Isra Mikraj yang dialami Nabi merupakan "Tahap ketiga kesatuan yang di dalamnya sang sufi kembali dari "kemabukan ber-manunggal"-nya ke "kesahajaan ber-manunggal" (Annemarie Schimmel:2001). Adapun, Muhammad Iqbal, dalam Lectures on the Reconstruction of Religious Thought in Islam mengatakan bahwa "Muhammad dari Arabia itu naik ke langit tertinggi dan kembali. Demi Allah aku bersumpah, jika aku seperti dia, tentu aku takkan mau kembali." 
Ucapan Ibn Farid merupakan peneguhan tentang pentingnya aspek spritualitas, tanpa menanggalkan aspek ritual atau syariat. Bahwa pada tataran yang sudah 'purna', sufisme justru akan menampilkan spirit kebijaksanaan dalam menghargai syariat, ketimbang ego ke-maqam-an untuk meninggalkannya. Sementara Iqbal berusaha menarik Isra Mikraj sebagai sebuah fenomena yang memuat pesan-pesan sosial-kemanusiaan agama. Bahwa agama dan spiritualitas menjadi bermakna, ketika mampu memberikan implikasi positif pada tataran kemanusiaan. 

Tiga Makna

Itulah tiga diskursus besar dalam filsafat dan teologi, yang ternyata terangkum dalam peristiwa Isra Mikraj. Ketiganya merupakan diskursus yang cukup panjang dan mewarnai sejarah kelahiran dan perkembangan agama itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa Isra Mikraj merupakan fenomena yang menyimpan substansi yang sangat mendalam. 
Terlepas dari perbedaan pandangan dalam memahami fenomena Isra Mikraj dalam ketiga diskursus di atas, bisa dipahami bahwa peristiwa tersebut ternyata memiliki dimensi yang luas. Isra Mikraj menjadi semacam 'wacana' yang bisa menghasilkan hipotesis berbeda, ditinjau dari berbagai perspektif. Fakta ini cukup menarik, karena tidak semua peristiwa dalam sejarah Nabi memiliki kelebihan seperti ini. 
Ditinjau dari perspektif di atas, ada beberapa hal yang bisa kita refleksikan terkait dengan fenomena Isra Mikraj. 
Pertama, bahwa agama (Islam) adalah lorong yang menghubungkan dua ruang: jasmani dan rohani. Karenanya, kekuatan, fungsi dan peran agama terletak pada kemampuannya untuk menjalankan fungsinya dalam menghubungkan kedua ruang tersebut. Penekanan pada yang satu dengan meminimalisasi eksistensi yang lainnya, sama saja dengan mengurangi efektivitas fungsi dan peran agama. Agama (Islam) adalah keseimbangan antara aspek jasmani dan rohani. 
Kedua, pada dasarnya agama (Islam) menawarkan proporsionalitas antara kekuatan akal dan kebersahajaan iman. Yang satu tidak diperkenankan mengeleminasi atau menegasikan yang lain. Tanpa kekuatan rasio, ajaran-ajaran Islam akan tumpul dan bisa mengarah pada stagnasi. Sebaliknya, iman juga dibutuhkan untuk memberikan dasar kebijaksanaan serta moralitas pada hasil kerja rasio. Pada kondisi ataupun kasus tertentu, terbuka kemungkinan akal dan iman memiliki hipotesis yang berbeda. Atau, yang satu tidak melegitimasi fenomena yang lainnya. Namun, bukan berarti bahwa keduanya bertentangan. Agama (Islam) adalah proses pen-sekutu-an yang tidak akan pernah selesai antara rasio dan iman, antara wahyu dan akal. 
Ketiga, dalam agama (Islam) ritual dan spiritual adalah paket kesatuan yang memiliki kelebihan masing-masing dan saling melengkapi. Ritual adalah jalan mencapai spiritualitas, sebagaimana spiritualitas memberikan substansi pada ritual. Dalam konteks yang lebih jauh, dua hal tersebut kemudian memberikan ekses pada tataran sosial-kemanusiaan. Sebab hal terakhir inilah yang menjadi tujuan profetik dari agama itu sendiri. Ritual yang di dalamnya bersemayam kekuatan spiritual adalah media yang bisa menciptakan individu-individu yang saleh secara sosial. 
Polemik tentang fenomena Isra Mikraj pada dasarnya memiliki dimensi yang luas dan cakupan analisis yang luas. Isra Mikraj merepresentasikan problem-problem fundamental yang selama ini menjadi kajian utama filsafat, teologi dan ilmu pengetahuan. Yaitu seputar persoalan badan-jiwa, akal-wahyu, dan ritual-spiritual. Tentu, fenomena Isra Mikraj akan lebih berarti jika kita mampu memaknainya dalam ketiga kerangka tersebut secara komprehensif. (Dimuat di Media Indonesia, 9 Juli 2010)



0 comments:

Post a Comment